DSTI
// Selengkapnya
Apa itu HPV?
Bisa Terjadi pada Pria
Imunisasi sebagai Pencegahan

Apa itu HPV?

Ajakan vaksinasi human papillomavirus (HPV) di media sosial kian gencar dikampanyekan. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang bingung soal pentingnya vaksinasi, usia ideal vaksinasi, hingga siapa saja yang perlu mendapatkannya.

Rilis berita Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan, program vaksinasi HPV nasional akan terus diakselerasi demi menekan angka kematian akibat kanker serviks. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan upaya tersebut sangat mendesak, mengingat kanker serviks menjadi salah satu penyebab kematian utama perempuan di Indonesia.

“Kanker serviks adalah kanker pembunuh kedua untuk perempuan di Indonesia setelah kanker payudara. Jadi mungkin setiap 25 menit ada satu orang perempuan Indonesia meninggal akibat kanker serviks,” ujar Menkes Budi, dikutip dari laman Kemkes.go.id, Kamis (23/4/2026).

Sementara laporan Unicef.org menyatakan, lebih dari 95 persen kasus kanker serviks disebabkan oleh virus papiloma manusia (HPV). Pada tahun 2022, sekitar 350.000 perempuan meninggal akibat kanker serviks dan sekitar 660.000 kasus baru terdeteksi. 

Virus HPV adalah virus DNA untai ganda melingkar tanpa selubung yang menyebabkan berbagai lesi epitel. Virus ini termasuk kelompok virus yang sangat umum dan dapat menginfeksi kulit maupun mukosa.

Penularannya terjadi melalui kontak seksual vaginal, anal, maupun oral, bahkan kontak kulit ke kulit di area genital tanpa penetrasi. Kondisi tersebut membuat penyebarannya sulit dikendalikan karena seseorang bisa terinfeksi tanpa menyadarinya.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE, Dipl. STD-HIV/AIDS, FINSDV, FAADV. menjelaskan, terdapat lebih dari 100 subtipe HPV. Sebagian bersifat risiko rendah yang menimbulkan kutil, sedangkan tipe risiko tinggi seperti 16 dan 18 berkaitan dengan kanker.

“Infeksi virus HPV dapat bermanifestasi sebagai kutil kulit maupun kutil anogenital. Pada tipe risiko tinggi, infeksi persisten dapat berkembang menjadi kanker serviks, kanker anus, hingga kanker orofaring,” jelas Flora saat ditemui Kamis (23/4/2026).

Penyakit HPV, lanjut Flora, sering kali berkembang tanpa keluhan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kanker serviks menjadi kanker keempat paling umum pada perempuan secara global.

Hampir seluruh kasus berkaitan dengan infeksi HPV tipe onkogenik. “Di negara berkembang, penyakit ini bahkan menyumbang hingga seperempat kematian akibat kanker pada perempuan,” terang dosen Fakultas Kedokteran UMS itu.

Bisa Terjadi pada Pria

HPV pada pria juga tidak bisa diabaikan. Flora mengingatkan, selama ini pembahasan tentang HPV kerap berfokus pada wanita karena kaitannya dengan kanker serviks. Padahal, pria juga dapat terinfeksi, menjadi pembawa virus tanpa gejala hingga berperan dalam rantai penularan.

Virus HPV dapat menyebabkan kutil kelamin pada pria, lebih dari 90 persen kanker anus, serta sekitar 60 persen kanker orofaring. HPV berisiko tinggi pun dapat memengaruhi integritas sperma.

gejala hpv, imunisasi hpv adalah, apa itu hpv, virus hpv, virus hpv adalah, penyakit hpv, hpv pada pria, gejala hpv pada wanita, suntik hpv

“Virus HPV bisa ditularkan dari pria ke wanita melalui kontak seksual (vaginal, anal, maupun oral) serta kontak kulit ke kulit di area genital. Pria umumnya tidak bergejala (asimtomatik), sehingga dapat menjadi carrier tanpa disadari,” jelas dia.

Flora menambahkan, jenis HPV berisiko tinggi yang dapat menyebabkan kanker jarang menunjukkan gejala apapun pada pria atau wanita. Lesi prakanker dapat berkembang bertahun-tahun sebelum terdeteksi.

“Gejala HPV pada wanita juga nggak selalu jelas, ya. Perubahan pada serviks sering kali baru terdeteksi melalui skrining,” katanya. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin menjadi langkah penting untuk menemukan kelainan sejak dini sebelum berkembang menjadi kanker.

Sementara itu, sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko infeksi menjadi penyakit serius. Di antaranya sistem imun lemah, banyak pasangan seksual, mulai aktivitas seksual di usia muda, kebiasaan merokok, serta adanya infeksi menular seksual lain.

“Perlu diingat-ingat, kalau infeksi HPV tipe risiko tinggi yang menetap menjadi faktor utama perkembangan kanker,” imbuh Flora.

Imunisasi sebagai Pencegahan

Imunisasi HPV menjadi metode pencegahan yang bekerja langsung pada penyebab kanker. Vaksin merangsang pembentukan antibodi terhadap virus sehingga mencegah infeksi baru.

Flora menerangkan, program vaksinasi direkomendasikan pada anak usia 9-14 tahun sebelum terpapar aktivitas seksual. Namun, vaksinasi juga direkomendasikan bagi laki-laki dan perempuan hingga usia 45 tahun yang belum pernah menerima vaksin.

“Rekomendasi global mencakup kedua jenis kelamin untuk menurunkan transmisi populasi. Kelompok tertentu dianjurkan mendapatkan vaksin, termasuk individu dengan sistem imun lemah, pria yang berhubungan seks dengan pria, serta mereka yang berisiko terpapar infeksi baru,” sebutnya. Sebaliknya, vaksin tidak dianjurkan bagi individu dengan alergi berat terhadap komponen vaksin atau yang sedang hamil.

Suntik HPV diberikan dalam dua atau tiga dosis tergantung usia. Anak usia 9-14 tahun umumnya membutuhkan dua dosis dengan jarak 6-12 bulan. Remaja dan dewasa memerlukan tiga dosis pada bulan ke-0, 1-2, dan 6. Perlindungan vaksin ini dapat bertahan lebih dari 10 tahun.

Batasan usia vaksin HPV juga kerap memantik kebingungan. Banyak informasi menyebutkan vaksin hanya efektif hingga usia 26 tahun. Flora menjelaskan, vaksin tetap bermanfaat bagi usia 27-45 tahun melalui pengambilan keputusan klinis bersama dokter.

“Efektivitas memang menurun karena kemungkinan sudah terpapar lebih tinggi. Namun, seseorang belum tentu terinfeksi semua tipe HPV. Vaksin masih memberikan perlindungan parsial terhadap tipe lain yang belum terpapar,” ungkapnya.

Orang yang sudah aktif secara seksual juga masih dapat memperoleh manfaat vaksin. Vaksin tidak menghilangkan infeksi yang sudah ada, tetapi mencegah infeksi baru dan reinfeksi. Dengan lebih dari 100 tipe HPV, seseorang yang terinfeksi satu tipe masih berisiko tertular tipe lain.

“Meski banyak manfaat, vaksinasi tak bisa menggantikan pemeriksaan rutin. Perempuan tetap dianjurkan menjalani skrining karena vaksin tidak mencakup semua tipe virus, ya,” ujar Flora mengingatkan.

WHO menyarankan skrining setiap 5-10 tahun mulai usia 30 tahun. Perempuan dengan HIV dianjurkan memulai skrining lebih awal. “Strategi global bahkan menganjurkan minimal dua kali skrining seumur hidup, pada usia 35 dan 45 tahun,” tambahnya.

Flora menegaskan, vaksin HPV merupakan langkah paling efektif untuk mencegah kanker terkait HPV. Lantaran vaksin bekerja langsung pada etiologi penyakit, bukan hanya mengurangi risiko.

Vaksin juga memberikan manfaat tambahan berupa herd immunity. Ketika cakupan vaksinasi meningkat, penularan virus di populasi menurun sehingga melindungi individu yang belum divaksin.

Masih banyak masyarakat yang menunda vaksinasi karena merasa belum perlu atau takut. Menurut Flora, kesadaran tentang HPV masih perlu ditingkatkan. Infeksi yang tidak terlihat dapat berkembang menjadi penyakit serius jika diabaikan.

“Edukasi, vaksinasi, dan skrining rutin menjadi tiga pilar utama pencegahan. Ketika masyarakat memahami bahwa HPV dapat menyerang wanita maupun pria, langkah pencegahan bukan lagi jadi pilihan, melainkan kebutuhan,” pungkasnya. Sebab vaksinasi bukan hanya perlindungan individu, tetapi juga investasi kesehatan publik untuk generasi mendatang.

 

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Cerita Alumni

image-featured
4 Juni 2026

Dharu Rendro Anom Prabowo menghabiskan hampir satu dekade hidupnya di dunia tambang. Kini mengawal pengoperasian sistem kelistrikan dan instrumentasi proyek tambang emas Gorontalo.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
22 April 2026

Asri Hartati memulai konten daily vlog berbahasa Inggris dari keisengan semata. Viral ke penjuru Indonesia dan masuk televisi nasional.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
28 Februari 2026

Singgih Eko Yudistiro berkecimpung di bidang pemasaran komunikasi lebih dari satu dekade. Kini sibuk mengakselerasi laju PT Laksana Bus Manufaktur di pasar domestik dan mancanegara.

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.