Sosok inspiratif yang cukup sering melambungkan nama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di berbagai kompetisi akademis bergengsi, kini tengah tersenyum ramah di hadapan kami. Pemuda itu bernama Saminur Fauzan, lahir Januari 2001 di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Bagi yang sudah kenal akrab, ia lebih sering disapa Sami. Sami tumbuh besar di keluarga yang religius, tak ayal jika ia mendalami ilmu agama dan Bahasa Arab di Pondok Modern Darussalam Gontor atas saran orang tua. Santri yang lulus dengan predikat Mumtaz itu akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Program Studi Ilmu Gizi UMS melalui seleksi Beasiswa Hafidz Al-Qur’an tahun 2021.
Ketika kami bertanya alasan mengapa ia memutuskan untuk berkuliah lintas jurusan, sulung tiga bersaudara itu hanya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Sebelumnya saya mencoba beberapa seleksi beasiswa untuk berkuliah ke luar negeri. Waktu itu, pilihan saya ada Islamic University of Medinah (Saudi Arabia), Ma'had Al Haram (Saudia Arabia), dan Al-Azhar University (Mesir). Untuk kampus Madinah, saya lolos tes masuknya, beasiswanya tidak. Akhirnya karena harus biaya pribadi, orang tua tidak setuju. Sementara untuk kampus Mesir, saya lolos beasiswanya, hanya saja orang tua belum meridai juga karena di sana banyak teman dari Gontor. Kata bapak, “Nanti kamu malah nggak keluar dari zona nyaman.”,” kenang alumnus Ponpes Gontor itu.
Atas saran ibundanya, Sami yang awalnya berkomitmen untuk meneruskan minat pada ilmu tafsir Al-Qur’an dan Bahasa Arab tetiba banting setir ke ilmu gizi.
“Keluarga ibu mayoritas pendidikannya di bidang kesehatan, jadilah saya nyemplung di Ilmu Gizi UMS,” tuturnya.
Beradaptasi dengan Ilmu Baru
Sekiranya tiga tahun lalu, Sami yang tak terbiasa belajar sains kewalahan di tahun pertama kuliah Ilmu Gizi. Mahasiswa berprestasi itu dulunya pernah mendapatkan Indeks Prestasi Semester (IPS) yang tak memuaskan. Untuk memperbaiki nilainya, Sami mengaku belajar secara otodidak lewat video di YouTube hingga membeli beberapa buku untuk meningkatkan pemahamannya.
“Waktu sudah mulai rutin belajar, kok, rasanya masih kurang ya? Akhirnya saya memutuskan untuk belajar dengan kakak tingkat dari organisasi yang sama, Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS. Mbak Salma namanya, ia membuat saya berani berkompetisi,” ungkap mahasiswa semester 6 itu.
Sami ingat betul, kompetisi esai pertama yang diikuti membuatnya berhadapan dengan Mbak Salma—guru sekaligus inspiratornya. Cara Sami beradaptasi dengan ilmu baru terbilang unik. Ia seolah menyelam sambil minum air, belajar sekaligus aktif berkompetisi.
“Itu pengalaman lucu, sih! Di kompetisi esai itu Mbak Salma juara 1, sedangkan saya mendapat harapan 2. Itu kompetisi pertama yang saya ikuti secara mandiri, bukan kelompok. Dari kompetisi itu juga, saya mulai percaya pada kemampuan saya dan akhirnya ketagihan mencoba kompetisi lainnya. Ternyata enak juga, ya? Mendapatkan juara sekaligus uang,” ucapnya jujur.

Berkompetisi menjadi sebuah pijakan baru bagi Sami untuk bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa kompeten di luar sana. Satu hal yang semakin jelas baginya adalah bahwa kompetisi juga tentang proses pembelajaran dan pengembangan diri.
Pemuda Minang itu membagi fase adaptasi menjadi dua: pertama, adaptasi pelajaran; dan kedua, adaptasi kesibukan.
“Di semester 3 saya mulai membenahi nilai dan aktif berkompetisi. Oh iya, selain ikut Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FIK UMS, saya juga menjabat sebagai ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) FIK UMS, dan sekretaris umum 1-nya Mahasiswa Pencinta Qur’an (MPQ),” tambahnya.
Ketekunan yang Berbuah Manis
Debut pertamanya di panggung nasional nyatanya berbuah manis, meski tak langsung menduduki posisi pertama, ia tak berkecil hati. Justru ia semakin terpacu untuk mencapai target-target baru.
Berkompetisi sejak semester 3, Sami telah meraih banyak penghargaan, baik nasional maupun internasional. Bahkan ia menjadi wajah pertama FIK UMS yang melaju di panggung World Young Inventors Exhibition (WYIE) Kuala Lumpur, Malaysia bersama tiga kawannya.
“Saya bersama Mbak Lu’lu’ul, Haira dan Madha mendapuk inovasi bernama ALOEVIA (Aloe Vera and Stevia) Jelly Candy. Kita tim pertama yang mewakili FIK di kompetisi internasional, nih! Rasanya campur aduk!,” seru ketua Tim ALOEVIA itu.
Baca juga: Mahasiswa Menyulam Harapan: Inovasi Pencegahan Diabetes
Kala itu, dirinya seperti menanggung beban karena membawa nama kampus di ajang bergengsi. Ia berusaha menguatkan mentalnya sendiri dan kawan-kawan. Dengan persiapan matang kurang lebih empat bulan, inovasinya dan tim berhasil diganjar medali perak.
“Awalnya kami meriset kasus gizi di Indonesia, ternyata tahun lalu kasus diabetes pada anak-anak itu sedang marak, penyebabnya karena mereka mengonsumsi gula berlebih. Akhirnya nyeletuk aja idenya. Gimana kalau bikin permen? Soalnya anak-anak suka makanan manis,” ucap Sami sambil mengingat-ingat.
Tentunya, permen ALOEVIA telah melalui uji proksimat (pengujian kimiawi untuk mengetahui kandungan nutrien) dan uji antioksidan (metode untuk mengukur kemampuan suatu senyawa dalam menangkal radikal bebas). Permen legit ini merupakan perpaduan dari ekstrak daun jamblang, lidah buaya, dan daun stevia sebagai pemanis alami.
“Sejauh ini, permen ALOEVIA masih jadi gong terbesar saya. Mulai dari pengalaman pertama melaju ke luar negeri, jadi tim pertama yang mewakili FIK, hingga meja booth kami yang dipadati pengunjung. Ramai sekali! Semua anak-anak yang ada di sana rebutan saking sukanya, bahkan juri dan investor global tertarik untuk membeli produk kami, yang mana pada waktu itu belum dikomersilkan,” ujar peraih medali silver WYIE 2022 itu antusias.

Potret Sami saat mengikuti ajang Indonesia Inventors Day 2023 di Bali. dok. pribadi
Hal istimewa juga dirasakan Sami kala dirinya mendapati kadar antioksidan pada permennya tinggi. Keinginan untuk melompat dan teriak “alhamdulillah” menjalar merayapi tubuhnya seketika.
“Alhamdulillah saya ucap berulang. Kaget banget yang jelas! Biasanya makanan berbahan alami punya kadar antioksidan di kisaran 40-50 persen. Tapi permen kami sampai di kadar 70 persen, ternyata hasil itu didapat dari ekstrak daun jamblang, tanaman asli Indonesia,” ingat Sami dengan mata penuh binar.
Mendirikan Nutrition Community
Hari berganti hari, Sami masih saja mengikuti kata hati untuk terus memainkan peran sebagai calon nutrisionis berprestasi. Ia lalu berinisiatif membentuk Nutrition Community (NUTRICOM) pada 21 Desember 2022. Sebuah komunitas yang diharapkan dapat memupuk antusiasme kawan-kawan sebaya dalam berkiprah di bidang ilmu gizi.
“Anggotanya sudah mencapai 60-an mahasiswa, dan memang khusus untuk mahasiswa Ilmu Gizi UMS saja. Dulu tahun pertama masih struggle banget karena belum ada paten struktur, kurikulum, dan segala macam. Masih belum banyak yang kenal komunitas ini juga. Tapi, alhamdulillah di tahun kedua ini semuanya sudah mulai rapi,” terang dia.
Belakangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) antarfakultas, program studi, hingga organisasi-organisasi di tiap program studi yang ada di UMS turut meramaikan kelas International Event Preparation milik NUTRICOM.
“Bahkan dari kemarin ada fakultas teknik, fakultas farmasi, fakultas ekonomi dan bisnis pada rame-rame datang buat ikut kelas event preparation. Kelas kami yang satu ini membedah strategi-strategi untuk menang lomba, jadi ya mereka memang kepo strategi yang kami gunakan di setiap perlombaan. Bagi saya, itu jadi bentuk dukungan yang luar biasa,” ucapnya.
Langkah yang dilakukan Sami bukanlah tanpa halangan. Acapkali dirinya kewalahan untuk mengajak teman-teman mahasiswa Ilmu Gizi untuk bergabung dengan komunitas yang ia bentuk itu. Ia melakukan promosi untuk pertama kali secara konvensional: person to person.
“Tapi kini NUTRICOM sudah mulai dikenali mahasiswa, dan resmi berdiri di bawah payung Program Studi Ilmu Gizi UMS,” terang Sami.
Tawaran Kerja hingga Studi Lanjut
Pemuda berkacamata oval nan tebal itu tampak menikmati sesi wawancara ini. Tawanya selalu muncul di sela-sela obrolan kami yang mengalir.
Di sela-sela tawa Sami, kami teringat prestasi mentereng yang ia sabet awal tahun 2024 ini. Mahasiswa berprestasi itu telah menerima penghargaan Top 1 SOYJOY Nutritionist Award pada kategori Nutrition Student Organization.
“Saya saja nggak habis pikir, bahkan untuk ikut kompetisi ini saya nggak banyak mengeluarkan effort,” cerita Sami.
“Itu sebenarnya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) saya tahun lalu tentang sosial ekonomi untuk penanganan gizi, saya olah kembali. Ditambah beberapa program kerja gizi yang pernah saya jalankan sebelumnya, dirangkum menjadi sepuluh halaman PPT. Sesingkat dan sepadat mungkin,” imbuh dia.
Memasuki lima besar dengan lawan tangguh dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawajiya, Universitas Andalas, dan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang, Sami harus tampil optimis ketika mempresentasikan projek gizinya secara daring di hadapan para juri, salah satunya ialah Profesor Hardin—profesor gizi senior Indonesia.
Tak disangka, optimisme Sami dalam ajang SOYJOY Nutritionist Award membawa keberuntungan lain. Ia mendapatkan penawaran profesional oleh pihak SOYJOY Indonesia langsung.
“Pihak SOYJOY waktu itu bilang, “Udah kalau kamu mau kerja di sini, kamu tinggal bilang ke top manajer kita kalau kamu Top 1 SOYJOY Nutritionist Award 2024.” Cuma tidak saya ambil karena tujuan saya lain. Saya mau melanjutkan studi magister ke luar negeri, syukur-syukur lolos beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP),” ujarnya.
Target Sami itu menjadi alasan dirinya untuk menolak tawaran studi doktoral dari Top 1 SOYJOY Nutritionist Award kategori Nutripreneur, Dr. Nuryanto.
“Saat penganugerahan di Auditorium Hotel Mercure Sabang, Jakarta Pusat, saya lumayan lama bercengkerama dengan beliau. Ternyata sosok Dr. Nuryanto ini sudah berlanglang buana ke mana-mana. Nah, singkat cerita saya ditawari beliau untuk lanjut S3 lewat PMDSU (program beasiswa bagi sarjana unggul untuk melakukan percepatan pendidikan menjadi lulusan doktor pada usia muda), beliau bisa merekomendasikan saya ke profesor yang menjadi promotor Program PMDSU,” kata Sami.
Mengerjakan Skripsi Lebih Awal
Saat ditanya kesibukannya saat ini, Sami sedikit menyisir rambut depannya dengan jari. Ia juga membenahi posisi duduknya agar nyaman. Tak lama, ia menjawab, “Sekarang sih, saya tinggal magang dan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kalau skripsi sudah saya mulai kerjakan di semester 3.”

Humas UMS/Muhammad Imam Safi'i
Kegandrungan Sami dalam meriset memang sudah menjadi rahasia umum, penelitiannya yang bertajuk Iodine Fortification of Poor Rice to Address IDD in Indonesia as Hidden Cause of Hunger in Children and Adolescents berhasil terpublikasi pada prosiding International Conference on Health and Well-Being (ICHWB) 2022. Publikasi tersebut membuat Sami dapat menyicil skripsinya lebih dini. Penelitiannya menyasar efektivitas dan penyebab penurunan zat gizi mikro pada beras yang difortifikasi iodium. Lebih spesifik, tujuan Sami ialah mengatasi Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI).
“Itu publikasi pertama yang langsung tembus prosiding internasional, sekaligus yang melecut saya untuk melanjutkan karier akademis dan profesional di bidang ilmu gizi,” imbuh Sami.
Semangat adaptasinya yang menggebu-gebu di akhir semester 3 membuat Sami melakukan percobaan lain. Ia tertantang mengirimkan artikel ilmiahnya pada International Conference on Health and Well-Being 2022. UMS sendiri sudah mendukung penuh mahasiswanya untuk memublikasikan riset mereka pada prosiding internasional sebagai pengganti skripsi reguler.
“Percaya saja sama kemampuan diri sendiri. Setiap ada kesempatan yang baik ya diikuti, meskipun ada pikiran, “Aduh, tapi aku masih newbie!”. Begitu sih, kalau saya,” kata Sami sambil membenarkan posisi kacamata.
Bagi seorang Saminur Fauzan, asa untuk masa depan terus ditanam setiap kali ia berkarya. Asa itu tengah dipersiapkan secara matang, meski tak jarang ia berpikir, apakah prestasi yang telah diraih selama ini mampu membuka jalan menuju impian yang lebih besar.
“Setiap orang pasti punya jatah gagal dan suksesnya masing-masing, jadi kalau bisa jatah gagal itu kita babat habis saat masih muda. Apalagi di umur-umur seperti saya ini, energinya masih sangat luar biasa. Memutuskan untuk nyemplung di dunia gizi juga bukan perkara mudah bagi saya, butuh proses panjang untuk meyakinkan diri. Kalau saja di tahun kedua kuliah saya langsung menyerah, saya tak akan pernah menyentuh titik ini,” tandas dia.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







