Di sebuah ruang kerja sederhana di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Andi Suhendi tampak jeli ketika berbicara tentang jamu, ekstrak herbal, dan tantangan standardisasi obat tradisional di Indonesia. Suaranya terdengar antusias, sesekali matanya berbinar saat membahas empat produk herbal yang berhasil dikembangkan Pusat Studi Standardisasi Ekstrak Farmasi (SEFA) UMS di bawah kepemimpinannya.
Produk-produk itu bernama SEFA-Fit, SEFA-Max, SEFA-Diab, dan SEFA BodyFit. “Ini semua bukan sekadar jamu, melainkan hasil riset panjang kami dengan data ilmiah yang kuat,” ujar Andi, sapaan akrabnya kala ditemui di pertengahan Agustus lalu.

Dr. apt. Andi Suhendi, M.Sc. Humas UMS/Imam Safii
Awal Ketertarikan pada Herbal
Andi lahir di Kuningan, Jawa Barat, sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya seorang petani, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga. Hidup keluarga sederhana itu berubah saat sang ayah meninggal ketika Andi masih duduk di bangku kelas 3 SD.
“Karena keadaan itu, waktu kenaikan kelas 6 SD, saya harus pindah ke Bandung dan tinggal bersama paman hingga SMA,” tutur Andi.
Masa remaja Andi begitu dekat dengan masjid sekolah, lantaran ia juga seorang marbot. “Masjid jadi hidup karena saya dan teman-teman suka sekali belajar di sana. Bahkan saat persiapan UMPTN (sekarang bernama SNBT atau Seleksi Nasional Berdasarkan Tes), kami sering belajar bersama semalam suntuk,” kenangnya, sesekali tertawa.
Pilihan masuk jurusan farmasi bukanlah sesuatu yang terencana sejak kecil. Andi mengaku tidak menyukai fisika, lebih menyukai biologi dan kimia.
Saat peluang Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) datang, Andi menjajal peruntungan dengan mendaftar ke Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Tahun 1999, ia resmi menjadi mahasiswa di kampus biru itu.
Ketua Program Studi Sarjana Farmasi UMS itu mengaku, minatnya pada herbal muncul sejak menempuh profesi apoteker. Saat mengisi kegiatan rohani di masjid dekat kos-kosannya di Jogja, ia berkenalan dengan seorang jemaah yang memiliki usaha herbal.
Karier profesionalnya dalam dunia herbal dimulai ketika Andi menjadi apoteker penanggung jawab di Almanar Herbafit, sebuah produsen maklon herbal tradisional milik jemaah tadi. Andi kemudian mengintegrasikan sistem Standar Operasional Prosedur (SOP) dan pendekatan standar dalam pengolahan produk hingga Almanar jadi lebih berkembang.

Selain itu, Andi sempat menghabiskan waktu setahun di Kebumen untuk mengelola kebun herbal rekannya. “Sedikit punya ilmu mengenai tanaman obat juga dari situ,” imbuh dia.
Tahun 2007, Andi resmi menandatangani kontrak sebagai dosen UMS. Dua tahun kemudian ia melanjutkan studi magister di Kimia FMIPA UGM, dengan fokus pada kimia analisis.
Studi magister yang berhasil Andi selesaikan menambah keyakinannya bahwa herbal punya potensi besar jika dikelola dengan baik. Kesempatan lain datang ketika ia bergabung dengan Prof. Dr. Muhtadi, M.Si. dalam program riset dari Kementerian Pendidikan yang fokus pada pengembangan herbal hingga tahap paten.
“Walau belum sampai diproduksi massal, riset itu salah satu yang membuka jalan saya,” tutur Andi.
Kini, Andi dipercaya untuk menakhodai Pusat Studi SEFA UMS. Cikal bakal SEFA UMS muncul dari proyek standardisasi ekstrak yang digarap Farmasi UMS pada 2008.
Waktu itu, UMS dipercaya oleh BPOM untuk mengerjakan data farmakognosi dan ekstrak tanaman obat. “Dengan Prof. apt. Azis Saifudin, Ph.D. sebagai kepala proyek. Kami mengerjakan itu dan sukses. Setelahnya, kami mulai melayani pengujian dari banyak universitas juga,” ceritanya antusias.
Pusat Studi SEFA UMS kemudian tumbuh menjadi pusat studi dengan mandat riset, standardisasi, hingga inovasi produk herbal. Di bawah kepemimpinan Andi, SEFA UMS melahirkan empat produk unggulan:
- SEFA-Fit: suplemen imunostimulan untuk memperkuat daya tahan tubuh
- SEFA-Max: suplemen stamina pria dewasa
- SEFA-Diab: ramuan herbal untuk menurunkan kadar gula darah penderita diabetes
- SEFA BodyFit: formulasi untuk membantu penderita obesitas mencapai berat badan ideal

Produk-produk herbal terstandar hasil produksi Pusat Studi SEFA UMS. Humas UMS/Imam Safii
Keempat produk tersebut sudah mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Namun, Andi mengakui ada tantangan besar di aspek pemasaran. “Dosen kuat di riset, tapi lemah di pasar. Itu masih jadi kendala kami. Harga yang kami tetapkan untuk produk ini masih kalah murah di pasaran” resahnya.
Meski begitu, Andi memastikan basis data ilmiah produk pun sudah kuat. SEFA Diab, misalnya, terbukti meningkatkan kadar insulin pada hewan uji diabetes dan memperbaiki sel pankreas yang rusak.
Data tersebut pernah diajukan ke program Green Mind Indonesia-Malaysia, meski belum lolos. “Tapi itu meneguhkan bahwa produk kita punya daya saing,” tegasnya.
Rintangan Standardisasi Obat
Andi menilai tantangan terbesar herbal adalah standardisasi marker senyawa aktif. Misalnya satu tablet parasetamol mengandung 500 mg zat aktif. Namun pada herbal, kandungan senyawa aktif bisa berbeda-beda tergantung jenis tanah, musim, hingga teknik pengolahan.
Ia mencontohkan asetoksikavikol asetat (ACA), marker (senyawa kimia spesifik pada tanaman obat untuk tujuan kontrol kualitas, identifikasi, dan standardisasi produk herbal) pada rimpang lengkuas. Harganya mahal dan harus diimpor dari Amerika. “Tanpa marker yang jelas, kualitas herbal sulit dijamin,” katanya.
Tantangan lain datang dari regulasi. Obat herbal terstandar hanya bisa diproduksi industri dengan sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) full aspect. Padahal UMKM, yang menjadi tulang punggung jamu nasional, kerap kesulitan memenuhi standar itu karena keterbatasan modal.
Menurutnya, tanpa dukungan pemerintah, UMKM akan kesulitan naik kelas. “Investasi untuk CPOTB full aspect itu besar sekali. Kalau tidak ada intervensi, UMKM bisa tenggelam,” ucap dia menyayangkan.
Andi berharap UMKM segera mendapat perhatian pemerintah dan sektor pendukung lainnya. Pun ia berharap SEFA UMS mendapat peluang hibah riset lagi untuk meriset produk obat herbal lainnya. “Dengan standardisasi, masyarakat punya kepastian, dan itu yang sedang kami perjuangkan,” tandasnya.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







