Tak Terbatas Sekat
Jalan Panjang Eliminasi TB

Berawal dari ketertarikannya pada dunia kesehatan paru-paru di tahun 1996, Noor Alis Setiyadi berusaha memberikan kontribusi nyata pada upaya menjaga kesehatan paru-paru. Saat menempuh studi Magister Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia pada 2009, pria yang akrab disapa Noor Alis itu mulai mendalami penyakit tuberkulosis. 

Tuberkulosis atau jamak disebut TB adalah penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling banyak menyerang paru-paru. Namun tidak menutup kemungkinan penyakit ini dapat terjadi pada otak, ginjal, bahkan tulang. Pengobatan tuberkulosis paru-paru biasa harus dilakukan hingga tuntas selama enam bulan.

Di tahun 2010, Noor Alis berdiskusi dengan kolega dosen tentang komputerisasi data tuberkulosis yang saat itu dikenal dengan istilah Sistem Pencatatan Pelaporan Tuberkulosis (SP2TB). Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu lalu mulai menyusun tesisnya yang mengembangkan gagasan itu menjadi model surveilan tuberkulosis berbasis Web GIS (Geographic Information System). 

GIS adalah sistem yang menggabungkan data dengan peta geografis suatu wilayah. Sistem ini memungkinkan pengguna memperoleh data yang akurat sesuai dengan kondisi sebenarnya. Noor Alis menggunakan sistem ini untuk membantu pengambilan kebijakan tuberkulosis agar tepat sasaran sesuai kenyataan di lapangan.

Usai meraih gelar magister, keinginan untuk mengembangkan inovasinya tidak memudar sedikitpun. Ia bahkan menggandeng peneliti Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Maryani Setyowati pada tahun 2018 untuk memutakhirkan risetnya itu. 

“Bu Maryani saat itu menjadi ketua tim, karena kebetulan saya sedang studi S3 dan tidak boleh memimpin tim peneliti sampai masa studi selesai,” katanya, Senin (1/7/2024) di Laboratorium Audio Visual, Fakultas Ilmu Kesehatan UMS. Keduanya lalu menyusun proposal untuk pengajuan mendapatkan hibah penelitian.

Dalam proposalnya, pria kelahiran Kudus itu mencoba mengimplementasikan gagasannya itu di Kabupaten Sukoharjo. Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Noor Alis mengingat dalam sebuah forum antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kota se-Jawa Tengah tahun 2018, Kabupaten Sukoharjo menempati posisi tiga terendah penemuan kasus tuberkulosis di Jawa Tengah.  

Temuan kasus di Sukoharjo saat itu berjumlah 604 kasus dari estimasi 1.721 kasus. Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia atau IAKMI cabang Sukoharjo itu melihat temuan tersebut sangat bagus untuk menjadi bahan penelitian karena memunculkan pertanyaan, mengapa temuan kasus di Sukoharjo sangat rendah sedangkan angka prediksi temuan kasusnya terbilang tinggi?. 

“Pertanyaannya kan apakah memang segitu jumlah aslinya? Lalu apa dasar data jika memang hanya itu kasusnya?” tutur dia. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Ketertarikannya untuk mendukung program tuberkulosis di Sukoharjo semakin menguat.


Setahun setelah mengajukan proposal, pria 47 tahun itu berhasil mendapatkan Hibah Iptekkes dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan sebesar Rp230 juta dengan kontrak masa pengerjaan selama dua tahun. Hibah tersebut memuluskan jalan Noor Alis mengembangkan prototipenya menjadi sistem informasi tuberkulosis yang dapat digunakan stakeholder terkait.  

“Kalau memang ada suatu wilayah yang tidak pernah ditemukan kasus tuberkulosis sebelumnya, seharusnya prioritas program yang efektif dan efisien itu bukan pengobatan atau pencarian kasus, tetapi peningkatan promosi kesehatan yang gencar,” ujar Wakil Dekan III FIK UMS itu.

Ihwal tersebut mendorong pentingnya sistem informasi berbasis GIS untuk memetakan sebaran tuberkulosis di Sukoharjo. Pemetaan kasus berbasis wilayah akan mendorong lahirnya kebijakan sesuai fakta di lapangan dan memastikan alokasi anggaran agar lebih efektif dan efisien. 

Noor Alis menyebut alokasi anggaran pengendalian tuberkulosis tidak bisa sama di seluruh desa, tetapi harus didasarkan pada kebutuhan program berbasis data.

“Misalnya desa A dan desa B sama-sama mendapat anggaran penanganan tuberkulosis sebesar X rupiah. Tapi desa A terdapat kasus tuberkulosis, sedangkan desa B tidak pernah tercatat temuan kasus. Padahal desa A butuh alokasi anggaran lebih banyak untuk penyembuhan,” imbuh Wakil Ketua IAKMI Jawa Tengah itu. Desa yang terdapat kasus tuberkulosis, membutuhkan langkah promotif dan kuratif. 

Ia lalu mempresentasikan risetnya di hadapan jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukoharjo. Ada dua keunggulan risetnya saat itu, yakni kemudahan implementasi karena riset dan prototipe telah dirampungkan Noor Alis dan pihak dinas bisa langsung menggunakannya, sekaligus menjadi inovasi Dinkes Sukoharjo.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dinkes Sukoharjo menyambut positif gagasan Noor Alis tersebut. Sistem informasi tuberkulosis ciptaannya akhirnya diluncurkan pada 2021.

Laman web tersebut menjadi kanal informasi dan pangkalan data mengenai tuberkulosis yang memuat data grafik maupun peta sebaran tuberkulosis dari semua desa di Sukoharjo. 

Setiap jenjang instansi kesehatan di Kabupaten Sukoharjo mempunyai jangkauan informasi yang berbeda dalam sistem itu. Misalnya, Dinkes Sukoharjo dapat memantau seluruh desa di Kabupaten Sukoharjo. Jika terdapat desa yang terjangkit tuberkulosis, maka pihak dinkes dapat memerintahkan puskesmas setempat untuk menaruh perhatian khusus pada desa tersebut. 

Lain halnya dengan puskesmas yang fokusnya memantau wilayah desa dalam kecamatan tempat puskesmas berada. Perbedaan jangkauan akses tersebut membuat kinerja instansi terkait jadi lebih terfokus. 

Sedangkan di tingkat desa, akses diberikan kepada koordinator desa yang bertugas mengumpulkan data lapangan dan memasukkannya ke dalam sistem informasi tuberkulosis. Data tersebut mencakup identitas penderita, keluarga, alamat rumah dan koordinatnya, kondisi kesehatan penghuni rumah, hingga foto bangunan rumah. 

Meskipun laman web tersebut dapat ditemukan melalui mesin pencarian, akses data ke dalam web tersebut sangat dibatasi. Dia mengatakan hanya pihak Dinkes Sukoharjo, puskesmas, dan koordinator desa yang dapat mengakses sistem informasi tersebut.

Kini, tiga tahun sejak laman tersebut diresmikan, Sistem Informasi TB Kabupaten Sukoharjo telah membantu pencatatan temuan kasus baru, jumlah pasien dalam pengobatan, jumlah pasien sembuh, hingga jumlah kematian akibat tuberkulosis. 

Noor Alis beserta rekannya mendapatkan hak cipta atas sistem yang mereka bangun.  “Penghargaan bagi kami itu ya karya kami digunakan oleh dinas. Kami senang kok kalau riset kami dianggap sebagai inovasi dinkes,” kata reviewer di beberapa jurnal internasional itu.

Namun, langkah dosen Kesehatan Masyarakat UMS itu tak berhenti sampai di tempat. Dirinya kemudian merancang sistem informasi serupa untuk penyakit tuberkulosis resisten obat atau TB RO pada tahun 2022 yang belakangan mengalami peningkatan pasca pandemi Covid-19 dan memerlukan perhatian serius. 

TB RO merupakan penyakit TB yang kebal obat tuberkulosis biasa akibat proses pengobatan yang terputus atau tidak patuh. Pengidap harus menjalani masa pengobatan hingga 24 bulan.

“Pasien harus mengonsumsi 5-7 pil tiap harinya. Efek samping obat tersebut juga mampu memengaruhi kesehatan pasiennya,” imbuh Doctor of Public Health Khon Kaen University Thailand itu.

Berbekal Hibah UMS sebesar Rp36 juta, Noor Alis menyelesaikan riset TB RO tersebut dalam waktu satu tahun. Ia dibantu dua orang rekannya, yakni Yeni Indriyani, M.P.H. dan Ekha Rifki Fauzi, S.K.M., M.P.H.


Noor Alis berfoto usai memenangkan juara kedua The Asian Health Talents 2024, Minggu (28/6/2024). dok.Istimewa

Berkat pengalamannya berkiprah pada program penanganan tuberkulosis, Noor Alis pede mempresentasikan riset berjudul Drug-Resistant Tuberculosis Surveillance System: Village-based-control Program itu dalam The Asian Health Talents 2024 di Jakarta. 

Kompetisi yang berlangsung pada 26-28 Juni 2024 itu merupakan platform bagi talenta kesehatan di seluruh dunia untuk menunjukkan keahlian mereka di bidang kesehatan, teknologi, dan inovasi. Noor Alis dan timnya meraih juara kedua untuk kategori Healthcare Policy Proposal Competition.

Baca juga: Viral! Dosen UMS Sabet Juara 2 Ajang The Asian Health Talent 2024

Tak Terbatas Sekat

Lahir di Kudus, Jawa Tengah, 22 Juli 1976, Noor Alis tumbuh dari keluarga sederhana. Orang tuanya adalah pedagang sembako di pasar. Saat masih kecil, kedua orang tuanya pindah ke Desa Gajah, Demak, Jawa Tengah. Di sana, Noor Alis menamatkan pendidikan dasarnya.

Anak pertama dari tujuh bersaudara itu kemudian merantau ke Solo untuk melanjutkan pendidikan di MTs Pondok Pesantren Assalaam Sukoharjo dan Madrasah Aliyah Al-Islam Jamsaren Surakarta. 


Medio 1994 menjadi momentum Noor Alis mengecap pendidikan tinggi. Jurusan yang ia ambil saat itu adalah Diploma III Fisioterapi UMS dan berhasil lulus pada 1997. 

Memasuki milenium baru di tahun 2000, rasa haus akan ilmu pengetahuan mendorongnya melanjutkan jenjang sarjana di Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang hingga tahun 2002. Konsentrasi kuliah yang ia ambil saat itu adalah Biostatistika dan Ilmu Kependudukan. 

Peluang menjadi dosen di UMS akhirnya terbuka pada 2006. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan dan segera mendaftarkan diri pada lowongan itu. Gayung bersambut, Noor Alis pun lolos seleksi dan diterima sebagai dosen di UMS. “Dulu itu sebagai dosen harus banyak pengabdian dulu,” kenang dia. 

Di tengah kesibukannya sebagai dosen, dirinya memutuskan melanjutkan studi magister di Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia pada 2009 dengan fokus peminatan Informatika Kesehatan. Di sinilah dia memutakhirkan gagasan tentang sistem informasi tuberkulosis sebagai tesisnya. 

Kabar gembira datang saat Noor Alis sedang menyelesaikan tesisnya. Dia diangkat sebagai dosen tetap UMS pada 2010. Ia kemudian merampungkan studi magisternya pada 2011.

Kiprah Noor Alis sebagai ahli kesehatan masyarakat tidak terbatas sekat ruang kelas. Sejumlah kegiatan juga ia lakukan, mulai dari pengabdian masyarakat, pemakalah seminar ilmiah, hingga tergabung dalam organisasi di luar kampus.

Pada 2013, Noor Alis dan rekan-rekan sesama ahli kesehatan masyarakat berkumpul dan mendirikan IAKMI cabang Sukoharjo. “Saya mengajak rekan saya untuk ayo menghidupi IAKMI cabang Sukoharjo,” tutur dia. Setahun kemudian, dia dilantik menjadi Ketua IAKMI Sukoharjo dan menjabat selama dua periode.

Ia lalu mengejar gelar doktoralnya di Jurusan Public Health Khon Kaen University Thailand pada 2015. Di tengah aktivitas studinya, Noor Alis tidak melepaskan komitmennya pada tuberkulosis dengan menjadi pemateri konferensi internasional. 

Suara dan pengetahuan Noor Alis bahkan dibutuhkan di Hue University of Medicine and Pharmacy, Hue City, Vietnam dengan topiknya seputar Smear-positive Tuberculosis in Indonesia: A Descriptive Study dalam The 7th International Conference on Public Health among The Greater Mekong Sub-Regional Countries.

Pada 2018, ia menyusun proposal implementasi model surveilan tuberkulosis berbasis Web GIS di Kabupaten Sukoharjo. Noor Alis juga mengikuti Australia Award Tuberculosis Short-course Program yang digelar Australian Aid untuk memperkaya wawasannya mengenai tuberkulosis.

Dirinya berhasil meraih gelar Doktor pada 2019 usai menuntaskan disertasin"ya berjudul "Multidrug Resistant of Tuberculosis and Risk Factors in Indonesia. Di tahun yang sama, proposal yang ia ajukan untuk pengembangan model surveilan tuberkulosis berbasis Web GIS di Kabupaten Sukoharjo berhasil lolos pendanaan Hibah Iptekkes dari Kementerian Kesehatan.

Sepulangnya ke Tanah Air pada 2019, Noor Alis masuk ke organisasi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia. Di tahun yang sama, dia juga bergabung dengan Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) Kota Surakarta.

Noor Alis juga merilis buku Indonesians’ View toward The Country’s Universal Health Coverage – Case Study dengan menggandeng Assoc. Prof. Prathurng Hongsranagon, Ph.D., M.P.H. dari Chulalongkorn University Thailand. “Buku ini membahas bagaimana pandangan masyarakat umum sampai NGO (Non-Government Organization) terhadap layanan BPJS Kesehatan,” ujar dia.

Pada 2020, Noor Alis yang sudah berpengalaman mengelola IAKMI Sukoharjo, kemudian diberikan mandat sebagai Wakil Ketua IAKMI Jawa Tengah hingga kini. Ia juga merilis buku Sistem Informasi Kesehatan (Konsep, Strategi, dan Implementasinya). Dia kemudian melanjutkan risetnya untuk mewujudkan sistem informasi tuberkulosis di Kabupaten Sukoharjo yang dirilis setahun kemudian pada 2021. 

Hatinya telah berlabuh pada dunia kepakaran dan penelitian, khususnya seputar penyakit tuberkulosis dan program pengendalian penyakit. Selama berkarier di UMS, Noor Alis mengambil fokus dengan topik ilmu kesehatan masyarakat, manajemen informasi kesehatan, perilaku dan kebijakan kesehatan.

Komitmennya membuahkan hasil dengan meraih Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas sejumlah riset yang ia lakukan. Mulai dari riset pada 2019 berjudul "Portal Informasi Surveillance Online TB (SISO-TB)", dilanjutkan riset bertajuk "Sistem Informasi Pendukung Keputusan Penjaringan Suspek dan Pemantauan TB berbasis Wilayah Desa tahun 2020", hingga meraih hak paten atas riset berjudul "Instrumen Screening Virus Covid 19 dengan Teknologi Ultraviolet Electronic Nose Internet Of Things (UV Enose-IoT)" pada 2021.

Jalan Panjang Eliminasi TB



Noor Alis memandang kasus tuberkulosis di Indonesia harus diwaspadai. Menurut World Health Organization atau WHO pada 2023, Indonesia menyumbang 10% kasus tuberkulosis secara global dan menduduki peringkat kedua setelah India. 

Kementerian Kesehatan mencatat temuan kasus tuberkulosis baru pada 2022 mencapai lebih dari 724.000 kasus. Jumlah tersebut meningkat menjadi 809 ribu kasus pada 2023.

Dirinya khawatir melihat data tersebut. Selain akan berdampak pada penurunan kualitas kesehatan masyarakat, penyakit tuberkulosis akan membawa dampak pada beban biaya kesehatan, bahkan berpotensi double burden.

“Setiap satu orang yang terkena tuberkulosis dari awal sampai sembuh, negara harus menyiapkan anggaran senilai Rp5.4 juta. Kalau tuberkulosis resisten obat, negara harus menyediakan anggaran Rp. 222,36 juta atau 42 kali lipat dari tuberkulosis biasa,” beber Noor Alis.

Indonesia, sambung dia, dihadapkan pada dua tantangan untuk mengentaskan tuberkulosis. Tantangan pertama datang dari penderita tuberkulosis yang enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Pengidap tuberkulosis berpotensi menularkan bakteri TB pada lingkungan terdekat mulai dari keluarga dan tetangga. 

Tantangan kedua adalah tingkat kedisiplinan masyarakat pengidap tuberkulosis menjalani rangkaian pengobatan dan konsumsi obat. Jika pengidap tuberkulosis tidak menuntaskan pengobatannya, maka akan berpotensi menimbulkan tuberkulosis resisten obat. 

Tantangan ketiga adalah stigma masyarakat atas penyakit tuberkulosis. Laporan Tim Kerja Tuberkulosis Kementerian Kesehatan tahun 2022 menyebut salah satu stigma tuberkulosis adalah penyakit yang menjijikkan. 

Sejumlah responden penderita tuberkulosis mengaku merasa dijauhi teman-temannya saat mengetahui dirinya mengidap TB. Stigma juga datang dari masyarakat yang tidak ingin di lingkungannya terdapat penderita tuberkulosis. Sejumlah responden bahkan mengaku pernah dijauhi petugas kesehatan karena penyakit yang dideritanya. 

Stigma tersebut membuat penderita tuberkulosis kian merana, sebab sejumlah responden mengatakan dirinya mendapat penolakan anggota keluarga, mengalami perceraian, hingga kehilangan pekerjaan.

“Saya pernah menemukan kasus seorang pemuda berusia 20 tahunan. Saya mewawancarai dia. Begitu dia kena TB dia langsung disuruh keluar dari pekerjaannya sebagai pelayan toko. Padahal kan sebenarnya tidak begitu kebijakannya. Dia bisa dipekerjakan di bagian lain sampai tuntas pengobatan dan dinyatakan sembuh,” terang Noor Alis.

Kiat Pemerintah Indonesia mengeliminasi tuberkulosis pada 2030 tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2021 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Targetnya adalah penurunan angka kejadian tuberkulosis menjadi 65 kasus per 100 ribu penduduk dan penurunan angka kematian akibat tuberkulosis menjadi 6 kasus per 100 ribu penduduk. 

Menurut Noor Alis, ada tiga langkah yang dapat dilakukan masyarakat agar berkontribusi dalam penanggulangan tuberkulosis. Pertama, meningkatkan literasi mengenai tuberkulosis mulai dari gejala, pengobatan, hingga risiko penularan. Dengan begitu, masyarakat mampu melakukan pencegahan tuberkulosis pada diri sendiri. 

Langkah kedua adalah bagi yang sudah terkena tuberkulosis, wajib menjalani pengobatan hingga tuntas. Noor Alis menuturkan pernah berhadapan dengan pasien TB RO yang enggan menggunakan masker. “Wah, ternyata dia TB RO, mateng dong saya,” ujarnya berkelakar. Pasien tuberkulosis RO harus menggunakan masker ganda, termasuk tenaga kesehatan yang bertugas menangani para pasien. “Harus sering ganti masker!”

Langkah terakhir adalah menghapus stigma penderita tuberkulosis, terutama di lingkungan kerja. Dukungan moril dan materil sangat dibutuhkan pengidap tuberkulosis hingga proses penyembuhan. Dia menekankan agar para pengidap tuberkulosis jangan sampai kelelahan akibat bekerja, atau bahkan diberhentikan dari pekerjaannya. “Kalau ndak kerja, bagaimana dia menghidupi diri dan keluarganya?” pungkas dia.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Desainer: Salsabila Wardah Kamila

Lebih dekat dengan dosen

Teropong Jagat

image-featured
8 Juni 2026

Keberadaan kaum homoseksual di ruang publik menimbulkan keresahan masyarakat. Menambah risiko penyakit menular, termasuk HIV dan berbagai infeksi menular seksual lainnya.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
3 Juni 2026

Mikroplastik ditemukan di berbagai bentuk ekosistem di sekitar kita. Mulai dari tanah, tubuh organisme, hingga air hujan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
21 Mei 2026

Nilai tukar rupiah terus anjlok dan berada pada level terendah. Benarkah masyarakat desa luput dari terpaan efek dominonya?

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.