Pentingnya Sirkulasi Udara
Iklim Telah Berubah

Rumah berlanggam indische atau indis di sudut Jalan Sayangan Kulon, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, itu tengah bersiap menyambut pengunjung. Dua orang pria tengah membuka gerbang rumah tersebut. Dari muka gerbang tertulis Batik Mahkota Laweyan.

Jalan menuju rumah tersebut terbilang sempit. Hanya muat satu mobil yang mepet dengan tembok di kanan dan kirinya. Jalan beralaskan bata beton itu lazimnya dilalui pejalan kaki, pesepeda, maupun pengendara sepeda motor.

Jalanan sempit itu tidak meninggalkan sentuhan alam. Ini terlihat dari tanaman merambat yang tumbuh di sisi atas Jalan Sayangan Kulon, mengular dari gerbang rumah ke arah barat. Fungsinya menjadi peneduh bagi tetamu rumah.

Tak lama berselang, dosen Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T., muncul dari kejauhan. Senyumnya merekah saat menyambut kami. Nur Rahma kemudian memperkenalkan kami kepada pemilik rumah kuno tersebut. 


Dr. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T. Humas UMS/Imam Safii

Asri, sejuk, rindang. Itulah tiga kata yang terlintas di pikiran kami ketika memasuki pekarangan rumah. Aneka tanaman rambat menghiasi dinding halaman rumah. Mulai dari tanaman sirih belanda, bunga telang, hingga bunga pisang-pisangan. Beranda rumah nampak teduh dan menambah kesan adem. Deretan baju batik berjejer memunggungi jendela.

Di tengah kelindan hijaunya tanaman, kami mulai membicarakan seputar langgam arsitektur rumah kuno bergaya indis. Bangunan indis memadukan gaya bangunan antara Eropa, Jawa, dan beberapa unsur bergaya India. Gaya indis berkembang di Hindia Belanda sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. 

Jumlah bangunan bergaya indis di Kampung Batik Laweyan terbilang banyak. Ciri khas bangunan bergaya indis terlihat dari struktur dinding rumah yang tebal, lantai teraso, ventilasi lebar, hingga struktur atap yang tinggi. 

Kami tiba di salah satu sudut rumah yang biasa digunakan untuk mewarnai kain batik. Pencahayaan ruangan itu dibantu oleh lampu dan atap berbahan kaca sebagai jalan masuk cahaya matahari. 

Kami pun berjalan menyusuri lorong kecil menuju area galeri batik Al-Qur’an. Konstruksi usuk, reng, dan genting langsung terlihat saat kami memasuki ruang galeri. Di dalam galeri yang beratap joglo itu, terdapat selembar kain raksasa setinggi kurang lebih empat meter dan terikat pada dua tiang berbahan kayu jati. Kain tersebut bertuliskan surah Al-Fatihah dibuat dengan teknik membatik. Di sekeliling tembok terdapat kain berukuran lebih kecil dengan dengan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya. 


Pemilik Batik Mahkota Laweyan, Ir. Alpha Febela Priyatmono, S.T., M.T. Humas UMS/Imam Safii

Saat kami tengah asyik berbincang, muncullah pria paruh baya berkemeja batik berwarna hitam. Ia adalah Ir. Alpha Febela Priyatmono, S.T., M.T., dosen Arsitektur UMS sekaligus pemilik rumah dan Batik Mahkota Laweyan. 

Dahulu, rumah yang ditempati Alpha belum berwujud bangunan tembok. “Masih bangunan kayu,” tutur Alpha, Senin (30/9/2024). Memasuki dekade 50-an, barulah rumah bergaya indis tersebut mulai dibangun. 

Pentingnya Sirkulasi Udara

Tak nampak pendingin ruangan atau AC di beberapa ruangan yang kami kunjungi. Halaman rumah yang ditanami vegetasi pun terbilang tidak luas. Sebagian besar lahan digunakan untuk bangunan yang memberi kesan padat. Sebab rumah tersebut tergolong multiguna, mulai dari hunian, galeri baju batik, dan tempat produksi batik. Tidak heran rumah tersebut ramai orang berlalu lalang, mulai dari pegawai gerai batik, hingga wisatawan lokal dan mancanegara. 

Kendati demikian, sepanjang kami berkeliling rumah tersebut, suasana rumah relatif teduh dan sejuk. Apa yang kami rasakan juga dialami Nur Rahma beberapa waktu silam. “Rumah dengan kondisi sepadat ini bagaimana sirkulasi udaranya?” gumam Nur Rahma kala itu. Tak sebatas penasaran, ia lantas meriset kondisi bangunan tersebut.

Nur Rahma meneliti tingkat kenyamanan termal di rumah itu pada November 2023. Dalam wawancara pada Jumat (27/9/2024), dia mengatakan ada tiga indikator yang diukur, yakni suhu, kelembapan, dan kecepatan angin. Ketiga faktor diukur sebanyak empat kali, yaitu pagi, siang, sore, dan malam selama seminggu. 

Hasilnya, ketika suhu di luar ruangan mencapai 35 derajat Celsius, suhu di dalam ruangan berkisar antara 30 derajat Celsius. Masih terbilang cukup nyaman. Khusus di area kolam, suhu sedikit lebih rendah sebesar 29,4 derajat Celsius. 

Nur Rahma mengatakan suhu yang tinggi tidak menjadi masalah selama ada pergerakan udara. “Ada lubang di atas atap dan di atas plafon yang akan membuat udara mengalir lancar,” ujar dia. 

Kecepatan angin di dalam rumah berkisar antara 0,0 hingga 0,8 meter per detik. Mengacu pada standar SNI 03-6572-2001, kecepatan tersebut tergolong nyaman dalam taraf standar. Tingkat kelembapan udara pun hanya sebesar 60 persen.

Ada beberapa faktor yang membuat rumah bergaya indis tetap nyaman dihuni. Pertama, penempatan plafon bagian tengah dengan yang 20 sentimeter lebih tinggi dari sekelilingnya pada bagian tengah memungkinkan udara panas dan uap air berkumpul di area tersebut. Udara panas lalu bergerak keluar melalui celah-celah genting pada atap, sehingga udara di dalam ruangan tetap sejuk dan tidak lembap.


Posisi gerbang rumah tersebut berada di ujung jalan yang membuat angin bergerak masuk mengikuti arah jalan. Angin dari gerbang kemudian masuk ke setiap sudut rumah. Memang, saat kami berdiri di area gerbang, hembusan angin sangat terasa.  

Sebagian besar rumah di Laweyan memiliki connecting door yang menghubungkan setiap rumah di Kampung Batik Laweyan. Pintu penghubung ini juga berfungsi sebagai ventilasi untuk sirkulasi udara. 

Meskipun belum melakukan penelitian lebih lanjut, Nur Rahma menduga struktur bangunan memegang peranan penting dalam kenyamanan termal rumah indis. Lazimnya, rumah bergaya indis memiliki dinding tebal dengan atap limasan. 

Dinding tebal membuat rumah kuno mampu menyimpan panas. Perpindahan panas dari luar ke dalam membutuhkan waktu sekitar tujuh sampai delapan jam. Waktu pagi hingga siang, suhu di dalam rumah tetap dingin meski di luar terasa panas. Menjelang sore, barulah suhu di dalam rumah menjadi hangat. “Bergantian terus udaranya,” sambung dia.

Modifikasi juga dilakukan Alpha–sang pemilik rumah, dengan menambahkan vegetasi tumbuhan rambat dan kolam ikan di tengah rumah. Tanaman rambat mengular dari jalan di depan gerbang, hingga dinding halaman rumah. Motivasinya sederhana. Setiap satu lembar daun memproduksi oksigen gratis bagi kelangsungan hidup manusia. 

Oksigen dari tanaman mampu menurunkan suhu di sekitar rumah. Ini terlihat dari suhu di area kolam sebesar 29,4 derajat Celsius. Ketika suhu di pekarangan rumah lebih sejuk, udara akan bergerak ke dalam ruangan dan mendorong hawa panas menuju atap.

Riset berjudul “Thermal Comfort Resilience in Traditional Architecture Housing in Kampong Laweyan Surakarta” berhasil ia presentasikan dalam The 10th International Conference on Engineering, Technology, and Industrial Application (ICETIA 2023) dan terbit dalam Jurnal E3S Web of Conferences.


KIRI: Connecting door yang menghubungkan rumah pemilik dengan bangunan milik tetangga. TENGAH: Beranda rumah memanjang. KANAN: Taman di pekarangan rumah sebagai sumber oksigen. Humas UMS/Gede Arga Adrian

Iklim Telah Berubah

Peningkatan temperatur bumi akibat perubahan iklim kian terasa. Perubahan iklim juga mendorong pergeseran musim. Imbasnya, musim hujan terasa lebih singkat dibanding musim kemarau. Tidak heran jika efek perubahan iklim menjalar hingga ke dalam rumah. 

Riset yang dilakukan Nur Rahma membuktikan bahwa rumah kuno lebih kebal perubahan iklim. “Perubahan iklim yang begitu signifikan tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kenyaman di rumah-rumah di Kampung Batik Laweyan,” jelasnya.

Bangunan bergaya indis merupakan salah satu gaya arsitektur yang cocok diterapkan di Indonesia. Desain bangunan indis sangat memperhatikan berbagai aspek, mulai dari iklim tropis, hingga kultur masyarakat Indonesia. Ini terlihat atap yang tinggi untuk menjaga suhu rumah tetap sejuk di cuaca terik siang hari. 

Sayangnya, keberadaan bangunan bergaya indis maupun gaya arsitektur lainnya kian tergerus. Nur Rahma menyayangkan peran arsitek yang cenderung mengikuti selera pasar. “Seharusnya arsitek berperan mengedukasi masyarakat tentang local wisdom,” tegas dia.

Di sisi lain, pemilik rumah kuno juga menghadapi sejumlah tantangan. Alpha Febela membeberkan pemilik bangunan kuno harus berpikir dua kali saat hendak merenovasi rumah. Sebab, mayoritas rumah tua di kawasan Laweyan telah masuk ke dalam bangunan cagar budaya atau BCB. Tidak boleh asal mengutak-atik bangunan.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya memperbolehkan melakukan pemugaran BCB dengan memperhatikan keaslian bahan, bentuk, tata letak, gaya, dan teknologi pengerjaan. Kondisi BCB pasca pemugaran harus seperti semula dengan tingkat perubahan sekecil mungkin. Teknik, metode, dan bahan yang digunakan pun tidak boleh bersifat merusak. 

“Sebenarnya kawasan ini (Laweyan) sudah masuk ke dalam cagar budaya. Makanya nggak bisa seenaknya bongkar-bongkar,” katanya. 


PenulisGede Arga Adrian, Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Desainer: Salsabila Kamila Wardah

Baca jurnal penelitian
Lebih dekat dengan peneliti

Teropong Jagat

image-featured
8 Juni 2026

Keberadaan kaum homoseksual di ruang publik menimbulkan keresahan masyarakat. Menambah risiko penyakit menular, termasuk HIV dan berbagai infeksi menular seksual lainnya.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
3 Juni 2026

Mikroplastik ditemukan di berbagai bentuk ekosistem di sekitar kita. Mulai dari tanah, tubuh organisme, hingga air hujan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
21 Mei 2026

Nilai tukar rupiah terus anjlok dan berada pada level terendah. Benarkah masyarakat desa luput dari terpaan efek dominonya?

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.