Perbedaan Puting Beliung dan Tornado
Penyebab Angin Puting Beliung
Mungkinkah Tornado Terjadi di Indonesia?
Waspada Cuaca Ekstrem

Rabu kelabu menjadi memori yang tidak terlupakan bagi warga Rancaekek. Bertengger di perbatasan Kabupaten Bandung dan Sumedang, angin mengamuk meluluhlantakkan Rancaekek dan membuat rumah, pabrik, pepohonan, kendaraan, hingga baliho tersapu pusaran angin.

Dihimpun dari Detik.com, BPBD Jabar menyebut angin ribut di Rancaekek, Rabu (21/02/2024), terjadi di lima kecamatan, yakni: Kecamatan Rancaekek, Kecamatan Cicalengka, Kecamatan Cileunyi (Kabupaten Bandung), Kecamatan Jatinangor, dan Kecamatan Cimanggung (Kabupaten Sumedang). Luas daerah terdampak setara dengan sepertiga luas Jakarta.

Sontak satu Indonesia dibuat heboh. Sebab angin kencang di Rancaekek lebih destruktif dibanding bencana angin puting beliung yang lazim terjadi. Dihimpun dari Detik.com, angin ribut itu memporak-porandakan enam pabrik dan membuat sejumlah truk terguling di kawasan Industri Rancaekek Dwipapuri Abadi. Fenomena viral itu membuat sebagian orang menganggapnya sebagai tornado. Lalu, bagaimana penjelasan pakar mengenai “tornado” di Rancaekek pekan lalu?


Tangkapan layar rekaman video detik-detik "tornado" Rancaekek, Rabu (21/2/2024). (Dok.Internet)

Kami menghubungi Pakar Klimatologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Drs. Yuli Priyana, M.Si., untuk menggali informasi seputar fenomena viral angin kencang Rancaekek. Menurut Pak Yuli, sapaan akrabnya, angin kencang yang menerpa Rancaekek belum dapat dikategorikan sebagai tornado. Sebab diameter dan kecepatan angin di Rancaekek lebih kecil dibanding Tornado.

“Bencana kemarin hampir menyerupai tornado tetapi dengan kecepatan dan diameter lebih kecil. Jadi lebih pas disebut dengan bencana angin puting beliung,” tutur Yuli saat dihubungi melalui WhatsApp, Selasa (27/02/2024).

Perbedaan Puting Beliung dan Tornado

Meskipun sama-sama fenomena angin kencang yang merusak, Yuli mengatakan tornado dan angin puting beliung mempunyai beberapa perbedaan. Tornado adalah angin kencang yang disebabkan adanya perbedaan suhu dan kelembaban udara ekstrem di atmosfer.

“Ketika udara hangat dan lembab bertemu dengan udara dingin, udara hangat akan naik karena lebih ringan. Ketika udara hangat naik, udara dingin akan menggantikan posisinya dan menciptakan gerakan vertikal yang kuat. Tornado diperkuat oleh faktor lain seperti angin horizontal yang kuat atau putaran udara yang kuat,” jelas dosen Geografi UMS itu.

Kondisi udara tersebut memicu pertumbuhan awan cumulonimbus,  awan tebal  dengan kandungan air melimpah (awan Cb). Karakter awan cumulonimbus akan menimbulkan cuaca ekstrem. “Tapi tidak setiap awan cumulonimbus menyebabkan terjadinya tornado karena ini sangat bergantung dari kondisi stabilitas atmosfernya,” lanjut dia.

Tornado, yang biasa terjadi di Amerika Serikat, mempunyai rata-rata diameter 100-500 m dengan panjang lintasan mencapai 100 km. Tornado mempunyai kecepatan hingga 800 km/jam. Biasanya, tornado berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam.

“Angin puting beliung mirip seperti tornado. Hanya saja angin puting beliung terjadi pada skala yang lebih kecil dan kecepatan yang lebih kecil dibandingkan dengan tornado,” imbuhnya.

Sedangkan, waktu putaran angin puting beliung relatif singkat antara lima hingga lima belas menit. Yuli menjelaskan faktor yang memicu angin puting beliung, antara lain: perbedaan suhu, perbedaan kelembaban, dinamika atmosfer, hingga topografi.

Nah, kira-kira bagaimana cara untuk membedakan gejala tornado dan angin puting beliung? Yuli menguraikan beberapa ciri-ciri tornado adalah:

  • Bentuk hembusan menyerupai corong.
  • Kecepatan angin sangat tinggi bisa ratusan km per jam, bisa menerbangkan mobil.
  • Suara mengaum keras, seperti suara pesawat jet atau kereta api.
  • Warna langit gelap oleh awan cumulonimbus.
  • Adanya awan yang berputar membentuk pusaran angin.
  • Terjadi pusaran angin yang sangat kencang dan durasi bisa lama.

Sedangkan ciri-ciri angin puting beliung adalah:

  • Udara terasa panas dan gerah.
  • Di langit tampak ada pertumbuhan awan Cb. 
  • Di antara awan Cb ada satu jenis awan dengan batas tepi yang sangat jelas, berwarna abu-abu kegelapan, dan menjulang tinggi yang secara visual seperti bunga kol raksasa.
  • Awan berubah warna dari putih menjadi hitam pekat dalam waktu singkat. 
  • Durasi fase pembentukan awan hingga fase awan punah berlangsung paling lama sekitar satu jam.


Penyebab Angin Puting Beliung

Puting beliung bukan barang baru di Indonesia. Lazim terjadi di puncak musim penghujan dan masa pancaroba, sejarah mencatat Indonesia pernah diterpa puting beliung bersifat destruktif. 

Bencana puting beliung Sidoarjo tahun 2022 misalnya. Dihimpun dari Okezone.com, angin puting beliung memporak-porandakan 23 rumah penduduk di Desa Grogol dan Sudimoro, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (6//2/2022). Angin kencang menghajar satu tiang listrik, tiga pohon, satu fasilitas umum, dan satu tempat usaha milik warga sekitar. Beruntung, angin puting beliung Sidoarjo tidak ada memakan  korban jiwa.

Menurut Yuli, puting beliung semacam itu terbentuk akibat perbedaan suhu dan kelembaban udara yang ekstrem di atmosfer. Saat udara hangat dan lembab bertemu dengan udara dingin, udara hangat akan naik karena lebih ringan. Hal ini membuat udara dingin bergerak turun menggantikan posisi udara hangat. 

Pergerakan massa udara itu akan menciptakan gerakan vertikal yang kuat. “Jika kondisi ini diperkuat oleh faktor lain seperti angin horizontal yang kuat atau putaran udara yang sudah ada, maka dapat terbentuk angin puting beliung,” papar Yuli.

Puting beliung bisa terjadi di berbagai tempat yang cenderung memiliki cuaca ekstrem. “Biasanya terjadi pada wilayah dengan banyak pertumbuhan dan konveksi termal yang kuat seperti wilayah dataran yang luas.” kata Yuli melanjutkan. Lazimnya, angin ini terjadi selama musim pancaroba di mana pada siang hari, suhu udara panas, pengap, dan awan hitam berkumpul.

“Perubahan suhu akan menyebabkan terjadinya dinamika temperatur di muka bumi. Perbedaan suhu udara antara dua lapisan udara yang berdekatan dapat menciptakan perbedaan tekanan udara horizontal. Perbedaan ini bisa memicu terbentuknya angin yang berputar,” terang Lektor Kepala di Prodi Geografi UMS itu.

Mungkinkah Tornado Terjadi di Indonesia?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, mungkinkah Indonesia mengalami tornado? Yuli menyatakan Indonesia tidak mendukung pembentukan tornado. Penyebabnya adalah posisi geografis Indonesia yang terletak di daerah ekuator membuat Indonesia diberkahi iklim tropis.  

“Tornado biasanya terbentuk daerah lintang tinggi atau daerah yang beriklim dingin, karena tornado termasuk angin siklon yang tidak biasa tumbuh pada daerah subtropis dan tropis,” jelas Yuli.

Waspada Cuaca Ekstrem

Tindakan mitigasi bencana alam dilakukan untuk menghadapi ancaman bencana serupa. “Proses pembentukan angin puting beliung sulit dicegah, tetapi bisa dihindari saat terjadi,” ujar Yuli. Dia menekankan masyarakat dan instansi terkait agar waspada dengan berbagai gejala yang menyertai cuaca ekstrem.

Masyarakat harus waspada terhadap terjadinya potensi bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat hingga sangat lebat dengan durasi lebih dari satu jam, angin puting beliung, dan hujan es yang dapat mengakibatkan dampak seperti banjir, longsor lahan, pohon tumbang, serta dampak kerusakan lainnya. 

Selain itu, mereka juga harus waspada terhadap terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai dengan kilat atau petir dan juga angin kencang pada sore hari, terutama pada hari di mana terjadi pemanasan kuat antara pukul 10.00-14.00. Kondisi ini biasanya ditandai dengan jenis awan yang berwarna gelap, dan menjulang tinggi seperti kembang kol dan terkadang memiliki landasan pada puncaknya (awan jenis Cb). 

Yuli menekankan khusus masyarakat yang tinggal di daerah bertopografi curam/bergunung atau rawan longsor harus mewaspadai kejadian hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang terjadi selama beberapa hari berturut-turut.

“Selain waspada terhadap kondisi cuaca seperti banjir dan sebagainya, masyarakat juga harus waspada dengan lingkungan sekitar. Angin puting beliung bisa merobohkan pohon, papan reklame, hingga puing bangunan yang bisa mencelakai penduduk,” tutup Yuli.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Tertarik belajar ilmu kebumian?

Berita Unggulan

image-featured
12 Juni 2026

Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?

image-featured
10 Juni 2026

Tim FEB UMS berdiskusi dengan perwakilan PPI Jepang. Bahas strategi branding destinasi wisata Indonesia agar semakin dikenal oleh masyarakat internasional, khususnya di Jepang.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
9 Juni 2026

Menyambut World No Tobacco Day 2026, BEM FKG UMS mengampanyekan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut di car free day Slamet Riyadi, Solo.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.