Sampah Plastik (Masih) Jadi Ancaman
Selayang Pandang Plastic Waste House
Uji Kualitas dan Kelayakan
Biaya Produksi dan Rencana ke Depan

“Plastik merupakan limbah yang sangat susah terurai. Inilah yang harus kita pikirkan bagaimana caranya agar sampah plastik itu tidak hanya sekedar dibuang tapi juga dimanfaatkan untuk hal yang lain,” kata Dhani Mutiari menegaskan kepada kami di suatu sesi diskusi.

Siang itu, Kamis (18/12), kami menjumpai Dosen Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Ir. Dhani Mutiari, M.T. Dhani adalah satu dari sekian peneliti UMS yang tergerak untuk meneliti daur ulang sampah plastik menjadi plastic waste house atau rumah sampah plastik. Ia menggawangi tim yang terdiri dari beberapa dosen, yaitu: Dr. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T., Yayi Arsandrie, S.T., M.T., Suharyani, S.T., M.T., Muhammad Ali Rofiq, M.T., dan Sa'idah Aliyatul Himmah, S.T.

Di salah satu sudut ruangan Program Studi Arsitektur, Bu Dhani, sapaan akrabnya, menjelaskan kepada kami hasil riset tentang plastic waste house, sebuah rumah yang menggunakan bahan daur ulang sampah plastik. 

Siapa sangka sampah plastik yang selama ini dibiarkan begitu saja, di tangan orang yang tepat, dapat didaur ulang menjadi sebuah rumah. Riset brilian ini menjadi secercah harapan bagi generasi mendatang untuk menuntaskan persoalan limbah plastik.

Humas/Imam Safii

Serangkaian uji kelayakan telah dilakukan oleh Dhani dan rekan-rekannya. Uji kelayakan ini berusaha menguraikan apakah rumah yang menggunakan bahan daur ulang plastik dapat dikatakan sebagai layak huni atau tidak. 

Temuan-temuan itu termaktub dalam jurnal pertama berjudul “Thermal Insulation of Alternative Bricks Material from Plastic Waste Mixtured with Sawdust and Rice Husk”. Dhani kemudian melanjutkan riset untuk menguji sisi akustiknya dengan judul “The Acoustic Comfort in the House Made of Plastic Waste” yang dipublikasikan ke dalam jurnal penelitian Civil Engineering and Architecture, terindeks Scopus Q2.

Sampah Plastik (Masih) Jadi Ancaman

Seiring berkembangnya zaman, produksi plastik yang kian ugal-ugalan terus menjadi ancaman. Terlebih bila melihat kenyataan plastik merupakan komponen yang sangat sulit terurai. 

Melansir Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu (07/07/2021), dalam postingan Instagram-nya, proses penguraian plastik memakan waktu yang sangat lama. Tergantung pada jenis plastiknya. 

Kantong plastik yang umumnya digunakan masyarakat, membutuhkan waktu 10 hingga 500 tahun untuk terurai. Sedotan plastik membutuhkan waktu sekitar 20 tahun. Botol plastik membutuhkan waktu hingga 450 tahun. 


Meskipun beberapa jenis plastik dapat terurai dalam waktu cepat, bahaya tidak lantas hilang begitu saja. Ada ancaman mikroplastik yang tidak kasat mata dan dapat mencemari lingkungan. 

Tak hanya itu, Indonesia juga dihadapkan dengan laju produksi sampah plastik yang terus meningkat tiap tahunnya. Kompas.com, Kamis (15/06/2023) mencatat sepanjang tahun 2022, Indonesia telah memproduksi sampah plastik sebesar 12,54 juta ton. Angka yang fantastis dan terus tumbuh secara eksponensial sejak 1995. 

Dengan segudang ancaman yang menghantui, sebagian besar masyarakat dunia mendorong pengurangan limbah plastik hingga memasifkan daur ulang sampah plastik. Hal itu lah yang dilakukan Dhani Mutiari beserta timnya, menciptakan inovasi pengolahan sampah plastik dengan membangun plastic waste house yang kokoh.

Selayang Pandang Plastic Waste House

Rumah Sampah Plastik merupakan sebuah bangunan green building atau bangunan hijau yang digagas Dhani Mutiari dan Tim Peneliti UMS. Menyadur dari Indonesia Environment & Energy Center, konsep green building adalah mendesain arsitektur rumah atau gedung dengan mengurangi efek negatif terhadap lingkungan dan manusia. Konsep mulia yang memanfaatkan kembali limbah plastik seolah menjadi asa bagi dunia yang kelimpungan menghadapi sampah plastik.

Dhani menuturkan, rumah sampah plastik yang ia bangun menggunakan batako daur ulang dengan komposisi dari sampah plastik dan serbuk kayu. 

Dia, dan tim yang ia bentuk, telah melakukan serangkaian uji coba, memadukan beberapa bahan seperti sekam padi, sampah plastik, dan serbuk kayu. Uji coba pertamanya menghasilkan 20 buah batako. 

“Penelitian yang pertama itu sama-sama mencari satu produk material yang menggunakan bahan alternatif, yaitu plastic waste atau limbah plastik. Kami menguji penggunaan serbuk kayu dan sekam padi. Hasilnya yang terbaik adalah serbuk kayu dan limbah plastik,” terusnya.

Setelah melewati masa trial and error, dirinya berhasil menemukan perpaduan yang pas antara serbuk kayu dan sampah plastik.

“Kami menggunakan rasio 30% limbah plastik dan 70% serbuk kayu. Pada penelitian berikutnya, campuran itulah yang dicetak dalam jumlah besar untuk digunakan sebagai bahan dinding rumah,” ungkapnya.



Batako limbah plastik yang dibuat oleh Dhani dan timnya. Humas/Imam Safii

Penggunaan sampah plastik dalam batako itu bukan tanpa alasan. Selain karena faktor lingkungan, Dhani mengatakan, penggunaan alternatif limbah plastik untuk batako dimaksudkan agar mengurangi pemakaian tanah liat. Ia khawatir penggunaan tanah liat yang berlebihan akan mengganggu kondisi lingkungan di sekitar tempat pengambilan tanah liat.

“Kebetulan dengan produk plastic waste itu, kami berusaha menghindari penggunaan tanah liat yang semakin besar. Tanah liat yang ada di pedesaan sekarang sudah sangat minim. Kalo itu terus menerus digunakan, maka akan semakin habis. Kita harus mencari bahan alternatif untuk produk dinding,” jelas anggota Pusat Studi Arsitektur Islam itu.

Setelah sukses dengan penelitian pertamanya, Dhani tidak berhenti begitu saja. Ia tergugah untuk bereksperimen lebih jauh bagaimana jika batako yang ia buat kemudian diproduksi berskala besar untuk menghasilkan suatu bangunan. 

“Hasil penelitian pertama kita ajukan ke penelitian lanjutan. Kami mencoba membuat rumah dari batako sampah plastik. Kami bekerja sama dengan pengrajin batako untuk membuat 700 batako yang kemudian kami susun menjadi bangunan,” sambung dia. 


Rumah sampah plastik yang dibangun Dhani telah berdiri kokoh. dok. pribadi/Dhani Mutiari

Selain menggandeng pengrajin batako, penelitian yang dilakukannya juga menggandeng pengepul sampah plastik dan pengrajin kayu untuk mencari bahan baku pembuatan batako sampah plastik. 

“Kami melakukan kerja sama dengan pengepul untuk mendapatkan material limbah plastik. Plastik yang kami gunakan sudah dihancurkan. Kemudian (plastik) itu dipakai sebagai campuran batako,” terang dia.

Uji Kualitas dan Kelayakan

Penggunaan batako dari sampah plastik sebagai bangunan perlu diuji kualitas maupun kelayakannya sebagai bahan bangunan. Dhani beserta timnya telah melakukan serangkaian uji itu. 

Dhani mengatakan, riset yang dilakukannya kali ini berusaha menguji sifat akustiknya yaitu tingkat kekedapan suara bangunan sampah plastik. Dari serangkaian uji yang telah dilakukan, terungkap fakta bangunan dengan batako berbahan limbah plastik dapat dikatakan layak huni.

“Bangunan ini rekomendasinya untuk rest area atau hunian yang noise-nya rendah. Bukan untuk bangunan teater yang noise-nya sangat besar,” ujar Dhani.

Karakter bangunan, lanjut dia, lebih banyak menyerap suara dari luar bangunan ke dalam bangunan. Hal ini membuat kondisi di dalam ruangan sedikit lebih hening bila dibanding bangunan berbahan batu bata konvensional.

“Suara yang ada di luar dengan sendirinya akan teredam ketika berada di dalam ruangan. Istilahnya sedikit lebih hening kalau dibandingkan dengan tidak menggunakan bahan itu,” sambung dia.

Dalam jurnal yang ia tulis, Dhani mengatakan, frekuensi tingkat tekanan suara atau sound pressure level (SPL) pada bangunan yang diujikan sebesar 52,7 desibel. Angka tersebut menunjukkan suara di dalam ruangan masih dalam batas wajar dan mudah didengar manusia. Pada dasarnya, manusia dapat mendengar suara dengan nyaman antara 40 hingga 60 desibel.

Meskipun demikian, ada beberapa catatan yang ditekankan oleh Dhani. Bahan batako limbah plastik mampu memberikan transmisi suara antara luar dan dalam sebesar 39 dB. Hal ini karena struktur batako yang berbahan plastik dan serbuk kayu tidak serapat batu bata tanah liat.

“Karena di situ ada serbuk kayu dan serpihan sampah plastik. Kalau dibandingkan tanah liat, batu bata tanah liat lebih berat dan mungkin lebih padat,” tegas dia.

Di samping catatan itu, Dhani juga menjelaskan salah satu keunggulan batako limbah plastik itu. Batako limbah plastik tidak memerlukan plester untuk finishing, sehingga nilai estetiknya lebih unggul bila dibandingkan batu bata konvensional.

“Kalau dinding hebel itu harus ada plester semen dan pasir, lalu ditambah cat. Kalau ini (batako limbah plastik) tidak perlu. Seperti bata ekspos kurang lebih,” jelasnya.

Biaya Produksi dan Rencana ke Depan

Batako limbah plastik bisa dikatakan ide cemerlang untuk mengatasi persoalan limbah plastik. Meskipun demikian, Dhani menegaskan perlu ada penelitian lanjutan terkait kekuatan dari batako berbahan limbah plastik itu. 

“Untuk kekuatan sampai saat ini belum ya, karena kami baru menguji dari sisi thermal pada riset pertama dan sisi akustik pada riset kali ini. Kalau uji kekuatan kan dari Teknik Sipil. Target berikutnya memang menguji itu (kekuatan bangunan). Kalau dilihat dari rumah yang kami bangun, sudah dua tahun dan masih bertahan,” tegas Dhani. 

Akan tetapi, saat disinggung mengenai biaya produksi batako limbah plastik, Dhani menggarisbawahi perlu ada evaluasi biaya produksi. Hal ini dikarenakan harga per pcs batako limbah plastik sedikit lebih mahal bila dibandingkan harga batu bata yang ada di pasaran.

Berdasar perhitungan yang dilakukan Dhani dan tim, harga batako limbah plastik berkisar di angka 8 ribu rupiah. Harga ini terbilang mahal jika dibandingkan batako hebel atau batu bata yang berkisar 2-4 ribu rupiah. 

“Kalau ini masih mahal ya secara ekonomis, karena kita waktu itu bukan mengambil plastik langsung dipakai tapi harus beli dulu. Bahkan untuk gergajen atau serbuk kayu kita kerja sama dengan pengrajin kayu dan ternyata kayu yang digunakan itu kayu jati jadi agak mahal,” kata Dhani.

Berkaca pada kenyataan biaya produksi yang terbilang tinggi, Dhani beserta timnya terus berbenah untuk mengurangi biaya produksi, sehingga harga satuan batako limbah plastik dapat dijangkau masyarakat. 

“Saya ingin menekan biaya produksi penelitian ini sehingga masyarakat juga punya banyak pilihan material bahan bangunan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Saya ingin menjalin kerja sama dengan industri. Dari situ diharapkan bisa memproduksi (batako limbah plastik) sendiri,” pungkasnya. 


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Lebih dekat dengan peneliti

Berita Unggulan

image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
11 April 2026

Kandungan gizi MPASI berkaitan dengan keputusan ibu. Pemberdayaan perempuan dan dukungan sosial menjadi kunci gizi buah hati terpenuhi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
6 Maret 2026

Penanganan bencana harus selaras dengan komunikasi bencana yang cepat, tepat, dan berempati pada korban. Mendukung pemulihan dan memberikan kepastian kepada masyarakat.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.