
Badal Umroh dari Kacamata Tarjih Muhammadiyah
Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar acara Tabligh Akbar bertajuk “Muslim Milenial Bertaut Masjid, Keluarga Tangguh Berbingkai Jamaah" dengan menghadirkan Ustaz Dr. Adi Hidayat, Lc., M.A. Acara tersebut dilangsungkan di Gedung Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS dan disiarkan melalui kanal YouTube tvMu Channel, Minggu (24/9).
Dalam tausiyahnya, Ustaz Adi Hidayat menerangkan transformasi dakwah yang telah dilakukan Muhammadiyah dalam beberapa metode. Pertama, dakwah dengan ucapan atau tablig (bil lisan), kemudian dakwah dengan tulisan (bil qolam) seperti Suara Muhammadiyah, dan dengan tindakan (bil bunyan).
"Termasuk dalam satu hadis yang disampaikan oleh Rasulullah dan diviralkan oleh Ibnu Majah, maka bersiaplah Rasulullah berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib (nama sebuah kota sebelum berganti menjadi Madinah). Ternyata Rasulullah mendapati masyarakat heterogen yang telah bertikai selama 120 tahun," terangnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan apa yang dibimbing oleh Allah kepada Rasulullah untuk mengubah keadaan masyarakat Yatsrib dengan tingkat sosial seperti tadi menjadi suasana kota yang mencerahkan. Terdapat dua strategi yang digunakan Rasulullah, di antaranya: membangun kekuatan jemaah dan menolong sesuai kebutuhan tanpa pamrih (diberikan fasilitasnya).
"Sampai-sampai banyak orang menyebutkan Madinah adalah tempat bagi orang jujur, orang hebat, bahkan kota dengan pasar yang stabil ekonominya," imbuh Ustaz Adi Hidayat.
Berkaca dari strategi pertama Rasulullah, Sang Ustaz berharap bahwa masjid itu bukan hanya tempat untuk menjalankan ritus peribadatan saja, tapi masjid merupakan tempat konferensi terbesar umat Islam, baik skalanya lokal maupun internasional.
"Ketika masuk masjid, pancaran dari ibadah ritual itu menyatukan semua yang datang ke sana untuk saling mengenal, mengisi, dan mengeratkan hubungan," jelas ustaz yang kondang disapa UAH itu.
Berkaitan dengan strategi kedua Rasulullah, Ustaz Adi Hidayat memberikan tantangan kepada rekan-rekan majelis tablig di setiap daerah agar memiliki satu ahli IT yang dapat membuat aplikasi.
"Misalnya, kita buatkan sebuah aplikasi bernama Tablig Berkemajuan. Ketika masyarakat sudah masuk ke situ, lama-kelamaan akan menyebar wilayahnya, dikoneksikan ke masjid-masjid, dan ini merupakan implementasi dari strategi menolong sesuai kebutuhan tanpa pamrih dengan memberikan fasilitas berupa aplikasi dakwah atau semacamnya," lanjutnya.
Ide Ustaz Adi tersebut bertujuan untuk mewadahi kemudahan beramal seperti kajian online, sedekah, hingga zakat berbasis aplikasi yang integratif, tepat sasaran, dan aplikatif menjangkau masjid-masjid di seluruh daerah.
Selaras dengan pesatnya perkembangan dunia teknologi, ide Sang Ustaz terdengar menjanjikan bagi kalangan pemuda Muhammadiyah yang menggeluti bidang IT untuk mewujudkan cita-cita besar organisasi, yaitu dakwah berkemajuan.

Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.