Di hadapan para pelajar Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Surakarta, Kamis (8/8/2024), peneliti Centre for School Nutrition Health Movement Universitas Muhammadiyah Surakarta (SNHM UMS), Arif Pristianto, SSt.FT, M.Fis., menerangkan pentingnya aktivitas fisik dan menjaga postur tubuh yang benar.
“Kebiasaan melakukan aktivitas sehari-hari yang tidak benar dan kurangnya olahraga serta peregangan otot dapat mempengaruhi postur tubuh seseorang,” ujar Arif. Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut merupakan rangkaian evaluasi Buku Modul Gizi dan Kesehatan untuk Kelas 3 yang disusun oleh tim peneliti SNHM UMS.
Arif, yang juga dosen Prodi Fisioterapi UMS, mengenalkan posisi tubuh yang benar pada anak-anak, khususnya ketika belajar, duduk, membaca dan berdiri. Menurutnya, menjaga postur tubuh harus dilakukan sejak kecil untuk menghindari gangguan postur tubuh saat dewasa.
“Kelainan postur tubuh akibat kebiasaan melakukan aktivitas fisik yang tidak benar, misalnya perubahan kurva tulang belakang seperti bengkok ke samping (skoliosis) ataupun bungkuk (kifosis),” tuturnya.
Fisioterapis dengan konsentrasi muskuloskeletal itu mengatakan gangguan tersebut muncul disebabkan beberapa hal, meliputi kebiasaan duduk yang tidak benar, sering berdiri dengan menumpu pada satu sisi, membaca buku atau bermain gawai terlalu membungkuk, serta kebiasaan posisi lainnya yang berdampak merubah komponen muskuloskeletal.
Pelajar sekolah, terutama pada kelas tinggi, cenderung duduk lebih lama di kelas karena mengerjakan tugas atau mengikuti pelajaran. Posisi duduk yang terlalu lama membuat otot pinggang menjadi pegal atau spasme.
“Sebaiknya, peregangan perlu dilakukan di antara waktu belajar melalui gerakan-gerakan yang dikombinasikan dengan permainan dengan konsep ice breaking,” sambung Arif. Dia memandang hal tersebut dapat meminimalisir posisi statis tubuh terlalu lama.
Senada dengan Arif, Ketua SNHM UMS, Setyaningrum Rahmawaty, Ph.D., mengatakan kebiasaan anak membaca atau menggunakan gawai dalam posisi tiduran dapat berdampak pada postur tubuh anak.
“Jika kemudian disertai dengan kebiasaan ngemil, akan meningkatkan risiko kegemukan dan obesitas,” ujar Setyaningrum. Sebab, saat sedang bersantai, kebanyakan camilan yang dikonsumsi adalah sejenis junkfood dan makanan yang digoreng seperti chips, cokelat, biskuit, dan minuman manis yang tinggi energi, rendah serat dan vitamin mineral.
Menurut Setyaningrum, dampak pembelajaran daring beberapa tahun lalu, kemudahan mendapatkan makanan melalui aplikasi, kebiasaan bermain gawai terlalu lama, dan kurangnya aktivitas fisik berisiko meningkatkan berat badan anak. Hasil Riset Dasar Kesehatan 2018 Indonesia menunjukkan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak sekolah mengalami peningkatan.
Untuk itu, selain meningkatkan aktivitas fisik, memperhatikan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi juga perlu dilakukan untuk menghindari kegemukan. Saat kegiatan tersebut, tim SNHM juga mengenalkan lagu “Ayo Bergerak”. Video tersebut dikembangkan berdasarkan serangkaian penelitian yang telah diuji oleh pakar fisioterapis, gizi, media, dan bahasa.
Penulis: Tim Peneliti Pusat Studi SNHM UMS
Editor: Gede Arga Adrian
Penelitian
UMS Newsletter
Nothing’s more special than reading curated news just for you.
Subscribe to the UMS Newsletter for free today.







