Kuliah di Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bukan berasal dari keinginan Eny Purwandari muda. Permintaan orang tuanyalah yang mendorong Eny kuliah di jurusan itu.
Eny masih mengingat betul dirinya sempat menangis seusai mendaftar kuliah. “Saya daftar itu nangis, loh. Daftar (kuliah) itu naik bus, saya nangis. Disuruh pergi sendiri nggak diantar (orang tua),” kenang Eny saat dijumpai di ruang kerjanya awal Desember lalu.
Tangisnya kala itu bukan tanpa alasan. Tumbuh sebagai murid berprestasi yang kerap mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya membuat Eny bertekad masuk kuliah di jurusan kedokteran. Namun, takdir tak seiya dengan keinginan itu. “Ketika tidak diterima (saat itu), saya (merasa) terpuruk,” imbuhnya.
Belum genap satu semester Eny berkuliah, terjadilah peristiwa yang mengubah cara pandangnya mengenai jurusan psikologi. Eny mendapat kabar bahwa temannya, sebut saja Mawar–bukan nama sebenarnya–tengah sakit dan kerap memanggil-manggil nama Eny. Orang tua Mawar pun bertandang ke rumah Eny di Sragen, Jawa Tengah.
Eny yang saat itu tengah kuliah di UMS baru mendapatkan kabar kunjungan orang tua Mawar sewaktu pulang ke Sragen. Ia pun kemudian beranjak membesuk Mawar. Eny kemudian tiba dan disambut oleh Mawar. Namun, selentingan dalam obrolan itu terdengar janggal bagi Eny. “Lihatlah, Rasulullah tengah bercakap dengan kita,” ucap Eny menirukan Mawar.
Kejadian itu membuat Eny terperanjat. Tak tahu apa yang terjadi sebab baru awal bulan masuk kuliah. Ia kemudian kembali ke UMS dan berkonsultasi dengan salah satu dosennya. Rupanya, apa yang dialami Mawar adalah skizofrenia.
Dia mulai memahami pentingnya ilmu psikologi bagi sesama. Eny kemudian aktif memberikan pendampingan sebagai seorang sahabat bagi Mawar dan keluarganya. Ia juga aktif memberikan konseling kepada orang tua Mawar dan mendorong untuk memeriksakan Mawar ke rumah sakit jiwa.
“Itu adalah titik balik saya. Akhirnya saya sekolah sungguh-sungguh sejak saat itu,” katanya mantap. Perlahan namun pasti, dukungan Eny sebagai seorang sahabat memulihkan kejiwaan Mawar.

Jejak Akademisi dan Organisasi
Perempuan kelahiran Sragen, 15 Juli 1975, ini sempat mendapatkan tawaran dari ayahnya untuk berkarier sebagai aparatur sipil negara di Departemen Sosial (kini Kementerian Sosial). Eny menolaknya dan memilih jalan hidupnya sendiri. “Saya cari sendiri,” tegasnya kepada sang Ayah kala itu.
Lulusan Psikologi UMS tahun 1998 ini kemudian melamar posisi dosen di dua universitas, yakni Universitas Islam Indonesia dan UMS. Takdir rupanya membukakan jalan Eny berkiprah sebagai dosen di UMS.
Keputusannya kala itu mendapat persetujuan dari ayahnya. “Memang bapak saya ini demokratis, meskipun ada satu sesi di mana harus otoriter,” kenangnya.
Di sela-sela rutinitas mengajarnya, perempuan yang telah dikaruniai tiga orang anak ini menyempatkan diri untuk melanjutkan studi jenjang magister dan doktoralnya di Psikologi Klinis Universitas Gadjah Mada.
Eny juga sempat menduduki jabatan strategis di Fakultas Psikologi UMS. Antara lain Kepala Laboratorium, Ketua Centre Islam and Indigenous Psychology, Chief Editor Jurnal Psikologi Indigenous, Ketua Program Studi Magister Psikologi, hingga Ketua Program Studi Doktor Psikologi.
Di ranah eksternal, Eny aktif sebagai konselor di Birrul Walidain Sragen dan tim psikologi Day Care Lansia dengan program Elderly School of 'Aisyiyah di Pimpinan Daerah Aisyiyah’ Kota Surakarta. Ia juga aktif sebagai anggota dewan pakar Komite Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen, hingga Dewan Riset Daerah Kabupaten Sragen.

Uluran Tangan Selamatkan Jiwa
Lika-liku kehidupan Eny tak sepenuhnya mulus. Kenyataan pahit justru datang semasa Eny menjadi dosen baru, kasus penyalahgunaan narkotika ibarat bom meletus yang membuat di lingkungan dekatnya porak poranda.
Namun, Eny tak mau menyerah. Kenyataan inilah yang menguatkan Eny. “Ada tanggung jawab bagi saya untuk menolong dan berbuat sesuatu, meskipun harus jatuh bangun,” jelasnya.
Sejak saat itu, perempuan yang dikaruniai tiga buah hati ini mantap menaruh perhatian pada riset tentang seluk beluk pecandu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Ia pun semakin optimis atas pilihannya itu manakala mengetahui banyak keluarga yang memiliki pengalaman serupa. Membantu pemulihan para pecandu adalah panggilan jiwa dan tanggung jawab moralnya.
Upaya mendampingi para pecandu narkoba jelas memiliki tantangan tersendiri. Eny pun melibatkan sejumlah dosen, mahasiswa, dan alumni sebagai tenaga profesional untuk ikut berkolaborasi dalam kegiatan tersebut. Ia dan timnya melakukan sejumlah taktik untuk menggali informasi mengenai pecandu dari pihak keluarga, maupun teman pelaku.
Menjadi orang yang diterima oleh para pecandu narkoba pun membutuhkan usaha lebih agar mereka berkenan mengungkapkan diri kepada Eny dan timnya. Khawatir dibui jelas menghantui para pecandu. “Di informed consent kami memang menuliskan hanya untuk kebutuhan riset,” ucap Eny.
Eny menemukan fakta bahwa orang tua pecandu tak tahu menahu mengenai kebiasaan anaknya mengonsumsi obat terlarang. Pun sekolahan tidak mengetahui keterlibatan muridnya dalam lingkaran narkoba.
Tantangan besar di hadapannya tak lantas memupuskan semangat Eny. Ia lalu memetakan kembali fokus riset dan pengabdiannya. Kali ini, ia memilih fokus pada langkah preventif untuk mencegah penggunaan narkoba dan langkah pascarehabilitasi bagi para pecandu agar tidak relapse (kambuh).
Eny aktif berkonsolidasi dengan Badan Narkotika Nasional dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk mengadakan program rehabilitasi. Ia juga aktif memberikan pendampingan kepada para narapidana narkoba di sejumlah lapas di wilayah Solo Raya.
Dosen berprestasi UMS tahun 2008 ini pun melihat narapidana kerap mengalami depresi menjelang bebas dari penjara. Faktor utamanya adalah kesepian dan penerimaan sosial setelah bebas dan persoalan ekonomi. Untuk itu, ia turut melibatkan keluarga napi untuk memberikan penguatan psikis. “Kebutuhan mereka itu kenyamanan keluarga,” katanya mantap.
Komitmen Eny dalam menolong para pecandu narkoba telah mendapat pengakuan hak atas kekayaan intelektual. Dua hak kekayaan intelektual itu berjudul “Instrumen Model Kontrol Sosial: Konsep Intervensi Kasus Penyalahgunaan NAPZA” dan “Keluarga: Lembaga Kontrol Sosial Dalam Sistem Ekologi Kasus Penyalahgunaan Napza”.
Ujian kehidupan dan dedikasi Eny telah mengantarkannya meraih gelar Guru Besar ke-60 UMS Bidang Psikologi Kesehatan Mentall pada Juni lalu. Eny berharap capaian ini dapat terus dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas. “Saya berharap gelar ini bisa membawa saya benar-benar siap masuk di kelas kehidupan, karena sebaik-baik orang adalah yang bisa memberi manfaat,” tutupnya.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







