Senat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memilih Calon Rektor baru untuk periode masa jabatan 2025 -2029. Pemilihan ini dilakukan secara demokratis melalui musyawarah mufakat dan e-voting.
Dari 65 suara yang masuk berhasil mendapatkan tiga nama terpilih yaitu Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., Prof. Dr. Muhammad Da'i, Apt., dan Prof. Ir. Supriyono, Ph.D. Tiga nama terpilih tersebut akan dikirimkan ke Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan menjalani sidang pleno.

7 calon rektor baru UMS masa jabatan 2025-2029. Imam Safii/ Humas UMS
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMS, Drs. Marpuji Ali, M.Si., dalam kesempatan tersebut mengatakan, UMS dengan perjalanan panjangnya telah masuk sebagai perguruan tinggi yang juga memiliki nilai nilai prestasi dan kemajuan. Di samping menyiapkan calon calon pemikir, UMS juga menyiapkan uswatun khasanah.
Manusia termasuk hamba Allah yang dipilih untuk menjadi khalifah di bumi ini meskipun Allah sebelumnya juga menawarkan kepada makhluk lain. Marpuji Ali berpesan agar hadirin bisa menjadi pemimpin yang baik.
“Oleh karena itu kami mengajak kita semuanya agar memandu kemajuan UMS di masa depan, kita harus benar-benar bisa menangkap sebagai hamba Allah yang ahsanu takwim, sebaik-baik penciptaan Allah,” ujarnya, Selasa (4/2/2025) di Auditorium Mohammad Djazman.
Di hari Pilrek ini, lanjutnya, akan membuktikan apakah kita termasuk hamba Allah yang ahsanu takwim atau tidak. Hal tersebut karena tidak jarang dalam berbagai perhelatan pemilihan ada sekelebat kericuhan-kericuhan. Kericuhan ini terjadi karena tidak bisa memenuhi kriteria hamba Allah sebagai ahsanu takwim.
“Yang ditakdirkan terpilih pada hari ini adalah memang orang-orang yang pantas dan memang bisa kita andalkan untuk bisa membawa dan memimpin UMS ke masa depan yang baik,” tuturnya.

Anggota senat UMS melakukan e-voting untuk memilih rektor baru. Imam Safii/ Humas UMS
Di hari yang istimewa dan bersejarah, Rektor UMS Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., menjelaskan bahwa sejak awal mekanisme Pilrek UMS telah didesain dengan sangat baik dan demokratis. Dia menyampaikan bahwa banyak rektor dari perguruan tinggi lain yang menghubunginya terkait dengan proses pemaparan visi misi calon rektor.
“Yang tentu ini menjadi acuan dari perguruan tinggi lain untuk bisa melakukan proses pemilihan secara demokratis,” kata Sofyan Anif.
Anif juga menuturkan bahwa kultur Muhammadiyah, calon rektor itu bukan mengajukan diri tetapi disaring lalu diminta kesediaannya untuk menjadi calon rektor. Selanjutnya dilakukan pemaparan visi misi dan pemilihan hingga akhirnya mengikuti sidang pleno PP Muhammadiyah.
“Kita serahkan semuanya kepada Allah. Allah pasti akan mentakdirkan yang terbaik untuk kita,” pesannya kepada anggota senat UMS.
Di akhir amanatnya, dia berharap, rektor terpilih akan dapat merangkul visi-misi dari calon rektor lain. Ini juga menjadi keindahan demokrasi ketika dimaknai sebagai ibadah.
Penulis: Maysali
Editor: Al Habiib
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







