Aroma khas kulit sapi yang digoreng dalam wajan besar menyeruak keluar dari rumah produksi rambak kulit sapi di Desa Gumpang, Kartasura. Menggoda siapa saja yang melintas.
Pemilik rumah produksi itu itu bernama Iwan Siswanto, alumni Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) angkatan 1994. Setelan kasual dengan rambut gondrong yang dikuncir jadi ciri khasnya sehari-hari.
“Waktu kuliah, saya belum kepikiran sama sekali untuk jadi pengusaha,” ujar Iwan kala ditemui di kediamannya yang sekaligus menjadi rumah produksi rambak kulit, Senin (21/4/2025).
Masa kuliah di UMS ia habiskan dengan santai, aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) musik Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, Wahana Musik Mahasiswa Ekonomi atau lebih dikenal WAMSINOMI. Katanya, Iwan muda lebih suka menggubah lagu ketimbang menyusun business plan.
Begitu lulus Iwan masih belum tertarik menekuni dunia produksi. Hingga tahun 2003, ia mulai terjun ke perdagangan kulit mentah. Ia menyuplai kulit dari Papua, Makassar, Merauke, dan berbagai daerah luar Jawa, lalu menjualnya ke sentra-sentra pengolahan kulit seperti Garut dan Magetan. Selama lebih dari satu dekade, bisnis itu memberinya penghasilan yang cukup, meskipun sangat bergantung pada kepercayaan antarrekanan.
Bangkrut Miliaran
Nyatanya bisnis yang bergantung pada kepercayaan menyimpan risiko besar. Tahun 2014 menjadi tahun kelam bagi Iwan.
Banyak tagihan tak tertagih, pembeli mangkir, dan usahanya limbung. “Kerugian saya waktu itu mencapai 1.5 miliar. Karena saya jatuh sakit, nggak bisa kerja. Akhirnya semua berhenti,” kenangnya.
Untuk menutupi utang, Iwan bahkan harus menjual gudang yang biasa digunakan untuk menyimpan kulit. Hingga ia berpikir tak bisa lagi melanjutkan jual-beli kulit. Harus mulai dari nol.
Justru dari puing-puing keterpurukan itulah Iwan memulai babak baru. Ia berhenti menjadi pedagang kulit dan memilih menjadi pengrajin rambak kulit sapi.
Bukan keputusan yang mudah, tapi juga bukan dunia yang benar-benar asing bagi Iwan. Karena dirinya memang pernah terlibat sebagai pemasok kulit ke pengrajin rambak. Kini, ia memutuskan masuk ke lini produksi.
Dengan modal pas-pasan, Iwan memulai usaha dari dapur belakang rumah. Masih di tahun yang sama, ia mulai merintis Rambak Kulit Asli Siswanto. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang memproduksi bahan kulit sapi setengah jadi menjadi rambak siap jual.
Salah satu prinsip yang dipegang teguh pria kelahiran Jayapura itu adalah soal kesegaran produk. “Barang yang digoreng hari ini, harus segera dikirim. Minyak itu ada umurnya. Kalau terlalu lama, rasanya berubah,” jelasnya.

Proses produksi rambak kulit melewati 6 tahap: 1) Bahan baku setengah jadi digoreng dengan api kecil dan minyak yang tidak terlalu panas hingga agak mekar; 2) Digoreng kembali dengan api besar dan minyak panas hingga mengembang; 3) Diberi bumbu; 4) Ditiriskan dan dimasukkan dalam plastik besar; 5) Dikemas dan ditimbang sesuai berat yang diinginkan. Gede Arga Adrian/Humas UMS.
Iwan begitu menjaga sirkulasi barang. Bahan baku digoreng pagi, sampai ke konsumen secepat mungkin. Meski harus dikirim ke luar kota.
Harga rambak yang dijual pun bervariasi. Per kemasan bisa dibanderol 10-75 ribu rupiah tergantung berat. Ada pula rambak paketan yang berisi 5-10 pis.
Total Produksi dan Omzet
Sebelum pandemi COVID-19, produksi harian Rambak Kulit Sapi Asli Siswanto bisa mencapai 100–150 kilogram. Namun pasca pandemi, sistem produksi diubah menjadi mingguan demi efisiensi dan adaptasi terhadap perubahan perilaku pasar.
Kini, dalam seminggu, ia mengolah sekitar 300–400 kilogram bahan mentah yang menghasilkan sekitar 500–600 kilogram rambak siap jual.
Mulanya, usaha rambak Iwan memproduksi bahan baku atau kulit mentah hingga menjadi rambak jadi. Namun 5 tahun terakhir, mereka tak lagi mulai memproduksi dari kulit mentah. Ia memanfaatkan bahan setengah jadi yang disuplai oleh mantan karyawannya yang dulu bekerja di bagian pengolahan awal.
“Mereka pulang ke daerahnya dan tetap kirim bahan baku ke sini. Kita jadi saling bantu,” ucapnya.
Rumah produksi yang ia bangun dari nol kini berhasil mempekerjakan sekitar 11 karyawan bagian produksi dan 4 orang penjualan atau sales. Jumlah karyawan bisa meningkat dengan mengandalkan tetangga sekitar apabila sudah memasuki masa puncak Ramadan, Natal, dan tahun baru.

Iwan bersama para karyawan bagian produksi. Gede Arga Adrian/Humas UMS.
Dalam satu musim Lebaran, ia bisa menjual hingga 12 ton rambak. Jika dihitung kasar, omzet kotornya bisa menyentuh angka Rp1,2 miliar hanya dalam waktu sekitar 1,5 bulan. “Kalau rata-rata per bulan, omzetnya berkisar Rp250–300 juta, dengan margin bersih sekitar 10–15 persen,” terang Iwan.
Distribusi produk Rambak Kulit Sapi Asli Siswanto kini menjangkau berbagai kota di Karesidenan Surakarta, bahkan hingga Semarang dan Salatiga. Di Salatiga, Iwan menjalin kerja sama dengan gurita bisnis Niki Mantep.
Sementara di Boyolali, rambak Iwan laris manis karena budaya lokal yang masih menjadikan rambak sebagai hidangan wajib dalam berbagai hajatan. Di Klaten, Solo, dan pasar-pasar besar, seperti Pasar Gede, produk Rambak Kulit Sapi Asli Siswanto cukup mendominasi.
Menahun menggeluti bisnis membuat Iwan hafal pergerakan pasar. Saat permintaan menurun, dirinya berinisiatif melakukan diversifikasi produk. Memproduksi produk lain berbasis tepung, seperti kerupuk ikan tongkol, kerupuk tahu, dan camilan ringan lainnya.
“Biar karyawan tetap bisa masuk kerja. Kalau nggak ada kerjaan, mereka cuma masuk dua hari seminggu, kan kasihan. Diversifikasi ini bukan demi meraup untung lebih, melainkan soal tanggung jawab moral pada mereka yang sudah ikhlas bekerja dengan saya,” kata Iwan meluruskan.
Prinsip Bisnis Iwan
Pelajaran branding, riset pasar, perilaku konsumen, dan pengembangan bisnis yang Iwan serap semasa berkuliah di UMS begitu membantunya dalam mengembangkan usaha. “Saya masih ingat pelajaran itu, apalagi soal branding. Bagi saya, branding itu janji,” ucapnya.

Pelanggan dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Semarang memborong Rambak Kulit Sapi Asli Siswanto, Kamis, 17 April 2025. Gede Arga Adrian/Humas UMS.
Branding merupakan janji yang harus Iwan jaga, layaknya ketepatan pengiriman produk. Masalah harga pun ia berprinsip tegas. Ia menolak menjual langsung dengan harga lebih murah, meskipun banyak konsumen datang langsung ke rumah produksinya.
“Kalau saya jual lebih murah di pabrik, nanti agen saya rugi. Kita maunya selalu menjaga ekosistem,” tegas Iwan.
Makin ke sini Iwan lebih terlihat santai dalam menjalankan usaha. “Sekarang saya nyari yang berkah, bukan cuma untung. Kalau Allah rida, semuanya jadi ringan,” kata Iwan.
Sebagai perantau yang harus meninggalkan sanak saudara, Iwan tahu persis arti berjuang membangun usaha dari bawah. Di Jawa, ia mengandalkan pertemanan yang sehat. Pertemanan dan jaringan sosial menjadi aset pentingnya dalam berwirausaha.
“Kita pasti suatu saat bakal ketemu kenyataan yang beda dari yang kita rencanakan. Selain harus kuat, harus punya banyak teman juga, tapi juga pintar memilih teman. Siapa tahu, satu relasi kecil bisa menjadi pintu rezeki besar di kemudian hari,” tutupnya.
Dahulu Iwan mengenal orang-orang kulit dari relasi. Kini banyak mantan karyawan yang jadi partner. Hanya butuh komunikasi yang baik untuk merawat pertemanan dan bisnis.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








