Tumpukan buku menghiasi meja kerja Laili Etika Rahmawati di Biro Inovasi Pembelajaran, Gedung Induk Siti Walidah, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Di sudut meja, tampak sebuah monitor komputer dihiasi sticky notes berisi catatan-catatan penting yang harus dikerjakan Laili. Sudah menjadi rutinitas Laili usai mengajar, kembali ke meja kerjanya dan menuntaskan tanggung jawab lainnya di hari itu.
Sosok Laili adalah pribadi yang periang dan senang bercerita. Hal itu terpancar dari senyumnya yang mengembang saat menyambut kami. Dia merupakan salah seorang pengajar Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) di UMS sejak 2012, dua tahun setelah Laili menjadi dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMS.
Kelas pertama yang ia ampu saat itu diikuti empat mahasiswa asal Rumania, Slovakia, Yordania, dan Thailand. Laili dibantu dua orang penerjemah bahasa Arab dan bahasa Inggris. Namun, kehadiran penerjemah membuatnya sadar bahwa kelas BIPA harus menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya.
“Kalau kami menyesuaikan bahasa pengantar dengan mereka (mahasiswa asing), maka mahasiswa bukannya belajar bahasa Indonesia tetapi belajar tentang bahasa,” ujar Laili di ruang kerjanya, Rabu, 24 Juli 2024.

Dr. Laili Etika Rahmawati, S.Pd., M.Pd. Humas/Imam Safii
Tahun berikutnya, peran penerjemah mulai dihilangkan dari kelas BIPA di UMS. Mulailah Laili mengajarkan BIPA dengan bahasa Indonesia langsung, meskipun beberapa kali dirinya menggunakan bahasa isyarat dan bahasa Inggris.
Laili sering berhadapan dengan mahasiswa asing yang belum pernah mempelajari bahasa Indonesia. Tak jarang dia menjumpai mahasiswa asing yang kurang fasih berbahasa Inggris. Hal tersebut membuat Laili harus memutar otak untuk menyampaikan materi bahasa Indonesia kepada mahasiswa asing, seperti menggambarkan simbol hingga menggunakan aplikasi penerjemah.
Ada dua tantangan yang ia hadapi selama mengajarkan bahasa Indonesia kepada mahasiswa asing. Pertama, bahasa Indonesia mempunyai ragam cakapan yang bervariasi. Laili memandang ragam cakapan bahasa Indonesia harus dipahami oleh mahasiswa asing sebagai bekal bertahan hidup di Indonesia selama bulan-bulan pertama.
Tantangan kedua adalah perbedaan kultur sapaan. Bahasa Indonesia mengenal ragam sapaan seperti Bapak, Ibu, Kakak, Mas, hingga Mbak. Kultur bahasa mahasiswa asing seringkali memanggil nama langsung. Hal tersebut sangat ditekankan di awal kelas BIPA agar mahasiswa asing memahami kultur sapa menyapa di Indonesia. “Saya lebih menekankan mahasiswa asing untuk menjunjung kesantunan,” kata dia.
Kecintaannya mengajar BIPA mendorong Laili mengembangkan instrumen pengujian bahasa Indonesia yang tertuang dalam buku BIMA (Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Asing):Tes Kompetensi Membaca untuk Mahasiswa Asing pada 2019. Buku tersebut merupakan riset disertasinya yang telah dimulai sejak 2014.
BIMA merupakan instrumen pengujian bahasa Indonesia untuk menguji kemampuan membaca mahasiswa asing. Laili mengaku terinspirasi dari model International English Language Testing System atau IELTS. Analisis Laili menunjukkan kemampuan dasar yang harus dikuasai mahasiswa asing saat belajar bahasa Indonesia adalah kemampuan membaca.
“BIMA ini variasi. Ada yang tesnya berupa respons tertulis, pilihan ganda, ya-tidak, benar-salah, ada juga yang mencocokkan kata,” terang Kepala Divisi Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran, Biro Inovasi Pembelajaran, UMS itu.
Penyusunan instrumen BIMA yang memakan waktu selama lima tahun itu mengacu pada standar kompetensi lulusan BIPA yang termaktub dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2017.
“Kalau di BIMA ada tujuh level tingkatan. Saya mencuplik kriteria membaca dari tujuh kriteria di BIPA,” imbuh dia. Pada 2019, Laili berhasil meraih Hak Kekayaan Intelektual untuk buku BIMA (Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Asing):Tes Kompetensi Membaca untuk Mahasiswa Asing.

Lahirkan Karya
Kegemaran Laili menulis tidak berhenti di lingkungan kampus. Ia juga aktif menelurkan sejumlah tulisan maupun buku. Sejak 2010, dirinya rutin mengirimkan naskah ke media massa, seperti rubrik Bahasa Kita di Solopos dan rubrik Edukasia di Suara Merdeka.
Laili mencoba menjabarkan wawasan tentang bahasa melalui tulisannya di media massa. Misalnya lewat tulisan berjudul “Makna Kata Akut dan Kronis” yang terbit di Solopos, Kamis, 2 Februari 2012, Laili mencoba menjelaskan perbedaan kedua kata tersebut terletak pada durasi waktunya. “Kalau akut itu mendadak, kalau kronis itu sudah mengalami dalam jangka waktu yang lama,” terang dia.
Selain artikel, dia juga menulis sejumlah buku, antara lain Model, Metode, dan Strategi Pembelajaran Siswa Bergejala Disleksia (2022), yang didukung hibah dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan; Keterampilan Berbahasa (2023); dan teranyar adalah Plesiran di Jawa Tengah (2024) yang dikoordinasi Balai Bahasa Jawa Tengah.
Laili memandang penguasaan bahasa sangat penting karena bahasa yang baik akan memperhalus budi sekaligus menghela ilmu pengetahuan. Salah satu caranya dengan menggiatkan literasi di sekolah-sekolah lewat program Sastra Masuk Kurikulum yang digagas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Mengutip laman Sistem Informasi Perbukuan Indonesia, Sastra Masuk Kurikulum merupakan program yang memanfaatkan karya sastra dalam Kurikulum Merdeka. Tujuannya meningkatkan minat baca, menumbuhkan empati, dan mengasah kreativitas serta nalar kritis pelajar. Laili menyambut positif gerakan tersebut. Namun, dia menekankan pentingnya menyeleksi bacaan. “Buku yang dibaca harus dapat membangun karakter pembacanya,” tegasnya.
Perempuan 38 tahun itu menaruh perhatian khusus pada isu literasi kesantunan untuk mahasiswa asing. Dia memandang mahasiswa asing juga harus mempelajari norma kesantunan yang berlaku di masyarakat. “Kesantunan tidak hanya dilihat dari cara mahasiswa asing berkomunikasi, tetapi juga berpakaian dan sebagainya,” jelas Laili.
Pemikiran Laili seputar literasi kesantunan tertuang dalam beberapa tulisan, misalnya penelitian berjudul “Pengembangan Bahan Ajar BIPA Berorientasi Kesantunan” (2016), makalah Konsep Tes Kompetensi Berbahasa Indonesia Mahasiswa Asing Berbasis Kesantunan (2016), makalah Urgensi Bahan Ajar BIPA Berorientasi Kesantunan (2018), dan artikel berjudul “Pembelajaran BIPA Berorientasi Kesantunan” di Suara Merdeka edisi 26 Juni 2018.
Naluri untuk terus berkontribusi pada pendidikan telah mengalir dalam dirinya. Laili percaya dengan cita-citanya dan terus berusaha mewujudkannya. “Bahasa Indonesia adalah passion saya,” tutur dia. Ada satu anekdot yang Laili katakan, “Orang bahasa itu titik koma aja diurusin, apalagi kamu.”
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








