Apa itu HIV?
Dinamika Psikologis PLHIV
Dukungan Sosial Lewat Komunitas

Setiap manusia menjalani kehidupan dengan tantangan yang berbeda-beda. Ada yang terlahir dengan kondisi fisik prima, menjalani hari-hari tanpa hambatan berarti. Namun, ada pula yang harus berjuang menghadapi ujian berat, entah dalam bentuk penyakit, keterbatasan fisik, stigma sosial, atau bahkan ketiganya sekaligus.

Di antara kelompok yang menghadapi tekanan luar biasa ini ialah mereka yang hidup dengan HIV (People Living with HIV/PLHIV). Selain harus bergantung pada pengobatan seumur hidup, mereka juga harus menyiapkan diri menghadapi diskriminasi yang kerap datang dari masyarakat, teman, bahkan keluarga sendiri.

Apa itu HIV?

Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel CD4 (jenis sel darah putih) yang berperan melawan infeksi. Tanpa pengobatan, HIV akan melemahkan sistem imun atau kekebalan tubuh secara perlahan dan berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). 

Penularan HIV sendiri beragam. Semua orang dapat terinfeksi HIV, termasuk bayi yang baru lahir sekali pun. Sebab HIV dapat ditularkan lewat hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi, penggunaan jarum suntik yang tak steril, transfusi darah yang terkontaminasi HIV, hingga penularan dari ibu ke bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.

Dilansir laporan DataIndonesia.id, Kementerian Kesehatan mencatat 57.299 kasus HIV positif di Indonesia sepanjang tahun 2023. Jumlah tersebut meningkat 8,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 52.955 kasus.

Di Indonesia, stigma terhadap HIV masih begitu kuat melekat. Banyak penderita yang dipandang sebagai musuh, seolah-olah mereka bukan lagi manusia yang patut dihargai.

Merujuk pewartaan Kompas, jenazah perempuan berinisial ES dengan HIV-AIDS sempat terbengkalai selama beberapa jam, lantaran warga setempat menolak untuk memandikan dan mengafani jenazahnya. Akhirnya proses pemulasaraan jenazah dilakukan oleh relawan pendamping ODHA (orang dengan HIV/AIDS) pada Rabu (29/1/2024).

Kasus pelik lainnya pun terjadi di Jawa Timur. Dilansir dari laman Komisi Perlindungan Anak Indonesia, banyak orang tua memutuskan untuk menyembunyikan status HIV dari anaknya, mereka bahkan tak memberikan edukasi mengenai virus HIV kepada anak. Hal tersebut disampaikan oleh Koordinator Program HIV Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Eka Putri yang dikutip pada Rabu (29/1/2024). Diketahui pemicunya ialah adanya stigma yang anak dapatkan ketika positif HIV, seperti penolakan atau diskriminasi saat di sekolah.

Reaksi masyarakat acap kali tak rasional. Alih-alih memberi dukungan, yang terjadi justru penolakan dan penghakiman. Perlakuan diskriminatif serta perkataan yang menyakitkan menjadi santapan sehari-hari bagi PLHIV, yang tanpa kita sadari malah membuat mereka semakin terkucil dan terperangkap dalam kecemasan, hingga kehilangan harapan akan masa depan.

Dinamika Psikologis PLHIV

Di tengah berbagai tekanan yang dihadapi PLHIV, Dr. Eny Purwandari, S.Psi., M.Si., praktisi psikologi klinis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), bersama mahasiswa Magister Psikologi, Diajeng Laily Hidayati, tergerak melakukan riset mengenai kesejahteraan psikologis mereka. Niat itu muncul karena keprihatinan Eny terhadap kelompok yang tertular HIV bukan karena perilaku berisiko mereka sendiri. Banyak perempuan yang tertular dari pasangan mereka tanpa mengetahui bahwa suaminya adalah pengguna narkoba suntik atau memiliki kebiasaan berisiko lainnya.

Dari Diajeng, Eny kemudian bertemu Komunitas Mahakam Plus. Mahakam Plus merupakan lembaga nonprofit yang bergerak di bidang peer support and human right untuk orang dengan HIV/AIDS. Ia memutuskan untuk meneliti PLHIV yang berpayung di bawah Mahakam Plus.

Menurut Kepala Program Studi Doktoral Psikologi UMS itu, banyak PLHIV mengalami depresi, kecemasan, dan kehilangan harga diri akibat stigma yang mereka hadapi. Namun, dalam penelitian yang ia lakukan, ditemukan bahwa dengan kecerdasan emosional yang baik, dukungan sosial yang kuat, dan rasa syukur yang mendalam, para penderita dapat membangun kembali ketahanan mental mereka dan menjalani hidup lebih baik.


Dr. Eny Purwandari, S.Psi., M.Si. Humas UMS/Luqman Hakim

Risetnya yang bertajuk “Gratitude as a Mediator of the Relationship Between Emotional Intelligence and Social Support on Psychological Well-Being Among People Living with Human Immunodeficiency Virus (HIV)” bukanlah tanpa tantangan. Eny, Diajeng, dan dua peneliti lainnya, Miftahur Ridho dan Nuril Hidayanti membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk mendapatkan kepercayaan dari para responden.

PLHIV memang kelompok yang sensitif dan kerap mengalami trauma akibat stigma serta diskriminasi yang mereka hadapi. “Tidak mudah bagi mereka untuk terbuka, apalagi berbagi pengalaman pribadi kepada orang luar,” jelas Eny kala ditemui di ruang kerjanya, Rabu (19/2/2025) pagi.

Selain harus menghadapi kenyataan bahwa mereka kini hidup dengan HIV, mereka juga harus menanggung stigma dan penghakiman dari lingkungan sekitar. “Mereka yang tidak tahu apa-apa ini malah harus berhadapan dengan penyakit, kehilangan dukungan sosial, dan menghadapi stigma yang membuat mereka merasa terasing. Ini kan tidak adil sekali rasanya,” lanjutnya.

Dari sana, Eny menemukan pola yang menarik. Ada tiga elemen utama yang berperan besar dalam kesejahteraan psikologis PLHIV.

Pertama, kecerdasan emosional. Mereka yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi cenderung lebih mampu mengelola stres dan mengatur emosi mereka ketika menghadapi tantangan dalam hidup.

Kedua, dukungan sosial. Kehadiran keluarga, teman, atau komunitas sangat berperan dalam membantu PLHIV merasa diterima, serta memberikan motivasi untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Ketiga, rasa syukur. Rasa syukur yang mendalam rupanya dapat menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antara kecerdasan emosional dan kesejahteraan psikologis si penderita.


Dalam ranah psikologi positif, lanjut Eny, rasa syukur dikenal sebagai salah satu faktor utama yang dapat meningkatkan kesejahteraan emosional seseorang. Berdasarkan teori Broaden and Build yang dikembangkan oleh Barbara Fredrickson (2001;2004), emosi positif seperti rasa syukur mampu memperluas pola pikir seseorang dan membantu mereka membangun ketahanan psikologis.

Eny mengungkapkan PLHIV yang mampu mengembangkan rasa syukur cenderung lebih mudah menerima kondisi mereka, lebih optimis terhadap masa depan, dan lebih mampu melihat hal-hal positif dalam hidup mereka. Mereka yang bersyukur juga lebih termotivasi untuk menjaga kesehatan dan membangun hubungan yang lebih baik dengan orang-orang di sekitar.

"Banyak dari mereka yang mengalami perubahan besar setelah belajar untuk lebih bersyukur. Mereka mulai fokus pada apa yang masih bisa mereka lakukan, bukan hanya pada apa yang telah hilang," kata dia.

Sayangnya membangun rasa syukur bukan persoalan yang mudah, terutama bagi mereka yang masih bergulat dengan stigma dan tekanan sosial. Oleh sebab itu, dukungan sosial dari komunitas menjadi sangat penting dalam menjaga kewarasan penderita HIV.

Dukungan Sosial Lewat Komunitas

Dalam penelitian Eny, komunitas Mahakam Plus di Kalimantan Timur menjadi salah satu fokus utamanya. Komunitas tersebut berfungsi sebagai ruang aman bagi PLHIV untuk saling mendukung, berbagi pengalaman, dan mendapatkan edukasi tentang cara hidup dengan HIV.

“Keberadaan komunitas ini membantu mereka untuk merasa diterima, ya. selain itu, mereka juga mendapatkan akses ke layanan kesehatan yang lebih baik, dan membangun kembali kepercayaan diri mereka yang dibantu oleh para penyintas,” imbuhnya.

Salah satu aspek paling berharga dari komunitas ini adalah adanya peer mentor, yakni para penyintas yang telah hidup dengan HIV selama bertahun-tahun, dan kini menjadi pendamping bagi mereka yang baru didiagnosis. Keberadaan mentor memberikan harapan serta inspirasi bahwa hidup dengan HIV bukanlah akhir dari segalanya.

“Di komunitas Mahakam Plus, mereka bisa berbagi pengalaman tanpa takut dihakimi. Mereka belajar satu sama lain bagaimana menghadapi stigma, bagaimana tetap produktif, dan bagaimana menjaga kesehatan mental mereka,” jelas Eny. Lantaran tak semua PLHIV mendapatkan dukungan dari keluarga mereka sendiri.

Ada PLHIV yang memilih untuk menyembunyikan status mereka karena takut dikucilkan. Dalam situasi seperti ini, komunitas menjadi satu-satunya tempat di mana mereka bisa merasa diterima dan mendapatkan dukungan sosial yang mereka butuhkan.

Ke depannya, Eny berharap penelitiannya bisa menjadi dasar bagi pengembangan program intervensi psikologis bagi PLHIV. Ia sangat menginginkan masyarakat, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan agar lebih memahami pentingnya aspek psikologis dalam penanganan HIV.

“PLHIV ini sekali lagi tidak hanya mengandalkan pengobatan medis. Mereka sangat membutuhkan dukungan emosional dan sosial. Kita sebagai sesama makhluk Tuhan hendaknya menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, yang membuat mereka merasa diterima tanpa takut dilabeli,” pungkas dia dengan nada prihatin.

Penelitian Eny tentunya menggugah kita untuk menyadari bahwa mereka yang terpinggirkan memiliki ketahanan mental yang luar biasa, dan komunitas seperti Mahakam Plus menjadi satu-satunya tempat di mana mereka bisa merasakan kenyamanan tanpa takut dihakimi.

Sudah saatnya kita meruntuhkan ketakutan dan prasangka yang membelenggu mereka. Kita perlu membuka jalan agar mereka dapat merasa diterima dan dihargai dengan sepenuhnya, baik dengan memperjuangkan komunitas serupa Mahakam Plus yang menjadi ruang aman bagi mereka, maupun mendorong upaya untuk menghapus stigma yang masih mengakar kuat, sehingga kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan penuh empati.

 

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Baca artikel penelitian
Lebih dekat dengan peneliti

Teropong Jagat

image-featured
8 Juni 2026

Keberadaan kaum homoseksual di ruang publik menimbulkan keresahan masyarakat. Menambah risiko penyakit menular, termasuk HIV dan berbagai infeksi menular seksual lainnya.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
3 Juni 2026

Mikroplastik ditemukan di berbagai bentuk ekosistem di sekitar kita. Mulai dari tanah, tubuh organisme, hingga air hujan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
21 Mei 2026

Nilai tukar rupiah terus anjlok dan berada pada level terendah. Benarkah masyarakat desa luput dari terpaan efek dominonya?

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.