Dini hari selalu menjadi waktu istimewa bagi Kuswaji Dwi Priyono. Di bawah langit gelap yang kadang kala diterangi bintang-bintang, ia terbiasa bangun tanpa bantuan alarm untuk bersiap membantu kedua orang tuanya.
Orang tuanya, cerita Kuswaji, merupakan seorang pedagang pakaian yang sepekan sekali berpindah dari satu pasar ke pasar lainnya. Sudah sebuah keharusan jika keduanya memulai hari jauh sebelum fajar menyingsing.
“Kalau kata ibuk, saya anak yang paling mudah diajak bangun pagi,” kata Kuswaji terkekeh menceritakan obrolan ibunya tempo dulu, saat ditemui di Lembaga Pengabdian Masyarakat dan Pengembangan Persyarikatan (LPMPP), Gedung Induk Siti Walidah lantai 5 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Senin (13/1/2025) pagi.

Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si. Humas UMS/Imam Safi’i
“Semua masih terekam jelas. Kalau ke Pasar Ponjong itu 7 km dari rumah. Kalau ke Pasar Paing Regedeg bisa sampai 17-an km, ke Pasar Jepitu 20-an kilometer, kemudian ke Pasar Baran, Rongkop itu 19 km, dan masih banyak lagi,” kata dia.
Di tengah gersangnya Semanu, anak kedua dari lima bersaudara itu terbiasa hidup disiplin. Kesederhanaan dan kerja keras merupakan modal utama agar ia bisa hidup lebih baik esok hari.
“Bisa dibilang disiplin yang tertanam sejak dulu jadi salah satu fondasi saya untuk tetap bertahan. Bapak-ibu begitu ingin anak-anaknya menjalani hidup yang lebih baik dan layak dari mereka,” imbuh Kuswaji yang baru-baru ini dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Geografi, Fakultas Geografi UMS.
Ketertarikan Belajar Geomorfologi
Di umurnya yang belum genap 12 tahun, Kuswaji sudah menunjukkan ketertarikan pada alam. Kecintaannya pada alam semakin tumbuh kala dirinya mengikuti ekstrakurikuler pramuka.
“Saya selalu menantikan kegiatan kemah dan mencari jejak. Rasanya seperti petualangan kecil,” kenangnya. Saat berkemah di alam, ia banyak belajar membaca kode morse, memahami arah angin, dan hal-hal menyenangkan lainnya.
Masa remaja Kuswaji rupanya tak hanya diwarnai dengan petualangan alam. Saat memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA), ia bergabung dengan Pelajar Islam Indonesia (PII).
PII sendiri, kata Kuswaji, merupakan organisasi Islam yang paling keras di zamannya. Pasalnya organisasi tersebut juga mengajarkan militansi.
“Walaupun saya di PII, tapi keluarga banyak di Muhammadiyah. Jadinya terkontrol, karena Muhammadiyah menanamkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya. Perpaduan organisasi yang ia ikuti itu membentuk Kuswaji menjadi sosok yang berjiwa tegas, namun penuh empati terhadap manusia dan alam.
Dengan lugas ia bercerita ingin masuk masuk pertanian usai lulus SMA. Namun takdir membawanya pada pilihan kedua, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Saya tertarik pada bagaimana tanah dan lanskap terbentuk. Geografi menawarkan pandangan luas tentang hubungan antara manusia dan alam juga,” katanya.
Jurusan Geomorfologi menjadi pilihannya. Di sana, Kuswaji mendalami dinamika tanah dan permukaan bumi, serta bagaimana faktor-faktor di dalamnya memengaruhi kehidupan manusia.
Mengabdikan Diri untuk Masyarakat
Studi geomorfologi telah membawa Kuswaji terjun pada pelbagai pengalaman lapangan. Salah satu momen yang tak terlupakan baginya ialah ketika bekerja di proyek survei sumber daya tanah di Sumatera Utara setelah menyabet gelar Doktorandus (Drs.) dan Bachelor of Science (B.Sc.).
Proyek itu dipimpin oleh seorang ahli tanah asal Belanda, dengan Kuswaji sebagai salah satu anggota tim yang bertanggung jawab menyurvei lapangan, menganalisis profil tanah, serta mengkaji perkembangan tanah di beberapa lokasi sesuai arahan.
“Kami memetakan potensi dan keterbatasan lahan untuk berbagai penggunaan. Karier perdana yang menurut saya sangat menyenangkan. Apalagi itu pertama kalinya saya merantau dan naik pesawat,” kelakarnya.

Gairahnya pada geomorfologi kian menajam seiring dirinya melanjutkan studi magister dan doktoral di universitas yang sama. “Karena fokusnya ke situ, maka saya juga belajar mitigasi bencana. Alangkah baiknya saya menebar ilmu saya untuk Indonesia. Negeri seribu bencana, dari gunung berapi hingga banjir kan semua ada di sini,” pikirnya kala itu.
Pada tahun 1991, Kuswaji memulai pengabdiannya di UMS sebagai dosen muda Fakultas Geografi. Tahun-tahun berikutnya ia mulai dipercayai untuk mengelola laboratorium hingga menjadi dekan selama dua periode. Ia bahkan terhitung aktif mendorong pengabdian masyarakat berdampak.
“Dari sekian banyak pengabdian masyarakat yang saya lakukan bersama UMS, paling membekas itu upaya menyediakan air bersih di Gunung Sewu, kawasan yang sering mengalami kekeringan berkepanjangan,” terang Kuswaji mengingat-ingat. Bahkan masyarakatnya sampai harus menjual ternak untuk membeli air setiap musim kemarau.
Panas terik di kawasan karst Gunung Sewu, tepatnya di Desa Pucung, Wonogiri kala itu tampak menyengat. Tanah kapur yang retak-retak menjadi pemandangan sehari-hari warga, kata Kuswaji.
Bersama timnya, Kuswaji melakukan survei speleologi untuk menemukan sumber air bawah tanah yang selama ini tersembunyi di balik lapisan karst.
Dengan menggunakan peralatan caving, mereka akhirnya menemukan aliran sungai bawah tanah. “Setelah survei, kami tahu ada potensi sungai bawah tanah di sana, tetapi medan yang sulit membuatnya jarang dimanfaatkan,” ungkapnya.
Perjalanan menuju sumber air tidaklah mudah. Kuswaji dan tim harus melewati lorong gua vertikal sepanjang 17 meter di Goa Suruh.
"Debit air yang stabil, sekitar 2 liter per detik, cukup memberikan harapan besar bagi masyarakat Pucung di tahun 2009 itu,” jelas dia.
Pengabdian di Gunung Sewu bisa dibilang proyek yang cukup panjang. Lantaran dana yang digelontorkan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) tak cukup.
“Akhirnya kami dibantu juga oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dari UMS juga ikut urun,” lanjutnya.
Saat dana dirasa cukup, Kuswaji dan tim mulai membangun bendungan kecil, memasang pompa submersible, dan merancang sistem distribusi. Setelah bertahun-tahun bekerja keras, air mulai mengalir ke rumah-rumah warga pada awal 2013.
“Harga air sebelumnya mencapai Rp50.000 per meter kubik, usai pengabdian turun drastis jadi Rp3.500 per meter kubik,” ucap dia gamblang.

Estimasi harga air per bulan dalam liter.
Ia dan tim pun berhasil menanamkan kesadaran kolektif. Kini, apabila ada pipa yang rusak atau sistem distribusi air yang perlu diperbaiki, masyarakat Desa Pucung secara sukarela menggalang dana iuran.
Selepasnya, pengabdian Kuswaji terus berjalan. Tahun ini, genap 13 tahun ia membantu masyarakat di beberapa daerah bersama LPMPP UMS.
“Kami mencoba membangun kesadaran di tingkat akar rumput, bahwasanya bencana adalah sesuatu yang bisa kita siasati bersama,” tegas Kuswaji.
Sosok Kuswaji yang duduk santai di hadapan kami ini terlibat aktif di berbagai organisasi kebencanaan sejak dekade ’90-an. Ia pernah tergabung sebagai pengurus pusat Perhimpunan Ekologi Karst Indonesia (Pekindo), pengurus pusat Ikatan Geograf Indonesia (IGI), hingga mengetuai Forum Perguruan Tinggi untuk Pengurangan Risiko Bencana (FPT-PRB) Jawa Tengah.
Teranyar, Kuswaji menjabat sebagai pengurus pusat Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI). Dirinya berkontribusi dalam menyusun strategi mitigasi bencana berbasis komunitas. “Bencana itu kenyataan yang tidak bisa dihindari manusia, tetapi kita bisa menekan kerentanan dan risiko bencana melalui mitigasi,” tegasnya.
Bagi dia, mitigasi bencana bukan hanya menyoal urusan teknis. Mitigasi bencana mencakup edukasi dan membangun kearifan lokal. Filosofi tersebut tercermin dalam beberapa buku ajar dan peta kawasan rawan bencana karyanya.
Melibatkan masyarakat dalam setiap langkah mitigasi itu mutlak. “Masyarakat adalah pelaku utama, bukan sekadar objek bantuan. Mereka memiliki kemampuan luar biasa jika diberdayakan,” tambahnya.
Seketika kenangan tentang pidato pengukuhan Guru Besar Kuswaji terlintas dalam obrolan kami. Kala itu, dirinya mengangkat tema resiliensi, yang ia sebut sebagai kemampuan bertahan masyarakat usai diterjang ujian bencana dari Sang Maha Pencipta.
“Resiliensi adalah perjalanan untuk memahami bencana, mengambil pelajaran darinya, dan tumbuh menjadi lebih tangguh. Itu fokus saya sekarang, menguatkan resiliensi. Kita hidup di negeri seribu bencana ini, maka juga harus ada seribu solusi,” tandas Kuswaji.
Pendekatan itu Kuswaji wujudkan dalam perjalanan panjangnya bersama masyarakat. Dia sendiri telah menyaksikan bagaimana kekuatan komunitas dapat menjadi penopang utama dalam menghadapi tantangan bencana.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







