Pagi itu, udara Solo masih dingin ketika Dr. dr. Yusuf Alam Romadhon, M.Kes. membuka lembar demi lembar data responden penelitian dari rekam medis pasien Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso, Surakarta. Dari balik meja kerjanya di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), lelaki berkacamata itu menelusuri alamat-alamat pasien yang datang dari berbagai penjuru daerah.
Mata Yusuf terpaku pada satu pola yang menarik pikirnya: kota-kota yang tak jauh dengan bibir pantai. “Kok, banyak yang dari pantura (pantai utara), ya?” tanya dosen Kedokteran UMS ini, mengenang awal mula temuannya kala ditemui di Laboratorium Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran, Kampus 4 UMS, Selasa (3/6/2025). Pertanyaan sederhana itu menuntunnya pada riset panjang guna mengulik hubungan lingkungan tempat tinggal dengan risiko kanker tulang dan jaringan lunak yang mematikan.
Melansir Alodokter, kanker tulang adalah jenis kanker yang tumbuh di jaringan tulang. Jenis kanker ini bisa menyerang tulang mana pun di tubuh, namun umumnya muncul di bagian panggul, tungkai, atau lengan. Meski jarang, hanya sekitar satu persen dari total kasus kanker, penyakit ini bisa sangat berbahaya bila tak terdeteksi dini.

Dr. dr. Yusuf Alam Romadhon, M.Kes. Humas UMS/Gede Arga
Dalam dunia medis, sebagian besar tumor tulang tergolong jinak dan tidak menyebar. “Namun ketika bersifat ganas, sel kanker bisa menghancurkan struktur tulang dari dalam,” jelas Yusuf. Akibatnya, tulang menjadi rapuh, mudah patah, dan nyeri luar biasa bisa menyertai penderita dalam waktu lama.
Penyebab Kanker Tulang
Dalam risetnya yang bertajuk “Analyzing Socio-Environmental Determinants of Bone and Soft Tissue Cancer in Indonesia”, Yusuf menyebut, tinggal di radius 14 kilometer dari pantai bisa meningkatkan risiko terkena kanker tulang ganas hingga lima kali lipat dibandingkan yang tinggal lebih jauh. Terdengar ngeri, tapi perkataan Yusuf bukanlah omon-omon.
Temuan lain mengidentifikasi tubuh yang berusia di atas 40 tahun menjadi faktor kuat yang mendorong keganasan kanker. Risikonya bahkan juga mencapai lima kali lipat lebih tinggi dibanding mereka yang lebih muda.
Penyebabnya tak lepas dari proses biologis tubuh yang menua. “Memasuki usia 40 tahun ke atas, sistem imun mulai menurun. Kemampuan tubuh untuk mendeteksi dan merespons pertumbuhan sel-sel abnormal juga melemah,” kata Yusuf.
Tubuh yang menua juga lebih rentan menampung beban. Paparan logam berat, pestisida, dan polusi lingkungan yang terserap sejak lama, tak lagi bisa dinetralisir seefisien dulu.
Yusuf menjelaskan literatur medis mencatat hal serupa. Usia dewasa lanjut kerap jadi pemicu perubahan tumor jinak menjadi ganas. “Mungkin sejak muda tubuh sudah terpapar, tapi saat itu masih kuat. Begitu tua, pertahanannya runtuh perlahan,” ujar Yusuf.
Penelitian Yusuf memanfaatkan data rekam medis dari 160 pasien di Rumah Sakit Ortopedi Soeharso, Surakarta periode 2019–2020, rumah sakit rujukan nasional untuk kanker tulang. “Saya memang tidak berhadapan langsung dengan pasien karena saya lebih mencari korelasi antara penyakit ini dan lingkungan tempat tinggal mereka. dr. Yuni Prastyo Kurniati, istri saya yang ahli patologi anatomi, yang bertemu langsung dengan pasien,” ujar dokter asal Gonilan, Kartasura itu.
Pasien datang dari berbagai penjuru daerah. Mereka membawa benjolan di kaki, tangan, atau pinggang yang sering terlambat diketahui karena disangka hanya benjolan biasa.
“Ada yang sudah tidak bisa berjalan, ada yang tangannya membengkak seperti balon, bahkan ada yang datang dengan tumor di kepala sebesar konde nikahan,” ucap dia, menceritakan apa yang dilihat istrinya.
Dari sanalah Yusuf dan timnya mengumpulkan 160 kasus dalam rentang waktu 2019 hingga 2020. Mereka memilah satu per satu data rekam medis pasien, mana yang jinak, mana yang ganas.
“Dengan bantuan Pak Jumadi, kami mulai menandai usia, alamat, dan mencocokkannya dengan peta di Google Earth,” katanya.
Bersama koleganya, Jumadi, S.Si., M.Sc, Ph.D. dari Fakultas Geografi UMS, ia mulai menandai lokasi tempat tinggal pasien. Menggunakan Google Earth, ia mengukur jarak rumah pasien ke pantai, mencocokkannya dengan data kependudukan dan kepadatan penduduk. Hasilnya konsisten, pasien yang tinggal dalam radius 14 kilometer dari pantai lebih banyak mengidap tumor ganas.

Pola Wilayah Berisiko
Yusuf menduga, penyebabnya bukan semata soal laut. Kawasan pesisir yang dianalisisnya cenderung memiliki tiga kesamaan. Memiliki lahan persawahan, permukiman padat, dan kawasan industri.
“Kalau lihat lewat Google Earth, kita bisa tahu. Ada sawah yang berdampingan dengan pabrik tekstil, limbahnya masuk sungai, lalu bermuara ke laut. Di sepanjang aliran itu, bisa jadi warga mengonsumsi ikan, menggunakan air tanah, bahkan menanam sayur,” ujarnya.
Studi dari teknik lingkungan mendukung temuan Yusuf. Beberapa penelitian menunjukkan adanya jejak logam berat dalam ikan hingga pestisida pada tanaman sayur. “Kadarnya memang di bawah batas aman WHO, tapi kalau dikonsumsi setiap hari selama bertahun-tahun, efek akumulasinya berbahaya,” sambung dia.
Tak cuma itu, dosen kedokteran keluarga UMS itu pun menjelaskan bagaimana pestisida bisa menjadi penyebab kanker payudara. Beberapa senyawa pestisida diketahui bersifat karsinogenik dan dapat mengganggu sistem endokrin.
Jejak pestisida pernah ditemukan Yusuf di sungai di area pertanian, sayur mayur yang dijual di pasar, bahkan pada air tanah di sekitar TPA (tempat pembuangan akhir) bisa terkontaminasi hingga radius satu kilometer. “Masalahnya, masyarakat tidak sadar. Mereka pikir selama ini makan ikan itu sehat. Padahal, jika dari laut yang tercemar, itu lain cerita,” kata dia miris.
Kesadaran yang Perlu Dibangun
Kini, Yusuf tengah mengembangkan riset lanjutan berbasis sistem informasi puskesmas untuk melihat distribusi penyakit secara lebih luas. Ia membayangkan penggunaan akal imitasi (AI) untuk membuat prediksi wilayah risiko kanker.
“Kalau ada satu pabrik baru di wilayah A, AI bisa menghitung kenaikan risiko kanker di sekitarnya. Ini bisa jadi dasar pengaturan zonasi dan pembangunan industri yang lebih berkelanjutan,” katanya antusias.
Bagi akademisi yang aktif meneliti isu urban health ini, kanker bukan semata urusan medis, tetapi juga persoalan arah pembangunan. Pun tidak semua orang siap menerima kenyataan bahwa tempat tinggal mereka mungkin ikut bertanggung jawab atas sakit yang mereka derita.
“Sebagian besar orang mungkin tidak akan kena kanker, tapi sebagian kecil yang kena, hidupnya bisa hancur. Kalau bisa dicegah dari awal, kenapa tidak?” tutupnya.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







