Wangi semerbak rempah menusuk hidung setiap pengunjung yang melewati lorong utara Pasar Gede, Surakarta, Jawa Tengah. Para pedagang berjejer di sisi kanan dan kiri lorong itu. Mereka menjajakan aneka empon-empon, mulai dari adas, jahe, kunyit, serai, kencur, secang, hingga kayu manis.
Empon-empon tersebut tersedia dalam bentuk curah maupun racikan. Salah satu pedagang empon-empon, Widarti (70), turut menjual berbagai jenis racikan rempah yang siap konsumsi. Mulai dari racikan wedang rempah teh jahe rosella, wedang uwuh, wedang jahe lemon, wedang telang, wedang diabetes, hingga wedang kelor.
“Kalau yang lagi viral dan banyak dibeli itu varian wedang uwuh,” tutur perempuan yang telah berjualan sejak 1975 itu, Kamis (12/9/2024) siang. Widarti juga menyetok berbagai jenis rempah-rempah baik lokal maupun impor. “Salah satu yang impor ini kapulaga Arab,” lanjutnya sambil menunjuk sebungkus biji-bijian berwarna putih keruh kehijauan.

Widarti (70) memegang salah satu dagangan yang banyak diburu wisatawan di Pasar Gede, Kamis (12/9/2024). Humas UMS/Gede Arga Adrian
Boleh dibilang, jenis empon-empon yang tersedia di Pasar Gede sangatlah lengkap. Ini terlihat dari tumpukan plastik besar berisi rempah yang menggunung di ujung lorong pasar. Kehadiran pasar rancangan arsitek Thomas Karsten di jantung Sala itu telah berperan penting bagi perdagangan rempah di Surakarta. Tak sedikit yang mengakui Pasar Gede sebagai surganya empon-empon.
Ahli ekologi tumbuhan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Santhyami, M.Si., mengatakan kehadiran empon-empon tidak lepas dari pengaruh akulturasi budaya sejak era kerajaan.

Dr. Santhyami, M.Si. Humas UMS/Imam Safii
Saat wilayah Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran masih berstatus Vorstenlanden atau negeri berkerajaan di Hindia Belanda, pedagang dari berbagai belahan dunia datang ke Surakarta. Mayoritas berasal dari Arab, Cina, dan India.
“Pasar Gede sebagai simpul dari jaringan dagang yang menghubungkan Jawa dengan dunia luar, membawa berbagai tanaman obat yang diintroduksi melalui Jalur Sutra Maritim," tutur perempuan yang akrab disapa Santhy itu, Senin (9/9/2024).
Empon-empon telah menyatu dengan gastronomi Kota Bengawan, khususnya dalam sajian minuman. Syahdan, warga lokal menjulukinya dengan sebutan “wedang” yang dijual di hik pinggir jalan hingga restoran bintang lima untuk menghangatkan badan.
Kultur kuliner tersebut tidak lepas dari kehadiran orang-orang peranakan Arab dan Cina yang bermukim di Surakarta. Santhy mengatakan ketika musim hujan tiba, para pedagang biasanya akan menetap di Surakarta selama 3-6 bulan. Tak jarang sebagian pedagang memutuskan untuk menikah dan berketurunan. Dari sanalah kaum peranakan berasal.
Mayoritas penduduk Surakarta merupakan etnis Jawa, dengan minoritas etnis Tionghoa, India, dan Arab yang cukup besar. Etnis Arab dan India bermukim di sekitar Pasar Kliwon sejak abad ke-19, sementara etnis Tionghoa bermukim di wilayah Kampung Balong di Kelurahan Sudiroprajan, Jebres, Surakarta.
Kebijakan pemisahan pemukiman berdasar etnis dan ras, kata santhy, tidak lepas dari kebijakan wijkenstelsel yang ditetapkan pemerintah kolonial Belanda. Kebijakan ini membatasi interaksi antara penduduk setempat dengan kaum peranakan.
“Tapi kehadiran pasar tradisional menjembatani berbagai kelompok etnis untuk berinteraksi dan membangun ikatan sosial yang substansial,” imbuh dosen Pendidikan Biologi UMS itu.
Evolusi yang cukup kompleks tersebut menyebabkan berbagai perubahan, salah satunya adalah transformasi ekologi melalui pengenalan dan budidaya spesies tanaman baru hingga pemanfaatan tanaman dalam etnobotani perkotaan.
Ragam Rempah di Pasar Besar
Warisan pemanfaatan tanaman herbal sebagai obat dari orang peranakan masih diteruskan hingga kini. Kini, penggunaan ramuan tradisional tersebut tidak terbatas pada sekat etnis dan ras. "Banyak orang mulai mengenal dan tertarik berkat interaksi yang terjadi di pasar," jelas peneliti Pusat Studi Lingkungan UMS itu.
Santhy memandang Pasar Gede memegang peranan penting dalam interaksi mengenai tanaman herbal. Dirinya melihat Pasar Gede berperan dalam perdagangan, empon-empon, pengenalan tanaman, budidaya, serta berbagi pengetahuan tentang khasiatnya.
"Saat saya mewawancarai seorang pedagang, ada pembeli yang mencari daun dewa. Karena pedagang tidak menjual dan kurang familiar dengan tanaman tersebut, ia bertanya kepada pembeli tentang manfaatnya. Setelah mendapat penjelasan, keesokan harinya ia langsung mendatangi pembudidaya dan mulai menyetok daun dewa di lapaknya," kenang Santhy.

Kehadiran tanaman-tanaman baru yang diperkenalkan lewat interaksi kecil antara penjual dan pembeli akhirnya memengaruhi keragaman spesies tanaman di Pasar Gede. Lewat riset yang dilakukan Santhy berjudul “Exploring Urban Ethnobotany: A Case Study of Medicinal Plants Traded in Gede Hardjonagoro Market, Surakarta, Indonesia”, dirinya berhasil memetakan ragam spesies tanaman obat di Pasar Gede.
Riset yang dipublikasikan ke dalam Tropical Journal of Natural Product Research itu menemukan sekitar 76 spesies tanaman dari 39 famili yang diperjualbelikan di Pasar Gede. Setiap spesies mempunyai khasiat menyembuhkan penyakit yang berbeda-beda, seperti diare, diabetes, batuk, flu, demam, hingga tekanan darah tinggi.
Beberapa jenis tanaman herbal untuk penyakit diare antara lain kayu manis, merica bolong, dan kunir putih. Tanaman herbal untuk penyakit diabetes yakni sambiloto, keji beling, dandang gendis, bawang dayak, dan mahoni. Sedangkan empon-empon yang dapat digunakan untuk penyakit batuk adalah temu kunci, kayu ules, dan kapulaga.
Adapun penyakit flu dapat menggunakan tanaman rasuk angin dan jahe. Empon-empon untuk penyakit demam yaitu lempuyang dan bangle. Sedangkan untuk tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat mengonsumsi rosella dan kumis kucing.
Santhy menghitung proporsi bagian tubuh tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat untuk obat herbal. Setidaknya terdapat tujuh jenis tanaman yang seluruh bagian organnya layak konsumsi sebagai obat, antara lain tapak liman (Elephantopus scaber) untuk hepatitis, tempuyung (Sonchus arvensis) untuk batu ginjal, daun dewa (Gynura pseudochina) untuk radang kelenjar susu atau mastitis, secang (Caesalpinia sappan) untuk gatal, pala (Myristica fragrans) dan merica bolong (Piper cubeba) untuk diare, dan temu giring (Curcuma heynaena) untuk cacingan.
Memang tidak semua organ tumbuhan herbal dimanfaatkan sepenuhnya. Daun menjadi bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan dengan proporsi sebesar 39 persen. Disusul tangkai tumbuhan sebesar 18 persen, rimpang sebesar 17 persen, buah sebesar 10 persen dan bunga sebesar 9 persen.
Dalam riset yang sama, Santhy juga meneliti asal usul 76 spesies tanaman di Pasar Gede. Sebanyak 50 spesies berasal dari wilayah Indomalaya, 9 spesies dari wilayah Paleartik, 8 spesies dari wilayah Neotropik, 5 spesies dari wilayah Afrotropik, dan 4 spesies dari wilayah Australasia.
Indomalaya membentang dari anak benua India, Asia Tenggara hingga Pulau Kalimantan dan Bali, Tiongkok Selatan, Taiwan, Filipina, hingga Kepulauan Ryukyu di Jepang. Dari 50 spesies yang berasal dari wilayah ini, sebanyak 21 spesies berasal dari semenanjung Indochina, 12 spesies berasal dari anak benua India, dan 9 spesies berasal dari paparan Sunda.

KIRI: Tumpukan empon-empon di Pasar Gede. KANAN: Aneka racikan rempah-rempah siap seduh yang banyak diburu wisatawan. Humas UMS/Gede Arga Adrian
Rantai Pasokan Rempah Lokal
Perempuan kelahiran Bukittinggi itu menyebut sebagian besar tanaman obat di Pasar Gede merupakan hasil budidaya masyarakat lokal yang berasal dari pegunungan Lawu, dataran Prambanan, dan ekosistem agroforestri Gunung Sewu.
Petani setempat membudidayakan tanaman obat dengan hati-hati agar tumbuh subur dan layak diperdagangkan di pasar. Namun, ada pula beberapa spesies tanaman obat yang didapatkan dari alam liar, seperti tanaman temu giring yang dipetik langsung dari pegunungan kemudian dijual di pasar.
Pedagang di Pasar Gede juga memperoleh dagangannya dari petani lokal di daerah lain di Jawa Tengah, seperti Purworejo, Karanganyar, Wonogiri, Pati, Boyolali, dan Sukoharjo. Sedangkan daerah di Jawa Timur yang memasok tanaman obat adalah Ngawi dan Magetan.
Sewaktu menelusuri jejak distribusi tanaman obat tersebut, Santhy menemukan korelasi dengan kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta di masa lalu. Mayoritas tanaman obat tersebut berasal dari bekas batas wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Jaringan perdagangan ini telah terbangun sejak masa lampau.
Di masa kejayaannya, Kasunanan Surakarta terbagi atas beberapa wilayah, antara lain Mancanegara, yakni perbatasan yang diperintah oleh bangsawan kecil; Negara, sebutan untuk wilayah tengah yang berada di bawah kekuasaan bangsawan rendahan; Negaragung atau Kadipaten sebagai daerah makmur yang diperintah oleh kerabat raja; dan Kutaraja, sebutan untuk ibu kota kerajaan yang dikendalikan raja.
“Daerah pasokan ini sesuai dengan batas-batas bekas Negaragung dan Negara, yang merupakan bagian dari Kasunanan Surakarta,” jelas dosen yang pernah mengampu mata kuliah Biogeografi di Fakultas Geografi UMS itu.
Pengaruh Kasunanan Surakarta turut membuat Pasar Gede kecipratan filosofi tata ruang perkotaan Jawa yang lazim disebut catur gatra tunggal. Sebuah konsep yang menyatukan empat elemen, yakni kekuasaan pemerintah, ruang interaksi antara rakyat dengan pemimpin, aspek religiusitas, dan perekonomian. Konsep itu masih bertahan hingga kini.
Seiring perkembangan kota, Pasar Gede tetap mempertahankan relevansinya sebagai sentra pengetahuan pengobatan tradisional. Para pedagang fitomedisin–sebutan untuk studi tentang botani dan penggunaan tanaman obat–yang kebanyakan adalah wanita berusia antara 37 hingga 62 tahun, memiliki andil menjaga warisan budaya. Tugas mereka memastikan pengetahuan tentang penggunaan obat-obatan herbal terus diwariskan ke generasi berikutnya.
“Mereka tak sekadar menjual. Pasti juga memberikan informasi tentang cara pengolahan dan dosis yang tepat untuk mengatasi penyakit atau keluhan si pembeli,” pungkas Santhy.
Penulis: Gede Arga Adrian, Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







