Peserta Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN Dik), dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat Kelas Kreatif Ibu dan Anak yang mengusung tema ”Dari Minyak Bekas Jadi Cuan Berkelas”.
Program ini mengangkat strategi pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan. Tujuannya untuk membuka peluang ekonomi kreatif yang bernilai tambah dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, warga diharapkan memahami bahaya membuang minyak jelantah sembarangan. Sasaran utama kegiatan ini adalah warga desa, khususnya ibu-ibu rumah tangga yang sehari-hari bersinggungan langsung dengan penggunaan minyak goreng.
Kegiatan utama dilaksanakan di Batu Kidul, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut dilakukan dengan melibatkan ibu dan anak. Pendekatan ini dipilih agar edukasi lingkungan dapat ditanamkan sejak dini sekaligus mempererat interaksi antara orang tua dan anak melalui kegiatan kreatif bersama.
Mahasiswa KKN Dik FKIP UMS memberikan penjelasan mengenai dampak negatif minyak jelantah terhadap kesehatan hingga lingkungan, sebelum akhirnya memperkenalkan proses pengolahannya menjadi lilin.
Kemudian warga diajak secara langsung untuk praktek pembuatan lilin mulai dari proses menyaring minyak jelantah, mencampurkannya dengan bahan tambahan seperti palm wax dan essential oil, hingga menghias dan mencetak lilin menjadi produk siap pakai.

Syahrial Pamudha, selaku ketua KKN, menjelaskan tentang nilai guna pada minyak jelantah yang seringkali diabaikan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah yang kurang berguna ternyata bisa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Harapannya, warga tidak hanya lebih peduli terhadap lingkungan, tetapi juga bisa memanfaatkan peluang usaha dari rumah,” ujarnya. Rabu (11/2/2026).
Antusiasme warga terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Ibu dan anak tampak aktif bertanya dan terlibat langsung dalam proses pembuatan lilin. Selain melatih kreativitas, kegiatan ini juga memberikan pengalaman baru yang menyenangkan dan edukatif bagi anak-anak.
Salah satu warga yang mengikuti kegiatan ini mengaku mendapatkan pengalaman dan wawasan baru.
“Biasanya minyak bekas masak langsung dibuang. Setelah ikut kegiatan ini, sekarang jadi tahu kalau minyak jelantah bisa diolah lagi dan bahkan bisa dijual. Ini sangat bermanfaat dan bisa jadi tambahan penghasilan,” ungkapnya.
Selain aspek lingkungan dan edukasi, kegiatan ini juga menekankan potensi usaha rumahan berbasis ekonomi kreatif. Lilin aromaterapi hasil olahan minyak jelantah dinilai memiliki peluang pasar yang cukup baik karena dapat dimanfaatkan sebagai dekorasi rumah, pengharum ruangan, hingga produk relaksasi.
Melalui program Kelas Kreatif Ibu dan Anak ini, mahasiswa KKN Dik FKIP UMS berharap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola limbah rumah tangga serta mendorong terciptanya masyarakat yang mandiri, kreatif, dan peduli lingkungan. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan warga mampu menghadirkan solusi sederhana namun berdampak nyata bagi lingkungan dan ekonomi lokal.
Penulis: Kurnia Adi
Editor: Fika Annisa’ Sholihah
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







