Kandungan SPF Tabir Surya
Potensi Tabir Surya Daun Teh

Spesies tanaman teh Camellia sinensis L. banyak dibudidayakan di Indonesia. Salah satunya, di Desa Kemuning, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Para petani membudidayakan tanaman tersebut lantaran cocok dengan iklim pegunungan Lawu yang sejuk. Mereka umumnya memetik daun teh dan memasoknya ke sejumlah pabrik pengolahan teh. Dari sanalah pasokan teh untuk minuman berasal. 

Teh telah menjadi bagian erat dari gastronomi Nusantara. Bagi sebagian orang, tak lengkap rasanya jika tidak menyeruput teh panas atau es teh seusai menyantap kuliner. Apalagi teh terkenal mengandung antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas. Menjadikan teh semakin digemari masyarakat Indonesia. 

Kita mungkin mengenal daun teh sebagai tanaman konsumsi. Menyeduh dengan air panas seolah menjadi cara yang ajeg dalam mengonsumsi teh. Namun, di mata dua peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), apt. Setyo Nurwaini, S.Farm., M.Sc. dan apt. Wahyu Utami, S.Si., M.Si., Ph.D., daun teh memiliki potensi lain untuk dikembangkan.


Dua peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Setyo Nurwaini (kanan) dan Wahyu Utami (kiri) di Laboratorium Kimia Farmasi UMS, Jumat (20/12/2024). Humas UMS/Imam Safii

Mereka bereksperimen mengolah daun teh menjadi bahan utama pembuatan sunscreen. “Kami ingin membuat sediaan sunscreen. Kami fokusnya memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kita, yang melimpah. Salah satunya teh itu sendiri,” kata Setyo saat ditemui di Laboratorium Kimia Farmasi UMS, Rabu (18/12/2024).

Sunscreen atau tabir surya adalah produk perawatan kulit yang digunakan untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet (UV). Mengutip Alodokter, tabir surya juga bermanfaat untuk mencegah penuaan dini, mencegah bercak gelap kulit, hingga mencegah kulit terbakar. 

Daun teh memiliki kandungan zat yang bermanfaat dan potensial. Setyo Nurwaini dan Wahyu Utami menuturkan, senyawa katekin yang ada dalam daun teh termasuk ke dalam zat polifenol. Zat tersebut berfungsi melindungi tanaman dari radiasi sinar UV dan serangan patogen. 

Wahyu menjelaskan, gugus polifenol pada daun teh memiliki kemampuan untuk mengabsorbsi sinar UV. Inilah senyawa yang membuat sinar UV tidak mengenai kulit manusia pada tabir surya berbahan daun teh. “Sebagai preventif terjadinya sunburn (kulit terbakar) dan photoaging (penuaan dini),” ujar Wahyu menimpali.

Eksperimen dimulai dengan maserasi atau merendam serbuk daun teh yang sudah dikeringkan ke dalam larutan etanol 96 persen. Tujuannya untuk mengekstraksi senyawa aktif dari daun teh. Campuran tersebut diaduk selama tiga jam dan didiamkan selama 18 jam. 

Hasil maserasi kemudian disaring dan diuapkan dengan menggunakan mesin evaporator vakum dan mesin penangas air pada suhu 60 derajat Celsius. Proses ini menghasilkan ekstrak daun teh yang kental. 

Setyo dan Wahyu lalu meracik ekstrak daun teh menjadi sediaan tabir surya dalam bentuk krim. Sediaan dalam bentuk krim sengaja dipilih karena teksturnya yang nyaman dan ringan di kulit. Berbeda dengan losion yang lebih kental.

Ada dua fase yang diperlukan untuk mengemulsikan krim tabir surya, yakni fase air dan fase minyak. Bahan yang dicampurkan pada fase air meliputi ekstrak daun teh, metil paraben, dan polisorbat 80 (tween 80). Terdapat tiga besaran konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam krim, yakni 1 persen, 2 persen, dan 4 persen. 

Sedangkan bahan yang ditambahkan pada fase minyak, antara lain minyak parafin, cera alba, gliserin, alkohol setil, span, asam stearat, propil paraben, parfum, dan buffer fosfat pH 7.4. 

Kedua peneliti lantas mencairkan fase minyak dan fase air dalam penangas air bersuhu 75 derajat Celsius. Fase minyak dan fase air kemudian dicampur dalam mortir hangat dan diaduk terus hingga membentuk sediaan krim. 

Menurut Setyo, proses pembuatan tabir surya daun teh terbilang cepat. Namun, tahapan yang cukup memakan waktu adalah ekstraksi senyawa daun teh. “Bikin ekstraknya itu butuh beberapa hari. Kalau bikin krim itu gampang kok,” kelakar dia. 


Kandungan SPF Tabir Surya

Berjalan ke salah satu ruangan di Laboratorium Kimia Farmasi UMS, Setyo dan Wahyu menunjukkan alat yang digunakan untuk menguji tabir surya daun teh buatan mereka. Alat berbentuk kubus berwarna abu-abu itu bernama spektrofotometer. “Ini untuk menetapkan nilai SPF (sun protection factor),” tutur Wahyu.

Spektrofotometer digunakan untuk mengukur tingkat penyerapan sinar UV B. Hasilnya, krim dengan konsentrasi 1 persen ekstrak teh mempunyai nilai SPF kurang dari satu, krim dengan konsentrasi 2 persen mempunyai nilai SPF 2,03, dan krim dengan konsentrasi 4 persen mempunyai nilai SPF 2,41. 

Setyo mengamini jika SPF dalam krim tabir surya daun teh tersebut terbilang rendah. Dia menjelaskan, untuk mendapatkan SPF yang lebih tinggi, komposisi ekstrak daun teh pada krim tabir surya minimal 10 sampai 15 persen. Angka tersebut dapat bertambah menyesuaikan target SPF yang ingin dihasilkan. Sebagai gambaran, mengutip Alodokter, SPF standar yang lazim digunakan di Indonesia minimal memiliki SPF 30. 

Mereka kemudian membandingkan hasil temuannya dengan riset Iyan Sopyan dari Universitas Padjadjaran yang dimuat dalam International Journal of Applied Pharmaceutics pada 2019. Bedanya, Iyan menggunakan daun teh hitam yang berasal dari daun teh yang telah melalui proses fermentasi. 

Sediaan yang dihasilkan Iyan pun bukan dalam bentuk krim, melainkan losion. Riset tersebut menguji kandungan konsentrasi ekstrak daun teh hitam sebesar 0,04 persen yang mampu memiliki kadar SPF sebesar 24,71.

Dari perbandingan tersebut, Setyo dan Wahyu melihat daun teh mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai tabir surya. Dengan catatan, harus memperhatikan pemilihan jenis olahan daun teh dan kadar konsentrasi ekstrak daun teh pada tabir surya. “Semakin tinggi kandungan ekstrak daun tehnya, memang semakin tinggi kandungan SPF-nya,” jelas Wahyu.

Tabir surya daun teh itu juga diuji kemampuan antioksidannya dalam menangkal radikal bebas. Dua peneliti itu membandingkan kemampuan antioksidan tabir surya daun teh dengan vitamin E. Hasilnya, tabir surya dengan konsentrasi 2 persen dan 4 persen memiliki kemampuan antioksidan yang tinggi dibandingkan konsentrasi 1 persen. 

Kemampuan antioksidan dari ekstrak daun teh mendekati kemampuan vitamin E dalam menangkal radikal bebas. Dari hasil tiga kali percobaan yang dilakukan, ekstrak daun teh memiliki aktivitas antioksidan rata-rata sebanyak 2,19 mikrogram per mililiter. Sedangkan kemampuan vitamin E rata-rata 3,11 mikrogram per mililiter.

Hasil tersebut membuat tabir surya berbahan daun teh memiliki manfaat ganda. “Selain tabir surya daun teh punya daya protektif terhadap sinar karena mempunyai kemampuan absorbsi sinar UV A dan UV B, juga dia punya daya antioksidan tadi,” imbuh Wahyu. 


Spektrofotometer yang terletak di Laboratorium Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi UMS. Humas UMS/Imam Safii

Potensi Tabir Surya Daun Teh

Keduanya memandang pemanfaatan tabir surya berbahan daun teh sangat potensial. Hal ini didukung dengan manfaat kombo dari daun teh yang mampu menangkal sinar UV sekaligus radikal bebas. “Kalau kadarnya bisa dinaikkan, maka kemampuan menangkal SPF-nya bisa meningkat,” terang Setyo. 

Peluang penjualan tabir surya di Indonesia terbilang cukup tinggi. Kondisi tersebut tak lepas dari iklim tropis Indonesia di mana matahari bersinar sepanjang tahun. Tidak heran jika penjualan tabir surya terus merangkak naik. 

Mengutip pewartaan CNBC Indonesia, tabir surya adalah salah satu produk perawatan kulit yang mengalami pertumbuhan paling pesat. Nilai penjualannya melesat dari Rp530 miliar pada semester II 2023, menjadi Rp914 miliar pada semester I 2024. Melonjak hingga 72,27 persen. 

Saat dikonfirmasi mengenai rencana pengembangan dalam skala industri, baik Setyo maupun Wahyu mengatakan masih perlu melalui tahapan etik penelitian atau ethical clearance. “Proposal penelitian kami harus diajukan dulu ke Komisi Etik UMS. Akan dikaji apakah penelitian kami lolos sesuai dengan etika penelitian,” tambah Wahyu. 

Kini, hasil riset yang dilakukan Setyo dan Wahyu telah dimuat ke dalam International Journal of Applied Pharmaceutics yang terbit awal Januari 2021. Penelitian tersebut rupanya berhasil menarik perhatian sejumlah peneliti dari berbagai belahan dunia. 

Salah satunya peneliti yang menghubungi Setyo adalah Profesor Vinood Patel dari University of Westminster, London, Inggris. Vinood tertarik untuk memasukkan riset Setyo dan Wahyu ke dalam bukunya. Riset tersebut akhirnya masuk ke dalam buku Tea in Health and Disease Prevention dengan tajuk “Sunscreen from Tea” yang terbit September lalu. 


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Desainer: Salsabila Kamila Wardah

Baca jurnal penelitian

Teropong Jagat

image-featured
8 Juni 2026

Keberadaan kaum homoseksual di ruang publik menimbulkan keresahan masyarakat. Menambah risiko penyakit menular, termasuk HIV dan berbagai infeksi menular seksual lainnya.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
3 Juni 2026

Mikroplastik ditemukan di berbagai bentuk ekosistem di sekitar kita. Mulai dari tanah, tubuh organisme, hingga air hujan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
21 Mei 2026

Nilai tukar rupiah terus anjlok dan berada pada level terendah. Benarkah masyarakat desa luput dari terpaan efek dominonya?

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.