Menemukan Warna Baru
Memadukan Pendidikan dan Musik

Suatu hari di dekade ’70-an, seorang anak laki-laki tengah berbincang dengan ayahnya selepas mengaji. Anak itu memperhatikan lekat kedua bola mata ayahnya. 

“Mendidik itu ibadah, Nak. Kalau kamu jadi guru, ilmunya terus mengalir, meski nanti kita sudah tiada,” ujar sang ayah, menurut cerita Muhibbin.

Sore itu, di teras rumah mereka yang sederhana, ayahnya berbicara panjang lebar tentang pentingnya ilmu dan tanggung jawab sebagai anak sulung. Muhibbin kecil menunduk, meresapi titah sang ayah. Meski belum sepenuhnya mengerti, ia tahu ada harapan ayahnya di pundaknya.

“Kalau kamu mau jadi orang bermanfaat, jadilah guru. Lulus SPG nanti, kamu bisa langsung mengajar dan bantu adik-adik sekolah,” tambah sang ayah.

Nggih, Pak,” jawabnya lirih.

Sosok Ahmad Muhibbin yang berada di hadapan kami ini tampak menyenangkan sejak awal pertemuan. Alhasil saat berbincang, kami merasa tak segan mengorek masa lalunya.  

“Begitulah, Mbak, awal mulanya saya memilih berprofesi sebagai seorang dosen,” kata dosen kelahiran Klaten itu, yang kini menjabat Ketua Program Studi Magister Administrasi Pendidikan UMS.

Ia mengakui, meski hidup sederhana, ayahnya adalah sosok yang memiliki pandangan praktis. Dengan pemikiran bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan, ayah Muhibbin mengarahkannya untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Era Orde Baru, SPG setara dengan sekolah menengah, dan alumninya bisa langsung bekerja.

“Lulus SPG bisa langsung bekerja dan membantu menyekolahkan adik-adik,” ujar Muhibbin mencoba menirukan gaya bicara ayahnya.

Usai lulus SPG, Muhibbin ternyata ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Pilihannya saat itu adalah jurusan Pendidikan Moral Pancasila dan Kewargaan Negara (PMP-KN) Universitas Sebelas Maret (UNS). 

“Dulu, siswa-siswa yang nilainya bagus dipanggil dan dikumpulkan oleh guru-guru. Kami diberikan motivasi untuk melanjutkan sekolah sarjana, meski memang setelah lulus SPG, kami bisa berkesempatan menjadi guru,” ingat sulung enam bersaudara itu seksama. 

Menemukan Warna Baru

Setelah berdiskusi dengan kedua orang tuanya, Muhibbin akhirnya mendapatkan restu untuk sekolah sarjana. Tapi siapa sangka, di babak baru tersebut, ia justru menemukan kesenangan baru di dunia musik.

Di UNS, Muhibbin bertemu seorang dosen yang mengajarkan seni musik sebagai bagian dari pembelajaran budaya yang terkandung dalam Pancasila. Lewat mata kuliah ini, ia belajar teori dasar musik, seperti menulis partitur, membuat komposisi, hingga aransemen lagu. 

“Meski tak mendalam, pembelajaran itu memberi saya perspektif baru tentang musik sebagai media pembelajaran. Musik itu ternyata menyenangkan dan dapat menyatukan,” jelasnya.

Sementara itu, keterampilannya dalam bermain gitar dan kibor ia pelajari secara otodidak. 

“Gitar pertama yang saya punya itu hasil beli dari seorang teman yang membutuhkan uang. Awalnya saya cuma niat membantu, tapi kemudian saya coba deh untuk belajar main gitar juga,” kelakarnya. Muhibbin mencoba melatih jemarinya, berpindah dari satu kunci ke kunci lainnya, memetik senar demi menghasilkan melodi sederhana berdasarkan panduan buku musik. Sebab era itu, internet belum lah menjamur seperti sekarang.

Kehidupan kampus Muhibbin juga tampak semakin berwarna kala ia bergaul dengan teman-teman dari berbagai genre musik. Mulai dari keroncong, dangdut, hingga metal. Pertemanan itu lantas memperkaya wawasan Muhibbin tentang seni, sekaligus memperkuat kecintaannya pada musik.

“Saya tidak fanatik soal selera musik. Segala genre saya nikmati,” imbuh Muhibbin yang baru-baru ini dilantik sebagai Guru Besar FKIP UMS.


Meski memiliki hobi yang terbilang baru, Muhibbin tak pernah sekalipun lupa akan tanggung jawabnya sebagai calon pendidik.

“Saya saat itu bermimpi ingin menjadi musisi, namun saya ingat bahwa kedua orang tua lebih meridai saya menjadi pendidik. Beliau-beliau selalu mengingatkan agar saya tetap fokus pada pendidikan, namun juga tak melarang saya untuk menikmati seni musik. Selagi tujuan saya bermanfaat,” ujarnya.

Memadukan Pendidikan dan Musik

Beberapa tahun usai lulus sarjana, Muhibbin memulai kariernya sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di tahun 1994. Ia mengajar jurusan IPS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Setelah mengabdi beberapa tahun di UMS, perjalanan akademik Muhibbin memasuki babak baru lagi. Pada tahun 2003, ia menerima rekomendasi untuk melanjutkan studi magister di bidang ilmu komunikasi. “Ya, saya melihat ini sebagai kesempatan untuk memperdalam wawasan dan keterampilan, terutama dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan yang makin berkembang,” ujar Muhibbin mengenang keputusan penting tersebut. 

Setelah menyelesaikan studi tahun 2005, ia kembali ke UMS dengan perspektif yang lebih luas, dan dipercaya untuk memainkan peran vokal dalam pengembangan akademik di kampus. 

Tepat di tahun 2006, program studi Ilmu Komunikasi resmi berdiri di UMS, dengan Muhibbin sebagai salah satu pelopor dan penggeraknya. Langkah tersebut juga menandai kontribusi besar yang diberikan Muhibbin untuk kemajuan dunia pendidikan tinggi di UMS.

“Saat itu saya juga dipasrahkan menjadi dosen mata kuliah PPKn di Ilmu Komunikasi UMS, pasalnya PPKn jadi mata kuliah dasar umum yang memang ada di semua prodi,” terangnya.

Semua berjalan dengan lancar dan sesuai harapan. Tahun demi tahun, perjalanan Muhibbin sebagai penggerak dan pendidik semakin diapresiasi. Hingga pada tahun 2011, ia diangkat menjadi Ketua Program Studi (Kaprodi) PPKn UMS. 

Di tengah kesibukannya sebagai kaprodi, Muhibbin tak pernah merasa surut untuk terus mengejar ilmu. Ia kemudian melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Negeri Malang (UNM) dengan mengambil program studi Manajemen Pendidikan.

Sekembalinya dari studi doktoral, Muhibbin berkontemplasi. Ia bertanya dalam hati, mengapa ilmu musik yang ia miliki tak pernah ia manfaatkan untuk memperkaya proses pembelajaran. Baginya, di tengah perkembangan ilmu teknologi yang kian cepat, PPKn sering dipandang kurang menarik bagi mahasiswa. 

Mata kuliah tersebut, kata Muhibbin, hanya dianggap sebagai teori yang masuk kuping kanan, keluar kuping kiri, alias tak menyentuh hati dan memori para mahasiswa.

“Baru sekitar 2017 saya mulai berpikir, kenapa saya memiliki sesuatu yang bermanfaat, tapi tidak saya sampaikan kepada mahasiswa saya. Akhirnya saya kumpulkan mereka, dan ternyata minat mereka untuk belajar budaya melalui musik cukup besar. Dari situlah muncul ide untuk mengusulkan mata kuliah pilihan di prodi PPKn, yakni Cipta Lagu Berkarakter. Saya yang menjadi pengampunya,” kenangnya dengan senyum penuh arti.

Kini, laboratorium musik PPKn UMS yang ia kelola, meski berukuran tak terlalu besar, sudah dilengkapi dengan sistem kedap suara. Berbagai alat musik menghiasi ruangan itu, mulai dari gitar, bas, drum elektrik mini, hingga kibor yang kadang ia bawa sendiri untuk menemani mahasiswa bernyanyi bersama. 

Output mata kuliah ini adalah cipta lagu. Jadi mahasiswa saya ajari cara membuat lagu, namun tanpa partitur, ya. Karena mereka bukan mahasiswa seni musik. Biasanya memang saya sudah membuat musiknya pakai kibor, lalu mereka  yang berkreasi membuat liriknya,” katanya sambil menjelaskan bahwa metode ini dapat membuang rasa jenuh mahasiswa yang melulu belajar teori.

Dari aktivitas cipta-mencipta lagu tersebut, Muhibbin dikenal sebagai salah satu dosen yang paling produktif dalam menghasilkan karya intelektual. Hingga kini, ia telah mengantongi sebanyak 47 Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Karya-karya ciptaannya didominasi oleh lagu-lagu bertema nasionalisme yang menggugah semangat kebangsaan. Bahkan ada pula tembang Jawa dan religi.

“Banyak ide lagu religi yang terinspirasi dari kenangan masa kecil saya, sementara tembang Jawa adalah hal yang nggak asing, mengingat saya kan wong Jowo, Mbak. Nah, kalau lagu-lagu nasionalisme itu muncul dari keseharian sebagai pendidik PPKn,” jelas Muhibbin.

Terkadang, ia menciptakan lagu-lagu bertema nasionalisme yang lahir dari keresahannya terhadap dinamika sosial yang memanas dan berkembang. Salah satunya, Indonesia Damai, sebuah lagu yang tercipta dari ketidaknyamanan Muhibbin terhadap penggunaan istilah "kampret" dan "cebong" yang sempat marak menjelang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2019. 

Bagi Muhibbin, istilah-istilah seperti itu acap kali digunakan untuk membelah masyarakat, menciptakan polarisasi yang mengancam persatuan dan perdamaian bangsa. Lewat lagu Indonesia Damai, ia ingin mengingatkan kita akan pentingnya nilai-nilai persatuan dan kebersamaan, yang menjadi pondasi bagi Indonesia yang lebih maju dan harmonis.

Katanya, “Sederhananya begini, musik bukan hanya hiburan. Musik bisa menjadi sarana untuk membentuk karakter dan menyampaikan pesan moral. Musik adalah bahasa universal yang menyatukan, mudah dicerna dan masuk ingatan. Maka lirik-lirik yang saya buat juga easy listening.” 

Sebagai seorang pendidik, Muhibbin tak pernah berhenti untuk menginspirasi. Lewat lagu-lagu ciptaannya, ia tak hanya mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya karakter, tetapi juga mengajak mereka untuk meresapi nilai-nilai luhur yang tertanam dalam budaya Indonesia. 

“Mengajari dan mendidik adalah bentuk ibadah yang saya lakukan kepada generasi penerus, supaya mereka tak kehilangan arah dalam mengenali, memahami, dan menjaga nilai-nilai yang mengikat kita sebagai bangsa,” tandasnya tegas.


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Lebih dekat dengan dosen

Penelitian

image-featured
17 Juli 2026

Dari kotoran domba, lahirlah pupuk organik kaya nutrisi untuk tumbuhan lewat bantuan “maggot”. Mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan “zero waste”.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
19 Juni 2026

Antibiotik termasuk obat keras yang seharusnya tidak diperjualbelikan bebas. Menyimpan sisa dan mengonsumsinya bisa memicu resistensi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.