Kasus bunuh diri pada remaja perlu diwaspadai. Pernyataan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dikutip, Kamis (16/1/2025), jumlah kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang 2012-2023 mencapai 2.112 kasus. 985 kasus di antaranya terjadi pada remaja atau sekitar 46,63 persen dari total kasus.
Jika dirunut ke belakang, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2017 menyebut 3,9 persen dari 8.899 remaja Indonesia pernah melakukan percobaan bunuh diri. Percobaan tersebut setidaknya dilakukan sekali selama 12 bulan terakhir saat survei tersebut dilakukan.
Lima tahun setelahnya, Kementerian Kesehatan RI menyebut Indonesia menduduki peringkat kelima di Asia Tenggara dengan 3,7 kematian per 100 ribu penduduk. Peringkat tertinggi dipegang Thailand dengan 12,9 kematian per 100 ribu penduduk.
Ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ayu Khoirotul Umaroh, S.K.M., M.K.M., menjelaskan perilaku bunuh diri tidak sebatas kasus kematian akibat bunuh diri.

Ahli kesehatan masyarakat dari UMS, Ayu Khoirotul Umaroh, S.K.M., M.K.M. Humas UMS/Imam Safii
“Bunuh diri itu ada tiga tingkatan,” ujar Ayu dalam wawancara virtual, Rabu (15/1/2025). Tahapan tersebut diawali dengan suicidal thought atau ide untuk bunuh diri, rencana melakukan bunuh diri, hingga melakukan tindakan bunuh diri.
Ayu pernah melakukan riset analisis pada data yang dikeluarkan Global School-based Health Survey (GSHS). Survei GSHS dilakukan pada 75 sekolah di Indonesia untuk memahami masalah kesehatan dan risiko perilaku di kalangan remaja.
Responden survei GSHS terfokus pada remaja yang pernah memiliki ide untuk membunuh diri dalam 12 bulan terakhir sebelum survei dilakukan. Beberapa indikator yang diduga menjadi faktor berpengaruh dengan hasrat bunuh diri adalah kelaparan, serangan fisik, adu fisik, perundungan, kesepian, kekhawatiran, ketiadaan teman dekat, masalah dengan orang lain, dukungan teman sebaya, dukungan orang tua, hingga perhatian orang tua.
Dalam riset bertajuk “Are Social Supports Associated With Suicidal Ideation Based on Gender Differences Among Adolescents in Indonesia?”, yang terbit di jurnal Q1 Scopus Psychology, Health, & Medicine dari Taylor & Francis Group, Ayu, bersama rekan penelitinya, Purwo Setiyo Nugroho, menemukan setidaknya terdapat dua faktor yang memengaruhi hasrat bunuh diri pada remaja, yakni dukungan teman sebaya atau peer support dan dukungan orang tua atau parental support.
Mengapa Remaja Laki-laki Lebih Rentan?
Ayu yang juga dosen Kesehatan Masyarakat UMS itu, kemudian membandingkan kondisi peer support dan parent support pada remaja perempuan dan remaja laki-laki. Rupanya, dua faktor tersebut memiliki hubungan dengan jenis kelamin remaja.
Penelitian sebelumnya menunjukkan hasrat bunuh diri cenderung muncul pada remaja perempuan. Hasil analisis yang Ayu lakukan justru menyebutkan remaja laki-laki cenderung rentan bunuh diri dibanding remaja perempuan. “Padahal kecurigaan awalnya ke perempuan, tapi hasilnya laki-laki,” jelas Ayu.
Analisis data yang dilakukan Ayu menunjukkan, remaja laki-laki 4,23 kali lebih rentan memiliki hasrat bunuh diri dibanding remaja perempuan jika tidak mendapat dukungan teman sebaya. 2,48 kali lebih rentan jika tidak mendapat dukungan orang tua, dan 3,27 kali lebih rentan jika tidak terbuka kepada orang tuanya.
Temuan itu membuat Ayu gusar. Ia pun menggali sejumlah riset mengenai kasus bunuh diri untuk menganalisis alasan mengapa remaja laki-laki cenderung rentan bunuh diri.
Ayu mencurigai perubahan hormon testosteron pada remaja laki-laki menjadi biang keladinya. Hormon testosteron merupakan hormon yang dapat memicu sifat-sifat androgen kelaki-lakian pada pria selama masa pubertas.
Dia membandingkan temuannya dengan riset yang dilakukan peneliti University of California Los Angeles, Tiffany Ho, pada 2022. Tiffany menyebut hormon testosteron boleh jadi memicu laki-laki untuk bunuh diri.
Dugaan ini diperkuat dengan riset peneliti Texas State University, Billy C. Roland, yang menemukan kandungan hormon testosteron lebih tinggi pada jasad pelaku bunuh diri dibanding jasad sebab lain. “Testosteron ini punya pengaruh yang kuat dari munculnya keinginan bunuh diri, sampai ke tindakan,” jelas Ayu.
Alasan kedua adalah maskulinitas tradisional yang masih berkembang di masyarakat. Prinsip tersebut memandang laki-laki harus selalu kuat, tegar, dan tidak boleh menampakkan kesedihan di muka umum. Ayu mengatakan, riset yang dilakukan Muhammad Fadhil Fikri Ramdani dari Universitas Negeri Surabaya menemukan Indonesia masih berkutat dengan maskulinitas tersebut.
Maskulinitas, terusnya, tidak sebatas menutupi kesedihan dari publik. Hal tersebut berimbas pada sirkel pertemanan remaja laki-laki yang relatif kecil. Sebabnya karena kedekatan emosional tidak terbangun dengan baik. Ini membuat remaja laki-laki yang mengalami masalah cenderung memendam perasaan. “Dipendam sendiri. Kayak nggak ada bestie-nya,” katanya.
Persoalan tersebut berkaitan dengan faktor dukungan teman sebaya yang berhubungan dengan hasrat bunuh diri. Kecenderungan untuk tidak bercerita, menahan diri, dan terlihat baik-baik saja justru menunjukkan lemahnya dukungan teman sebaya. Menurut Ayu, saat hal itu terjadi, laki-laki akan cenderung mencari jalan keluarnya sendiri.
“Jalan keluarnya ini kan ada yang baik dan buruk. Kalau buruk bisa jadi muncul suicide ideation,” lanjutnya.
Dirinya juga mendasarkan analisisnya dengan riset Sarah McKenzie dari University of Otago, yang menyebut perilaku orang tua yang menyepelekan emosi anak membuat anak tidak dapat mengungkapkan perasaannya. Upaya tersebut dilakukan lewat kata-kata, seperti “Lah, cuma kayak begitu, lho” atau “Jangan cengeng”. Alhasil, orang tua kurang memahami persoalan anak dan mementahkan begitu saja segala kegundahan anaknya.
Ayu memandang orang tua seharusnya mencari tahu alasan mengapa anak bersedih. Orang tua juga harus mengetahui bantuan atau dukungan seperti apa yang dibutuhkan anak. “Kalau parental support-nya tidak ada, remaja laki-laki ini harus cerita ke mana?” tegasnya.

Langkah Preventif
Menekan angka bunuh diri adalah keharusan. Angka 3,9 persen yang dikemukakan WHO tidak boleh dianggap sepele. “3,9 persen itu orang, lho,” ujar Ayu.
Ayu menekankan remaja perlu mengenal bagaimana cara memberi dukungan pada teman-temannya yang mengalami masalah. Memang, mengubah tabiat remaja perlu waktu. Para guru harus memperkenalkan peran peer support secara bertahap. “Harus membudayakan hal baik dahulu. Tidak langsung menuntut remaja lain untuk men-support remaja lain,” kata dia.
Para orang tua juga harus terbuka dengan perkembangan zaman dan harus mau belajar apa yang remaja butuhkan. Mereka harus bisa merespons dengan baik jika remaja mengalami masalah. Bukan memaksakan kehendak yang membuat remaja kehilangan jati diri dan arah.
Di sisi lain, orang tua juga harus memiliki rambu-rambu yang harus ditaati anak. Jika orang tua tidak memiliki kedekatan dengan anak, maka anak akan kesulitan mematuhi rambu-rambu yang telah diatur orang tua. Memahami pendekatan dengan anak adalah kunci keberhasilan orang tua.
Mengurangi stigma terhadap remaja laki-laki adalah langkah awal untuk melindungi keselamatan remaja laki-laki dari hasrat bunuh diri. Jika stigma tersebut terus berlanjut, bukan tidak mungkin jika hasrat bunuh diri pada remaja laki-laki akan tetap subur. “Ada satu kejadian bunuh diri itu sudah suatu kegawatan,” pungkas Ayu.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







