Menempuh Spesialis Patologi Anatomi
Belajar dari Kisah Hidup Pasien

Siapa sangka seorang perempuan yang dulunya takut dengan darah akhirnya menjadi dokter spesialis patologi anatomi. dr.Yuni Prastyo Kurniati, M.M., Sp.PA. tak pernah menyangka langkahnya akan sejauh ini.

“Saya dulu nggak kebayang masuk kedokteran,” ujar Yuni sambil terkekeh kala ditemui di laboratorium Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pekan lalu. Dari delapan bersaudara, Yuni adalah anak satu-satunya yang menempuh pendidikan dokter.

Sejak awal Yuni tak tertarik menjadi dokter. Ia justru ingin masuk Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM). “Saya organisatoris sejak SMP dan SMA. Tapi Ibu melarang ambil jurusan IPS. Katanya harus IPA, supaya salah satu anaknya bisa jadi dokter,” kenang dia.

Ia pun menuruti keinginan sang ibu, tanpa menyangka keputusan itu menjadi pintu menuju dunia baru yang jauh dari bayangannya. Setelah lulus SMA, Yuni diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) tahun 1992. 

dr.Yuni Prastyo Kurniati, M.M., Sp.PA. Humas UMS/Luqman Hakim

“Begitu saya terjun kuliah, ternyata nggak seseram yang saya bayangkan. Padahal saya benar-benar takut dengan darah,” kata wanita kelahiran Klaten itu. Di kampus, Yuni cepat beradaptasi. Ia aktif dalam Senat Mahasiswa, mengikuti Temu Ilmiah Nasional, hingga mewakili fakultas dalam lomba tari tradisional, meski menjadi mahasiswa kedokteran sudah padat ujian dan praktikum.

Menempuh Spesialis Patologi Anatomi

Setelah lulus dan memiliki surat tanda registrasi (STR), Yuni sempat menjadi dokter program pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Baki I, Sukoharjo pada 2001-2004. Tahun berikutnya, Yuni malah tertarik menjadi dosen di Fakultas Kedokteran UMS.

Dunia pendidikan ternyata membangkitkan kembali semangat yang diwariskan ayahnya yang juga merupakan mantan dosen di Fakultas Teknik UMS. Yuni tak sekadar mengajar, namun turut menjadi dosen perintis Fakultas Kedokteran UMS. 

“Kami dulu benar-benar mulai dari nol, dari gedung Fakultas Kedokteran UMS yang lama di Penumping, Laweyan, yang sekarang sudah berubah menjadi Fakultas Kedokteran Gigi,” kenangnya.

Setelah beberapa tahun mengajar di UMS, Yuni merasa masih perlu berkembang dan menimba ilmu lagi. Ia kemudian menempuh studi magister manajemen di UMS, sekaligus tetap aktif mengajar di Fakultas Kedokteran UMS.

Di tahun 2013 saat usianya sudah menginjak 37 tahun, Yuni punya hasrat melanjutkan pendidikan spesialis. Ia memilih spesialis patologi anatomi sebagai minat barunya.

Keputusan untuk mendalami patologi anatomi dilandasi alasan kuat. Ia melihat bidang ini memiliki peran penting dalam menentukan diagnosis penyakit, terutama kanker. “Kanker itu masih jadi PR dunia medis. Dari situ saya ingin mendalaminya,” ujarnya mantap.

Usai menempuh pendidikan spesialis, Yuni menjalankan praktik klinis sebagai Konsultan Spesialis Patologi Anatomi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta tahun 2016 hingga kini. “Apa yang saya jalani ini adalah karunia dari Allah, dan saya benar-benar bersyukur bisa survive keduanya. Menggabungkan dunia akademik dan pelayanan medis sebagai satu bentuk pengabdian yang utuh dalam hidup saya sebagai seorang hamba,” ucap Yuni sungguh-sungguh.

Yuni menyebut masa pendidikan spesialisnya sebagai masa “berdarah-darah.” Ia harus singgah di Semarang tanpa bisa pulang selama menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Baru bisa menyempatkan pulang dua kali seminggu setelah PPDS ia rampungkan.

“Suami saya waktu itu juga sedang S3. Jadi kami sekolah berdua, dan benar-benar harus banyak berjuang. Sering kali pulang larut malam, hanya untuk bertemu anak-anak sebentar sebelum kembali ke Semarang sebelum subuh,” kata dia.

Belajar dari Kisah Hidup Pasien

Pengalaman klinis pertama yang membekas terjadi ketika Yuni menangani pasien perempuan berusia 38 tahun dengan benjolan di payudara. “Saya ambil jaringan dengan SOP seperti biasanya. Tapi sewaktu saya hendak melakukan tindakan, si ibu menatap saya dan bilang, “Dok, saya mau mati ya? Hidup saya tinggal berapa lama lagi?”” Yuni menjelaskan dengan mata yang berkaca-kaca, seakan mengajak kami untuk memahami perasaannya kala itu. 

Ia bercerita dirinya cukup lama menahan napas, menatap pasien itu di bawah lampu ruang tindakan. “Perasaan saya campur aduk, karena saya harus memastikan hidup seseorang,” lanjut Yuni.

Ketika hasilnya positif kanker, hatinya tak siap mengabarkan. Ia keluar dari ruang laboratorium patologi anatomi RS PKU Muhammadiyah, dan melihat pasien itu duduk menunggu bersama empat anak kecil. “Yang satu sekitar umur 2 tahun sedang digendong, yang lainnya memegang rok ibunya. Saya cuma bisa diam. Nggak boleh terbawa perasaan, tapi saya manusia, apalagi juga seorang ibu,” ujarnya pelan. 

Tak semua kisah pasien yang ia tangani berakhir sedih. Kisah lain yang paling membekas bagi Yuni adalah seorang perempuan dengan kanker payudara yang kini hidup sehat setelah sepuluh tahun berjuang. Awalnya, pasien itu datang dengan kondisi mental yang rapuh. 

Pasien tersebut sempat merasa kehilangan semangat setelah divonis kanker, terlebih karena harus merawat anak dengan retardasi mental dan suami yang mengalami strok. Namun, berkat diagnosis dini dan penanganan tepat, kondisinya membaik. Pasien tersebut menjalani operasi pengangkatan tumor dan rangkaian kemoterapi, lalu rutin kontrol setiap lima tahun untuk evaluasi lanjutan.

Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan semua bersih tanpa tanda kekambuhan. “Setiap kontrol hasilnya alhamdulillah selalu bagus. Sekarang pasien ini malah bisa melanjutkan hidup dan merawat anak dan suaminya tadi,” kata Yuni. 

Kisah satu ini menjadi bukti nyata deteksi dini dan terapi tepat dapat memberi harapan baru bagi penderita kanker. “Menyelamatkan satu orang bisa berarti menyelamatkan satu keluarga,” tambah dia.

Yuni juga pernah menangani kasus pasien perempuan berusia 50-an tahun. Istri dari suami pengidap HIV yang sudah lebih dulu meninggal dunia. 

Suami pasien diketahui sering melakukan seks bebas sebelum menikah. Meski istri tahu fakta pahit tersebut, ia memilih tak meributkan hal itu demi menjaga rumah tangga dan masa depan anak-anaknya. Beberapa tahun kemudian, sang istri terdiagnosis kanker serviks akibat infeksi HPV atau human papillomavirus.

Bagi Yuni, setiap pasien membawa pesan kehidupan tersendiri. Ada kisah yang membuatnya terenyuh, ada pula yang menggugah amarah dan empatinya sebagai manusia. Semua ia jadikan bahan renungan bagi diri sendiri. 

Kini, di tengah kesibukannya sebagai dosen dan dokter, Yuni tak pernah berhenti belajar. Ia banyak terlibat dalam riset kolaboratif bersama sang suami, Dr. dr. Yusuf Alam Romadhon, M.Kes., Sp.KLLP., FISQua., FISPH., FISCM.  yang juga aktif meneliti aspek bio-psiko-sosio-kultural-ekonomi yang mempengaruhi kesehatan pasien. 

Mereka juga tergabung dalam Pusat Studi Kanker UMS. Pada Mei 2025, keduanya lolos seleksi mewakili tim pusat studi tersebut pada ajang International Cancer Research Symposium yang diselenggarakan oleh University of Nottingham, Inggris, bertempat di Kuching, Sarawak, Malaysia. 

Baru-baru ini, atas kiprah dan kepiawaiannya di bidang ilmu medis, Yuni terpilih sebagai kandidat nominator The 2025 UNESCO-Russia Mendeleev International Prize in Basic Sciences. “Bukan karena ambisi, kami (Yuni dan suami) ingin memahami hidup ini lewat ilmu dan pengalaman klinis. Bisa dibilang inilah napas pengabdian kami,” tutup Yuni.


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Lebih dekat dengan dosen

Teropong Jagat

image-featured
8 Juni 2026

Keberadaan kaum homoseksual di ruang publik menimbulkan keresahan masyarakat. Menambah risiko penyakit menular, termasuk HIV dan berbagai infeksi menular seksual lainnya.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
3 Juni 2026

Mikroplastik ditemukan di berbagai bentuk ekosistem di sekitar kita. Mulai dari tanah, tubuh organisme, hingga air hujan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
21 Mei 2026

Nilai tukar rupiah terus anjlok dan berada pada level terendah. Benarkah masyarakat desa luput dari terpaan efek dominonya?

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.