
Judi Bola Berujung Dosa
Di tengah euforia Piala Dunia FIFA 2026, praktik judi bola turut menjamur melalui berbagai platform digital maupun cara-cara konvensional. Bagaimana Islam memandang judi bola?
Tegas, lincah, namun tetap anggun. Itulah kesan pertama yang menggambarkan sosok Okti Sri Purwanti saat perjumpaan pertama kami di kantor Lembaga Penjaminan Mutu (LJM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis (13/3/2025) pagi.
Perempuan yang akrab disapa Okti ini berperan penting dalam upaya merawat reputasi seluruh program studi di UMS. Sejak 2017, Okti dipercaya sebagai Kepala Bidang Audit Mutu, Monev, dan Akreditasi Nasional Tingkat Universitas.
Ada tiga tugas utama yang diemban Okti, yakni mengawal pelaksanaan audit mutu internal, memantau kegiatan monev (monitoring dan evaluasi) yang dilakukan Gugus Jaminan Mutu (GJM) dan LJM, serta mendampingi proses akreditasi nasional.
Audit mutu internal dilakukan dua kali dalam setahun. Persiapannya dilakukan selama dua bulan untuk sekali audit. Tujuannya untuk mengidentifikasi peluang perbaikan setiap program studi, fakultas, maupun unit di lingkungan UMS. “Untuk mengevaluasi kesesuaian antara standar mutu yang ditetapkan dengan implementasi di lapangan,” ujar Okti.
Sementara akreditasi nasional merupakan cara untuk menjamin kualitas sistem penjaminan mutu di UMS. Penilaiannya dilakukan oleh pihak eksternal. Misalnya Badan Akreditasi Nasional - Perguruan Tinggi Negeri (BAN-PT), maupun lembaga akreditasi mandiri lainnya.
Dari 74 program studi di UMS, sebanyak 55 program studi telah terakreditasi unggul pada 2025. Angka ini meningkat dibanding saat Okti awal menjabat, yakni 19 prodi. Okti menyebut prodi yang belum terakreditasi unggul merupakan prodi baru dan masih proses pengajuan akreditasi.
Setidaknya ada sembilan kriteria penilaian dalam akreditasi nasional, yakni visi misi; tata pamong, tata kelola, kerja sama, dan penjaminan mutu; kemahasiswaan; dosen dan tenaga kependidikan; keuangan, sarana, dan prasarana; pendidikan; penelitian; pengabdian kepada masyarakat; serta luaran dan capaian Tri Dharma.
Butuh waktu sekitar satu sampai dua tahun untuk menuntaskan proses akreditasi nasional. Satu tahun digunakan untuk mengumpulkan data, menyusun laporan, melakukan review, dan submit berkas. Sementara estimasi satu tahun berikutnya adalah menanti visitasi asesor.
“Visitasi bisa cepat dan bisa lama tergantung banyaknya prodi yang diakreditasi. Kalau dulu setelah submit jarak satu sampai dua bulan bisa visitasi. Tapi kalau sekarang bisa tiga bulan atau enam bulan setelah submit tergantung BAN-PT atau Lembaga akreditasi mandiri lainnya,” terang dia.
Selama mendampingi prodi untuk mengurus akreditasi nasional, Okti dibantu 21 fasilitator akreditasi. Tugas fasilitator adalah membantu me-review berkas yang telah disusun oleh prodi, serta melakukan pendampingan terhadap prodi selama proses akreditasi.
Hasil pendampingan kemudian dicek kembali oleh LJM dan dinilai oleh asesor internal. “Dari penilaian itu, nanti bisa dipetakan apakah prodi masuk ke dalam kategori unggul, baik sekali atau baik,” jelas Okti.
Setelah berkas dikirimkan, LJM akan kembali melakukan pendampingan dan serangkaian persiapan jelang akreditasi lapangan atau visitasi dari asesor lembaga akreditasi mandiri nasional. Tujuannya agar jajaran pimpinan fakultas, pimpinan prodi, dosen, mahasiswa, maupun alumni siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan tajam yang diajukan asesor.
Tantangan akreditasi nasional, kata dia, adalah membangun kerja sama tim yang baik. Setiap prodi memiliki tim akreditasinya sendiri. Beda orang jelas beda karakter. Tak jarang perbedaan itu dapat berujung konflik yang menghambat proses akreditasi nasional.
Ketegasan sangat dibutuhkan dalam proses akreditasi program studi. Bagi Okti, tak boleh ada bab yang abu-abu untuk urusan penjaminan mutu. Perlu ada batasan tegas apakah target tersebut tidak memenuhi standar, mencapai standar, maupun melampaui standar.
“Kalau memang belum sesuai, kami berani bilang belum sesuai. Ketegasan itu membuat program studi jelas mana saja yang perlu diperbaiki. Kalau tidak tegas, nanti akan ada kebingungan dari prodi,” tegasnya.

Anak perempuan pertama yang lahir di bulan Oktober yang mudah-mudahan bisa memberikan manfaat. Itulah makna nama Okti Sri Purwanti yang disematkan kedua orang tuanya.
Perempuan kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 18 Oktober 1979, ini mengaku sejak remaja telah didorong orang tuanya untuk menjadi perawat. Meski awalnya ingin masuk ke sekolah kebidanan, perjalanan hidup akhirnya mengantarkan Okti belajar di Sekolah Perawat Kesehatan Indonesia Aisyiyah’ Surakarta.
Ada kepuasan tersendiri dalam diri Okti saat menjadi seorang perawat. “Kalau kita bisa merawat dengan ikhlas, manfaatnya bukan hanya di dunia, tetapi juga pahala di akhirat,” tuturnya mantap.
Selepas lulus SPK Aisyiyah’ Surakarta, Okti memulai karier sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Purworejo pada 1997. Pekerjaannya itu memberinya pengalaman menangani langsung seorang pasien di rumah sakit.
Jiwa pembelajar dalam diri anak pertama dari empat bersaudara ini tak padam meski disibukkan dengan pekerjaannya sebagai perawat. Ia juga mengambil studi jenjang diploma di Akademi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang.
Di tahun keempat kariernya sebagai perawat, Okti memutuskan keluar dari pekerjaannya dan pindah ke salah satu rumah sakit swasta di Sragen. Namun, pekerjaannya kali ini hanya seumur jagung. “Hanya sekitar 1 sampai 2 bulan. Setelah itu saya diterima kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM),” jelasnya lebih lanjut.
Dia kemudian berhasil meraih gelar sarjana keperawatan dari UGM pada 2005. Di tahun yang sama, Okti berhasil lolos seleksi calon dosen pegawai negeri sipil dan mendapat penempatan di UMS.
Sambil mengajar, Okti tetap melanjutkan studi magister keperawatan dan spesialis keperawatan medikal bedah di Universitas Indonesia. Kini, ia tengah mengejar gelar doktor keperawatan dari Universitas Airlangga.
Banting setir dari dunia pelayanan ke dunia akademis sempat membuat Okti mengalami culture shock. Pekerjaan di dunia pelayanan umumnya berakhir setelah jam kerja selesai. Namun, pekerjaan di dunia pendidikan seringkali berlanjut sampai ke rumah. Contohnya adalah melakukan penilaian, menyusun materi pembelajaran, hingga riset.
Pengalaman berkiprah sebagai perawat di RSUD Purworejo menjadi kelebihan tersendiri pada diri Okti. Menurutnya, setiap pasien memiliki keunikannya sendiri dan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Praktik perawatan langsung merupakan usaha mencari solusi manakala menemui kasus yang tidak dijelaskan dalam teori.
“Kalau kita memiliki pengalaman di lapangan, saat memberikan materi kepada mahasiswa, akan menggunakan sudut pandang yang sesuai fakta di lapangan. Juga menjelaskan kemungkinan-kemungkinan kasus yang akan dijumpai di dunia pelayanan,” beber dia.
Komitmen Okti pada dunia pendidikan terus berkembang seiring waktu. Pada 2014, Okti dipercaya memangku jabatan Ketua Program Studi Sarjana Keperawatan UMS selama tiga tahun. Ia juga sempat mengurus akreditasi prodi Keperawatan UMS, sebelumnya akhirnya ditarik ke tingkat universitas untuk mengurus akreditasi nasional pada 2017. Kini, ia mengemban amanah merawat akreditasi program studi di UMS.

Akreditasi kampus adalah instrumen yang penting bagi institusi pendidikan tinggi. Apalagi jika berbicara akreditasi kampus swasta. Salah satunya, kata Okti, memengaruhi kepercayaan masyarakat kepada perguruan tinggi swasta.
Akreditasi universitas sangat krusial untuk mengetahui peningkatan kualitas berkelanjutan institusi pendidikan tinggi. Kampus yang terakreditasi menandakan pengakuan dari lembaga penjaminan mutu eksternal.
“Pengakuan ini tentunya diakui juga oleh badan atau lembaga akreditasi, sekaligus menjadi pertanggung jawaban UMS, khususnya, kepada masyarakat,” kata Okti.
Menurut Okti, hal pertama yang masyarakat nilai tentang perguruan tinggi swasta adalah akreditasinya. Kalau akreditasinya bagus, orang tua akan mendaftarkan anaknya untuk belajar di kampus swasta.
Akreditasi yang diperoleh dari lembaga akreditasi dalam negeri maupun luar negeri turut berpengaruh bagi lulusan. Pengakuan tersebut akan memudahkan lulusan dalam mencari pekerjaan.
Predikat dalam akreditasi juga berpengaruh pada pemeringkatan kampus oleh sejumlah lembaga pemeringkatan ternama. “Beberapa lembaga pemeringkatan itu juga melihat reputasi akademik melalui akreditasi,” imbuh dia.
Dia berharap UMS akan jauh lebih meningkat kualitasnya. Apalagi seiring waktu, kompetitor UMS kian meningkat. Mempertahankan dan meningkatkan akreditasi menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan reputasi universitas.
“Kualitas ini harus dijaga dan harus terus ditingkatkan. Prodi yang sudah unggul atau akreditasi A bisa mempertahankan atau mengejar akreditasi internasional. Sedangkan prodi yang masih baru bisa mengejar ketertinggalan,” pungkasnya.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva

Di tengah euforia Piala Dunia FIFA 2026, praktik judi bola turut menjamur melalui berbagai platform digital maupun cara-cara konvensional. Bagaimana Islam memandang judi bola?
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.