Jelang siang di pertengahan September itu, kami mengadakan janji temu dengan Yayah Khisbiyah. Ia nampak anggun menawan. Mengenakan kemeja batik rapi yang dipadukan dengan hijab berwarna pastel, serta celana kulot panjang yang memudahkannya wira-wiri di tengah kesibukannya.
Kami dipersilakan memasuki ruang kerjanya di Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS), tempat Yayah menjalankan berbagai aktivitasnya seusai mengajar. Sekejap mata kami disergap hiasan-hiasan artistik, seperti wayang kulit hingga lukisan-lukisan bertema Pancasila. Seakan memberikan kami kisi-kisi tentang sosok Yayah yang ramah menyapa kami saat itu.
Sebagai dosen Psikologi UMS dan Direktur PSBPS, Yayah telah menapaki jalan panjang untuk memperjuangkan nilai-nilai inklusivitas, toleransi, keberagaman, dan perdamaian. Tak hanya melalui riset dan pengajaran, ia aktif mengembangkan pendidikan Pancasila menjadi perilaku konkret, di tengah kemunduran demokrasi dan berbagai pelanggaran terhadap asas Pancasila.
Yayah merupakan sosok yang menggawangi program "Pancasila sebagai Laku" dengan roadshow di 18 provinsi sejak 2019, mulai dari Sumatra hingga Papua dengan melibatkan total 74 perguruan tinggi di Indonesia.
“Program ini dibuat untuk memperkuat kesadaran tentang pentingnya Pancasila sebagai fondasi etika dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kami mengemas seminar hingga pelatihan intensif bagi mahasiswa dan dosen, agar Pancasila tak hanya menjadi mata kuliah formal, tetapi benar-benar membekas dan membentuk karakter,” jelas wanita kelahiran Cirebon itu.
Hasil riset menemukan bahwa Pendidikan Pancasila sebagai mata kuliah dasar umum (MKDU) dipandang membosankan dan tidak membekas di benak mahasiswa. Mereka menganggap Pancasila sekadar hafalan, yang begitu mudah dilupakan setelah mata kuliah itu rampung diajarkan.
“Banyak kasus ketidakteladanan di depan mata kita saat ini, termasuk di lingkungan kampus. Banyak mahasiswa melakukan plagiarisme, korupsi dan nepotisme semakin parah di pemerintahan, juga kasus pelecehan di sekolah X atau di pesantren Y. Artinya, masyarakat kita belum benar-benar mengejawantahkan Pancasila,” imbuh Yayah, terdengar kegetiran dalam ungkapannya.
Melahap Banyak Bacaan Bermutu
Dedikasi Yayah dalam membumikan Pancasila dan perdamaian nyatanya tak datang begitu saja. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melahap ratusan bacaan yang memperluas cakrawalanya tentang dunia dan kehidupan.
Ayahnya adalah seorang pebisnis pertanian yang sangat cinta membaca. Semasa Yayah kecil, ayahnya melanggan sejumlah media ternama, seperti Tempo, Intisari, Panji Masyarakat, Republika, Kompas, dan banyak lainnya.
“Ayah memang tidak sampai sekolah tinggi, tapi pikiran beliau sangat terbuka; tidak membedakan peluang pendidikan antara anak perempuan dan laki-laki. Siapa yang ingin sukses, didukung sampai kami bisa sekolah setinggi-tingginya. Beliau juga menyediakan majalah, buku, dan novel yang sesuai dengan usia kami, seperti Bobo, Kawanku, Lima Sekawan,” kenangnya.
Momen-momen baik tersebut begitu membekas di hati Yayah. Ia terus tumbuh dengan pemahaman bahwa dunia ini multikultural, penuh warna, dan bisa menjadi tempat yang damai jika kita mampu menciptakan harmoni di antara keberagaman.
Sejenak ia bercerita pada kami tentang salah satu bacaan yang sangat memengaruhi pemikirannya, novel Dan Damai di Bumi!, yang ia baca di bangku SMP.

Dra. Yayah Khisbiyah, M.A. Humas/Imam Safi'i
Novel karya Karl May itu bercerita tentang persahabatan antara figur suku Indian, kulit putih Eropa, dan Arab-Afrika yang tengah memperjuangkan keadilan dan menciptakan perdamaian di benua baru Amerika. Bagi Yayah, novel tersebut memberi imajinasi menggugah tentang sinergi antarperadaban yang melahirkan keadilan dan perdamaian jika dieksekusi dengan cara tepat.
Pengalaman membaca buku-buku seperti itu menjadi titik balik bagi Yayah, sekaligus menjadi alasan kuat baginya untuk menempuh jalur akademik yang dapat menjawab rasa penasarannya tentang hubungan antarmanusia dan kelompok dalam masyarakat.
“Apa yang membuat berbeda? Apa yang membuat terpecah? Apa yang membuat bersatu?,” pikir Yayah kala itu.
Tumbuh sebagai Aktivis Intelek
Memilih program studi Psikologi menjadi langkah alami Yayah untuk menjawab segudang rasa penasaran yang berkecamuk di kepalanya. Saat menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yayah mulai tertarik dengan Psikologi Sosial yang mempelajari hubungan antarmanusia dan kelompok di dalam lingkungannya. Ia merasa Psikologi Sosial bisa menjadi kunci untuk memahami bagaimana individu dibentuk masyarakat, serta bagaimana berbagai kelompok agama dan budaya dapat hidup harmonis di tengah keberagaman.
Perjalanan intelektual Yayah terus berkembang seiring waktu. Selama kuliah di UGM, ia tak hanya aktif dalam kegiatan akademis, tetapi juga menjadi aktivis dalam berbagai organisasi mahasiswa, seperti Senat Mahasiswa Fakultas, pers mahasiswa “Cendekia”, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Institut Dialog Antar-Iman, Teosofi, dan banyak lainnya.
Yayah muda pun sering menghadiri pengajian dan terlibat dalam lingkaran-lingkaran diskusi, seperti di Perpustakaan Hatta, Jama'ah Shalahuddin di Gelanggang Mahasiswa, Masjid Syuhada Kotabaru dengan narasumber tokoh-tokoh besar, seperti Umar Kayam, Arief Budiman, Emha Ainun Nabjib, Romo Mangunwijaya, Franz Magnis Suseno, Amien Rais, Ahmad Syafi’i Ma’arif, dan Kuntowijoyo.
“Saya seperti mendapat siraman rohani sekaligus asupan intelektual, karena narasumbernya adalah para cendekiawan terkemuka seperti Prof. Amien, Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif yang baru kembali dari Chicago, dan Prof. Kuntowijoyo seusai studinya di Columbia University," ujarnya antusias.
Ia mengaku pengalamannya mengikuti kajian-kajian semasa kuliah, seperti memberi peluang baru untuk terlibat dalam lingkaran intelektual yang lebih luas.
“Sebetulnya masuk Muhammadiyah itu tidak sengaja. Mengalir begitu saja setelah saya mengenal beberapa cendekiawan Muhammadiyah di UGM,” kenang wanita paruh baya yang kini menetap di Solo itu.
Sejenak pikiran Yayah melambung jauh saat Amien Rais, dosen FISIPOL UGM dan Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, pada 1988 mendirikan think tank cendekiawan muslim pertama di Yogyakarta bernama Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK). Melalui istrinya, Kusnasriyati Sri Rahayu, Amien meminta Yayah untuk menjadi sekretaris di lembaga yang baru didirikannya tersebut.
“Beliau menunjuk saya mungkin karena aktif mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis di kajian-kajian kampus. Selain itu, Bu Amien juga mengenal saya karena sering bantu beliau di Bidang Keputrian saat menjadi santri mukim program Iktikaf Ramadhan di Padepokan Budi Mulia Yayasan Shalahuddin, yang didirikan para cendekiawan Muhammadiyah,” ujarnya.
Menerjuni Studi Perdamaian dan Konflik
Selama berkiprah di PPSK, Yayah merasa mendapatkan kesempatan terbaik untuk mengenal bidang kajian strategis dan kebijakan yang berkaitan dengan isu-isu pembangunan nasional dan hubungan internasional. Pada periode yang sama, Yayah juga menjadi asisten peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) UGM membantu Prof. Masri Singarimbun, Prof. Sofian Effendi, dan Prof. Sjafri Sairin.
Yayah kemudian memenangi hibah riset internasional pertamanya dari The Ford Foundation melalui PPK UGM. Minatnya pada penelitian, pengajaran, dan publikasi ilmiah sebagai dosen ditumbuhkan oleh PPSK dan PPK UGM. Ia beranjak melamar beasiswa studi lanjut ke luar negeri atas saran para seniornya.
“Akhirnya saya kursus bahasa Inggris, hingga meraih TEOFL terbaik saat itu. Alhamdulillah, lolos dua beasiswa sekaligus: Fulbright untuk S2 bidang Psikologi, dan kuliah 1 semester di European Peace University di Wina-Austria dalam bidang Conflict Resolution and Peace Studies,” sambung Yayah.
Yayah sudah lama merasakan Psikologi tak cukup menjawab kompleksitas hubungan antarmanusia dalam konteks konflik dan perdamaian. Ia pun mulai memperluas wawasan diskursusnya ke studi-studi perdamaian dan pembangunan berkelanjutan.
Tamat dari European Peace University, Yayah melanjutkan studinya ke University of Massachusetts, USA untuk mendalami Psikologi Komunitas; studi Perdamaian dan Konflik di Uppsala University, Swedia; dan training 2 tahun di bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Pelestarian Lingkungan (LEAD) di Brazil, China, dan Rusia dengan beasiswa dari Rockefeller Foundation.

Secara kebetulan, pada acara resepsi Fulbright, Yayah dikenalkan kepada senior alumnus beasiswa Fulbright lulusan UCLA, Dr. Din Syamsudin. Kemudian, sekembalinya dari wisuda LEAD di Rusia, Yayah mengembangkan Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial di UMS, dengan gagasan-gagasan yang diterjemahkannya ke tingkat praksis dari inspirasi pemikiran tokoh-tokoh yang ia temui. Sejak saat itu, Yayah kerap diminta membantu PP Muhammadiyah dalam berbagai kegiatan yang relevan dengan minat dan keahliannya.
Tahun 2014, Yayah diminta Din Syamsuddin (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015) sebagai Direktur Program di Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), dan selanjutnya menjadi Direktur Eksekutif sampai 2017.
Selepas CDCC, ia diminta bergabung oleh Dr. Yudi Latif sebagai Tenaga Ahli Utama di Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), yang kini berganti menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Misi Menghidupkan Pancasila sebagai Laku
Pada suatu pagi sebelum pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, Yayah menerima telepon dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Mereka hendak berkunjung ke Solo, di kantornya: PSBPS UMS.
Alasan kedutaan besar tersebut menghubunginya adalah karena mereka menilai berbagai kegiatan PSBPS sangat menarik. Mereka kemudian bertanya apakah Yayah memiliki gagasan baru untuk direalisasikan.
“Mereka menawarkan dana dukungan dari USAID. Biasanya kalau mau membuat program besar, lembaga universitas yang mengirim proposal kepada donor. Puji syukur, saya malah ditawari. Mereka melakukan head hunting, mencari kami. Setelah berdiskusi, akhirnya kami ajukan program “Pancasila sebagai Laku” yang pernah saya rancang saat di BPIP, namun belum terealisasi,” kata direktur PSBPS UMS itu.
Program Pancasila sebagai Laku awalnya dilaksanakan di beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), dengan PSBPS UMS sebagai leading unit. Namun, pihak USAID menawarkan agar program tersebut bisa digencarkan di universitas lainnya.
“Setelah berkomunikasi dengan universitas lain, ternyata minat mereka terhadap program ini besar. Pada termin pertama, kami mengimplementasikannya di 11 universitas: 7 PTMA dan 4 universitas swasta dari wilayah Solo Raya. Di termin kedua, melibatkan 24 universitas, termasuk beberapa universitas negeri yang tertarik bekerja sama karena menilai program ini memiliki novelty dan kreatif-inovatif. Kini, setelah termin ketiga, kami sudah bermitra dengan 74 universitas: 18 PTMA, 37 universitas swasta non-Muhammadiyah, dan 19 PTN,” imbuh Yayah.

Potret Yayah (tengah) saat melakukan roadshow Pancasila sebagai Laku di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Papua Barat (27/6/2024). dok.istimewa
Bagi Yayah, Pancasila harus menjadi nilai hidup yang mengejawantah dalam setiap tindakan kita dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ia ibaratkan program tersebut sebagai respon terhadap kemunduran demokrasi yang terjadi saat ini.
Program Pancasila sebagai Laku telah memberikan dampak luas di berbagai penjuru nusantara. Roadshow tersebut telah terlaksana di tujuh hub wilayah strategis: Sumatra, DKI Jakarta dan sekitarnya, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat Daya.
Para dosen Pendidikan Pancasila di 74 mitra universitas telah dibekali modul ajar, Learning Management System (LMS), dan moodle yang dirancang untuk membantu mereka mengimplementasikan materi dan metode pembelajaran yang telah direvitalisasi oleh PSBPS UMS.
Yayah menegaskan hingga saat ini, praktik pendidikan Pancasila sebagai Laku masih berlangsung. Para alumni pelatihan masih terus memanfaatkan platforms tersebut sebagai alat bantu pengajaran. Mereka juga mendapat dukungan secara kelembagaan melalui asosiasi alumni.
"Tujuan akhir program ini jelas, kami menginginkan perubahan sosial positif yang mampu memperbaiki tata kelola negara menjadi amanah dan ke arah demokrasi Pancasila, melalui peran generasi muda khususnya mahasiswa. Lebih jauh, mendorong pembangunan bangsa yang damai, inklusif, berkeadilan, dan berkeadaban," harapnya.
Yayah sempat menyinggung perihal rencana kerja sama ke depan dengan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Diktiristek Kemendikbud dan BPIP terkait program Pancasila sebagai Laku. Pembicaraan tersebut sedang dikomunikasikan Yayah dan tim PSBPS melalui advokasi policy briefs dan jalur-jalur komunikasi lainnya.
Merawat yang Terdampak Konflik
Baru-baru ini, di tengah konflik yang masih mendera Palestina, Yayah yang mendapat amanat sebagai Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan program Palestine Peacebuilding Lab. Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas kaum muda termasuk perempuan dan penyandang disabilitas korban perang di Palestina, melalui lokakarya, dialog multikultural, dan simulasi penyelesaian konflik dengan metode nirkekerasan (aneka metode perlawanan yang tidak menggunakan kekerasan).
"Kami ingin meningkatkan kesadaran melalui media untuk memerangi ujaran kebencian, disinformasi, serta diskriminasi yang memicu eskalasi konflik," jelas pakar psikologi sosial UMS itu.
Pemulihan trauma perang menjadi salah satu pilar utama, di mana pendekatan psikoedukasi digunakan untuk memperkuat ketahanan psikososial para penyintas perang dan genosida. Tak hanya terbatas pada advokasi di lapangan, program Palestine Peacebuilding Lab turut memfasilitasi kampanye global dan kunjungan timbal balik antara PP Muhammadiyah dan mitra lembaga Palestina guna mempererat kolaborasi.
“Program berlangsung Juli hingga Desember 2024, lalu kita evaluasi efektivitas dan dampak kemaslahatannya,” jelas Yayah.
"Perjuangan membina perdamaian berasaskan keadilan sosial bukan tujuan akhir, melainkan proses yang harus terus-menerus dirawat melalui kerja sama multidisipliner dan lintas sektoral, baik di Tanah Air maupun di belahan dunia lain yang masih diliputi kenestapaan manusia akibat konflik kekerasan, kemiskinan, ketidakadilan. Tujuan akhir kita adalah tercapainya wellbeing atau kesejahteraan holistik bagi sesama insan ciptaan Allah SWT," tandasnya.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







