Sejak ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada 2009, batik kian populer dan digemari masyarakat. Tak hanya menggaungkan penggunaan kain batik di dalam negeri, pemerintah juga membidik pangsa pasar batik hingga mancanegara.
Terbukti dalam Laporan Realisasi Ekspor Batik Indonesia yang dirilis Kementerian Perdagangan, total ekspor batik sepanjang Januari-November 2023 mencapai 21,66 ribu ton dengan nilai sebesar 590,91 juta dollar AS. Adapun negara tujuan ekspor batik adalah Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Australia, dan Belanda.
Sejak 2018, Amerika Serikat menjadi pangsa ekspor batik Indonesia dengan proporsi lebih dari 50 persen dibanding negara lain. Nilai ekspor batik ke Amerika Serikat pada 2023 mencapai 53,63 persen dari total ekspor batik Indonesia.
Nilai ekspor tersebut menunjukkan potensi ekspor batik sebagai salah satu penopang perekonomian Indonesia. Namun, upaya pemerintah menggenjot industri batik tidak dibarengi kesadaran pengusaha untuk menciptakan industri berkelanjutan.
Peneliti bidang keberlanjutan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Etika Muslimah, S.T., M.M., M.T., melihat industri batik yang didominasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), cenderung kurang peduli terhadap dampak lingkungan.
“Di satu sisi batik mendongkrak ekonomi negara. Di sisi lain limbah industri batik mencemari lingkungan. Ini yang harus diperbaiki,” ujar Etika di ruang kerjanya, Rabu (14/8/2024).

Peneliti bidang keberlanjutan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Etika Muslimah, S.T., M.M., M.T. Humas/Imam Safii
Industri batik masih melekat dengan proses produksi yang mengabaikan kondisi lingkungan sekitar, misalnya penggunaan pewarna sintetis, malam sekali pakai, pengunci warna, hingga pengelolaan limbah industri yang buruk.
Etika melanjutkan, “Karena komponen bahan kimianya cukup dominan, maka industri batik itu salah satu industri yang berpotensi mencemari lingkungan.”
Beberapa daerah yang melabeli diri sebagai sentra industri batik tidak lepas dengan permasalahan cemaran limbah industri batik. Mengutip Solopos, dua sungai di Solo, Jawa Tengah, yakni Sungai Premulung dan Jenes memiliki kandungan zat kimia dari limbah batik yang terlampau tinggi. Kondisi air di dua sungai tersebut bahkan tidak layak untuk pengairan pertanian maupun perikanan.
Di Pekalongan, Jawa Tengah, Tribun Jateng mewartakan pencemaran sungai akibat industri batik. Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan dalam surveinya menyebut ribuan industri batik di kota itu menghasilkan 5.190 meter kubik atau 5 juta liter lebih limbah setiap harinya. Tidak heran beberapa sungai di Pekalongan menjadi berwarna-warni akibat cemaran tersebut.
Limbah Pewarna Batik
Salah satu biang keladi pencemaran lingkungan dalam industri batik adalah pewarna sintetis. Etika mengatakan industri batik saat ini belum mampu melepas penggunaan pewarna sintetis yang berdampak buruk bagi lingkungan dan manusia.
Dalam riset yang dilakukan Etika, berjudul “Environmental Impact Analysis on Dyes in Handwritten Batik”, dua bahan pewarna sintetis yang jamak digunakan dalam industri batik adalah pewarna indigosol dan pewarna reaktif. Etika melakukan risetnya di salah satu UMKM batik tulis di Kendal, Jawa Tengah.
Mengutip Batikbumi.com, indigosol adalah zat warna yang larut dalam air. Untuk menghasilkan warna yang diinginkan, kain harus dioksidasi dengan memasukkan ke dalam larutan asam (HCl atau H2SO4).
Sedangkan pewarna reaktif adalah zat warna yang dapat menyatu dengan serat kain. Penggunaannya melalui pencelupan, coletan maupun kuas. Zat warna ini larut dalam air dan berwarna cerah dan tidak mudah luntur.
Etika memakai metode Life Cycle Assessment (LCA) untuk menguji data di lapangan. Metode ini menganalisis siklus hidup dan dampak lingkungan yang dihasilkan dari industri batik.
Ada tiga indikator pencemaran lingkungan yang dia gunakan, yaitu kesehatan manusia, kualitas ekosistem, dan sumber daya. Indikator dampak kesehatan manusia mencakup kandungan zat karsinogen, radiasi, hingga pernapasan anorganik dan organik.
Indikator kualitas ekosistem meliputi ekotoksisitas, eutrofikasi, dan penggunaan lahan. Sedangkan indikator sumber daya adalah kandungan mineral pada air dan penggunaan bahan bakar fosil.

Dia menggunakan perangkat lunak Simapro untuk menganalisis data yang ia peroleh. Hasilnya, pewarna indigosol lebih berbahaya dibanding pewarna reaktif. Dampak kesehatan indigosol mempunyai skor 0,000799, sedangkan pewarna reaktif mempunyai skor 0,000794.
“Pewarna ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Zat warna ini menyebabkan penyakit kulit dan dapat mengakibatkan kanker kulit, menurut beberapa sumber,” tulis Etika dalam jurnal risetnya.
Skor kualitas ekosistem indigosol adalah 288,254, sedangkan pewarna reaktif adalah 287,9871. Sementara itu, dampak sumber daya akibat indigosol memiliki skor sebesar 840,656, sedangkan skor pewarna reaktif sebesar 836,9056.
Peneliti Pusat Studi Logistik dan Industri UMS itu memandang temuan tersebut sebagai jalan untuk mengupayakan industri batik mengurangi penggunaan indigosol. Meskipun kedua jenis pewarna sintetis memiliki dampak negatif bagi lingkungan dan manusia, memilih pewarna dengan dampak yang minim adalah opsi yang bisa dilakukan pemilik industri batik.
Pewarna alami menjadi opsi yang harus digalakkan karena tidak mencemari lingkungan. Namun, pewarna alami memiliki kelemahan seperti harganya yang mahal dan masa produksinya yang lama.
“Rekomendasinya jelas pewarna alami itu lebih baik. Tapi kalau tidak bisa mengganti pewarna sintetis, maka bisa menggunakan pewarna reaktif yang dampaknya pada lingkungan lebih rendah dibanding pewarna indigosol,” ujar Doktor dari Universitas Brawijaya itu. Riset tersebut telah dipresentasikan dalam The International Conference on Emerging Smart Cities di Kuching, Malaysia, pada 2022.
Cegah Pencemaran
Etika tidak menampik jika Industri batik belum mampu meninggalkan pewarna sintetis. Namun, dirinya menekankan pentingnya memilih bahan pewarna yang mempunyai risiko lebih rendah terhadap lingkungan.
Selain mengupayakan pewarna alami, upaya mengurangi pencemaran lingkungan adalah dengan menggunakan kembali malam (lilin) daur ulang. Kain batik akan melalui proses perebusan untuk menghilangkan malamnya. Sisa malam yang mengendap dapat digunakan kembali dengan mencampur malam baru dengan perbandingan 1:1.
“Kalau menggunakan malam bekas dicampur malam baru, selain ramah lingkungan, maka akan menghemat penggunaan malam dan memangkas biaya produksi,” tutur dia.
Pengolahan limbah juga harus dimaksimalkan. Di beberapa sentra industri batik, instalasi pengolahan air limbah atau IPAL telah terpasang. Penggunaan IPAL bertujuan untuk mengurangi kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) dalam limbah industri batik. Sayangnya, penggunaan IPAL belum maksimal.
IPAL bekerja dengan menerima aliran air limbah dari industri batik. Air ditampung dalam kolam penampungan untuk dinetralisir kandungan COD dan BOD-nya. Setelah kandungan zat kimia dalam limbah lebih rendah, barulah limbah dialirkan ke sungai.
Saat Etika melakukan riset di Kendal, UMKM batik tersebut hanya menggunakan instalasi septic tank untuk membuang limbah produksi batik. “Industri kecil ini biasanya langsung ke sungai atau melalui septic tank karena tidak punya IPAL,” ungkap dia.
Tak jarang di beberapa lokasi, seperti Kampung Batik Laweyan misalnya, beberapa produsen batik langsung membuang limbah tanpa proses pengolahan meski sudah terbangun IPAL. “Beberapa UMKM tidak terhubung dengan IPAL. Juga terkendala karena biaya operasional IPAL. Harus berjalan setiap hari untuk mengolah limbah,” tambahnya.
Dirinya juga mendorong pemerintah untuk mendampingi para produsen batik untuk memprioritaskan industri berkelanjutan dengan menggunakan bahan baku yang lebih ramah lingkungan, hingga pengolahan limbah yang lebih masif lagi. Menciptakan industri hijau akan selaras dengan upaya menjaga wastra Nusantara.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







