Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara selalu saja menyimpan kisah menarik bagi jutaan warga di Tanah Air. Tak terkecuali pada upacara peringatan ke-77 dua tahun silam.
Kala lantunan lagu dangdut koplo "Ojo Dibandingke" yang dibawakan penyanyi cilik, Farel Prayoga mulai memasuki reff, semua mata justru tertuju pada sosok Winda Utami, juru bahasa isyarat (JBI) yang tampil di pojok kanan bawah layar televisi.
Dengan kelincahan jari tangan dan mimik ekspresif yang disertai jogetan kecil, Winda mencoba menghidupkan lirik lagu ke dalam bahasa isyarat, membuat setiap kata dalam lagu tersebut seakan bernada bagi mereka yang tak bisa mendengar.

Winda tengah menginterpretasikan lagu “Ojo Dibandingke” dengan pembawaan yang ekspresif pada HUT ke-77 RI. youtube.com/kompastv
Alumnus Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu mengaku aksinya di Istana Negara pada HUT ke-77 RI merupakan bentuk spontanitas.
"Saya tidak pernah membayangkan akan menginterpretasikan lagu itu, karena memang tidak ada di rundown. Sempat mau di-cut, tapi saya menyanggupi dengan alasan paham bahasa Jawa karena pernah tinggal di Solo," kata wanita kelahiran Jakarta, 1989 itu.
Ia sendiri tak menyangka aksi berjogetnya sambil menerjemahkan bahasa isyarat bakal viral dan menuai banyak pujian.
"Sebetulnya saya tidak berjoget, hanya menggambarkan suasana sesuai musiknya. Masak pas bapak presiden, para menteri dan jajarannya berjoget, saya selaku JBI malah kaku dan mengisyaratkan kata-kata saja," jabar Winda.
Usut punya usut, pekerjaan Winda sebagai JBI telah lama dilakoni. Lewat pekerjaan tersebut pula, sosok Winda kerap berlalu-lalang di berbagai acara resmi pemerintahan hingga televisi nasional.
Awal Mengenal Bahasa Isyarat
Winda remaja sudah memperhatikan minatnya pada bidang sosial sejak duduk di bangku SMA. Seperti peribahasa "burung yang sama berkumpul di dahan yang sama", ia berjodoh dengan sebuah komunitas sosial di Solo saat hijrah dari Jakarta untuk menempuh studi di Psikologi UMS.
“Saya bertemu komunitas GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Solo pas melipir di car free night Ngarsopuro. Saya lihat, kok komunikasi mereka berbeda? Coba deh mendekat ke stan mereka, eh lha kok keterusan dan nyemplung bareng komunitas tahun 2011,” kenangnya.
Akhirnya Winda mulai menekuni dan mempelajari bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) dengan teman-teman tunarungu yang berada di Kota Solo dan sekitarnya. Mulai dari belajar alfabet Bisindo, kemudian merangkak pelan-pelan dengan mengeja kata-kata dasar yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Dalam belajar Bisindo, Winda menjelaskan ada tiga aspek penting, yakni isyarat, ekspresi, dan verbal. Menurutnya, seorang JBI harus mampu menggambarkan dan mengungkapkan suatu kondisi dengan gerakan tubuh yang detail dan ekspresif.
“Di GERKATIN Solo, saya hampir setiap hari berinteraksi bersama kawan-kawan tunarungu. Semakin sering ketemu dan berkomunikasi, semakin fasih kita dalam memperagakan Bisindo,” tambah wanita yang menggumuli Bisindo lebih dari satu dekade itu.
Tiga Kali Jadi JBI Istana Negara
Kepiawaian Winda sebagai JBI semakin diakui seiring berjalannya waktu. Terlebih saat ia ditugaskan menjadi JBI pada upacara kemerdekaan Istana Negara, dan tahun ini ialah kali ketiganya. Sungguh sebuah kehormatan yang tak semua orang bisa rasakan.
"Menjadi JBI di Istana adalah sebuah tanggung jawab besar sekaligus kebanggaan tersendiri buat saya. Setiap gerakan harus tepat dan ekspresif karena saya menyadari bahwa apa yang saya sampaikan bukan hanya sekadar terjemahan, melainkan perwakilan suara bagi mereka yang tidak bisa mendengar," tuturnya.
Kala ditanya mengenai perasaannya saat pertama kali ditunjuk sebagai JBI upacara kenegaraan ke-77 RI, Winda mengaku sempat merasa gugup.
"Setiap kali berdiri di depan kamera, saya selalu mengingat bahwa ada ribuan pemirsa tunarungu, atau mungkin lebih, di seluruh Indonesia bergantung pada apa yang saya isyaratkan. Motivasi itu yang melecut saya untuk menampilkan yang terbaik," ungkap Winda terdengar tulus.
Sebelum kembali dan menetap di Ibu Kota, ia memang sudah bekerja di sana (Jakarta) sejak menjelang lulus studi sarjananya di UMS. Tepatnya di sebuah perusahaan kontraktor yang bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), untuk membangun sekolah bagi anak-anak kurang beruntung. Pekerjaan itu ia lakukan sembari merampungkan skripsi.
Ia kerap bolak-balik Jakarta-Solo karena mengemban amanah di dua tempat. Selain bekerja di perusahaan kontraktor, Winda bersama segelintir mahasiswa berupaya menjadi penyambung lidah para tunarungu Solo dengan mendirikan Deaf Volunteering Organization (DVO) Solo di tahun 2012.
Tak jarang DVO Solo diminta oleh dinas dan berbagai instansi daerah untuk membantu komunikasi tunarungu saat ada keperluan ke instansi atau sebaliknya. Beragam acara kedaerahan pernah ia tangani, termasuk menggagas pertunjukan teater tuli pertama di Indonesia, dengan penonton kurang lebih empat ratusan orang di Taman Budaya Jawa Tengah.
“Dari kecil kan sudah di Jakarta, apa-apa serba mahal. Pas kuliah di Solo, ngerasa cocok aja karena semua serba murah. Tapi karena capek bolak-balik Jakarta-Solo, saya pun memutuskan untuk bekarier di Solo sampai 2018, sebelum akhirnya mendapatkan tawaran kerja di Jakarta dengan gaji yang lebih baik,” ucapnya berterus terang.
Wanita yang pernah tinggal di Solo selama sebelas tahun itu kerap digaet secara independen untuk menjadi JBI di beberapa acara kondang. Pada masa itu, ia mengaku lembaga yang menaungi JBI belum begitu menjamur, sehingga keahliannya cukup diandalkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Penerjemah Reguler di Stasiun Televisi Nasional
Karier Winda semakin melejit di Jakarta. Terlebih kala dirinya bergabung dengan INASLI (Indonesia Sign Language Interpreter), sebuah organisasi yang menaungi para penerjemah bahasa isyarat profesional di Indonesia. Sebagai bagian dari INASLI, Winda berkesempatan menjadi JBI dalam program atau saluran televisi nasional.

Winda tengah bertugas sebagai JBI pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Blibli dan tiket.com (13/6/2024). dok.pribadi
Beberapa stasiun televisi seperti Indosiar, CNN Indonesia, Metro TV, TVRI, dan tvOne kerap menggandengnya sebagai penerjemah reguler untuk program berita. Perannya di layar kaca menjadi jembatan vital bagi kawan-kawan tunarungu dalam mengakses informasi terkini.
Winda menjelaskan bahwa menjadi penerjemah bahasa isyarat di televisi tidaklah mudah. Ia kerap dituntut cepat dan akurat dalam menyampaikan pesan.
“Biasanya memang kita harus mengikuti tempo bicara si pembawa berita, kayak balapan, nggak boleh sampai tertinggal jauh,” kata Winda.
Sambil mengernyitkan dahi, Winda kembali mengingat beberapa momen berkesan saat bertugas. Salah satunya ketika ia ditunjuk sebagai salah satu JBI dalam Debat Capres-Cawapres 2014.
Pada Debat Capres-Cawapres 2014 yang mengangkat tema “Pangan, Energi, dan Lingkungan”, Winda menghadapi beberapa kata atau istilah yang masih asing di telinganya. Misalnya kata “reklamasi” yang disebutkan oleh salah satu capres. Sebagai seorang profesional, ia harus segera tanggap mengisyaratkan kata tersebut agar maknanya tersampaikan kepada pemirsa tunarungu.
“Kalau kita asing sama beberapa kata dan bingung mengisyaratkan, JBI biasa mengeja huruf secara cepat. Tapi kalau kata tersebut panjang, kita boleh menyingkatnya karena mengejar tempo si pembicara. Contohnya pada kata “reklamasi”, saya menyingkatnya menjadi ‘r-k-l-a-m-a-s-i’, itu boleh,” terangnya.
Winda pun melanjutkan ceritanya saat beberapa kali ditunjuk sebagai JBI pada konser-konser musik artis ternama, seperti Yura Yunita dan Maliq & D'Essentials. Jauh di lubuk hatinya, ia menaruh harapan pada panggung hiburan Tanah Air agar memperluas akses bagi kawan-kawan tunarungu.
Di benaknya, kehadiran seorang JBI di panggung-panggung hiburan merupakan wujud penyetaraan keberagaman audiens, dan Indonesia masih belum sepenuhnya menerapkan hal tersebut.
“Kita bisa loh menyediakan teks subtitle pada film-film Indonesia, atau barangkali setiap acara konser dapat menyediakan JBI kayak konser-konser di luar negeri,” harap JBI yang kini bekerja secara independen itu.
Seni dan hiburan, sambungnya, seharusnya menjadi ruang inklusif di mana semua orang bisa menikmati pengalaman yang sama, tanpa harus tersisihkan karena keterbatasan fisik.
Belajar Menyempurnakan Isyarat
Meski telah malang melintang di acara penting kenegaraan hingga layar kaca televisi kesayangan kita, Winda tetap belajar menyempurnakan kemampuan Bisindo-nya.
“Saya belajar langsung dengan guru tuli sampai sekarang, beberapa sertifikat profesional juga saya peroleh dari lembaga resmi Bisindo,” kata Winda menjelaskan.
Sebagai seorang JBI profesional, ia sangat menantikan kehadiran Winda lain yang tertarik untuk mempelajari dan mempraktikkan Bisindo. Semakin banyak orang yang bisa berbahasa isyarat, akses informasi bagi para tunarungu akan semakin terbuka lebar. Pikirnya, hal yang demikian akan membawa perubahan positif dalam kehidupan bermasyarakat.
“Bahasa isyarat bukan hanya milik kawan-kawan tunarungu, tapi milik kita semua. Makin banyak yang mampu berbahasa isyarat, semakin inklusif masyarakat kita,” tandasnya menegaskan.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








