Gempuran pemain Timnas Australia tak menggoyahkan pertahanan Maarten Paes, kiper Timnas Indonesia, dalam laga lanjutan Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (10/9/2024).
Kiper FC Dallas itu berhasil menghalau sepakan on target Harry Souttar setelah menerima umpan manja dari Jackson Irvine. Maarten juga menghalau tendangan Craig Goodwin.
Bahkan, di saat genting sekalipun, dewi fortuna seolah berpihak pada Paes. Ancaman datang saat tendangan Nestory Irankunda tak mampu ia tepis. Beruntung, bola mengenai tiang gawang dan memantul kembali ke arena.
Dalam dua laga terakhir Timnas Indonesia, kiper naturalisasi Indonesia itu keluar sebagai tokoh utama yang sukses membentengi jala gawang skuad Garuda. Tidak heran jika media nasional Indonesia ramai menjulukinya tembok beton.
Paes adalah pemain asing hasil program naturalisasi Timnas Indonesia yang dijalankan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Kabar bergabungnya Paes dalam skuad Timnas Indonesia diumumkan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, Senin (18/8/2024).
“Kabar baik bagi persepakbolaan Indonesia. PSSI pada hari ini menginformasikan bahwa setelah melalui proses yang cukup lama dan ekstensif, Maarten Paes akhirnya telah berhasil didaftarkan dan sekarang secara sah dapat bermain mewakili tim nasional Indonesia,” tulis Erick dalam akun Instagram-nya.
Mengutip Antara, di bawah asuhan pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, program naturalisasi pesepak bola keturunan Indonesia yang berlaga di luar negeri semakin gencar dilakukan dalam lima tahun terakhir.
Terhitung sudah 17 pemain naturalisasi bergabung dalam skuad Garuda. Adapun daftar pemain naturalisasi Indonesia antara lain Jordi Amat, Marc Klok, Shayne Pattynama, Sandy Walsh, Rafael Struick, Ivar Jenner, Nathan Tjoe-A-On, Justin Hubner, Ragnar Oratmangoen, Thom Haye, Jens Raven, Jay Idzes, Calvin Verdonk,Maarten Paes, Eliano Reijnders, Elkan Baggott, dan Mees Hilgers.
Kapten PS UMS, Aji Tri Mulya, melihat kualitas permainan Timnas Indonesia kian menunjukkan perkembangan positif mulai dari taktik hingga fisik. Para pemain terlihat lebih agresif dan terorganisir dalam beberapa pertandingan terakhir.
Efek naturalisasi berhasil membuat Indonesia menduduki peringkat 129 FIFA per 1 September 2024. Para pemain asing tersebut datang dari liga yang lebih kompetitif. Tak heran jika mereka memboyong permainan berkualitas ke tubuh timnas. Namun, Aji menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemain lokal dan naturalisasi. “Agar regenerasi pemain lokal tetap berjalan dengan baik dan tidak sepenuhnya bergantung pada pemain naturalisasi,” kata dia, Rabu (2/10/2024).

Kontroversi
Kehadiran pemain naturalisasi menuai kritik sejumlah kalangan. Kontroversi ini muncul tatkala masyarakat mengungkit proporsi pemain lokal dalam skuad Garuda dibanding pemain naturalisasi.
Komentar pedas datang dari akademisi sekaligus pengamat politik, Rocky Gerung, yang menyayangkan kurangnya talenta lokal di tubuh timnas akibat proyek naturalisasi. Ini terlihat dari jumlah pemain lokal yang berlaga menjamu Australia beberapa pekan lalu. Rocky mengatakan naturalisasi sebagai pembenaran yang membuat pembibitan atlet terhenti.
“Walaupun kita kalah melulu, tetapi kita ada upaya perbaikan melalui pembibitan dan kurikulum mutakhir kan,” ujar Rocky dalam akun YouTube resminya yang dilihat pada Senin (30/9/2024). “Harus dihidupkan lagi sepak bola sebagai kebanggaan nasional, bukan naturalisasi.”
Aji Tri Mulya mewajarkan kritik terhadap naturalisasi, sebab sebagian masyarakat mungkin merasa khawatir program naturalisasi bisa menghambat perkembangan talenta lokal. Di sisi lain, naturalisasi menjadi langkah taktis untuk mempercepat peningkatan kualitas timnas.
“Solusinya adalah memadukan keduanya dengan baik. Naturalisasi bisa tetap dilakukan, tetapi harus diiringi dengan fokus kuat pada pembinaan pemain lokal, terutama di tingkat usia dini, sehingga Indonesia tetap memiliki fondasi pemain lokal yang kuat,” jelas Aji.
Saat dimintai tanggapan terhadap komentar miring tersebut, Sekretaris Jenderal II PSSI Surakarta, Pungki Indarto, S.Pd., M.Or., menjawab santai. Dirinya mengungkapkan naturalisasi menjadi pilot project sekaligus rencana jangka pendek untuk memperbaiki persepakbolaan nasional. Perbaikan di pucuk tertinggi Timnas Tanah Air diharapkan dapat ditiru di tingkat liga, klub, hingga pembibitan calon pemain.
Keberhasilan Indonesia melakukan naturalisasi, menurut Pungki, menunjukkan daya tawar Indonesia yang cukup tinggi. Misalnya lewat animo masyarakat yang cukup tinggi terhadap sepak bola, perbaikan struktur dan kinerja asosiasi, hingga daya tawar Erick Thohir dan manajemen kepelatihan Shin Tae-yong. “Ada kebanggan tersendiri bagi pemain asing saat bermain untuk timnas kita,” kata Pungki, Kamis (26/9/2024).
Kendati demikian, dia menekankan pentingnya prosedur dalam menjalankan proses naturalisasi. Rangkaian proses tersebut mencakup pemberkasan, wawancara dengan Badan Intelijen Negara, tes kesehatan, hingga sumpah dan janji setia pewarganegaraan Indonesia.
Naturalisasi, kata dia, jangan sampai dianggap tabu. Di negara lain, praktik naturalisasi lumrah dilakukan dengan sasaran pengembangan industri keolahragaan. Menurut Pungki, selain dilakukan karena faktor fisik, naturalisasi dilakukan karena faktor kedisiplinan pemain. Ini merujuk pada evaluasi Shin Tae-yong yang mengkritisi kedisiplinan pemain Indonesia.
Percepat Atasi Masalah
Perlu diakui, persepakbolaan Tanah Air masih didera masalah, mulai dari pembibitan pemain, hingga sistem liga yang dianggap belum maksimal. Langkah naturalisasi memang dilakukan secara pragmatis untuk mengejar prestasi dalam jangka waktu relatif pendek. Bagi Pungki hal tersebut tidak masalah untuk memacu perbaikan tata kelola sepak bola secara menyeluruh. Penataan sepak bola yang dilakukan saat ini dimulai dari atas dan dilakukan bertahap hingga level terendah.
Pungki tidak menampik jika pemain naturalisasi memiliki beberapa keunggulan dibanding pemain lokal, misalnya postur tubuh pemain, kemampuan afektif, ketahanan dan kekuatan tubuh, hingga intelegensi para pemain. Program naturalisasi harus didukung Long-term Athlete Development (LTAD) sekaligus implementasi sport sciences secara masif. Hal ini akan mendorong perkembangan sport industry Indonesia di masa mendatang.
Untuk mewujudkan LTAD, PSSI harus menyinergikan beberapa bidang, mulai dari manajemen kepelatihan, tim medis yang terdiri atas dokter hingga fisioterapis, hingga ahli nutrisi. Mulai dari pengukuran postur tubuh, fungsi organ tubuh, menu diet pemain, hingga analisis pertandingan menjadi bagian integral dari LTAD.
Selain itu, sistem pembibitan atlet sepak bola harus dilakukan berjenjang. Materi pelatihan jangan sampai digembleng seluruhnya sejak usia dini. Bobot pelatihan harus disesuaikan dengan usia pemain bola. Tujuannya untuk memastikan pemain dapat menunjukkan performa terbaik saat usia matang. “Peak performance-nya sekitar usia 23 sampai 25 tahun,” jelas dosen Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Surakarta itu.
Dengan perbaikan secara menyeluruh dari level teratas hingga terbawah, Pungki optimis persepakbolaan Indonesia akan berkembang lebih baik di masa mendatang. Iklim sepak bola yang baik juga mendorong berkembangnya sport industry di masyarakat.
Pungki menyebut regenerasi pemain untuk mencetak bibit unggul pemain sepak bola membutuhkan waktu sedikitnya lima tahun untuk termin pertama. Sedangkan untuk program jangka panjang melalui LTAD membutuhkan waktu sedikitnya 15 tahun.
Betapapun perjalanan panjang membentang di depan mata, Pungki tetap optimis dengan masa depan timnas. Tak ada kata terlambat dalam perbaikan Timnas Indonesia. “Daripada tidak eksekusi sama sekali, mending dilakukan sekarang,” tutup dia.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







