Setiap tahun, angka harapan hidup terus meningkat secara global. Indonesia termasuk salah satu negara yang mengalami peningkatan angka harapan hidup. Badan Pusat Statistik mencatat angka harapan hidup Indonesia pada tahun 2023 adalah 74 tahun. Naik 0,23 atau 0,31% dibanding tahun 2022.
Provinsi Jawa Tengah memiliki angka harapan hidup 76 tahun, sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki angka 77 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhi angka harapan hidup di suatu tempat, salah satunya faktor pelayanan kesehatan seperti banyaknya rumah sakit dan kualitas pelayanan kesehatan.
Kaprodi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Arif Widodo, A.Kep., M.Kes., mengatakan angka harapan hidup di Yogyakarta lebih tinggi karena dipengaruhi pola hidup ataupun sosiokultural masyarakatnya.
Semakin meningkatnya angka harapan hidup di Indonesia, sudah selayaknya pemerintah lebih memperhatikan keberadaan griya lansia atau panti wreda untuk orang lanjut usia.
“Orang yang sudah lanjut usia kemudian anak-anaknya tidak sempat mengurus, katakanlah karena dia mungkin di luar kota menjadi profesional atau pengusaha yang tidak bisa sewaktu-waktu menengok orang tuanya, maka mungkin ada penitipan atau panti wreda,” ujar Arif Widodo, Rabu (29/5/2024).
Pelayanan di panti wreda untuk negara maju seperti Jepang menurutnya sangat bagus.
“Panti wreda di negara maju itu bagus sekali. Jepang itu usia harapan hidupnya tertinggi di dunia, mencapai 84 tahun. Bahkan mungkin seorang anak bisa satu tempat dengan bapaknya dalam satu perawatan di panti dari Jepang itu,” sambung dia.
Menurut Arif, pemerintah seharusnya melihat negara maju yang memikirkan kesejahteraan lansia. Pemerintah harus sadar pentingnya keperluan tersebut walaupun membutuhkan dana masyarakat. Perhatian tersebut sangat penting mengingat lansia adalah para senior yang telah berjasa pada saat masa produktifnya dahulu.
Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah saat ini sudah mendirikan beberapa panti wreda untuk para lansia. Panti wreda tersebut memiliki beberapa perbedaan dibandingkan panti wreda milik pemerintah.
Arif Widodo menyoroti perbedaan tersebut. Menurutnya, panti wreda yang dikelola Dinas Sosial kurang representatif sebagai pelayanan kesehatan untuk menjunjung kesejahteraan.
Pelayanan kesehatan di panti wreda juga menjadi bagian praktik tenaga kesehatan perawat. Namun, dalam konteks agama Islam, orang tua lebih baik dirawat anaknya. Home care atau pelayanan kesehatan dengan perawat datang ke rumah menjadi solusi selanjutnya.
“Kebutuhan dasar, berhias, memakai baju, lalu kalau ada obatnya mungkin mengingatkan minum obat, menghisap lendir itu ada alatnya, atau bahkan infus atas izin dokter itu bisa di rumah dipantau perawat home care,” terangnya.
Tanggal 29 Mei menjadi Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) sebagai bentuk apresiasi terhadap peran penting lansia dalam mempertahankan kemerdekaan dan memajukan bangsa.
Penulis: Maysali
Editor: Gede
Sumber: News UMS
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







