Ibarat pepatah “Sekali mendayung, dua tiga pulau terpenuhi”, tim mahasiswa yang terdiri dari Program Studi Teknik Kimia, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Pendidikan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil menyabet medali emas sekaligus menjadi juara umum kategori business plan dalam ajang National Education Competition, yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
National Education Competition merupakan lomba rancangan bisnis atau business plan dan esai mahasiswa tingkat nasional yang diselenggarakan inkubator pendidikan Indonesia, Eduaction Hub. Sebanyak 150 tim dari 64 universitas di seluruh Indonesia mengikuti kompetisi yang dilaksanakan pada 12-13 Mei 2024 tersebut.
Tim yang digawangi Amirul Chanifah, Fauzan Dhany Hammam, Inta Novia Eka Filasari, M. Amdan Afdzulah, dan M. Rizki Abid Pratama itu, menghadirkan inovasi mi instan berbahan tepung mocaf dan tepung ares pisang bernama Mie Sangoe.
Ketua tim Mie Sangoe, Amirul Chanifah, mengatakan inovasinya bermula dari tingginya konsumen mi instan di Indonesia. Padahal, kandungan gluten dalam mi instan cukup tinggi.
Mengutip Halodoc, gluten adalah protein struktural yang secara alami terkandung dalam biji-bijian sereal tertentu. Gluten dapat ditemukan pada makanan berbahan tepung gandum, seperti roti, mi, pasta, cookies, hingga pastry.
Bagi orang-orang dengan kondisi medis tertentu, gluten dapat menyebabkan beberapa gangguan, seperti penyakit celiac, intoleransi gluten non-celiac atau sensitivitas gluten, dan alergi gandum.
“Kandungan gluten dalam mi instan, bila dikonsumsi secara terus menerus, akan berdampak buruk pada kesehatan. Oleh karena itu, kami menciptakan mi bebas gluten yang terbuat dari tepung mocaf dan ares,” tutur Amirul dalam wawancara virtual, Senin (20/5/2024).

Tepung mocaf (modified cassava flour) adalah tepung modifikasi yang terbuat dari singkong. Tepung ini dapat menggantikan peran tepung terigu dalam proses pembuatan mi instan. Beberapa produsen di Indonesia telah memproduksi dan memasarkan tepung mocaf.
Amirul menggabungkan tepung mocaf dengan tepung ares pisang untuk melengkapi komposisi Mie Sangoe. Tepung ares pisang terbuat dari batang pisang dan dapat menggantikan tepung terigu dalam berbagai makanan.
Tepung ares pisang mempunyai kandungan gizi yang beragam. Di dalam 100 gram bahan bonggol pisang kering mengandung 425 kkal energi; 3,45 gram protein; 66,2 gram karbohidrat; 58,89 gram serat; 60 mg kalsium; 150 mg fosfor; 2 mg zat besi; 0,04 mg vitamin B1; 4 mg vitamin C; dan air.
“Dengan menambahkan tepung ares, tekstur mi jadi lebih kenyal,” terang mahasiswi asal Tuban itu. “Apalagi limbah bonggol pisang belum termanfaatkan dengan baik, sehingga kami menginovasikan bonggol pisang jadi tepung.”
Selain kedua tepung tadi, Amirul juga menambahkan beberapa bahan alami sebagai bahan pewarna makanan, seperti ekstrak daun kelor, wortel, buah naga, dan ubi ungu yang mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan. Ekstrak bahan alami tersebut sekaligus menjadi varian rasa yang disajikan Mie Sangoe kepada konsumen.
Daun kelor mengandung flavonoid, fenolik, dan lebih dari 40 zat antioksidan. Daun kelor mampu meningkatkan sistem imun dan memperlambat kemunculan penyakit degeneratif karena penuaan. Wortel memiliki kandungan vitamin A yang tinggi dan kandungan karoten yang bisa mencegah kanker.
Buah naga memiliki kandungan zat yang berperan untuk menurunkan kadar kolesterol total darah, seperti senyawa antioksidan yaitu fenol, flavonoid, vitamin C dan betasianin. Ubi ungu memiliki kandungan antioksidan, vitamin C, dan vitamin E.
Penggunaan bahan alami pada Mie Sangoe membuat Amirul dan Abid mantap melabeli mi instan sehat buatan mereka sebagai mi bebas gluten, ramah vegan, dan warna alami, sesuai dengan tagline produk mereka “Mie alami selalu dihati!”.
Peluang Besar
Mi instan sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Beragam jenama dan varian rasa membanjiri toko kelontong hingga pasar swalayan. Proses memasak yang mudah, rasa yang cocok di lidah konsumen, serta harganya yang terjangkau membuat mi instan menjadi primadona.
Tidak mengherankan bila Indonesia menjadi konsumen mi instan terbesar kedua di dunia menurut World Instant Noodles Association, seperti dilansir Katadata. Menurut data tersebut, sepanjang tahun 2023, angka konsumsi mi instan di Indonesia mencapai 14,54 miliar porsi, setara 12% dari total konsumsi global.
Amirul memandang pola konsumsi mi instan di Indonesia sebagai sebuah peluang untuk menghadirkan mi instan berkualitas sekaligus menyehatkan. Salah satu masalah yang kerap ia temukan adalah porsi sebungkus mi instan.
Mi instan yang beredar di pasaran lazimnya mempunyai berat rata-rata sebesar 75-90 gram. “Kalau makan satu bungkus mi instan kan kurang. Kalau dua bungkus kebanyakan,” gurau Amirul. Masalah porsi membuat dia dan timnya berinisiatif menyajikan mi instan dengan berat sekitar 125 gram atau satu setengah kali lebih besar dari mi instan pada umumnya.
Rasa dari mi sehat yang beredar di pasaran juga menjadi soal. Amirul melihat seringkali produsen mi instan, yang melabeli diri sebagai produsen mi sehat, kurang memperhatikan kualitas rasa. Dia kemudian berinovasi mengolah rasa mi dengan menghadirkan minyak cabai atau chili oil dalam kemasan Mie Sangoe.
“Kami yakin cita rasa yang kami tawarkan dapat diterima konsumen, khususnya kalangan Gen Z tanpa mengganggu nutrisi di dalam mi,” lanjutnya. Mahasiswi semester akhir itu mengatakan, satu kemasan Mie Sangoe seberat 125 gr dibanderol dengan harga Rp8 ribu.
Mie Sangoe sempat diproduksi dalam skala kecil untuk keperluan pengujian dan tes rasa. “Baru kami tawarkan kepada teman-teman dekat kami. Belum sampai ditawarkan di marketplace atau dititipkan di toko oleh-oleh,” sambung dia.
Meskipun produk tersebut belum diproduksi secara massal, Amirul dan Abid ingin Mie Sangoe tidak berhenti sampai business proposal. Mereka berharap Mie Sangoe dapat dikembangkan lebih lanjut hingga tahap produksi dan pemasaran.
“Besar harapan kami, Mie Sangoe tidak hanya sebatas lomba saja, tetapi dapat dikembangkan menjadi bisnis berkelanjutan. Gen Z (generasi Z) harus melek terhadap makanan sehat,” tandas Abid mengakhiri wawancara.
Penulis: Gede
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








