Sepanjang kurun 5 tahun terakhir, kesadaran warga dunia mengenai kesehatan mental terus meningkat. Hasil survei terbaru lembaga riset pasar dunia Ipsos yang dirilis pada 17 September 2024 menyebut 45 persen warga dunia menganggap kesehatan mental sebagai salah satu masalah kesehatan besar.
Riset tersebut dilakukan dengan menyurvei 23.667 responden di bawah 75 tahun yang tersebar di 31 negara. Bukan kali pertama bagi Ipsos melakukan survei tersebut. Riset kesehatan itu telah dimulai sejak 2018. Hasilnya, hanya 27 persen responden yang menganggap kesehatan mental sebagai persoalan krusial.
Seiring meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) turut menghadirkan layanan konseling bagi mahasiswanya, yakni Student Mental Health and Wellbeing Support (SMHWS).
Konselor SMHWS, Dewi Setyaningrum, S.Psi., M.Psi., mengatakan layanan ini hadir untuk membantu para mahasiswa yang mempunyai kemelut dalam pikirannya dan membutuhkan ruang berbagi cerita, baik yang mengalami masalah berat ataupun sekadar membutuhkan ruang curhat. “Datang ke SMHWS untuk cerita atau curhat itu boleh. Tidak harus yang memiliki masalah berat,” jelas Dewi, Jumat (15/11/2024).
Berbeda dengan layanan Biro Konsultasi dan Pemeriksaan Psikologis (BKPP) yang terbuka untuk masyarakat umum dan berbayar, SMHWS hadir khusus untuk mahasiswa UMS dan tidak memungut biaya sepeserpun alias gratis. Layanan ini buka hari Senin sampai Jumat pukul 08.00 hingga 14.00.
Untuk mendapatkan jadwal konseling, mahasiswa dapat mengisi Google Form melalui tautan bit.ly/PendaftaranSMHWS. Pesan konfirmasi akan dikirimkan melalui WhatsApp maksimal dua kali 24 jam. Selanjutnya, mahasiswa akan mendapatkan jadwal untuk konseling yang dapat dilakukan secara daring atau luring.

Konselor SMHWS, Dewi Setyaningrum, S.Psi., M.Psi. Humas UMS/Imam Safii
Penanganan Awal
Sejak didirikan, SMHWS telah menangani lebih dari 1.000 klien. Umumnya, para klien datang membawa keluhan berat. Dewi tidak menampik jika sebagian masalah tersebut berujung pada depresi dan gangguan kesehatan mental lainnya.
Dewi dan para konselor kemudian akan melakukan asesmen awal untuk mengetahui kondisi mental klien. Menurut Dewi, para konselor akan memastikan terlebih dulu apakah klien mampu mengatasi masalahnya sendiri.
“Kalau sudah maksimal 3 kali datang ke SMHWS, tetapi masalahnya belum tuntas, kami biasanya akan me-refer ke BKPP UMS atau ke psikolog rumah sakit lainnya yang bisa mendiagnosa lebih lanjut,” sambungnya.
Layanan yang dihadirkan Biro Kemahasiswaan UMS ini telah membantu para mahasiswa berdamai dengan masalahnya. Tidak heran jika Dewi menyebut antreannya cukup panjang.
Jangan Pendam Sendiri
Persoalaan keresahan mahasiswa umumnya berasal dari persoalan di luar akademis, seperti masalah keluarga, pertemanan, perundungan, hingga masalah asmara. Dewi menyebut persoalan tersebut jika tidak segera ditangani akan berpotensi memburuk dan mengganggu kegiatan akademis mahasiswa.
Dewi mengakui jika masih banyak mahasiswa yang enggan menceritakan masalahnya. Umumnya mereka khawatir mengenai kerahasiaan dan privasi mahasiswa. “Mereka itu kalau mendatangi profesional masih maju mundur saking trust-nya mereka sendiri masih kurang,” imbuh Dewi.
Memberikan cerita yang detail dan mendalam adalah langkah awal untuk meringankan beban di pundak. Dengan demikian, para konselor akan mampu memberikan saran yang konkret dan mendalam.
Dewi menekankan para mahasiswa untuk tidak memendam emosi dan amarahnya sendiri. Memendam emosi dan perasaan terlalu lama akan berpotensi meledak bila di masa mendatang terjadi masalah besar.
Tak sedikit pula yang menghadapi masalah dengan cara yang terlalu keras. Salah satu dampaknya adalah saat seseorang gagal menggapai impiannya, dia akan menyalahkan dirinya sendiri. Selain berbagi cerita, Dewi mengingatkan untuk tidak lupa mengapresiasi diri sendiri.
“Perlu untuk mengapresiasi diri sendiri dengan pencapaiannya selama ini,” pungkas dia.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







