Akankah Menggeser ChatGPT?
Isu Akurasi dan Bias Model
Menerawang Masa Depan AI

Dalam lanskap kecerdasan buatan (AI) yang kian berkembang pesat, satu nama baru mulai hangat diperbincangkan dua pekan terakhir. Kehadirannya digadang-gadang menjadi titik balik yang bisa mengubah peta dominasi OpenAI dan Google.

Pada Sabtu, 25 Januari 2025, model AI buatan Cina hadir sebagai pesaing baru model Large Language Model (LLM) pendahulu, seperti ChatGPT dan Gemini. DeepSeek, perusahaan AI Cina yang didirikan oleh Liang Wenfeng pada tahun 2023 itu memperkenalkan model terbarunya DeepSeek-R1. 

Endang Wahyu Pamungkas, S.Kom., M.Kom., Ph.D., peneliti Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang telah lama bergelut di bidang Natural Language Processing (NLP), mengamati langsung tren kemunculan DeepSeek. Dengan pengalaman dan pemahamannya yang luas dalam pengembangan model AI, ia melihat DeepSeek AI sebagai inovasi yang lahir dari keterbatasan. Mengapa demikian?

“DeepSeek AI ini menarik, ya. Kebetulan saya kemarin juga baru mencobanya, sambil observasi kecil-kecilan. Peranti AI terbaru Cina ini dikembangkan dalam keterbatasan, tapi malah bisa menawarkan solusi yang lebih efisien karena hemat biaya,” ujar dosen Teknik Informatika UMS yang akrab dipanggil Dadang itu, Selasa (4/2/2025) siang melalui wawancara daring.

Kata Dadang, faktor krusial yang melahirkan DeepSeek AI adalah pembatasan akses Cina terhadap cip GPU canggih Nvidia. Sejak Amerika Serikat membatasi ekspor Nvidia A100 dan H100, para pengembang di Cina harus bersusah payah mencari solusi untuk tetap membangun AI generatif yang berkualitas. Alih-alih menjadi hambatan, keterbatasan ini malah mendorong lahirnya inovasi.

Merujuk laporan Stanford University’s 2024 Artificial Intelligence Index, pengembang DeepSeek mengklaim dirinya membutuhkan sekitar USD5,6 juta untuk melatih AI versi terbarunya. Jauh lebih murah dibandingkan dengan pelatihan Chat GPT-4 milik OpenAI yang dilaporkan menghabiskan biaya USD78 juta, atau Gemini Ultra milik Google yang menghabiskan biaya USD191 juta.

“Artinya, untuk bisnis atau perusahaan yang ingin mengadopsi AI tanpa harus berinvestasi besar dalam infrastruktur komputasi, DeepSeek AI bisa menjadi pilihan yang menarik,” imbuh peneliti Pusat Studi Informatika Sosial UMS itu.

Akankah Menggeser ChatGPT?

Melihat tanggapan warganet di berbagai platform media, seperti X dan Instagram, banyak dari mereka yang kemudian bertanya-tanya, apakah DeepSeek AI bisa menggantikan ChatGPT sebagai model AI generatif utama. Menurut Dadang, jawabannya tergantung pada tujuan penggunaannya.

“Kalau untuk kebutuhan sehari-hari, seperti tanya jawab biasa atau percakapan ringan, ChatGPT mungkin masih lebih unggul karena modelnya sudah lebih matang dalam memahami bahasa manusia,” katanya.

Ia menilai, DeepSeek AI memiliki keunggulan di sisi lain, terutama dalam hal fleksibilitas dan biaya. Sebab model R1 bersifat open source, pengguna punya kendali lebih besar untuk melakukan fine-tuning (proses mengadaptasi model pra-terlatih untuk tugas-tugas tertentu atau contoh penggunaan) sesuai kebutuhan mereka.


“Misalnya, kalau sebuah rumah sakit ingin menggunakan AI yang lebih akurat dalam memahami terminologi medis, mereka bisa melatih ulang DeepSeek-R1 dengan dataset mereka sendiri,” terang dia. Hal ini begitu berbeda dengan ChatGPT yang bersifat tertutup.

Endang menjelaskan, ChatGPT merupakan model tertutup, sehingga pengguna hanya bisa menggunakannya sebagaimana adanya, tanpa punya akses untuk mengubah cara kerjanya. Sebaliknya, DeepSeek-R1 malah memberikan fleksibilitas lebih, karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik melalui fine-tuning.

Selain fleksibilitas, ia pun menyoroti keunggulan DeepSeek AI dari segi biaya operasional. Menurutnya, biaya berlangganan ChatGPT cukup mahal, terutama untuk skala perusahaan. Sementara itu, DeepSeek AI bisa diakses dengan dua pilihan, gratis dan berbayar dengan biaya langganan yang sangat terjangkau. 

Bloomberg Technoz melansir pengguna DeepSeek hanya perlu merogoh kocek sekitar USD0,50 per bulan atau setara Rp8.116 per bulan. Sangat terjangkau bila dibandingkan dengan berlangganan ChatGPT yang menetapkan biaya langganan sebesar USD20 per bulan atau setara Rp324.640. 

Isu Akurasi dan Bias Model

Meski menawarkan berbagai keunggulan, DeepSeek AI masih memiliki tantangan besar, khususnya dalam hal akurasi dan bias. Berdasarkan penilaian Audit NewsGuard, layanan penilai situs berita dan informasi, DeepSeek-R1 baru mencatatkan akurasi sebesar 17 persen saja, sementara tingkat kegagalan tercatat sebesar 83 persen, mengulang klaim palsu sebesar 30 persen, dan menyajikan jawaban samara tau tidak berguna sebesar 53 persen.

Dadang menekankan bahwa tantangan bias dan akurasi bukan hanya milik DeepSeek AI, melainkan juga ChatGPT dan model AI lainnya. Jelasnya, “Semua model AI pasti memiliki bias, karena bias itu sering kali berasal dari data yang digunakan untuk melatih modelnya.”

Namun, satu hal yang membedakan DeepSeek AI dengan pesaingnya ialah transparansi model. Karena bersifat open source tadi, model ini memungkinkan komunitas peneliti dan pengembang untuk memperbaiki kelemahannya, baik dari sisi akurasi atau memitigasi bias yang ada.

Menerawang Masa Depan AI

Dadang dengan gamblang menyerukan industri AI kini melangkah menuju model yang jauh efisien dan hemat biaya. “Sekarang bisa kita lihat juga kalau perusahaan bukan cuma mencari AI yang paling pintar,” ujar dia.

Ia mencontohkan bagaimana perusahaan besar kini lebih mempertimbangkan nilai ekonomis AI ketimbang hanya mengejar akurasi tertinggi. Karena tren yang terjadi kini menunjukkan bahwa ke depan, persaingan AI tidak hanya akan berfokus pada kecerdasan dan akurasi, tetapi juga pada efisiensi operasional dan biaya penggunaan.

“Misalnya, kalau ChatGPT-4 punya akurasi 98 persen tetapi biayanya Rp1 miliar, sementara DeepSeek-R1 punya akurasi 90 persen tetapi biayanya hanya Rp100 juta, banyak perusahaan pasti akan memilih opsi kedua,” papar Dadang.

“Dengan pendekatan yang lebih hemat daya, lebih fleksibel, dan lebih murah, model seperti DeepSeek AI punya peluang besar untuk mengubah peta persaingan AI global,” tambahnya.

Lewat pewartaan Tempo, kemunculan “kuda hitam" DeepSeek mewarnai dominasi OpenAI dan Google. Kehadirannya telah memberi tantangan serius hingga mengganggu valuasi saham perusahaan.

Meski dibandrol ongkos murah, Dadang mewanti kita untuk tak melupakan catatan mengenai akurasi model R1 yang masih perlu ditingkatkan. Keberhasilan DeepSeek AI di pasar global juga akan sangat bergantung pada bagaimana komunitas pengembang dan bisnis mengadopsi model ini.

Lantas mungkinkah DeepSeek AI benar-benar menggeser dominasi ChatGPT? Bagi Dadang, jawaban atas pertanyaan seperti ini mungkin baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan. 


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Penelitian

image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
11 April 2026

Kandungan gizi MPASI berkaitan dengan keputusan ibu. Pemberdayaan perempuan dan dukungan sosial menjadi kunci gizi buah hati terpenuhi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
6 Maret 2026

Penanganan bencana harus selaras dengan komunikasi bencana yang cepat, tepat, dan berempati pada korban. Mendukung pemulihan dan memberikan kepastian kepada masyarakat.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.