Menjawab Masalah Lingkungan
Di laboratorium Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Muhammad Arhab Ath-Tariq memeriksa indikator warna pada prototipe Eco Frost Box yang diuji untuk kelima kalinya. Bersama keempat kawannya, Marko Refianto dari Teknik Mesin, Muhammad Aditya Rivalta dari Teknik Mesin, Jihan Nabila dari Fisioterapi, dan Mira Shofiah dari Farmasi, mereka melewati berbagai tantangan untuk menyempurnakan inovasi yang akan dipamerkan di ajang World Youth Invention and Innovation Award 2024.
“Ide kami berangkat dari hal sederhana. Kebetulan saya orang Lampung, kalau mudik terkadang naik kapal. Waktu mengamati kondisi sekitar pelabuhan, kok banyak sekali sampah seperti bekas-bekas stirofoam yang biasa dipakai nelayan untuk menyimpan hasil laut (ikan segar dan lain-lain). Jumlahnya cukup banyak dan pastinya mencemari laut,” kata Tariq usai menceritakan jerih payahnya bersama kawan-kawan, tepatnya kala melakukan beragam pengujian di laboratorium kampus.
Keresahan tersebut lantas memacu Tariq untuk mengembangkan ide brilian sebagai solusi yang membantu nelayan menjaga kualitas hasil laut, sekaligus jawaban tepat dalam mengurangi pencemaran laut akibat membanjirnya penggunaan stirofoam. Tariq dan keempat kawannya langsung mengeksekusi gagasan tersebut bersama Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T. sebagai dosen pembimbing.
Pada ajang bergengsi yang diselenggarakan Indonesian Young Scientists Association itu, ia bersama tim mendapuk inovasi yang diberi nama Eco Frost Box: Smart Packaging Based on Sugarcane Molasses Waste and Phenolic Extracts from Tomato Waste for Sustainable Indonesian Marine Environment. Sebuah kotak penyimpan hasil laut berbasis teknologi, dibuat menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan, seperti limbah tetes tebu dan ekstrak fenolik dari tomat.

Potret Adit, Jihan, Marko, Mira, dan Tariq (kiri ke kanan) mengantongi emas pada ajang World Youth Invention and Innovation Award, Minggu (13/10/2024). dok.pribadi
“Tanpa disangka, inovasi kami berhasil mencuri perhatian juri dengan menyabet medali emas. Padahal kompetisi ini diikuti oleh sebanyak 16 negara dengan ratusan tim yang hebat-hebat. Bersyukur sekali,” kata mahasiswa semester 5 itu.
Indonesia sendiri memang dikenal sebagai negara maritim yang kaya akan hasil laut. Merujuk laporan siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan, surplus neraca perdagangan komoditas perikanan periode Januari-September 2024 mencapai USD3,87 miliar. Angka tersebut meningkat 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun komoditas utama pada periode ini terdiri dari beberapa hasil laut unggulan, seperti udang, tuna, cakalang, tongkol, cumi, sotong, hingga gurita.
Sayangnya di balik angka fantastis tersebut, industri perikanan menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya persoalan sampah yang mencemari ekosistem laut.
“Berdasarkan literatur yang saya baca, yakni hasil riset peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sekitar 0,27 juta hingga 0,59 juta ton sampah masuk ke laut Indonesia setiap tahunnya. Stirofoam jadi salah satu limbah yang dominan dalam kategori plastik,” jelas Tariq.
Mahasiswa Teknik Kimia UMS itu menerangkan, meskipun ringan, stirofoam sulit terurai dan mengandung zat berbahaya, seperti benzena dan stirena yang bersifat karsinogenik. Terlebih para nelayan menggunakan stirofoam sebagai wadah penyimpan hasil laut yang akan kita konsumsi. “Stirofoam itu sukar terurai, butuh waktu ratusan hingga jutaan tahun,” imbuhnya merasa risau.
Keunggulan Eco Frost Box
Eco Frost Box, ungkap Tariq, hadir sebagai alternatif stirofoam yang dibuat dari asam polilaktat (PLA) hasil limbah tetes tebu dan ekstrak fenolik tomat. Inovasi tersebut diklaim mampu memperpanjang masa simpan hasil laut hingga 15 hari.
“Masa simpan ikan dalam stirofoam biasa itu paling lama 10 hari. Kita unggul 5 hari lebih lama. Sudah kita ujikan juga di laboratorium Farmasi terkait lapisan antimikroba pada Eco Frost Box ini,” tutur Tariq gamblang.

Ilustrasi desain Eco Frost Box. Humas UMS/Salsabila
Tim memulai riset intensif pada September 2024. Dalam satu bulan, mereka merancang prototipe, melakukan pengujian bahan baku dan lapisan di laboratorium Farmasi UMS, serta pengujian dan penyempurnaan desain produk di laboratorium Teknik Mesin UMS.
Proses pembuatan PLA melibatkan fermentasi molase menggunakan bakteri lactobacillus delbrueckii subsp. bulgaricus, guna menghasilkan asam laktat yang kemudian dipolimerisasi menjadi PLA. Setelah PLA dihasilkan, material ini diubah menjadi bio-foam melalui proses molding. Tahap akhir melibatkan pembentukan material sesuai spesifikasi produk.
“Nah, keunggulan terletak di PLA yang sifatnya biodegradable. Produk kami ini dapat terurai dalam 12 bulan, jauh lebih cepat dibandingkan stirofoam tadi,” tuturnya penuh antusias.
Sementara lapisan luar Eco Frost Box terbuat dari ekstrak fenolik limbah tomat, yang berfungsi sebagai antimikroba dan antioksidan. Lapisan tersebut nantinya akan memperlambat proses pembusukan.
“Produk kami juga dilengkapi indikator berbasis likopen. Jika ikan sudah tidak segar atau tak layak konsumsi, indikator bakal berubah warna, menunjukkan tingkat keasaman ikan atau hasil laut meningkat,” jelas Tariq.

Ilustrasi struktur lapisan PLA foam, rongga udara, dan lapisan antimikroba berbasis likopen.
Eco Frost Box dirancang dengan ukuran 39cm x 25cm x 16cm, dan mampu menahan beban hingga 10kg. Struktur dinding box terdiri dari tiga lapisan, seperti PLA foam, rongga udara, dan lapisan antimikroba berbasis likopen.
“Rongga udara membantu mengurangi transfer panas dari luar ke dalam, sehingga es di dalam kotak lebih tahan lama. Dalam pengujian, es yang kami masukkan bisa bertahan hingga 57 jam, 2,5 kali lebih lama dibandingkan stirofoam biasa,” tambahnya.
Sebagai nilai tambah, Tariq dan tim melengkapi box dengan draining cap untuk membuang cairan es yang mencair. Kata Tariq, “Ini untuk memastikan hasil laut tetap segar dan tidak tergenang air.”
Tariq dan timnya tengah mematangkan rencana untuk menyempurnakan Eco Frost Box. Fokus utamanya adalah membuat lapisan indikator pH yang dapat digunakan berulang kali.
“Saat ini, indikator yang kami gunakan hanya sekali pakai. Kami sedang mencari solusi, antara meregenerasi indikator menggunakan teknologi tertentu atau membuatnya berlapis sehingga lapisan atas bisa dilepas setelah terpakai,” ujarnya menjelaskan konsep yang tengah digodok.
Ke depan, tim juga berniat menggandeng instansi pemerintah untuk menjalankan subsidi silang bagi nelayan yang menggunakan Eco Frost Box. Selain itu, mereka berencana aktif dalam kampanye komunitas peduli lingkungan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keberlangsungan ekosistem laut.
Jika memungkinkan, inovasi ini akan mereka terapkan untuk menggeser peran stirofoam makanan. “Stirofoam untuk makanan punya masalah yang sama. Harapannya, kami bisa membuat kemasan makanan yang tak hanya ramah lingkungan, tapi juga aman untuk kesehatan konsumen. Kami ingin menjadi bagian dari solusi, bukan polusi,” pungkas Tariq tegas.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







