Tim Pengabdian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan terobosan baru lewat buku bahasa Inggris dengan fasilitas barcode. Buku tersebut telah digunakan di beberapa TK Aisyiyah di Surakarta dan TK Islam Madisiwi. Terobosan tersebut mampu memudahkan guru dan peserta didik untuk mendalami kemampuan berbicara menggunakan bahasa Inggris.
Pengabdian yang dilakukan Tim Pengabdian Pendidikan Anak Usia Dini UMS tersebut beranggotakan Sri Slamet, Markhamah, Heriyanti, Choiriyah Widyasari, Sri Katoningsih, dan Salma Zhafirah Yasri.
Sri Slamet mengatakan, buku bahasa Inggris berfasilitas barcode adalah buku yang dilengkapi dengan suatu kumpulan data optik yang dibaca mesin. Barcode mengumpulkan data dari lebar garis dan spasi garis paralel dan dapat disebut sebagai kode batang atau simbologi linear yang lazim disebut 1D (1 Dimensi).
“Barcode dapat menyimpan banyak karakter informasi. Dalam hal pronunciation, barcode dapat meminimalisir kesalahan. Fasilitas barcode akan mempercepat proses pengecekan karena hanya perlu memindai. Barcode bekerja dengan menggunakan kombinasi garis dan spasi dengan lebar yang bervariasi untuk mewakili rangkaian angka atau huruf yang unik untuk setiap produk,” terangnya, Sabtu (25/5/2024).
Proses membaca barcode melibatkan dua komponen utama, yaitu pemindai dan HP android. Dengan kelebihan yang dimiliki barcode, guru dan peserta didik akan lebih mudah untuk berlatih pengucapan bahasa Inggris.
“Buku ajar ini digunakan dalam pembelajaran di TK Islam Mardisiwi. Pada awal kegiatan, guru mengenalkan bagaimana cara menggunakan barcode yang ada di dalam buku. Selain guru dapat mengetahui cara menggunakannya, murid juga mengetahui bagaimana buku itu digunakan. Setelah mengetahui cara pemakaian, guru mengajarkannya kepada anak-anak. Dalam hal ini, guru berperan sebagai model pengucapan dengan ilustrasi area mulut,” tambah Sri.
Pada pembelajaran hari pertama, guru mengenalkan kosakata macam-macam profesi kepada anak. Ada empat kosakata yang dikenalkan adalah doctor, pilot, farmer, dan teacher. Guru memberikan contoh bagaimana ketiga kata tersebut diucapkan dengan cara mengulang.
“Setelah anak terlihat dapat mengucapkan secara benar, guru memberikan penguatan dengan cara meminta anak untuk menebalkan kosakata yang telah dikenalkan pada lembar buku ajar yang telah disiapkan. Setelah selesai menebalkan, anak diminta untuk membaca berulang-ulang kosakata yang telah ditebalkan,” terang Dosen FKIP UMS itu.
Pada hari kedua, guru mengenalkan dua kosakata baru kepada anak-anak. Di awal pembelajaran, guru mengulang materi yang telah diberikan hari sebelumnya. Pada kesempatan ini metode drilling diberikan kepada anak-anak. Para murid diminta untuk mengulang kosakata tersebut secara bersamaan lalu diucapkan secara mandiri.
Setelah dirasa cukup bagus hafalannya, guru meneruskan pemberian kosakata baru kepada anak-anak, yakni farmer dan soldier. Guru memberikan penekanan cara pengucapan serta mengulang-ulang sampai anak dirasa sudah mengingat.
Para murid kemudian diberi penguatan yang diberikan kepada anak adalah menghubungkan antara gambar dengan tulisan. Murid melihat gambar yang ada di lembar buku kemudian menghubungkannya dengan tulisan yang sesuai dengan gambar tersebut. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, anak diminta untuk mengucapkan kosakata yang ada pada buku dengan cara berulang-ulang.
Suasana kian menyenangkan di hari ketiga. Anak-anak diminta untuk mengulang enam kosakata yang telah diberikan di hari-hari sebelumnya dengan bermain tebak-tebakan. Guru menunjukkan gambar kepada anak, kemudian mereka menjawab dalam bahasa Inggris.
Cara seperti ini dilakukan agar murid mengingat keempat kosakata yang telah diberikan. Guru juga memberikan perhatian kepada anak-anak yang sesekali dirasa masih lupa. Di akhir sesi, guru meminta anak secara bergantian untuk menyebutkan semua gambar dalam bahasa Inggris.
“Dengan menggunakan buku yang berfasilitas barcode, anak-anak dapat mengucapkan sejumlah kosakata dengan baik dan benar pronunciation atau pelafalannya. Ini menunjukkan bahwa buku ini efektif apabila digunakan untuk mengenalkan kosakata bahasa Inggris kepada anak-anak di TK,” pungkas Sri Slamet.
Penulis: Maysali
Editor: Gede
Sumber: News UMS
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







