
Badal Umroh dari Kacamata Tarjih Muhammadiyah
Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Indonesia terdaftar sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna internet tertinggi di dunia, tak heran karena Indonesia memiliki jumlah populasi yang besar dan pertumbuhan internet yang pesat. Berdasarkan We Are Social 2023, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 212,9 juta dengan tingkat penetrasi sebesar 77,0% per Januari 2023. Jumlah tersebut meningkat sekitar 4% dibandingkan tahun lalu.

Namun sayangnya, jumlah pengguna internet di Indonesia yang melimpah tidak diimbangi dengan tingkat keamanan siber yang memadai. Berdasarkan data dari National Cyber Security Index (NCSI), skor indeks keamanan siber Indonesia sebesar 38,96 poin dari 100 (tahun 2022). Angka ini membuat Indonesia duduk di peringkat ke-3 terendah di antara negara-negara G20.
Masih dalam topik yang serupa, baru-baru ini tim mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil menorehkan prestasi pada kompetisi Gemastik (Pagelaran Nasional Mahasiswa Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi) XVI 2023 sebagai juara tiga Divisi Keamanan Siber yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Mereka adalah Bayu Fedra Abdullah, Zavier Ferodova Al Fitroh, dan Muhammad Wahyu Syafi’udin.

Ketua tim, Fedra menjelaskan mereka bertiga pernah mengikuti kompetisi Gemastik di tahun sebelumnya dan meraih juara harapan (posisi ke-4). Baginya, prestasi di tahun ini merupakan sebuah peningkatan yang sangat bagus bagi tim.
“Sebenarnya tim kami dengan tim yang menjadi juara satu dan juara dua menyelesaikan jumlah challenge yang sama. Sayangnya kami kalah dalam kecepatan waktu, kedua tim lebih unggul beberapa menit,” ujar Fedra saat ditemui untuk wawancara pada Kamis (21/9).
Lebih lanjut, ia menerangkan pelaksanaan dan teknis perlombaan yang tim lalui. Tiap-tiap tim diberikan satu server atau komputer yang di dalamnya terdapat beberapa layanan (contohnya: website), di mana masing-masing website tersebut memiliki celah untuk diserang.
“Kami mencoba mencari celah yang ada di website kami sendiri dulu, dipelajari, dipahami, dan berusaha menutup celahnya. Kemudian kami mencoba menyerang layanan yang ada di server lawan. Jika kami berhasil menyerang tim lain, di masing-masing layanan mereka akan ada flag (sebuah file atau string yang sudah disembunyikan sistem), kami harus berhasil mendapatkan flag itu untuk kita submit agar mendapatkan poin. Selain itu, apabila layanan kami tidak diserang, kami juga mendapatkan poin bertahan, dan masing-masing tim akan diminta meng-hardening sistem di setiap lima menit sekali,” tambahnya.
Dalam sesi wawancara kala itu, Fedra membagikan opininya terkait tingkat keamanan siber yang ada di Indonesia sekarang. Menurutnya, cyber security di Indonesia juga masih menghadapi berbagai tantangan.
“Masalah seperti kurangnya kesadaran siber di kalangan masyarakat dan kurangnya regulasi yang kuat masih menjadi isu utama, di samping itu perlu pendekatan komprehensif yang mencakup dua aspek lainnya, yakni infrastruktur dan regulasi.” terang mahasiswa Teknik Informatika itu.
Investasi lebih lanjut dalam infrastruktur keamanan siber termasuk pengembangan pusat keamanan siber, pelatihan tenaga kerja yang terampil, dan teknologi canggih untuk deteksi dan respon cepat terhadap serangan perlu menjadi perhatian kita bersama. Sedangkan, regulasi lebih mengarah pada pengawasan dan penegakkan standar keamanan siber di semua sektor, termasuk mendorong kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga internasional dalam pertukaran informasi dan tindakan bersama.
Meskipun pemerintah belum sempurna dalam memerangi kejahatan siber yang telah berulang kali melanda Indonesia, komitmen di atas layak dipertahankan untuk melindungi negara dari ancaman siber dengan segala risikonya. Selain itu, Fedra juga menyinggung peran anak muda yang memiliki potensi besar dalam mengurangi masalah keamanan siber di Indonesia.
“Mereka bisa mengambil peran dalam penelitian teknologi keamanan baru, berpartisipasi dalam kompetisi keamanan siber seperti yang saya dan teman-teman lain lakukan, atau memberikan edukasi kepada sesama mengenai praktik keamanan yang baik,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan khususnya mahasiswa Teknik Informatika, baik di UMS atau universitas lainnya, apabila mereka menemukan celah di website pemerintah, mereka dapat melaporkannya ke BSSN melalui program CSIRT. Hal ini bertujuan untuk menjaga keamanan siber negara dan melindungi infrastruktur digital dari serangan siber yang dapat membahayakan kepentingan nasional, pelapor juga akan mendapatkan keuntungan berupa piagam penghargaan karena telah berusaha memantau dan mendeteksi ancaman siber pada website pemerintah tersebut.
Penulis: Genis Dwi Gustati

Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.