Jadi Enumerator hingga Umpan Nyamuk
Minat Studi Bidang Kesehatan

Jadi Enumerator hingga Umpan Nyamuk

Malam itu di Sukoharjo, Salsabila Khoirun Nisa tidak sedang beristirahat di kamar kosnya yang nyaman. Sebaliknya, ia terjaga dari jam enam sore hingga enam pagi, merelakan lengannya menjadi umpan nyamuk. Bersama Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan Kota Salatiga, mahasiswi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini harus menangkap setiap nyamuk yang hinggap di tubuhnya menggunakan aspirator.

“Nyamuk yang datang langsung ditangkap untuk diidentifikasi apakah termasuk spesies Anopheles atau tidak,” kenang Salsa, sapaan akrabnya, pertengahan Maret.

Setiap nyamuk yang tertangkap dimasukkan ke dalam wadah khusus untuk diidentifikasi. Data hasil tangkapan kemudian dianalisis dan dipetakan menggunakan sistem informasi geografis guna menentukan area risiko. Dari peta tersebut, intervensi kesehatan dapat dirancang secara lebih tepat sasaran.

Salsa saat mengidentifikasi nyamuk hasil tangkapannya yang diduga sebagai spesies Anopheles. Dok.Pribadi

Pengalaman menjadi umpan nyamuk hanyalah satu dari sekian banyak realitas lapangan yang ia hadapi. Di puskesmas lain, dirinya terlibat dalam berbagai proyek, mulai dari pengembangan aplikasi kesehatan ibu hamil hingga surveilans kesehatan mental maternal.

Dalam salah satu penelitian, Salsa pernah bertugas sebagai enumerator yang mengumpulkan data langsung dari ibu hamil di beberapa puskesmas. Salsa dan salah satu rekannya harus mewawancarai responden, mencatat kondisi kesehatan, sekaligus memastikan data yang diperoleh akurat.

Pengalaman tersebut membuka matanya terhadap berbagai persoalan kesehatan masyarakat. “Ternyata di Surakarta masih ada ibu hamil usia belasan tahun. Bahkan ada yang tingkat stresnya tinggi karena faktor ekonomi dan usia yang belum matang,” cerita gadis kelahiran Ngawi itu.

Dalam penelitian lain bersama dosen, Salsa menemukan kasus infeksi menular seksual (IMS) pada ibu hamil muda saat penelitian lain. Pengalaman itu membuatnya semakin menyadari pentingnya deteksi dini dan edukasi kesehatan.

Selain penelitian penyakit, Salsa ikut mengembangkan inovasi melalui pengolahan food waste menjadi tepung nutrisi tambahan bernama Nutriflor. Gagasan ini berangkat dari kemenangan lomba World Invention Competition and Exhibition 2025 untuk mengurangi volume sampah makanan sekaligus menekan angka stunting melalui tambahan gizi pada MPASI.

Pengabdian berlanjut dengan tema lain, yakni mengedukasi masyarakat di Colomadu mengenai pembuatan pelet ikan dari sampah organik yang diawali dengan pengumpulan bahan dari rumah tangga hingga warung makan.

“Kami di sana bersama tim mengedukasi masyarakat mengenai pembuatan pelet ikan dari sampah organik. Diawali dengan pengumpulan bahan dari rumah tangga hingga warung makan di lokasi,” jelas dia.

Proses pembuatan pelet dilakukan secara sistematis, mulai dari pemilahan sampah menjadi delapan kategori seperti tulang ikan, nasi, tempe, hingga daging sapi, yang kemudian dikeringkan dan dicacah hingga menyerupai tepung. 

Salsa menekankan pentingnya formulasi spesifik dalam pencampuran bahan yang terdiri dari tempe sebanyak 20 persen, tulang ikan dan tepung beras masing-masing 18 persen, roti 12 persen, daging sapi dan buah masing-masing 10 persen, daun 8 persen, serta tulang ayam 4 persen.

“Setelah adonan dicetak menjadi butiran dan dikeringkan kembali, pelet tersebut disimpan dalam wadah rapat agar tahan lama dan aman digunakan dalam jangka panjang,” imbuh Salsa. Dirinya dan tim telaten mengajari warga setempat proses demi proses pembuatan pelet ikan karena dirasa cukup mudah untuk diimplementasikan seterusnya.

Minat Studi Bidang Kesehatan

“Dulu saya sempat kecewa karena terlempar dari pilihan pertama di Farmasi. Awal masuk kuliah itu belum terlalu paham kesehatan masyarakat itu apa. Tapi karena masih berhubungan dengan kesehatan, saya jalani saja. Ternyata setelah masuk, saya merasa enjoy,” kenang Salsa.

Salsa mulai mengeksplorasi berbagai kegiatan akademik, mulai dari organisasi, penelitian, hingga kompetisi inovasi. Pun terhitung aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pengembangan Prestasi dan Riset Mahasiswa (PRISMA), serta terlibat dalam Kelompok Kerja Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia.

Tak heran jalannya berkompetisi cukup mulus. Salsa memang menyukai pelajaran biologi dan kimia sejak di bangku sekolah menengah, dan terhitung aktif ikut olimpiade tingkat nasional hingga internasional nonpemerintah. 

Salsa pernah menjuarai olimpiade sains tingkat internasional saat SMA. Membawa pulang medali perak pada International Science Qualification Olympiad 2022 kategori science.

Di bangku kuliah, kompetisi inovasi pertamanya terjadi pada ajang ASEAN Health Talent 2024. Dalam lomba itu, Salsa dan tim mengembangkan alat kalibrator fetal doppler untuk meningkatkan akurasi deteksi detak jantung janin.

Inovasi tersebut meraih juara tiga. “Itu pertama kali lomba inovasi kesehatan yang saya ikuti. Alhamdulillah naik podium meski bukan posisi pertama,” ucapnya penuh syukur.

Sejak saat itu, Salsa kian gencar mengikuti kompetisi inovasi berbasis kesehatan digital. Berbagai prestasi pun diraihnya, termasuk medali emas pada beberapa kompetisi internasional seperti Global Youth Innovators Competition (GYIC), World Youth Invention and Innovation Award (WYIIA), hingga Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) sepanjang 2024-2026.

Sinergi antara deretan prestasi akademik dan studi empiris di lapangan menjadi titik balik bagi Salsa untuk menemukan ruang pengabdian yang lebih luas melalui peran kesehatan masyarakat.

Salsa mengaku mulai menemukan ketertarikan pada proses surveilans epidemiologi, bidang yang menurutnya menyatukan kerja lapangan dan analisis ilmiah. Ketertarikannya kini berlabuh pada bidang surveilans epidemiologi yang mampu menyatukan tantangan kerja lapangan dengan ketajaman analisis ilmiah guna merancang intervensi pencegahan penyakit yang tepat sasaran.

“Ada kepuasan tersendiri ketika data yang dikumpulkan dapat dipetakan, dianalisis, lalu diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan,” jelasnya. Salsa tampak sumringah kala membayangkan dirinya kelak berada di garis depan pengumpulan data penyakit, mengidentifikasi risiko sejak dini, serta berkontribusi nyata bagi kesehatan publik melalui kekuatan data.

Meski telah merampungkan tugas akhir sarjana dan menanti waktu wisuda, Salsa masih dipercaya mewakili UMS pada ajang World Young Inventors Exhibition 2026. Salsa dan tim akan bertarung pada 18-20 Mei 2026 di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia.


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Teropong Jagat

image-featured
24 Juli 2026

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 5,75 persen. Keputusan ini menepis isu kenaikan BI Rate menjadi 6 persen yang beredar beberapa hari sebelumnya.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
17 Juli 2026

Gaya komunikasi pejabat publik terus menuai sorotan. Berujung blunder dan memicu kekecewaan rakyat.

image-featured
9 Juli 2026

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, “wellness tourism” di Indonesia semakin dilirik sebagai suatu kebutuhan. Diprediksi bernilai miliaran dolar AS.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.