Apa Penyebabnya?
Solusi Meningkatkan Partisipasi

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi salah satu ruang untuk menciptakan inovasi dan kemajuan di pelbagai bidang. Di Indonesia, partisipasi perempuan dalam bidang ini masih jauh dari kata ideal.

Berdasarkan data dari World Economic Forum, antara tahun 2015 hingga 2023, persentase perempuan di bidang STEM hanya mengalami kenaikan sebesar 1,6 persen, dari 27,6 persen menjadi 29,2 persen secara global. Sementara jika mengacu laporan UNESCO dalam International Labour Organization tahun 2020, jumlah perempuan Indonesia yang bekerja di sektor sains dan teknologi hanya mencapai 37 persen. Angka ini cukup menjadi bukti bahwa dunia STEM masih didominasi oleh laki-laki.

Mengapa gap ini masih ada? Apa saja faktor yang menyebabkan perempuan kurang terwakili dalam dunia STEM? Untuk mencari tahu jawabannya, kami berbincang dengan Endang Setyaningsih, S.Si., M.Si., pakar bioteknologi dan pendidikan STEM Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Apa Penyebabnya?

Meski peluang di panggung STEM kian berkembang, perempuan masih saja menghadapi sejumlah hambatan yang menghalangi partisipasi mereka secara penuh.

Endang menyebutkan, “Berdasarkan beberapa riset yang saya baca, di tahun 2024 trennya naik dengan angka positif, hanya saja memang angkanya masih kecil. Di UMS sendiri, dosen-dosen perempuan pun yang aktif melakukan penelitian di bidang STEM cukup banyak, tak kalah dengan dosen laki-laki,” jelas Endang, yang belakangan menulis disertasi tentang STEM dalam pendidikan.


Hanya saja, ia tak memungkiri bahwa partisipasi perempuan di dunia industri masih terbatas. Kesenjangan tersebut terjadi karena faktor-faktor, seperti ketidaksesuaian antara karier dan tanggung jawab sosial perempuan (misalnya peran sebagai ibu atau istri), serta kebijakan di tempat kerja yang belum sepenuhnya ramah terhadap perempuan​.

“Alasan lain yang pernah saya dengar, biasanya karena minat juga memengaruhi perempuan dalam memilih karier. Beberapa teman dan bahkan putri saya sendiri memutuskan menggeluti ilmu-ilmu sosial,” imbuh dosen Pendidikan Biologi UMS itu.

Menurut pewartaan Detik, survei data yang dilakukan UNESCO mencatat tiga alasan mengapa perempuan memiliki minat minim untuk berkarier di STEM. Pertama, sebanyak 61 persen responden menyatakan selalu mempertimbangkan stereotip gender saat mencari kerja. Kedua, 50 persen responden kurang tertarik berkarier di STEM karena kuatnya sentimen dominasi laki-laki. Ketiga, sebesar 45 persen responden mengaku percaya pekerjaan di STEM tak sesuai untuk perempuan.

Angka tersebut cukup membuat perempuan merasa dilema, antara mengikuti ambisi profesional atau ekspektasi sosial. Perempuan dituntut mempertimbangkan banyak hal kala berkarier di dunia STEM.

Seperti halnya cerita Lusi Setyowati (28), mantan drafter struktur bangunan di salah satu perusahaan BUMN. Setelah berkarier selama lebih dari lima tahun di bidang STEM, ia memutuskan berhenti bekerja demi fokus pada perannya sebagai ibu dari dua anak batita.

“Awalnya, saya merasa mampu menjalani keduanya, tapi realitanya berat. Jam kerja juga padat, beberapa kali lembur. Jadi usai melahirkan, saya merasa anak-anak harus mendapatkan perhatian langsung dari saya, terutama di masa-masa tumbuh kembang mereka,” ungkap Lusi, Kamis (28/11/2024).

Lusi juga mengaku tekanan sosial turut memengaruhi keputusannya. Sebagai istri dan ibu muda, ia sering dihadapkan pada ekspektasi untuk memprioritaskan keluarga di atas karier.

“Ada momen-momen di mana saya merasa dihakimi oleh beberapa orang karena lebih memilih bekerja dibanding mengurus anak sendiri. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk mundur dari pekerjaan meski berat meninggalkan dunia yang saya cintai,” tambahnya.

Solusi Meningkatkan Partisipasi

Endang menambahkan, solusi untuk meningkatkan partisipasi perempuan di STEM harus dimulai sejak dini. Pendidikan dasar menjadi titik awal untuk membangun kepercayaan diri perempuan dalam mengeksplorasi bidang-bidang yang berkaitan dengan matematika, sains, dan teknologi. Untuk itu, ia mendorong pentingnya perubahan dalam kurikulum yang dapat lebih mendorong minat perempuan di bidang STEM.

“Juga menyangkut pendidikan yang kurang memadai. Kita perlu lebih banyak pelatihan dan program pengembangan yang bisa mendukung dan mendorong minat perempuan di STEM,” ujar Endang.

Peran universitas pun dirasa sangat penting untuk menciptakan kebijakan yang inklusif bagi perempuan. UMS sendiri misalnya, terus berupaya mendorong lebih banyak mahasiswi untuk mengambil jurusan STEM melalui berbagai penawaran beasiswa yang tak bias gender.

Sayangnya, langkah tersebut tak cukup jika hanya fokus pada pendidikan. Dunia kerja juga harus lebih ramah perempuan. Seperti yang tertera dalam riset McKinsey & Company berjudul “Diversity wins: How inclusion matters”, keberagaman gender dalam organisasi terbukti meningkatkan kinerja finansial. Beberapa perusahaan di 15 negara dan negara bagian di Britania Raya dan Amerika Serikat tercatat memiliki peluang 25 persen lebih unggul untuk mencatatkan keuntungan di atas rata-rata industri, jika mereka menerapkan keberagaman gender yang baik. Salah satu rekomendasi dari riset ini ialah terciptanya kebijakan yang mendukung perempuan, seperti jam kerja fleksibel dan sistem cuti yang inklusif.

Dengan menciptakan lingkungan ramah perempuan di STEM, Indonesia berpotensi mengoptimalkan potensi ekonomi dan inovasi di bidang teknologi. Sebagaimana negara-negara dengan representasi gender yang lebih seimbang di STEM mencatatkan pertumbuhan ekonomi lebih cepat dan efisiensi inovasi yang lebih tinggi.

“Semakin banyak perempuan di STEM, semakin besar pula inovasi yang dapat tercipta,” kata Endang. Menurutnya, sektor pendidikan dan industri harus bekerja sama menciptakan ekosistem yang lebih mendukung perempuan untuk terlibat di panggung STEM.

 

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Cerita Alumni

image-featured
4 Juni 2026

Dharu Rendro Anom Prabowo menghabiskan hampir satu dekade hidupnya di dunia tambang. Kini mengawal pengoperasian sistem kelistrikan dan instrumentasi proyek tambang emas Gorontalo.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
22 April 2026

Asri Hartati memulai konten daily vlog berbahasa Inggris dari keisengan semata. Viral ke penjuru Indonesia dan masuk televisi nasional.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
28 Februari 2026

Singgih Eko Yudistiro berkecimpung di bidang pemasaran komunikasi lebih dari satu dekade. Kini sibuk mengakselerasi laju PT Laksana Bus Manufaktur di pasar domestik dan mancanegara.

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.