
Badal Umroh dari Kacamata Tarjih Muhammadiyah
Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Sore itu orang-orang masih harus mengantre panjang untuk mengambil jatah air bersih mereka. Terlihat beberapa dari mereka menahan gerah, yang pria bersarung dan sebagian bercelana pendek, sedangkan perempuan mengenakan turban agar panasnya matahari tak langsung menusuk kulit kepala. Paceklik air tak pernah absen setiap tahun. Sementara bantuan dari pemerintah belum menunjukkan batang hidungnya.
“Saya pun dan beberapa rombongan tidak sempat mandi saking sulitnya menjangkau air bersih. Adapun air, kami harus berjalan jauh ke lembah-lembah sungai untuk menemukan sumber mata air, tapi debitnya juga sangat kecil,” kenang Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., yang kala itu masih mendampingi masyarakat Tli’u, Amanuban Timur, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur dalam program wajib belajar 9 tahun bersama MPM.
Baca juga: SD Muhammadiyah Tli’u: Potret Perbaikan Pendidikan di Tanah Timor
Tak hanya penduduk asli Tli’u, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang masih melanjutkan program pengabdian masyarakat di ranah pendidikan juga ikut merasakan paceklik air di desa yang bertanah kapur itu. Kedatangan MPM memang awalnya tak spesifik menyoal krisis air bersih. Namun dengan menyaksikan dan merasakan langsung paceklik air bersama warga, MPM lantas berinisiatif untuk menuntaskan permasalahan yang sudah berminggu-minggu menghantui Tli’u.
Beberapa warga berujar paceklik air disebabkan kurangnya curah hujan dan mengeringnya sungai yang biasa dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan harian ratusan Kartu Keluarga (KK) di Tli’u. Selain itu, kondisi alam yang tak memadai juga semakin memperparah keadaan.
“Kami mengupayakan revitalisasi air bersih yang sebenarnya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan harian warga, tetapi juga untuk mendukung sektor pertanian dan sektor produksi lainnya. Langkah awal yang dijalankan adalah menggandeng beberapa pakar dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melakukan assessment,” lanjut Sarjito, Kepala Lembaga Pengabdian Masyarakat & Pengembangan Persyarikatan (LPMPP) UMS.
Berdasarkan cerita yang disampaikan Sarjito, ITB terlebih dahulu mendatangi Tli’u untuk meneliti kemungkinan sumber mata air baru. Sementara UGM turut andil pada diskusi yang diselenggarakan di Yogyakarta.
“Akhirnya ketemu satu titik, tapi pengeboran harus dilakukan sedalam 200 meter. Kami pesimis dan berpikir hampir mustahil dilakukan. Akhirnya UMS mengirimkan tim juga, saya datang bersama almarhum Dr. Imam Hardjono dan Pak Rudiyanto (laboran geografi UMS).”
Keringat mulai mengucur di pelipis Sarjito dan rombongan. Nafas mereka cukup tersengal-sengal setelah berjalan kaki jauh menuju ke lembah sungai. Sumuk belum hilang, namun mendiang Imam langsung mengamati lahan sekitar.
“Hipotesa mendiang, dalam kondisi tanah lanskap seperti saat itu, logikanya titik yang paling rendah pasti memiliki cekungan yang memungkinkan untuk diambil airnya. Setelah diteliti lebih lanjut, terlihat ada cekungan dengan air yang menggenang sedalam 1.5 meter. Lalu mendiang merekomendasikan untuk digali, karena kalau dibor airnya justru akan masuk ke dalam, mengingat tanah di Tli’u adalah tanah kapur.”
Penduduk yang mulai kepayahan menghadapi paceklik air serempak menyatakan “sepakat” atas pertimbangan terbaik Sarjito dan tim. Dengan hasil donasi dari UMS beserta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK), dan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), tim pengabdian akhirnya mulai melakukan penggalian.

“Dengan gotong-royong bersama warga, titik sumber mata air baru itu bisa tergali sedalam 3 meter. Selang beberapa hari, ada warga yang berinisiatif menggali lahan yang tak jauh dari lokasi penggalian pertama, sekitar 7-10 meter. Dan saat diteliti tim UMS, debit air di titik tersebut jauh lebih besar, lebih deras,” ingatnya sambil mengangguk-angguk pelan.
Jerih payah yang dikerahkan oleh Muhammadiyah tak berhenti sampai di situ saja. Sarjito dan tim berpikir keras tentang bagaimana caranya air bisa naik ke atas dan menjangkau permukiman warga. Akhirnya mereka meneken kerja sama dengan salah satu perusahaan air ternama di Indonesia, sekaligus menggandeng Lazismu untuk membiayai penaikan air yang perlu dinaikkan sebanyak lima etape supaya menjangkau tiap keran rumah warga.
“Melalui berbagai proses panjang tersebut, kami akhirnya bisa menaikkan air dan meresmikan sumber mata air bersih yang baru di Tli’u. Setelah masalah paceklik air teratasi, kami kemudian membidik permasalahan yang tak kalah urgen, yaitu masalah lahan kering yang menyulitkan petani dan peternak di Tli’u. Untuk itu, kami menerjunkan mahasiswa KKN agar dapat membantu membina petani dan peternak lahan kering di sana.”
Proses pembinaan yang dilakukan oleh tim mahasiswa KKN terbagi menjadi beberapa kegiatan, mulai dari pelatihan teknik pertanian dan peternakan yang sesuai dengan kondisi lahan kering, hingga penyuluhan tentang pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Selain itu, mereka juga memberikan bantuan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, seperti sistem irigasi sederhana dan peningkatan kualitas pakan ternak. Sarjito berharap banyak agar petani dan peternak Tli’u bisa meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka dengan solusi tersebut.
Menjelang akhir perbincangan, Sarjito menyempatkan untuk bercerita sedikit tentang kilas balik pembangunan masjid yang akan menjadi rumah ibadah bagi warga Tli’u pemeluk agama Islam. Sebelumnya masyarakat muslim Tli’u melakukan ibadah di surau kecil beratap rumbai, beralas tikar, bahkan untuk wudu, mereka harus menampung air hujan dengan beberapa ember ala kadarnya.
“Di tahun sebelumnya, saya dan rekan-rekan Muhammadiyah melakukan pembangunan masjid yang masih satu kawasan dengan SD Muhammadiyah Tli’u. Waktu tiba di sana ya kami menyadari bahwa masjid lokal sangat membutuhkan perhatian serius. Selain menjadi pusat ibadah, surau beratap rumbai itu juga menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi bagi masyarakat setempat. Sayangnya kondisi surau yang sudah tua dan rapuh membuat tim merasa perlu untuk melakukan pembangunan masjid baru. Surau masih tetap ada, jaraknya sekitar 15 meter dengan masjid baru.”
Guru Besar Fakultas Teknik UMS itu menakhodai jalannya proyek pembangunan masjid dengan melibatkan warga. Setiap hari, warga mendatangi masjid untuk membantu dalam segala hal, mulai dari membersihkan lokasi hingga membantu para tukang bangunan. Hingga akhirnya masjid baru berhasil diresmikan.
Beberapa menit menuju kumandang azan zuhur, Sarjito menutup percakapan dengan membeberkan rencana pemberdayaan Tli'u lainnya, “Ke depannya kami akan mengunjungi Tli’u lagi untuk menyosialisasikan energi alternatif mikrohidro yang gunanya untuk menyuplai listrik, utamanya ke masjid. Semoga segera terlaksana.”
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva

Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.