Kata Mereka Soal Pemimpin
Harus Tuntas Segera
Kepada Indonesia di Masa Depan
Jangan Ragu Memilih

Kawula muda seringkali identik dengan ide-ide liar nan kreatif yang menggebrak pemikiran-pemikiran generasi sebelumnya. Idealisme mereka sering kali ampuh menangkal pemikiran usang untuk menjawab tantangan zaman.

Kehadiran kawula muda di Indonesia memberikan warna tersendiri pada perjalanan bangsa ini, termasuk soal urusan memilih calon pemimpin bangsa. Terlebih dalam Pemilu 2024 ini, jumlah pemilih dari kalangan muda mencapai lebih dari setengah total pemilih. 

Dari 204,8 juta pemilih yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Databoks by Katadata mencatat sebanyak 46,8 juta atau 22,9% pemilih berasal dari Generasi Z atau Gen Z. Sedangkan jumlah pemilih dari Generasi Milenial mencapai 66,8 juta atau 33,6%.

Kalau kita mengakumulasikan jumlah Gen Z dan Milenial, maka total pemilih yang lahir antara tahun 1981 hingga awal 2000-an mencapai lebih dari 113 juta pemilih atau  56,5% dari total keseluruhan pemilih.  

Pemilihan Presiden 2024 tinggal menghitung hari. Masa kampanye masih berlangsung dan masing-masing kandidat calon presiden terus bersafari ke berbagai daerah, menggelorakan visi misinya.

Ada tiga pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan bertarung di pilpres nanti, yakni Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming, dan Ganjar Pranowo - Mahfud MD.

Kata Mereka Soal Pemimpin

Siapapun yang akan menang nantinya, masyarakat menaruh harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Harapan itu terus bergema dari berbagai kalangan, tak terkecuali Gen Z.

Kami meminta tanggapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta soal mimpi dan harapan mereka pada pemimpin masa depan Indonesia serta arah bangsa ini di masa mendatang.

Misalnya, Aldin Nasrun Minalloh, mahasiswa Informatika Kelas Internasional UMS yang mendambakan pemimpin yang mau mendengar aspirasi rakyatnya. Baginya, keterbukaan terhadap masukan dan kritik merupakan aspek pemimpin ideal untuk Indonesia. 

“Karakter yang harus dimiliki pemimpin Indonesia kedepan yang pasti jujur, berani melawan ketidakadilan, tidak mementingkan diri sendiri maupun kelompoknya, memiliki semangat untuk menjalankan visi dan misinya, terbuka dalam kritik dan saran dari orang lain, dan juga religius,” tutur Aldin. “Pemimpin Indonesia seharusnya tidak hanya memiliki integritas tinggi tetapi juga kemampuan untuk terus berinovasi.”

Senada dengan Aldin, Bintang Kharisma Putra, mahasiswa Manajemen UMS menekankan pentingnya pemimpin untuk mendengar aspirasi rakyat dengan mengedepankan pendekatan dialogis. Menurutnya, dalam setiap kebijakan yang disahkan, rakyat lah yang terdampak langsung. 

“Pemimpin dalam pengambilan keputusan dapat mempertimbangkan masukan dari kalangan akar rumput karena mereka merasakan dampak langsung dari kebijakan yang diambil pemerintah,” kata Bintang.

Lain halnya dengan Anas Asy'ari Nashuha, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UMS. Menurutnya, pemimpin Indonesia harus memiliki jiwa seorang negarawan yang mampu menyusun kebijakan dan strategi untuk memperkuat perekonomian dan posisi geopolitik Indonesia. 

Anas juga mengatakan pemimpin harus menjadi uswatun hasanah bagi masyarakat. Pemimpin Indonesia, harus mampu mengartikulasikan nilai-nilai historis dalam konteks masa kini, sehingga perjalanan Indonesia tidak lepas dari poros kebudayaan dan sejarah bangsa. 

“Tentu kompas akhlak bernegara harus dimiliki oleh pemimpin Indonesia. Pemimpin harus mampu membaca secara kritis makna keberagamaan, ekonomi mikro dan makro, keindonesiaan, dan Indonesia dalam kancah geopolitik, sehingga pemimpin Indonesia idealnya memberikan pengabdian secara penuh untuk negeri yang adil dan makmur,” tutur Anas

Harus Tuntas Segera

Baik Aldin, Bintang, maupun Anas, ketiganya mengamini ada berbagai permasalahan yang harus dituntaskan segera oleh pemimpin masa depan Indonesia. 

“Banyak sekali permasalahan yang harus ditemukan solusinya dan dituntaskan oleh pemimpin bangsa ini ke depan,” ucap Aldin. 

Anas menguraikan ada tiga permasalahan yang harus segera diatasi oleh pemimpin Indonesia di masa depan, yakni:

  • Persoalan lingkungan, di mana masalah lingkungan hidup masih jauh dari etika lingkungan hidup. Menurut Aldin, peranan vital Indonesia sebagai paru-paru dunia harus mendapat perhatian serius. “Harus segera dituntaskan agar  kemudian Indonesia, yang memiliki kekayaan lingkungan, tetap terjaga kelestariannya dan menjaga peranan Indonesia sebagai paru-paru dunia.”
  • Persoalan pengelolaan SDA, menjadi momok lantaran sumber daya alam Indonesia yang melimpah ruah, sehingga harus mampu dikelola secara bijak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Negara ini harus mampu menjadi lokomotif perekonomian dunia. Ekonomi kreatif di era disrupsi sangat urgent untuk diperhatikan agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain,” sambung Anas. 
  • Persoalan digitalisasi, adalah tantangan lantaran kehadiran artificial intelligence yang mengerikan, sehingga harus disikapi dengan bijak. Menurut Anas, persoalan ini menjadi penentu kemajuan peradaban manusia nantinya. “Sangat dibutuhkan kompas moral dalam menjaga kemajuan teknologi, terutama artificial intelligence agar tidak mengalienasi kemanusiaan,” tambahnya.

Selain tiga persoalan di atas, Bintang menambahkan persoalan penegakan hukum harus menjadi sorotan untuk segera diselesaikan. Menurut dia, hukum yang tegak akan menjamin kesetaraan dan keteraturan kehidupan bermasyarakat. 

“Pendidikan kehidupan bermasyarakat yang terbaik adalah melalui hukum. Menurut saya, penegakan hukum yang adil mampu menghadirkan efek jera serta menghadirkan kepastian akan keadilan di tengah masyarakat,” imbuh Bintang. 

Kepada Indonesia di Masa Depan

Harapan pada pemimpin Indonesia di masa depan, terus bergelora dalam jiwa kawula muda. Selaras dengan itu, kawula muda pun memimpikan Indonesia yang madani, gemah ripah loh jinawi, dan berdiri di atas kaki sendiri di bawah kepemimpinan para pemimpin masa depan Indonesia. Mimpi-mimpi itulah yang coba diutarakan Aldin, Anas, dan Bintang. 

Aldin memimpikan Indonesia yang kuat dan adil di bawah kepemimpinan pemimpin yang tidak hanya memiliki integritas tinggi, tetapi juga kemampuan untuk berinovasi. Menurut dia, sektor pendidikan harus menjadi fokus utama dengan pemerataan akses dan fasilitas. Tak lupa sektor ekonomi harus diprioritaskan pada pemberdayaan usaha kecil dan menengah.

“Saya membayangkan Indonesia sebagai negara yang mengutamakan kesejahteraan rakyat, di mana ketidaksetaraan sosial dan ekonomi berkurang secara signifikan. Pendidikan menjadi fokus utama dan juga kebijakan-kebijakan ekonomi yang mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah hingga pembukaan lapangan kerja,” ungkap Aldin.

Serupa dengan Aldin, bagi Bintang, kemampuan ekonomi yang lebih baik dan pemerataan kekayaan menjadi mimpinya karena menunjukkan rakyat Indonesia yang semakin sejahtera dan setara. Ia juga berharap rakyat menjadi semakin teratur dan beradab melalui ketaatan pada hukum dan norma yang berlaku. 

Impian lain datang dari Anas yang mendambakan Indonesia dengan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan kompeten. Ia memandang negara ini harus memiliki visi inklusivitas yang mendalam selaras dengan keberagaman yang ada di Indonesia.

“Pertautan antara peradaban yang bersifat historis dengan agama yang bersifat subjektif harus dihadirkan dalam ruang publik, sehingga membentuk Indonesia yang berkarakter dan bernilai di masa depan,” ujar dia. 

Pandangan bangsa yang berkarakter dan bernilai ini akan membawa dampak pada bidang ekonomi yang menjadi satu kekuatan besar. Tentunya, Anas menekankan pentingnya pengelolaan ekonomi dengan cerdas sehingga potensi kekuatannya dapat terwujud. 

“Indonesia memiliki segudang kekayaan harus dikelola dengan baik oleh tenaga profesional yang mengerti akan peradaban dan agama, sehingga kemajuan ekonomi sesuai dengan kompas moral agama dan peradaban,” tegas dia.

Jangan Ragu Memilih

Di akhir sesi diskusi, Aldin berpesan kepada para pemilih yang masih ragu untuk menggunakan hak suaranya, khususnya swing voters, agar memilih pemimpin yang memiliki kredibilitas dan kemampuan untuk memimpin dengan melihat rekam jejak, visi misi, dan siapa saja yang berada di belakang mereka.

“Keputusan Anda memilih akan berdampak pada masa depan. Keputusan Anda mungkin tidak secara langsung mempengaruhi kehidupan Anda setelah memilih, tapi ini akan menentukan bagaimana negara ini kedepannya,” kata Aldin.

Anas menekankan agar para pemilih memilih pemimpin dengan mendasarkan pilihannya pada hati nurani dan akal sehat, sehingga masyarakat dapat berpikir secara kritis dan cerdas. 

“Masyarakat harus menganalisis seluruh paslon agar pilihan yang dipilih tidak hanya berdasar FOMO (Fear of Missing Out - ketakutan kehilangan momen), melainkan ia memilih secara cerdas dan kritis. Pilihan kita akan menentukan Indonesia ke depan,” tutup Anas.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Kami mengupas isu terkini dengan beragam perspektif

Berita Unggulan

image-featured
14 Juni 2026

Smogra adalah aplikasi digital besutan tim peneliti UMS. Mengintegrasikan berbagai teknologi IoT untuk menciptakan pelajar yang peduli terhadap lingkungan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
14 Juni 2026

Pameran teknologi otomasi kembali digelar oleh Prodi PTI UMS. Menampilkan 16 karya terbaik buatan mahasiswa PTI semester enam.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
14 Juni 2026

40 kelompok mahasiswa TI UMS semester 6 memamerkan proyek akhir Capstone Project. Karya mereka berupa inovasi aplikasi, sistem informasi, kecerdasan buatan, hingga teknologi IoT.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.