Proses menghasilkan sesuatu yang serba efisien adalah keunggulan yang didambakan sebagian besar kalangan. Efisiensi itu rupanya dibutuhkan pula dalam proyek konstruksi. Proyek yang efisien akan mendorong keberlanjutan di masa mendatang.
Salah satu pendekatan untuk mewujudkan efisiensi konstruksi adalah konsep lean construction. Konsep tersebut merupakan pendekatan manajemen proyek konstruksi yang bertujuan mengurangi pemborosan dan meningkatkan nilai tambah proyek konstruksi.
Melihat pentingnya efisiensi pada proyek konstruksi, Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Seminar Nasional Teknik Sipil ke-XIV 2025. Kegiatan ilmiah ini menghadirkan dua pembicara utama, yakni Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Cipta Karya Jawa Tengah Dr. Ir. AR Hanung Triyono, M.Si. dan perwakilan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk Wahyu Setiawan, S.T.
Ketua panitia, Tsulis Iq’bal Khairul Amar TS, menjelaskan seminar ini bertujuan menjadi ruang pembelajaran dan pertukaran ide seputar lean construction. “Lean construction berupaya meningkatkan efektivitas proyek pembangunan agar hasilnya lebih berkelanjutan di masa depan,” ungkap Tsulis saat ditemui pada Senin (2/6/2025).

Wakil Rektor II UMS Prof. Dr. Muhammad Da’i, M.Si., Apt. saat memberikan sambutan pada Seminar Nasional Teknik Sipil XIV di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah UMS, 27 Mei 2025. Humas UMS/Imam Safii
Wakil Rektor II UMS Prof. Dr. Muhammad Da’i, M.Si., Apt. berpandangan lean construction adalah paradigma yang mampu meningkatkan efisiensi, mengurangi pemborosan, dan memperkuat nilai tambah dalam sektor konstruksi nasional.
Da’i menyoroti kemajuan infrastruktur di Cina sebagai contoh keberhasilan pembangunan yang ditopang oleh teknologi dan kinerja yang efektif. “Indonesia perlu belajar dari pengalaman tersebut, terutama dalam pengelolaan proyek yang amanah dan efisien,” ungkapnya.
Dirinya menekankan pentingnya integritas dan kompetensi dalam dunia konstruksi. Ia mendorong mahasiswa Teknik Sipil UMS, yang hadir dalam seminar tersebut, untuk tumbuh menjadi insan inovatif dan bertanggung jawab.
Baca Juga: Upaya Mengejar Infrastruktur Berkelanjutan
Dalam kegiatan yang digelar pada Selasa (27/5/2025) itu, Wahyu Setiawan dari PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. memaparkan penerapan lean construction pada proyek pembangunan Istana Negara dan Kantor Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Wahyu menjelaskan lean construction dalam proyek IKN melibatkan perencanaan matang atas berbagai komponen penting konstruksi. Mulai dari tenaga kerja, dana, material, metode pelaksanaan, peralatan, hingga jadwal pelaksanaan. “Semua ini harus dikelola secara terpadu agar tidak terjadi kegagalan konstruksi,” ujarnya.
Lean construction menitikberatkan pada lima prinsip utama, yakni value, value stream, flow, pull, dan perfection. Kelima prinsip itu harus dijalankan secara berkelanjutan. Salah satu instrumen pendukung implementasi lean construction adalah Last Planner System (LPS), yang terbukti mampu mengefisiensikan waktu pelaksanaan proyek.
Penerapan lean construction bukan tanpa tantangan. Resistensi terhadap perubahan, minimnya kompetensi sumber daya manusia, serta miskomunikasi antar-stakeholder masih menjadi hambatan utama. Komitmen bersama dari seluruh pihak dalam proyek harus ditegaskan agar lean construction dapat dijalankan secara konsisten dan optimal.
Baca Juga: Infrastruktur Berkelanjutan Cegah Banjir Berkepanjangan
Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Cipta Karya Jawa Tengah AR Hanung Triyono menegaskan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah terus mendorong penerapan prinsip lean construction dalam pembangunan infrastruktur di Jawa Tengah. Tujuannya untuk menekan pemborosan dan meningkatkan efisiensi.
Adi menjelaskan wilayah kerja BBPJN Surakarta mencakup enam kabupaten/kota dengan cakupan 415 km jalan dan lebih dari 3 ribu jembatan dan gorong-gorong. Sebagian besar infrastruktur telah berusia tua dan membutuhkan penanganan inovatif.
“Kami sudah mulai terapkan lean construction, tetapi sebagai birokrat, kreativitas kami sering terbentur aturan. Seringkali inovasi justru menjadi temuan audit,” ujar salah satu pejabat BBPJN yang menghadiri seminar tersebut.
Adi melanjutkan, penerapan lean construction di daerah masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain regulasi yang kaku, keterbatasan sumber daya, hingga komunikasi yang tidak lancar dengan kontraktor.
Ia tak segan menyebut banyak kontraktor lokal yang menawar terlalu rendah hingga 69 persen demi bertahan hidup. Walhasil, prinsip lean construction kerap dikorbankan. “Mereka harus menangani 12 proyek di tiga kabupaten berbeda hanya dengan satu orang,” beber Adi.
Meski demikian, BBPJN tetap berkomitmen menerapkan pendekatan konstruksi ramping seperti yang dilakukan sektor manufaktur. Dengan dukungan teknologi, pelatihan, dan dorongan dari pemerintah daerah, mereka berharap efisiensi pembangunan bisa terus ditingkatkan.
“Lean construction harus jadi jalan menuju lean government,” tegasnya.
Penulis: Yusuf Ismail
Editor: Gede Arga Adrian
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







