Jatuh Hati dengan PKn
Tantangan Service Learning di Indonesia

Obby Taufik Hidayat baru saja menuntaskan urusannya di Lembaga Riset dan Inovasi (LRI), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), suatu siang di pertengahan Desember. Pria yang akrab disapa Obby itu menuturkan dirinya hendak melakukan riset teranyar. “Iya, tadi baru tanda tangan kontrak untuk proyek riset,” kata Obby, Rabu (11/12/2024).

Memang, sejak memutuskan berkarier sebagai dosen di UMS lima tahun silam, Obby menaruh minat pada dunia riset. Tidak heran jika dirinya aktif mencari berbagai peluang hibah pendanaan riset dari berbagai lembaga riset internasional bergengsi. 

Obby secara khusus menaruh hati pada pengembangan riset seputar pembelajaran berbasis layanan atau service learning. Topik inilah yang ia ajukan ke sejumlah lembaga riset internasional dan berhasil lolos pendanaan. Adapun pendanaan yang ia peroleh dari proposal yang ia ajukan meliputi Sasakawa Young Leader Fellowship Funds (SYLFF) dari Tokyo Fund dan Fundamental Research Grant dari Kementerian Pendidikan Malaysia. 

Service learning adalah pedagogi berbasis pengalaman atau experiential pedagogy. Konsep ini memberikan mahasiswa pemberdayaan (empowerment) untuk menerapkan apa yang dipelajari mereka di kelas untuk membantu menyelesaikan masalah masyarakat. 

Obby mengatakan, service learning kelihatannya mirip dengan program kesukarelaan (volunteer) dan pengabdian di masyarakat. Namun, service learning lebih terfokus pada peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap pengetahuan teoritisnya melalui pengalaman pengabdian masyarakat dan refleksi atas pengalaman tersebut. “Apa yang mahasiswa pelajari di dalam kelas, diaplikasikan juga di masyarakat,” ujar Obby.

Komitmennya untuk mengembangkan service learning berawal dari kesadaran pentingnya belajar yang tidak terbatas pada aspek pengetahuan di kelas, tetapi implementasi pembelajaran untuk masyarakat. Dengan demikian, ilmu pengetahuan yang dipelajari mahasiswa tidak terbuang percuma. 

Obby melihat ada pedagogi berbasis pengalaman di perguruan tinggi Indonesia seperti KKN atau kuliah kerja nyata. Pun beberapa akademisi menyatakan KKN adalah nama lain dari service learning di Indonesia. 

Namun, setelah ditelusuri dan diteliti kurikulum KKN perlu dikembangkan karena banyak program kerja mahasiswa yang belum berfokus pada peningkatan penguasaan materi yang sudah diajarkan di kelas. “KKN lebih cenderung pada pengabdian masyarakat saja,” tegas Obby. 

Padahal KKN adalah mata kuliah yang tentunya memiliki angka kredit atau SKS dengan capaian pembelajaran mahasiswa. “Secara konsep KKN itu mengaplikasikan teori atau konsep yang telah dipelajari. Tapi praktiknya tidak seperti itu. Kebanyakan hanya pengabdian kepada masyarakat saja,” jelas dia.

Dari riset dan pengalaman yang Obby lakukan, dirinya menilai implementasi program KKN banyak yang belum sesuai dengan konsep service learning. Misalnya mahasiswa teknik mesin atau pendidikan akuntansi yang program kerja rutinnya setiap sore mengajar bahasa Inggris atau mengajar di taman pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anak di tempat KKN. Kegiatan seperti itu, lanjutnya, memang sangat bagus. Namun, kegiatan tersebut tidak linear dengan teori yang dipelajari selama kuliah.

Salah satu risetnya yang berjudul “Developing Moral Education Through Service Learning: Indonesia Higher Education Context” menemukan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dalam program KKN. Sebagian besar mahasiswa yang mengikuti KKN belum memahami visi misi, tujuan, kegiatan apa saja yang harus dilakukan dalam KKN, dan capaian pembelajaran dalam KKN.

Dalam riset tersebut, Obby menekankan pentingnya pemberdayaan dan refleksi pengalaman mahasiswa pada tahapan sebelum, selama, dan sesudah KKN karena akan memberi mahasiswa pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai moral. Mahasiswa dan dosen merencanakan dengan cermat untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah-masalah masyarakat sebelum memulai KKN. 

Dirinya melakukan eksperimen pada sejumlah mahasiswa UMS yang sedang menjalani KKN. Filosofi dan pilar service learning pun ia jelaskan pada kelompok tersebut sebagai bekal menyusun program kerja. Tak lupa ia membagikan pengalaman penerapan service learning di Malaysia. 

Hasilnya, kelompok KKN yang diintegrasikan dengan filosofi dan aspek-aspek service learning menunjukan peningkatan pemahaman teori, soft skills, dan moral yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok mahasiswa yang menjalani KKN seperti biasanya.

Kelompok dengan filosofi service learning telah mendapatkan pemberdayaan secara intensif dan terlibat dalam perumusan masalah dan kebutuhan masyarakat. Selain itu, mereka juga didorong untuk merefleksikan semua pengalaman mereka di masyarakat dengan teori yang mereka pelajari di dalam kelas.


Jatuh Hati dengan PKn

Lahir di Bandung, 34 tahun lalu, Obby Taufik Hidayat telah jatuh cinta dengan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Tidak heran jika nilai mata pelajaran tersebut menjadi yang tertinggi dibanding mata pelajaran lainnya. 

“Tadinya di SMA sudah mulai suka tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik, karakter, moral, peran dan kewajiban negara serta warga negara, demokrasi, dan lain sebagainya,” terang dia. “Memang ada passion.”

Selepas lulus SMA, Obby melanjutkan studinya ke Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), untuk jenjang sarjana pada 2009 dan magister pada 2015. 

Tiga tahun setelah lulus, Obby memulai kariernya sebagai dosen di Universitas Lampung. Setelah satu tahun mengajar di sana, dirinya memutuskan hijrah ke Pulau Jawa pada 2019. 

Berkarier sebagai dosen Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di UMS membuat rasa haus untuk menimba ilmu dalam dirinya semakin bertambah. Itulah yang mendorong Obby melanjutkan studi jenjang doktornya. Dua tahun setelah memulai karier sebagai dosen di UMS, dirinya melanjutkan studi di Educational Foundation and Humanities Department, Faculty of Education, Universiti Malaya, Malaysia. Kesempatan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Obby, sebab dirinya berhasil mendapatkan beasiswa dari UMS untuk studi doktornya.

Universiti Malaya merupakan salah satu kampus terbaik ketiga di Asia Tenggara dan menduduki peringkat ke-12 kampus unggulan di Asia versi QS World University Ranking 2025. Kesempatan belajar di kampus nomor wahid di Malaysia itu telah membuka Obby pada berbagai peluang emas. Salah satunya peluang mendapat hibah penelitian dari lembaga riset luar negeri. 

Pada 2023, Obby berhasil mendapatkan pendanaan riset bergengsi Sasakawa Young Leader Fellowship Funds untuk penelitian disertasinya. Hibah tersebut berasal dari Tokyo Foundation, sebuah lembaga penelitian dari Jepang yang berfokus pada riset seputar kebijakan untuk masyarakat.

“Kebetulan salah satu syaratnya adalah berusia di bawah 35 tahun. Waktu saya mendaftar masih berusia 33 tahun,” kelakar calon doktor filsafat Universiti Malaya itu.

Obby juga berhasil mendapat dua hibah lain, seperti hibah internasional pengabdian kepada masyarakat dari UM Cares, SYLFF Research Grant dari Tokyo Foundation, hingga hibah penelitian internasional Fundamental Research Grant dari Kementerian Pendidikan Malaysia. 

Tak hanya hibah penelitian, Obby juga berkesempatan mengikuti sejumlah konferensi internasional bergengsi. Mulai dari The 17th Annual Conference of the Asia-Pacific Network for Moral Education di Joetsu University, Jepang; hingga Harvard College Project For Asian and International Relation di Harvard University, Amerika Serikat. 

Keuletan Obby sebagai peneliti membuatnya diganjar sejumlah penghargaan. Dirinya mendapatkan anugerah sebagai alumni teraktif yang menjadi narasumber pendidikan selama kurun waktu 2023-2024 dalam Ikatan Alumni PKn (IKA) Awards yang diinisiasi IKA UPI. Penghargaan bergengsi lainnya diberikan oleh Rektor UMS yang menobatkan Obby sebagai periset dengan kerja sama internasional terbaik tahun 2024.


Salah satu buku yang Obby tulis selama berkiprah sebagai dosen jurusan Pendidikan Kewarganegaraan UMS. Humas UMS/Imam Safii

Tantangan Service Learning di Indonesia

Obby mengamini jika service learning adalah istilah baru di indonesia. Namun, beberapa akademisi atau peneliti di Indonesia dalam publikasi mereka, menganggap KKN sebagai service learning pada konteks Indonesia. Padahal, menurut Obby, KKN belum cukup memenuhi aspek-aspek service learning.

Terdapat beberapa aspek fundamental dan pilar service learning yang belum cukup ada pada KKN. Misalnya, dalam praktek program kerja KKN seringkali kegiatan pelayanan di masyarakat berbeda dengan apa yang mahasiswa pelajari di kelas kuliah. Selain itu, pemberdayaan mahasiswa kurang optimal dari sebelum, selama, dan sesudah KKN. Selanjutnya pilar penting lainnya refleksi atas pengalaman kurang begitu nampak pada KKN. 

Di lain sisi, service learning didesain sebagai pedagogi informatif untuk memfasilitasi mahasiswa dalam kegiatan layanan terstruktur untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Mahasiswa akan merefleksikan kegiatan layanan dan pengalaman mereka untuk mencapai hasil pembelajaran yang telah ditetapkan.

Lebih lanjut, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang isi mata kuliah, apresiasi yang lebih luas terhadap disiplin ilmu, peningkatan rasa nilai-nilai pribadi dan tanggung jawab kewarganegaraan,” ujar Obby.

Obby berharap melalui penelitian ini, ia dapat berkontribusi untuk memperbaiki program pedagogi KKN secara teoritis dan praktis agar memenuhi filosofi service learning. Apalagi jika KKN dianggap sebagai service learning di Indonesia. Tantangan terbesarnya terletak pada upaya mengubah pakem yang selama ini telah berkembang sejak KKN bermulai.

“Saya sangat yakin bahwa service learning membawa mahasiswa, pendidik/dosen, dan masyarakat di seluruh dunia untuk melayani dan belajar dan membangun dunia bersama yang berkelanjutan untuk ditinggali oleh semua orang,” pungkasnya.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Lebih dekat dengan dosen

Penelitian

image-featured
17 Juli 2026

Dari kotoran domba, lahirlah pupuk organik kaya nutrisi untuk tumbuhan lewat bantuan “maggot”. Mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan “zero waste”.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
19 Juni 2026

Antibiotik termasuk obat keras yang seharusnya tidak diperjualbelikan bebas. Menyimpan sisa dan mengonsumsinya bisa memicu resistensi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.