Disfungsi Keluarga: Faktor Risiko Bullying
Menelusuri Jejak Pelaku dan Korban
Upaya Pencegahan dan Penanganan

Di balik gemerlap dunia pendidikan Indonesia, tersembunyi luka kelam yang menggerogoti generasi muda: bullying. Fenomena ini bagaikan benalu yang merenggut rasa aman dan meninggalkan trauma mendalam pada para korbannya.

Riset Kemendikbudristek tahun 2022 mengungkap fakta 36,31% siswa berpotensi mengalami bullying, baik verbal, fisik, maupun cyber. Ironisnya, hanya 13,54% yang berani melapor. 

Data lain dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI), menyebutkan kasus bullying yang terjadi di satuan pendidikan cenderung meningkat dari 21 kasus di tahun 2022, menjadi 30 kasus di tahun 2023. Sementara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut, terjadi 87 kasus bullying dari 2355 kasus  pelanggaran anak yang dilaporkan. 

Masih hangat di ingatan dan menyesakkan dada semua orang, kekerasan yang dialami siswa salah satu SMA di Jakarta. Puncaknya, perilaku bullying menyebabkan seorang santri di salah satu pondok pesantren (ponpes) harus meregang nyawa akibat kekerasan tak terkendali dari para santri seniornya. Dari dua kasus tersebut, baik dari sisi pelaku maupun korban, peran keluarga di dalamnya harus menjadi sorotan bersama. 

Sekolah dan lingkungan pendidikan seharusnya menjadi tempat aman untuk belajar, bukan menjadi arena perundungan. Koridor, taman, toilet, kantin, bahkan ruang kelas menjadi saksi perilaku bullying dalam berbagai bentuk. Dampak bullying tak hanya sebatas luka fisik, tapi juga melukai mental dan emosi korban. Depresi, kecemasan, bahkan bunuh diri menjadi konsekuensi tragis yang tak jarang terjadi.

Baca juga: Karena Perundungan Harus Disudahi Sekarang

Disfungsi Keluarga: Faktor Risiko Bullying

Teori-teori bullying berusaha menjelaskan akar permasalahannya. Teori ekologi Bronfenbrenner melihat pengaruh lingkungan, seperti keluarga, sekolah, dan teman sebaya, dalam membentuk perilaku bullying. Teori imbalance of power menekankan pada ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban. Sedangkan teori sistem keluarga juga menawarkan perspektif penting dalam memahami bullying

Keluarga merupakan lingkungan awal tempat anak lahir dan tumbuh kembang. Sehingga menjadi bagian terpenting dan bermakna untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan. Teori disfungsi keluarga melihat keluarga sebagai sebuah sistem yang kompleks, di mana setiap anggota memiliki peran dan fungsi yang saling terkait. 

Disfungsi dalam sistem keluarga dapat menjadi faktor risiko terjadinya bullying. Kurangnya komunikasi dan kedekatan antar anggota keluarga bagaikan tembok tebal yang memisahkan mereka. Kehangatan kasih sayang tergantikan oleh rasa dingin dan kesepian. 

Di sisi lain, pola asuh yang tidak tepat seperti otoritarianisme atau permisif dapat melahirkan anak-anak yang rentan menjadi pelaku atau korban bullying. Orang tua otoriter yang menerapkan aturan kaku dan hukuman keras tanpa komunikasi yang terbuka dapat memicu anak untuk mencari pelampiasan di luar rumah. Bahkan dengan cara kasar. 

Sementara itu, orang tua permisif yang terlalu memanjakan dan kurang memberikan batasan dapat membuat anak menjadi mudah terintimidasi dan tidak mampu membela diri. 

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan luka mendalam yang dapat meninggalkan bekas permanen pada anak. Korban KDRT terpapar pada lingkungan yang penuh amarah dan ketakutan, menumbuhkan benih agresivitas atau rasa rendah diri yang berpotensi mengantarkan mereka pada bullying

Pengalaman traumatis dalam keluarga, seperti kehilangan orang tua, perceraian, atau penyakit kronis, dapat meninggalkan trauma emosional pada anak. Ketidakstabilan dan rasa kehilangan yang mereka alami dapat membuat mereka lebih rentan terhadap bullying, baik sebagai pelaku maupun korban. Memahami faktor-faktor risiko ini merupakan langkah awal untuk mencegah dan mengatasi bullying, demi masa depan anak-anak yang lebih cerah dan penuh kasih sayang.

Menelusuri Jejak Pelaku dan Korban

Di balik setiap kasus bullying, terdapat dua sisi yang terluka: pelaku dan korban. Memahami profil mereka, bagaikan membuka kunci untuk merumuskan strategi pencegahan yang efektif. 

Pelaku bullying seringkali diliputi rasa insecure dan haus akan pengakuan. Mereka mungkin mengalami masalah di rumah atau sekolah, terperangkap dalam lingkaran amarah dan impulsivitas, dan kehilangan kemampuan untuk berempati dengan orang lain. Bullying menjadi pelarian mereka, cara untuk merasa superior dan meredakan rasa sakit dalam diri mereka.

Di sisi lain, korban bullying terbebani dengan rasa percaya diri yang rendah. Mereka terisolasi, kesepian, dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosial. Keheningan dan sensitivitas mereka menjadi sasaran empuk bagi para pelaku bullying. Memahami profil pelaku dan korban bullying bukan untuk memaklumi tindakan mereka, melainkan untuk membangun jembatan empati dan merumuskan solusi yang tepat. 

Upaya Pencegahan dan Penanganan

Bullying bagaikan monster yang mengintai kehidupan. Untuk memeranginya, diperlukan upaya pencegahan dan penanganan komprehensif, yang melibatkan berbagai pihak. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dan efektif dengan anak. Sebab menanamkan nilai-nilai moral dan empati menjadi kunci untuk menumbuhkan karakter yang baik. 

Mengawasi pergaulan anak juga penting untuk memastikan mereka terhindar dari pengaruh negatif. Sekolah harus menerapkan kebijakan anti-bullying yang tegas dan konsisten. Edukasi tentang bahaya bullying perlu diberikan kepada siswa dan guru supaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah. 

Kesadaran tentang bahaya bullying perlu ditingkatkan di masyarakat. Budaya anti-kekerasan harus ditanamkan sejak dini. Juga membangun komunitas yang saling mendukung dan melindungi. 

Pemerintah memiliki peran penting dalam memerangi bullying dengan menyusun regulasi yang tegas, memberikan pelatihan kepada guru dan staf sekolah tentang cara menangani bullying, serta melakukan edukasi publik tentang bahaya bullying. Peran peer counsellor juga berperan penting dalam membantu korban bullying dengan melatih siswa untuk membantu teman sebayanya. Mereka dapat memberikan dukungan emosional, menjadi teman bercerita, dan membantu korban mencari bantuan dari orang dewasa. Peer counsellor sekaligus berperan untuk meningkatkan kesadaran bahaya perilaku bullying.

Penanganan kasus bullying harus dilakukan dengan tepat dan sensitif. Dukungan emosional bagi korban sangatlah penting untuk membantu mereka pulih dari trauma. Investigasi untuk menemukan pelaku dan pemberian sanksi yang tegas harus dilakukan. Edukasi kepada pelaku tentang bahaya bullying juga penting, agar tidak mengulangi perbuatannya.

Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah dapat membangun perisai yang kuat untuk melawan bullying. Dengan upaya pencegahan dan penanganan yang tepat, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi semua anak. Sehingga anak terbebas dari bayang-bayang bullying.


Ditulis oleh: Wisnu Sri Hertinjung (Mahasiswa S3 Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sumber: Koran Jawa Pos Radar Solo Edisi Rabu, 6 Maret 2024

Ingin berkonsultasi tentang kesehatan mental?
Lebih dekat dengan penulis

Berita Unggulan

image-featured
14 Juni 2026

Smogra adalah aplikasi digital besutan tim peneliti UMS. Mengintegrasikan berbagai teknologi IoT untuk menciptakan pelajar yang peduli terhadap lingkungan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
14 Juni 2026

Pameran teknologi otomasi kembali digelar oleh Prodi PTI UMS. Menampilkan 16 karya terbaik buatan mahasiswa PTI semester enam.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
14 Juni 2026

40 kelompok mahasiswa TI UMS semester 6 memamerkan proyek akhir Capstone Project. Karya mereka berupa inovasi aplikasi, sistem informasi, kecerdasan buatan, hingga teknologi IoT.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.