Menemukan Kenyamanan
Ketika Cinta Kasih Meredup
Orang Tua Harus Belajar Mendengar

Di sebuah rumah sederhana di Sukoharjo, seorang gadis kecil terduduk di kursi belajar dengan buku terbuka di hadapannya. Lampu teplok menerangi lembaran-lembaran kertas.

Sri Lestari kecil sudah terbiasa dengan ketenangan fajar, membaca buku dan mengerjakan tugas sekolah sebelum matahari pagi menampakkan kehangatannya. “Saya terbiasa bangun jam 4 pagi , ditemani kakek untuk belajar sebelum bersiap ke sekolah,” kata Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si. mengisahkan masa kecilnya kala ditemui di Ruang Dosen Doktor Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis (20/2/2025) pagi.

Sembari menyamankan posisi duduk, dosen Psikologi UMS yang akrab disapa Tari itu melanjutkan ceritanya. Rupanya, ayah Tari adalah seorang pegawai perusahaan swasta yang tak selalu berada di rumah, lantaran harus bertugas dalam proyek di luar Jawa. Sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.

Saat bapak Tari tak di rumah, sang kakek jadi sosok yang membentuk kedisiplinan dirinya. “Karena pensiunan tentara, kakek memang disiplin sekali. Pas kecil, saya pernah izin buang air kecil ketika terbangun dari tidur, padahal kepengen nonton televisi. Setelah dari kamar kecil, sama kakek diminta tidur lagi. Merasa nggak ada kesempatan buat berdalih, ya sudah, terpaksa tidur lagi,” kelakar dia.

Menunggu bapak pulang tidak pernah membosankan bagi Tari. Rindunya selalu ia sampaikan lewat surat-surat yang ia layangkan lewat kantor pos dekat rumah.

“Biasalah. Surat-surat itu isinya permintaan kecil sebagai obat rindu. Minta dibelikan buku dan mainan,” lanjutnya.

Bapak Tari tak pernah menolak jika Tari meminta buku atau majalah. Majalah Bobo, Si Kuncung, Ananda, hingga buku Ensiklopedia Anak sudah jadi teman sehari-harinya. 

Namun, kehidupannya berubah drastis saat ia memasuki kelas dua SMP. Tari dan keluarganya hijrah ke Jakarta karena pekerjaan sang bapak. Kota besar itu penuh hiruk-pikuk, penuh kesibukan, dan tak lagi senyaman rumahnya di Sukoharjo.

Meski lingkungannya berubah, kecintaan Tari pada ilmu tetap sama. “Setiap Minggu, saya minta bapak mengantar saya ke Perpustakaan Balai Pustaka. Saya bisa duduk berjam-jam membaca buku sastra klasik, seperti karya Marah Roesli, Nh. Dini, Buya Hamka, dan lain-lain. Siangnya dijemput, sekalian pinjam buku untuk dibawa pulang," ucapnya begitu antusias.

Saat remaja Tari tak mencirikan perilaku calon psikolog. Tidak hobi mengamati orang lain. Justru, ia lebih banyak tenggelam dalam dunia eksakta. 


Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si. Humas UMS/Imam Safi'i

“Saya sebenarnya nggak kepikiran mau jadi psikolog. Suka belajar, tapi bukan tipe yang suka menganalisis orang lain atau mendalami hubungan keluarga. Malah tertariknya dengan sains saat SMA,” katanya tanpa ragu.

Setelah lulus SMA, Tari mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) melalui jalur IPC, yang memungkinkan ia memilih jurusan IPA dan IPS sekaligus.

Ketertarikannya pada ilmu eksak begitu besar, hingga ia sempat bercita-cita masuk jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung. Namun, ketika harus memilih jurusan IPS, ia mencantumkan Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai pilihan kedua. 

“Saya dulu mikirnya simpel aja, yang penting bukan ekonomi atau hukum. Psikologi waktu itu saya anggap masih lebih ‘masuk’ bagi saya,” sambungnya. Keputusannya ini awalnya tidak diiringi dengan ekspektasi besar. Begitu ia mulai kuliah di Fakultas Psikologi UGM, pikirannya perlahan berubah.

Menemukan Kenyamanan

Sempat ragu di awal semester, Tari mulai punya ketertarikan di psikologi, khususnya mata kuliah yang mempelajari hubungan orang tua dan anak. Ia mulai melihat banyak aspek dalam keluarga yang bisa dipahami lebih dalam melalui psikologi.

“Dulu saya belum paham jika pola asuh punya dampak besar pada anak,” katanya serius. 

Saat mengerjakan skripsinya, ia meneliti penerimaan orang tua dan harga diri remaja  tunanetra. Penelitian itu membawanya pada pemahaman baru tentang bagaimana pola asuh dapat menentukan kesejahteraan psikologis anak.

Ketertarikannya semakin mendalam ketika ia melanjutkan studi S2 dan S3 di UGM. Tesisnya meneliti pendidikan seksualitas anak prasekolah, yang kemudian berlanjut dalam disertasinya mengenai transmisi nilai dalam keluarga.

“Mengalir saja. Tapi kok, setiap penelitian yang saya lakukan selalu kembali ke tema keluarga,” ucapnya.

Tari bergabung sebagai dosen di UMS pada tahun 1995. Selama menjadi dosen, dirinya dikenal tegas dalam mendisiplinkan mahasiswanya.

“Tugas dosen tidak hanya mengajar, lebih tepatnya mendidik,” katanya. Selain cerdas secara akademik, Tari ingin mahasiswa yang dibimbingnya punya karakter dan integritas. Ia tak pernah segan untuk mengingatkan mahasiswanya untuk jujur setiap belajar di kelas.

“Jangan harap bisa lulus di kelas saya kalau kalian tidak jujur!” kata Tari pada kami, seakan memperlihatkan caranya kala mendisiplinkan mahasiswa.

Selain mengajar, Tari berperan dalam pengembangan kurikulum, khususnya di bidang psikologi keluarga. Di Sarjana Psikologi UMS, ia mengampu mata kuliah wajib Psikologi Keluarga. Sementara di jenjang magister, ia mengusulkan Psikologi Perkawinan dan Keluarga agar mahasiswa lebih memahami dinamika yang terjadi dalam keluarga. 


Dua buku Tari yang ia gunakan sebagai bahan ajar di Fakultas Psikologi UMS. Humas UMS/Imam Safi'i

Bagi Tari yang sudah lama berkecimpung di ranah psikologi keluarga, pernikahan tak melulu persoalan cinta. Pernikahan itu tentang memahami perbedaan dan menemukan keseimbangan.

Tari tahu sebab dirinya juga bekerja sebagai psikolog profesional di Biro Konsultasi dan Pemeriksaan Psikologis (BKPP), Fakultas Psikologi UMS. Dari berbagai kasus yang ditangani, ia kerap melihat pola sebagian besar konflik dalam rumah tangga bukan terjadi karena rasa cinta yang hilang. Keruntuhan justru terjadi karena pasangan gagal memahami satu sama lain.

“Dulu, mereka bisa berbagi cerita berjam-jam. Sekarang, lebih banyak diam. Dulu, perhatian kecil terasa berarti. Sekarang, semua dianggap biasa. Hubungan yang dibiarkan begitu saja lama-lama akan terasa hambar,” terang Guru Besar Bidang Ilmu Psikologi Umum UMS itu miris.

Ketika Cinta Kasih Meredup


Tari mengaku pernah menangani sejumlah kasus selama bekerja di BKPP UMS. Dari yang fatal dan perlahan pulih, hingga yang terpaksa karam. 

Suatu hari, sepasang suami istri datang menemui Tari dengan raut tegang. Sang istri dipenuhi kekecewaan dan amarah, sementara di relung hatinya masih tersisa harapan untuk menyelamatkan rumah tangga yang nyaris runtuh. Dengan keraguan, mereka akhirnya sepakat menjalani konseling bersama.

Sesi pertama untuk istri. Sesi kedua untuk suami. Sesi ketiga adalah momen mereka untuk konseling bersama Tari. “Dari tiga sesi yang saya lakukan, saya bantu mengurai masalah, mengajak berpikir dengan sudut pandang berbeda. Harus netral,” jelasnya.

Tari meminta mereka untuk kembali ke masa lalu, mengingat bagaimana mereka pertama kali jatuh cinta. Apa yang dulu membuat mereka memilih satu sama lain.

Perlahan, ada senyum samar saat kenangan-kenangan itu muncul di benak sepasang kekasih tersebut. Suasana yang awalnya penuh ketegangan mulai mencair. Tari lalu memberi tugas sederhana, lakukan satu hal kecil yang dulu sering dilakukan tetapi kini terlupakan, serta luangkan waktu untuk piknik berdua tanpa gangguan siapa pun.

Beberapa pekan kemudian, sepasang suami-istri itu datang lagi menemui Tari dengan wajah yang berbeda. Diceritakan sang istri bahwa suami mulai menyeduhkan teh hangat untuk istrinya setiap pagi. Sang istri mulai memaafkan sang suami karena kesalahan fatal yang pernah dilakukan, dan mulai berbicara dengan nada lebih lembut.

“Terkadang, cinta itu hanya tertutup oleh rutinitas dan kesibukan. Yang dibutuhkan bukan perubahan besar, menghidupkan kembali kebiasaan kecil yang membuat hubungan bermakna sangat perlu,” kata dia.

Orang Tua Harus Belajar Mendengar

Sementara kasus lain yang membekas bagi Tari adalah saat seorang siswa SMA dikabarkan mengancam akan membakar sekolah. Tepat dua bulan sebelum sang anak melaksanakan Ujian Nasional. 

Orang tuanya datang dengan kebingungan. Mereka merasa sudah memberikan segalanya, pendidikan terbaik, fasilitas lengkap, kehidupan yang nyaman. Tapi mengapa anak mereka masih marah? Setelah sesi panjang, barulah semua terungkap.

Sang anak merasa seluruh hidupnya diatur tanpa pernah dimintai pendapat. Keputusan sekolah, jurusan, bahkan kegiatan ekstrakurikuler, semuanya ditentukan orang tua.

Sesi konseling pun dilakukan secara bertahap. Sesi dengan anak, sesi dengan orang tua, dan sesi bersama orang tua dan anak. Tari kemudian meminta orang tuanya untuk melakukan sesuatu yang sederhana. Meminta maaf. Meski awalnya mereka menolak. 

Namun usai berbicara lebih dalam, kedua orang tua tersebut mulai menyadari bahwa niat baik mereka tak selalu diterima sang anak. Sebab cara yang dilakukan terkadang membuat anak kurang nyaman dan tertekan.

“Saya katakan, bapak tidak akan kehilangan martabat hanya karena meminta maaf pada anak. Justru itu jadi pelajaran juga bagi dia, bahwa orang yang berbuat salah harus minta maaf, sekalipun orang tua sendiri,” ujar Tari.

Lebih dari 30 kasus dalam keluarga pernah Tari tangani. Dari banyaknya peristiwa yang hampir merobohkan cinta keluarga banyak orang, ia meyakini kalau di dalam sebuah keluarga, ada yang perlu dijaga, dirawat, dan diperjuangkan: komunikasi dan pengasuhan. 

Orang kerap salah berpikir jika sebuah keluarga akan berjalan baik dengan sendirinya. Padahal, sama seperti tanaman, jika tak disiram, ia akan layu. Jika tak dirawat, ia akan mati. 

Keluarga adalah rumah pertama. Jika di dalamnya tumbuh kasih, pemahaman, dan akhlak, maka dari sanalah akan lahir generasi yang berbudi pekerti.


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Lebih dekat dengan dosen

Penelitian

image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
11 April 2026

Kandungan gizi MPASI berkaitan dengan keputusan ibu. Pemberdayaan perempuan dan dukungan sosial menjadi kunci gizi buah hati terpenuhi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
6 Maret 2026

Penanganan bencana harus selaras dengan komunikasi bencana yang cepat, tepat, dan berempati pada korban. Mendukung pemulihan dan memberikan kepastian kepada masyarakat.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.