Telepon genggam milik Fajar Riza Ul Haq berdering sepekan sebelum presiden terpilih Prabowo Subianto mengumumkan daftar menteri di kabinetnya. Panggilan tersebut rupanya datang dari Mayor Teddy Indra Wijaya. Teddy, ajudan pribadi Prabowo saat itu, mengundang Fajar untuk datang ke salah satu tempat di bilangan Jakarta Selatan.
Fajar saat itu tidak sendiri. Ada pula Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti; Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Fauzan; dan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dzulfikar Ahmad Tawalla.
Di hadapan presiden terpilih Prabowo, Fajar diminta menjadi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) mendampingi Abdul Mu’ti. Dia kemudian dilantik sebagai Wamendikdasmen di Istana Negara, Jakarta, 21 Oktober 2024. “Saya tidak bermimpi ya waktu itu untuk masuk kabinet. Apalagi jadi wakil menteri,” ungkap Fajar, Rabu (5/3/2025).

Fajar Riza Ul Haq (baris kedua dari bawah, keempat dari kiri) bersama jajaran wakil menteri Kabinet Merah Putih usai pelantikan di Istana Negara, 21 Oktober 2024. Dok.Sekretariat Kabinet
Hari-hari Fajar disibukkan dengan agenda Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dia mengatakan tugas utamanya adalah membantu menteri dalam merumuskan serta melaksanakan kebijakan kementerian. Seorang naib menteri juga membantu mengoordinasikan capaian kebijakan strategis lintas unit di lingkungan kementerian.
Boleh dibilang, terpilihnya Fajar dan Abdul Mu’ti dalam kabinet adalah bentuk kepercayaan pemerintah terhadap Muhammadiyah di bidang pendidikan. Fajar menyebut Presiden Prabowo melihat Muhammadiyah memiliki modal sosial dan dapat berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
“Bukan karena semata alasan elektoral, tapi karena menghargai jejak Muhammadiyah yang panjang di bidang pendidikan yang beliau anggap sudah teruji,” jelasnya.
Kemendikdasmen memiliki dua wakil menteri. Fajar berbagi tugas dengan Atip Latipulhayat. Pembagian tugasnya menyesuaikan dengan isu strategis kementerian, maupun latar belakang wakil menteri. Atip yang berlatar belakang bidang hukum, banyak mengurus masalah regulasi.
Sementara Fajar, yang berlatar belakang pegiat organisasi eksternal dan aktif berjejaring, acap kali ditugaskan menghadiri acara kementerian dan lembaga. Ia juga mendapat tugas untuk mengklarifikasi isu-isu yang berkembang mengenai Kemendikdasmen. Kunci kolaborasi, kata dia, adalah saling mengisi.
Tantangan sebagai wakil menteri memang besar. Namun, Fajar yang tumbuh besar dalam organisasi dan birokrasi tidak menjadikan tantangan tersebut sebagai hambatan. Pengalaman tersebut malah membantunya menghadapi setiap tantangan di Kemendikdasmen.
Alumni Program Studi Syariah (kini Hukum Ekonomi Syariah) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Muhadjir Effendy pada 2016-2019 dan Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara era Pratikno pada 2020-2024. Tidak heran jika Fajar mafhum dengan birokrasi di level kementerian.
“Pengalaman aktivisme saya, kemudian pengalaman di birokrasi, itu cukup membantu saya ketika masuk di Kemendikdasmen. Tentu ada beberapa dinamika yang berbeda, tapi biasanya ada struktur dan budaya birokrasi yang kurang lebih sama,” katanya mantap.

Wakil Menteri Dikdasmen Fajar Riza Ul Haq saat melakukan kunjungan kerja di SD Swasta Paroki Katedral Sanggau, Kalimantan Barat, 18 Januari 2025. Dok.Pribadi
Aktif Berorganisasi
Lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 1 Februari 1979, Fajar Riza Ul Haq tumbuh dalam keluarga sederhana berlatar Islam tradisional. Ayahnya adalah seorang guru, sementara ibunya adalah pedagang makanan ringan. Sosok ibu sangat melekat di hatinya. “Bagi saya, beliau adalah pahlawan keluarga kami,” kenang dia.
Seperti kebanyakan murid madrasah lainnya, pemuda lulusan Madrasah Aliyah Program Khusus Kemenag Darussalam, Ciamis, Jawa Barat, ini memiliki ambisi besar untuk melanjutkan kuliah di Timur Tengah. Kalaupun harus melanjutkan studi di Indonesia, pilihannya adalah perguruan tinggi Islam favorit di Indonesia.
Suatu hari, Fajar tak sengaja membaca selebaran berisi informasi pendaftaran Pondok Hajjah Nuriyah Shabran. “Beasiswa 50%” katanya menjelaskan isi selebaran itu. Tak ada yang mengira garis tangan Tuhan mengantarnya ke UMS.
“Waktu itu saya berniat mencari tempat untuk menyepi gara-gara saya nggak bisa melanjutkan studi ke Timur Tengah, maupun ke kampus-kampus negeri tadi,” seloroh dia.
Namun, tantangan muncul manakala ia harus mendapat rekomendasi dari pimpinan wilayah maupun daerah Muhammadiyah di tempat tinggalnya untuk mendaftar di Pondok Shabran. Apalagi Fajar saat itu bukan kader Muhammadiyah. Beruntung, ada kerabat keluarganya yang menjadi tokoh Muhammadiyah di Sukabumi yang mau memberikan rekomendasi untuknya.

Fajar Riza Ul Haq (tengah) saat menyambangi Pondok Shabran, 27 Februari 2025. Dok.Pribadi
Di tengah suhu politik yang memanas pada 1998, Fajar meninggalkan Bumi Priangan untuk menimba ilmu di Program Studi Syariah, UMS.
Kehidupan kuliahnya diwarnai dengan berbagai aktivitas untuk memperkaya intelektualitasnya. Mulai dari aktif berorganisasi, berdiskusi, hingga tenggelam dalam buku bacaan di perpustakaan.
Mula-mula ia bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Pondok Hajjah Nuriyah Shabran pada 1999. Tak sampai setahun, Fajar “melompat” ke IMM Sukoharjo dan menjabat sebagai ketua bidang. Tahun 2000, Fajar didapuk sebagai Ketua IMM Sukoharjo.
Pemuda yang hobi membaca itu senang menghabiskan waktunya di Perpustakaan UMS. Fajar mengaku senang membaca buku yang berbeda dengan rumpun kuliahnya.
Tokoh yang memengaruhi pemikiran Fajar, antara lain sosiolog revolusioner dari Iran Ali Syari’ati, sejarawan Kuntowijoyo, hingga filsuf Britania-Ceko Ernest Gellner. Dia juga telah kenyang berbagai topik bacaan, seperti wacana Islam kritis, sejarah politik, teori kritis frankfurt, sampai teori poskolonial.
Pondok Shabran sendiri mewadahi intelektualisme Fajar melalui forum diskusi dan wicara publik. Salah satunya melalui sesi kultum selepas magrib. Pemuda yang juga aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam UMS ini menjadikan kultum sebagai sesi diskusi untuk melontarkan gagasan-gagasan baru. Kenangan tersebut masih membekas di benaknya.
Mengemukakan gagasan adalah muruah mahasiswa. Menurut Fajar, mahasiswa harus mengisi waktunya dengan belajar. Ada satu kutipan Buya Syafi’i Maarif, yang menurut Fajar, harus dipegang teguh mahasiswa. “Kalau kita tidak punya kecerdasan seperti Einstein, Anda harus sekolah karena ijazah itu adalah salah satu garansi hidup Anda,” kata dia bersungguh-sungguh.

Fajar Riza Ul Haq menjadi pembicara dalam sidang senat terbuka di UMS awal 2025 lalu. Humas UMS/Imam Safii
Pentingnya Membangun Jejaring
Gairah muda membuat Fajar aktif menuangkan gagasan dan idealismenya dalam tulisan. Semasa kuliah, ia aktif menjadi kolumnis Solopos dan menelurkan sejumlah karya tulis. Salah satu karya tulisnya ia terbitkan pada 2004 berjudul Membangun Keragaman meneguhkan Pemihakan Visi Politik Baru Muhammadiyah.
Selain mengasah kemampuan analisis, ia juga mendapatkan honor untuk menyambung hidup di perantauan. Honornya saat itu sebesar Rp75 ribu. “Ya cukup honornya bisa 1 sampai 2 pekan, lah,” kelakar dia.
Selepas lulus pada 2002, Fajar bekerja di Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) UMS sambil bolak-balik Solo-Yogyakarta untuk mengejar gelar magisternya di Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Universitas Gadjah Mada.
Awal 2006, Fajar menerima panggilan dari koleganya di Jakarta, Raja Juli Antoni, yang saat itu baru pulang dari Inggris untuk studi magisternya. Dia mendapat tawaran untuk berkarier di MAARIF Institute For Culture And Humanity, Jakarta.
Fajar tak menyangka sosoknya terendus lingkaran elit IMM di Jakarta. Rupanya, Raja mendapat rekomendasi dari rekan IMM-nya yang aktif membaca tulisan-tulisan Fajar. “Menulis sebenarnya jadi salah satu wasilah saya untuk bisa hijrah ke Jakarta dan berjejaring dengan jaringan yang lebih luas,” imbuhnya.
Setelah berdiskusi alot dengan istrinya, Fajar memutuskan untuk mengambil kesempatan itu. “Ini adalah (kesempatan) emas yang mungkin nggak akan datang dua kali,” lanjut dia.
Perjuangan berat ia rasakan di bulan-bulan pertama di Jakarta. Menumpang di kos temannya pun ia lakukan. Bermodal keyakinan untuk membuka peluang berjejaring di Ibu Kota. Bahkan untuk pulang kampung ke Solo pun, Fajar kerap mengajukan bon ke bendahara kantornya.
Kehidupannya mulai stabil setelah memasuki tahun ketiga di Jakarta. Fajar juga banyak bertemu dan berjejaring dengan tokoh-tokoh penting. Salah satunya adalah Ahmad Syafi'i Ma'arif atau Buya Ma’arif, yang menjadi mentor dan membukakan jaringan yang lebih luas lagi untuk Fajar. Bahkan pada 2010, ia dipercaya menjadi Direktur Eksekutif MAARIF Institute For Culture And Humanity.
Fajar kemudian meniti karier di Pimpinan Pusat Muhammadiyah selepas Muktamar Muhammadiyah tahun 2015. Ia diminta menduduki posisi Sekretaris Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah.
Tujuh tahun kemudian ia menjabat sebagai Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis PP Muhammadiyah. Ia juga menularkan ilmunya dengan menjadi dosen Magister Ilmu Administrasi, Universitas Muhammadiyah Sukabumi.
Dia mengakui kemampuan berjejaring sangat vital dalam memulai karier di dunia profesional. Fajar melihat potensi emas pada lulusan UMS untuk berkontribusi bagi bangsa. Alumni UMS, kata dia, telah berdiaspora ke berbagai level, mulai dari politik, usaha, hingga profesi lainnya.
Dia menekankan UMS harus berorientasi ke depan dengan mendistribusikan alumni terbaiknya untuk bangsa. “Tinggal bagaimana membangun jejaring yang lebih sistemik, sehingga ada proses perkaderan dari tokoh-tokoh UMS untuk diorbitkan ke level nasional,” tandasnya.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








