Bagi para penyintas stroke, perhatian setelah masa perawatan di rumah sakit sangatlah krusial. Tanpa terapi lanjutan yang terstruktur dan intensif, kondisi mereka bisa memburuk, bahkan berujung pada disabilitas sehingga aktivitas sehari-hari akan terganggu.
Peduli dengan cara merawat pasien pascastroke, Samiyem, mahasiswa Fisioterapi UMS mencetuskan ide brilian untuk membantu mereka kembali bergerak dari rumah. Samiyem yakin, idenya akan banyak membantu pasien dan orang yang merawatnya.
“Biasanya kalau orang stroke itu selain kesusahan untuk diri sendiri juga menyusahkan untuk orang lain. Dan kalau misalnya orang stroke itu kan nanti kalau udah disabilitas akan bergantung terus sama orang lain,” kata Samiyem, pekan lalu.
Ide Samiyem yakni merancang sebuah alat terapi sederhana bernama START (Stroke Therapy Assistance and Recovery Tools). Alat ini didesain untuk membantu pasien pascastroke melakukan latihan sensorik, motorik, dan koordinasi secara mandiri di rumah.
Bersama dengan empat rekan mahasiswa dari Fisioterapi UMS yaitu Muhammad Azka Niam, Taqiyyah Nurul ‘Azzah, Nadya Umami Komalasari, dan Syazana Zahra Umardi, Samiyem mulai mengeksekusi inovasinya. Gagasan itu kemudian ia sampaikan kepada dosen pembimbing Arif Pristianto, SSt.FT., M.Fis. dan ditindaklanjuti dengan membuat desain alatnya.
Di tengah masa liburan, Samiyem justru sibuk mengeksekusi desain START bersama orang tuanya. Menurutnya, ide ini cukup sederhana. Namun, penerapannya akan memiliki nilai kebermanfaatan yang cukup tinggi, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil.
“Kebetulan liburan di tahun kemarin di semester 5 itu kan pulang ke rumah, dan langsung bikin dengan orang tua dengan memanfaatkan limbah papan yang ngga kepakai di rumah,” ungkap Samiyem.
Inovasi brilian Samiyem tak lahir begitu saja di tengah kenyamanan ruang kelas. Idenya lahir dari kepekaan usai melakukan beberapa kali pengabdian di desa.
Sebelum akhirnya merancang alat terapi, Samiyem bersama timnya telah mengembangkan sebuah aplikasi pemantauan pasien stroke. Aplikasi itu diterapkan di Desa Kwaren, Klaten, Jawa Tengah.
Meskipun begitu, aplikasi pemantauan tersebut tidak cukup untuk menyelesaikan permasalahan. Menurutnya, jawaban atas permasalahan itu adalah alat yang dapat dilakukan untuk latihan mandiri.
“Sebenarnya banyak orang-orang stroke di desa yang butuh perhatian penuh dan sebenernya pengin melakukan pengobatan tapi terhalang biaya dan yang lainnya, dan belum tahu alat apa yang bisa mengatasi permasalahan khususnya setelah dari rumah sakit,” jelas Samiyem.
Lebih dari sekadar alat terapi, START juga membawa misi edukatif yang tak kalah penting. Samiyem berharap kehadiran alat ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan profesi fisioterapis kepada masyarakat, terutama kepada mereka yang masih menggantungkan harapan kesembuhan pada dukun atau pengobatan nonmedis.
Di beberapa desa yang pernah ia kunjungi, praktik pengobatan alternatif seperti dukun masih menjadi pilihan utama. Padahal, menurutnya, kondisi seperti stroke memerlukan penanganan ilmiah dari tenaga kesehatan yang kompeten.
“Sebenernya juga kayak stigma masyarakat yang masih menganggap kalau misalnya sakit itu lebih ke dukun dan yang lainnya. Jadi kayak menghindari stigma tersebut, juga biar ngga ada TBC (tahayul, bid’ah, dan churofat) di masyarakat,” jelas Samiyem.
Keunggulan START
START telah mengembara hingga mancanegara. Tahun lalu, START berhasil mengantongi medali perak pada World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2024 yang diselenggarakan di Selangor, Malaysia.
Alat ini dirancang menggunakan rumput sintetis dan wallpaper sebagai stimulasi sensorik melalui perbedaan tekstur kasar dan halus. Dilengkapi dengan bola lampu interaktif, alat ini juga berfungsi untuk melatih koordinasi tangan pasien.
Dua bola kasti digunakan untuk melatih kekuatan otot jari-jemari pasien. Sedangkan untuk karet, pasien diminta untuk memasukkan jarinya ke dalam karet kemudian menariknya sesuai dengan level kekuatan yang diatur. Setiap level kekuatan dibedakan dengan warna, sehingga pasien dapat merasakan peningkatan kesulitan secara bertahap.
Keunggulan lain dari alat ini adalah dapat menyasar kelompok selain pasien pascastroke, yaitu para lansia yang kerap merasakan sakit pada persendian jari. Dengan START, mereka dapat melatih sensor motoriknya.
Lansia atau orang-orang yang sudah menopause memiliki jumlah hormon yang sudah berkurang. Akibatnya, mereka mengalami permasalahan di sendi-sendinya, seperti rheumatoid arthritis atau penurunan kualitas sendi khususnya di daerah tangan.

Gambar dan desain fungsi alat terapi START. Humas UMS/Salsabila
Keunggulan utama START adalah fleksibilitasnya yang luar biasa. Pasien tidak perlu lagi mengunjungi klinik secara rutin, sebab alat ini memungkinkan latihan dilakukan di rumah, memberikan kemudahan dan tentunya lebih hemat bagi penggunanya.
“Jadi untuk masyarakat yang terkendala finansial dan yang lainnya itu bisa melakukan latihan yang secara terstruktur atau terprogram di rumah. Karena orang stroke itu nggak bisa latihannya cuma 2 kali dalam seminggu, harus intens,” kata Samiyem.
Samiyem dan timnya berniat untuk mengajukan hak desain industri untuk alat terapi yang mereka kembangkan. Ajuan hak desain industri menjadi pilihan timnya karena START berpotensi untuk diproduksi secara massal lalu menjangkau lebih banyak pengguna.
Penulis: Maysali Sudarwati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







