Variasi JN.1
Mengapa Bermutasi?
Gejala Covid JN.1
Antisipasi Komorbid
Tidak Perlu Khawatir

Libur Nataru (Natal dan tahun baru) 2023-2024 sudah di depan mata. Momentum libur panjang akhir tahun telah dinantikan banyak orang di Indonesia. Libur Nataru jadi waktu yang tepat untuk pelesir ke berbagai destinasi wisata atau sekadar bercengkerama bersama keluarga di rumah. Apalagi cuaca di penghujung tahun 2023 terpantau cerah.

Hasrat untuk melancong atau kembali ke kampung halaman juga dirasakan beberapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) jelang libur panjang akhir tahun. Rahmat (20), mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika telah merencanakan aktivitas untuk libur panjangnya.

“Rencananya, sih, aku akan pergi ke Madiun untuk menjemput teman saya, setelah itu kami berlibur di Jogja selama sepekan,” tutur Rahmat.

Senada dengan Rahmat, Nada (22), mahasiswi Kedokteran Gigi berencana menggunakan waktu libur panjangnya untuk pergi ke luar negeri untuk berkompetisi.

“Libur panjang saat ini rencananya akan ada kegiatan untuk lomba karya inovasi di Thailand. Tapi, biasanya kalau libur panjang seperti ini, aku akan pulang kampung ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur,” ujar Nada.

Akan tetapi, di tengah gegap gempita menyambut libur panjang Nataru, Covid-19 kembali berjangkit di beberapa wilayah di Indonesia. Hal ini membuat sebagian khawatir, tetapi tak sedikit pula yang telah “berdamai” dengan situasi, sehingga mengurangi kecemasan dalam benak mereka.

“Justru jangan dipikirkan dan jangan dikhawatirkan, karena nanti malah tidak jadi liburan kalau dikhawatirkan,” ucap Rahmat berkelakar. 

Hal serupa dikatakan Nada yang belum merasa khawatir dengan berjangkitnya Covid varian baru JN.1. Ia mengaku telah menjadikan protokol kesehatan (prokes) sebagai gaya hidupnya. Selain itu, meski ada penambahan kasus Covid-19, Nada tetap akan bepergian sesuai rencananya. Menurutnya, saat ini masyarakat harus hidup berdampingan dengan Covid-19. 

“Karena virus juga tidak bisa dideteksi lewat visual mata kita, jadi kita harus menjaga diri kita. Aku sudah vaksin untuk covid-19 dan sampai saat ini aku masih pakai masker saat bepergian, rutin mencuci tangan, dan mengkonsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh aku selama beraktivitas padat tiap harinya,” kata Nada. “Harus menjaga protokol kesehatan di mana pun dan kapan pun.”

Laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, hingga 21 Desember 2023 total kasus aktif Covid-19 mencapai 2.761 kasus dengan sembilan kasus kematian. 

Tak hanya itu, Kemenkes juga menyatakan varian baru Covid-19 telah muncul di beberapa titik di Indonesia. Melansir CNNIndonesia.com, Kamis (21/12/2023), total kasus Covid varian terbaru mencapai 41 kasus yang tersebar di berbagai wilayah yaitu Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Batam, Kepulauan Riau.

Lantas bagaimana langkah yang tepat untuk menyikapi temuan kasus Covid-19 varian JN.1?

Variasi JN.1

Di tengah kesibukan para dosen, kami mencoba menghubungi Noor Alis Setiyadi, S.K.M., M.K.M., Ph.D., dosen prodi Kesehatan Masyarakat UMS, untuk meminta kejelasan terkait merebaknya varian terbaru Covid-19. Pak Noor, sapaan akrabnya, mengungkapkan varian ini merupakan sublineage dari Covid varian Omicron BA.2.86.

Meskipun varian ini terbilang baru, Noor Alis mengatakan risiko pada tubuh yang terinfeksi Covid JN.1 terbilang rendah.

“Dari laporan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) varian Covid JN.1 memang risikonya masih rendah. Meskipun varian ini lebih banyak kasus, risikonya tidak besar,” terang Noor Alis saat dihubungi melalui Whatsapp, Kamis (21/12).

Melansir Kompas.com, Rabu (20/12/2023), Covid JN.1 pertama kali terdeteksi di Luksemburg dan menyebar di seluruh Benua Biru seperti Inggris, Portugal, Spanyol, hingga Islandia. Virus ini juga terdeteksi di Amerika Serikat dan terus menyebar hingga ke Tanah Air.

Mengapa Bermutasi?

Mutasi Covid-19 sendiri sudah terjadi beberapa kali, bahkan sejak masa pandemi 2020 lalu. Noor Alis mengungkapkan mutasi adalah cara virus untuk bertahan hidup. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang menjadi inang bagi virus.

“Saat mereka berada pada lingkungan yang berbeda, mereka harus beradaptasi. Virus itu adalah makhluk hidup yang ingin terus hidup,” jelas dia.

Noor Alis mengatakan virus hanya bisa hidup dengan menginduk pada inangnya. Berbeda dengan bakteri yang bisa hidup di alam bebas.

“Virus akan hidup pada inangnya. Beda dengan bakteri seperti TBC (Tuberkulosis) yang bisa hidup di alam bebas. Untuk Covid, dia hidup pada inangnya,” sambung Noor Alis.

Gejala Covid JN.1

Selain risikonya yang rendah, varian JN.1 juga mempunyai gejala yang sangat umum. Noor Alis mengatakan gejala Covid JN.1 seperti gejala flu biasa.

“Gejalanya mirip (flu biasa). Sedangkan gejala khusus hampir tidak ada. Gejalanya memang ringan dan tidak menimbulkan risiko yang berat,” terang dia.

Gejala yang dialami pasien Covid JN.1 meliputi:

  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Demam
  • Hilang rasa atau bau
  • Kelelahan
  • Brain fog (merasa kurang terjaga dan sadar)
  • Sesak nafas
  • Gejala gastrointestinal (sakit perut dan diare).

Antisipasi Komorbid

Jika menelaah gejala yang muncul pada pasien Covid JN.1, gejala-gejala tersebut terbilang ringan. Akan tetapi, Noor Alis mewanti-wanti masyarakat yang mempunyai penyakit penyerta atau komorbid agar berhati-hati. Pasalnya penyakit komorbid berisiko memperburuk kondisi tubuh saat terkena Covid JN.1.

“Kalau seseorang mempunyai penyakit penyerta seperti diabetes, kolesterol tinggi, hingga hipertensi, mereka harus berhati-hati karena penyakit komorbid bisa memperparah kondisi tubuh saat terpapar virus,” tegas dia. 

Dirinya mengungkapkan, tubuh yang terkena virus secara otomatis akan berusaha melawan virus tersebut. Ketika virus masuk ke tubuh penderita penyakit komorbid, maka tubuh akan kewalahan melawan virus karena sudah ada penyakit yang membutuhkan kinerja antibodi lebih besar untuk proses penyembuhan.

“Kita harus memahami tubuh kita masing-masing,” lanjut Noor Alis.

Tidak Perlu Khawatir

Meskipun Covid varian JN.1 telah masuk ke Indonesia, Noor Alis menekankan masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Pada saat yang bersamaan, Noor Alis juga menegaskan jangan menyepelekan virus ini.

Aja wedi-wedi banget, ning ya aja kendel-kendel banget. Jangan gegabah karena kita itu manusia yang mempunyai kelemahan. Bisa jadi saat virusnya menjangkit, kondisi kita sedang lemah. Tapi kita juga jangan terlalu takut karena kita punya Allah yang akan menjaga kita,” tutur Noor Alis menenangkan.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk kembali menerapkan protokol kesehatan (prokes) dan perilaku hidup bersih dan sehat. Noor Alis sempat menyayangkan fasilitas mencuci tangan di berbagai lokasi mulai ditinggalkan. Padahal, mencuci tangan adalah ikhtiar sederhana untuk melawan berbagai penyakit termasuk Covid JN.1.

“Kalau kita amati, masker masih banyak digunakan. Tapi kalau kita lebih jeli lagi, tempat cuci tangan di berbagai lokasi sudah mulai hilang. Saya mengimbau kepada seluruh instansi yang sebelumnya mempunyai tempat cuci tangan untuk diaktifkan kembali,” ujar Noor Alis.

Di samping penerapan prokes kembali, pemerintah tengah mengkaji vaksin booster lanjutan sebagai antisipasi Covid JN.1. Mengutip pernyataan Kemenkes pada Detik.com, Rabu (13/12/2023), pemerintah saat ini tengah mengkaji vaksinasi booster dosis ketiga. Rencananya vaksinasi booster ini akan menyasar kelompok rentan dan lansia. 

Menanggapi kabar vaksin booster itu, Noor Alis berujar, masyarakat harus mencermati jenis vaksin yang akan digunakan, kehalalannya, hingga masa kedaluwarsanya. “Tentu jika pemerintah mempersiapkan booster itu adalah yang terbaik bagi rakyatnya,” kata dia.

“Efektif dan tidaknya vaksin booster itu tergantung pada fisik tiap individu,” pungkas Noor Alis.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Berita Unggulan

image-featured
13 Juni 2026

Begadang jadi hobi mayoritas orang Indonesia. Penggunaan gawai diduga menjadi biang keladinya. Apa dampak begadang bagi tubuh manusia?

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
8 Juni 2026

Keberadaan kaum homoseksual di ruang publik menimbulkan keresahan masyarakat. Menambah risiko penyakit menular, termasuk HIV dan berbagai infeksi menular seksual lainnya.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
3 Juni 2026

Mikroplastik ditemukan di berbagai bentuk ekosistem di sekitar kita. Mulai dari tanah, tubuh organisme, hingga air hujan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.