Di sebuah kampung Tapen, Nusukan, Surakarta, bocah laki-laki yang kerap disapa Anton sering duduk bersila di ruang tamu rumah sederhana. Di hadapannya, setumpuk koran tertata rapi.
Ia mengambil satu koran dan mulai membaca kolom yang membuatnya tertarik. “Di rumah kami selalu ada beberapa koran karena bapak melanggan. Dari kecil saya terbiasa membaca memang,” kenang Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si. pertengahan Januari lalu.
Dikenal sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Anton sebenarnya pernah terbelenggu dalam kenakalan remaja. Nyaris dikeluarkan dari sekolah menengah karena pergaulan.
Penyelamat Anton justru musik. Ia belajar gitar, membentuk band, menyanyi lagu-lagu Barat, dan dari sana pula bahasa Inggrisnya terasah.

“Kalau tidak ada musik, mungkin hidup saya tetap berantakan,” ceritanya sembari terkekeh kecil.
Turut Meramu Kebijakan Daerah
Bagi Anton, kampus bukan satu-satunya medan juang. Ilmu ekonomi yang ia geluti tak ingin hanya mendekam di ruang kelas dan jurnal ilmiah.
Sejak 2007, ia mulai terlibat langsung sebagai konsultan bidang ekonomi bagi sejumlah pemerintah daerah, mulai dari Kota Surakarta, Kabupaten Sragen, hingga Kabupaten Karanganyar.
Namanya dikenal karena tulisan-tulisannya di media massa. “Dulu saya seperti karyawan tidak tetap di Solopos,” kelakarnya.
Tulisan-tulisan itu rupanya sampai ke meja para pejabat. Satu per satu, mereka mulai menghubunginya. “Pak Anton, tolong bantu kami di sini,” demikian kira-kira pesan yang kerap ia terima.

Keterlibatan formal pertamanya dalam dunia kebijakan terjadi melalui Bank Indonesia (BI). Sekitar 2010, BI membuka skema hibah penelitian terbuka bagi dosen dan universitas.
Anton mengirimkan proposal riset bersama beberapa rekannya, dan terpilih sebagai salah satu penerima hibah. Bahkan dalam dua tahun berturut-turut, proposalnya lolos pendanaan.
Pengalaman bersama Bank Indonesia itulah yang semakin menguatkan perannya di level pemerintah daerah. Ia kemudian terlibat dalam penyusunan berbagai dokumen strategis, mulai dari Indeks Daya Saing Kota Surakarta, peta jalan pengembangan ekonomi kreatif, hingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Karanganyar. Anton menggabungkan pendekatan akademik dengan realitas bisnis dan birokrasi.
Salah satu rumusan kebijakan yang paling membekas bagi Anton adalah keterlibatannya dalam penyusunan Masterplan Ekonomi Kreatif Kota Surakarta. Ia menilai dokumen tersebut merupakan fondasi bagi arah pembangunan ekonomi kreatif kota.
“Program masterplan itu kemudian jadi dasar dari penyusunan semua program ekonomi kreatif di Kota Surakarta selama lima tahun 2021-2025,” ujarnya. Memaksa hampir seluruh dinas, baik dari pariwisata, perindustrian, tenaga kerja, hingga UMKM untuk menyelaraskan programnya dengan visi ekonomi kreatif, bahkan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.

Anton juga terlibat dalam penyusunan indikator kinerja utama (IKU) serta mekanisme audit tahunan terhadap penggunaan anggaran. Setiap rupiah yang dialokasikan dalam APBD ditautkan dengan pengembangan ekonomi kreatif, memastikan kebijakan tidak berhenti sebagai slogan.
“Karena memang ekonomi kreatif itu dianggap jadi sumber utama pengembangan ekonomi Surakarta,” katanya.
Kegelisahan pada Industri Manufaktur
Kegemarannya menulis dan mengkaji ekonomi datang saat Anton mulai menggarap tesis. Sekitar tahun 2004, Anton melakukan penelitian dengan pendekatan ekonometrika untuk mengukur hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang dikenal sebagai elastisitas kesempatan kerja.
Dari riset itu, ia menemukan fakta yang mengusik. Pada era 1990-an, setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan sekitar 500 ribu hingga 750 ribu lapangan kerja baru.
“Artinya, ketika pertumbuhan mencapai 8 persen, Indonesia bisa menciptakan hingga 4 juta lapangan kerja formal setiap tahun. Waktu itu, hampir semua angkatan kerja bisa masuk sektor formal,” jelasnya.
Namun grafik itu terus menurun. Berdasarkan simulasi data terbaru yang ia olah hingga 2024, kini setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap sekitar 250 ribu tenaga kerja. Angka yang jauh lebih kecil dibandingkan tiga dekade lalu.
“Ini bukan sekadar soal jumlah pekerjaan yang berkurang, tapi kualitas pertumbuhan ekonomi kita yang ikut menurun,” kritik Anton.
Akar masalahnya, kata Anton, ada pada industri padat karya, khususnya sektor tekstil yang dulu menjadi tulang punggung penyerap tenaga kerja nasional. Di masa 1980-an hingga awal 2000-an, tekstil menjadi mesin utama penciptaan lapangan kerja. Namun kini, sektor itu justru tumbang satu per satu.
“Kita bahkan kalah dari Bangladesh, negara yang sering kita anggap lebih miskin,” ujarnya. Dalam peta tekstil global, Indonesia hanya berada di sekitar peringkat ke-16 industri tekstil dunia, jauh tertinggal dari India dan Cina.
Anton mengatakan, sebelum PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) pailit, perusahaan itu pernah membeli satu mesin tekstil dari Jerman dengan harga hampir satu triliun rupiah. Investasi semacam itu, menurut Anton, mustahil dijangkau sebagian besar pelaku industri nasional.
“Bagaimana mungkin industri kita bisa mengejar ketertinggalan, jika satu mesin saja bernilai triliunan?” katanya.
Dari sana, Anton menyadari bahwa menunggu kebangkitan industri besar bukanlah jalan paling realistis dalam waktu dekat. Maka fokus riset dan kontribusinya bergeser: dari industri besar ke manufaktur skala menengah dan kecil, yakni Industri Kecil dan Menengah (IKM) serta UMKM manufaktur.
Baginya, membangun manufaktur tidak harus selalu lewat pabrik raksasa. Justru melalui jejaring industri menengah, rantai pasok yang efisien, dan modernisasi UMKM, lapangan kerja berkualitas bisa diciptakan lebih cepat dan inklusif.
“Itu saya kira yang perlu saya kaji lagi. Bagi saya yang seorang akademisi, alat saya ya riset,” lanjut dia. Bahkan hingga usia pensiun kelak, di umur 70 tahun jika Allah menghendaki, Anton membayangkan dirinya masih setia berkutat pada penelitian-penelitian tentang industri, ketenagakerjaan, dan pembangunan.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







