Penggemar K-pop boleh dibilang tegas terhadap idola mereka. Kalau idol yang dikagumi berbuat neko-neko, seperti kriminal, narkoba, atau kontroversi lainnya, penggemar K-pop tak segan meninggalkan idolanya. Cancel culture namanya.
Cancel culture adalah tindakan penarikan dukungan warganet terhadap seseorang yang dianggap problematik. Umumnya, cancel culture diterapkan kepada para pesohor, seperti aktris, aktor, hingga penyanyi, yang terlibat skandal kontroversial.
Di Indonesia, penggemar K-pop telah menerapkan cancel culture. Salah satunya adalah Naila (25), penggemar K-pop asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang mengaku pernah meng-cancel sejumlah pesohor asal Negeri Ginseng.
“Yang kena kasus Burning Sun, salah satunya mantan member Bigbang, Seungri. Sama (meng-cancel) mantan member Stray Kids, Woojin, yang kena kasus pelanggaran kontrak,” ungkap Naila, Senin (17/2/2025).
Cancel culture yang dilakukan Naila bukan tanpa alasan. Dia menuturkan, mantan personil Bigbang, Seungri, terlibat dalam skandal Burning Sun, yakni prostitusi ilegal dan perdagangan narkoba.
Lain lagi dengan bekas personil Stray Kids, Woojin, yang terlibat sejumlah skandal pelecehan seksual dan agensi palsu. Tidak heran jika Naila dan penggemar K-pop lainnya memilih hengkang dari artis-artis problematik.
“Kalau Seungri aku nggak mau lihat konten-kontennya lagi. Apalagi pelaku lain yang juga seorang aktor, aku nggak nonton lagi dramanya,” kata Naila. “Kalau yang mantan member Stray Kids, aku nggak pernah dengerin lagu solo-nya.”
Menurutnya, cancel culture sangat perlu untuk diterapkan di Indonesia. “Penting banget karena menurutku nggak pantes orang-orang dengan bad attitude, apalagi yang sudah pernah kena kasus kriminal, malah ditayangin di televisi,” tegasnya.
Ahli media baru dan budaya populer dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rina Sari Kusuma, S.Sos., M.I.Kom., menyebut cancel culture sebagai bentuk evolusi dari sanksi sosial boikot. “Kalau dahulu (sanksi sosial) tradisional, sekarang berubah ke teknologi komunikasi jadi media baru, sehingga efeknya bisa kelihatan banyak orang,” kata Rina, Senin (17/2/2025).
Cancel culture dianggap sebagai cambuk bagi pesohor yang berbuat semena-mena, karena posisinya yang dikenal publik. Amit-amit kalau sampai masyarakat meniru tingkah laku pesohor yang sembrono.
Budaya menarik dukungan itu juga dapat terjadi pada perusahaan yang bermasalah. Seperti perusahaan yang mencemari lingkungan, tidak memanusiakan pegawainya, hingga terlibat dalam skandal besar.
Adapun, bentuk-bentuk cancel culture dapat meliputi: tidak mendengarkan karya pesohor, tidak menonton konten yang menampilkan pesohor, tidak membeli produk yang terafiliasi dengan pesohor, hingga mengecam menggunakan media sosial. “Kasarannya untuk ngasih tahu tapi agak keras,” imbuh dia.

Cancel Culture di Indonesia
Rina Sari Kusuma mengatakan cancel culture sebenarnya bukan barang baru di Indonesia. “Mungkin karena paparan beritanya dari Korea lebih banyak, jadi seolah-olah (cancel culture) dari Korea,” tuturnya.
Contoh cancel culture di Indonesia sudah banyak terjadi. Misalnya, Saipul Jamil yang diputus kontraknya akibat melakukan pelecehan seksual terhadap seorang remaja. Atau komedian tunggal, Uus, yang diputus kontrak kerjanya akibat cuitan yang mengandung unsur penodaan agama.
Teranyar, cancel culture juga terjadi pada film A Business Proposal yang dibintangi Abidzar Al-ghifari, Ariel Tatum, Ardhito Pramono, dan Caitlin Halderman. Film tersebut diadaptasi dari drama Korea dengan judul serupa dan Webtoon bertajuk The Office Blind Date
Sederet kontroversi mewarnai promosi film ini. Mulai dari pemeran utama yang ogah menonton drama aslinya, ketidakjelasan sumber adaptasi film, hingga menyebut penggemar drama Korea dengan sebutan “fans fanatik”.
Kata “fanatik” itulah yang membuat sebagian kalangan meradang. Menurut Rina, penyebutan kata “fanatik” cenderung negatif. “Stereotipnya kurang baik,” tambah dosen Ilmu Komunikasi UMS itu.
Rina memandang ada permasalahan komunikasi antara rumah produksi dengan para pemerannya terkait asal usul film yang diproduksi. Pengakuan pemeran utama, yang tidak menonton drama aslinya, memberi kesan menyepelekan terhadap film tersebut.
“Audiens yang dia (Abidzar) tuju adalah audiens yang benar-benar menonton drama A Business Proposal dari episode 1 sampai 12,” beber Rina.
Ulasan di IMDB pun sangat rendah dengan peringkat 1/10. Menurut pewartaan Antara, jumlah penonton A Business Proposal per Selasa (11/2/2025) tercatat sebanyak 19.631 penonton.
Terbilang rendah jika dibandingkan film lain yang memulai penayangan perdananya pada hari yang sama. Sebagai perbandingan, Petaka Gunung Gede berhasil meraup satu juta penonton pada Selasa lalu.
Pentingnya Cancel Culture di Indonesia
Cancel culture tidak lepas dari peran warganet yang aktif menggunakan media sosial. Menurut Rina, warganet tak hanya berperan sebagai penerima pesan, melainkan turut memproduksi pesan.
Media sosial menjadi wadah untuk seorang marjinal, yang tidak punya kuasa, untuk menyuarakan pesan. Berbeda dengan media zaman dulu yang hanya dapat diakses orang-orang yang memiliki kekuasaan.
“Sekarang, kalau kamu punya TikTok, kamu menyuarakan apa pun itu bisa,” terang dosen yang berfokus pada topik partisipatoris online ini. Kondisi tersebut kian menunjukkan peran warganet dalam membawakan pesan. Bahkan dapat menggaet massa dalam jumlah besar.
Cancel culture juga menyesuaikan dengan kultur masyarakat masing-masing negara. Masyarakat Korea Selatan dan Cina, misalnya, menerapkan cancel culture yang dapat berlangsung lama, bahkan sampai menyuruh untuk melakukan bunuh diri.
Sementara di Indonesia, menurut Rina, seorang pesohor dapat memilih vakum sementara waktu, lalu muncul kembali setelah kasus mereda. Rina menilai hal tersebut menjadi tantangan mengingat karakter orang Indonesia cenderung mudah memaafkan.
“Cancel culture ini untuk menunjukkan bahwa masyarakat itu punya power untuk menegakkan keadilan. Menunjukkan bahwa mereka (pesohor) tidak sesuai dengan norma kesopanan,” sambung dia.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







