Transformasi ITB Jadi Research University
Membangun Jejaring Riset Internasional
Peran Kolaborator

Kolaborasi riset seolah jadi garda terdepan bagi kampus-kampus di Indonesia untuk mendongkrak kualitas dan jumlah publikasi ilmiah bereputasi internasional. Menyikapi kebutuhan tersebut, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan komitmennya lewat penyelenggaraan workshop bertajuk “Research Universities and International Research Networks” yang digawangi Biro Humas dan Pemeringkatan (BHP) pada Jumat (20/12/2024). 

Acara yang berlangsung di Ruang Sidang Badan Pembina Harian, Gedung Induk Siti Walidah lantai 6 ini menghadirkan dua pembicara utama, yakni Prof. Akhmaloka, Ph.D., mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) periode 2010–2015, dan Dimas Ria Angga Pribadi, S.Kep., M.Sc., Ph.D., dosen Keperawatan UMS yang memiliki pengalaman luas di jejaring riset internasional.

Workshop kali ini menjadi salah satu upaya UMS memperbaiki atmosfer penelitian di lingkungan kampus. Wakil Rektor V UMS, Prof. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan harapannya agar workshop tersebut dapat menjadi katalis bagi para dosen untuk lebih aktif berjejaring dan memperkuat kapasitas riset.

Dari kiri, dosen Keperawatan UMS, Dimas Ria Angga Pribadi, Rektor ITB Periode 2010-2015, Akhmaloka, dan Wakil Rektor V UMS, Supriyono dalam acara Workshop Research Universities and International Research Networks di Ruang Sidang BPH, Gedung Induk Siti Walidah, Jumat (20/12/2024). Humas UMS/Imam Safi'i

“Kami ingin kelompok-kelompok riset di UMS mampu memanfaatkan peluang ini untuk memperbaiki atmosfer penelitian di kampus. Selain itu, jaringan yang telah dibangun oleh Pak Dimas harus dirawat, diikuti, dan dikembangkan agar manfaatnya lebih luas,” ujar Supriyono dalam sambutannya.

Transformasi ITB Jadi Research University

Sesi pertama workshop dibawakan oleh Prof. Akhmaloka, Ph.D., yang memaparkan pengalaman ITB menuju research university kelas dunia. Fokusnya mengerucut pada dua periode kepemimpinan rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sejalan dengan tema kali ini, yakni periode Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. (2005–2010) dan masa kepemimpinan dirinya sendiri (2010–2015).

Pada masa kepemimpinan Prof. Djoko Santoso, ITB melakukan reformasi besar-besaran dalam tata kelola kampus. Tujuannya ialah mentransformasi ITB menjadi research university dengan mendorong peningkatan jumlah publikasi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta memperbaiki struktur organisasi agar lebih efisien dan produktif.

Ketika Akhmaloka mulai menjabat rektor pada 2010, fokus beralih pada internasionalisasi. “Saya mendorong setiap fakultas memiliki program studi yang terakreditasi internasional. Selain itu, kami juga memulai Double Degree Program, Sandwich Program, serta pertukaran mahasiswa dan dosen ke luar negeri,” ungkap Akhmaloka, Jumat (20/12/2024) siang.

Internasionalisasi di ITB tak hanya mencakup pengembangan program akademik, tetapi juga penguatan jejaring global melalui International Relations Office–Bureau of Partnerships. ITB telah bergabung sebagai anggota berbagai asosiasi universitas internasional pada saat itu, seperti ASEAN University Network (AUN), Asia-Oceania Top University League on Engineering (AOTULE), dan Global Engineering Education Exchange (GE3), dan lainnya.

“Untuk membangun research university, budaya penelitian harus menjadi bagian dari kehidupan akademik. Ini dimulai dari perubahan pola pikir dosen hingga menjadikan riset sebagai kebiasaan yang terus didukung oleh infrastruktur yang memadai,” tegasnya.

Salah satu program unggulan ITB di bawah kepemimpinan Prof. Akhmaloka adalah International Research Network. Program tersebut ia rancang untuk memastikan kolaborasi riset dengan universitas mitra luar negeri menghasilkan publikasi berkualitas. Setiap kolaborasi ditargetkan menghasilkan minimal tiga publikasi dengan nol sitasi.

Menurut Akhmaloka, penguatan riset memerlukan strategi yang holistik, mulai dari peningkatan kapasitas SDM hingga pengelolaan kolaborasi yang berkelanjutan. “Kami mendorong kolaborasi yang efisien dan berbasis kemitraan yang berjangka panjang. Hasilnya tidak hanya meningkatkan jumlah publikasi, tetapi juga memperluas pengaruh akademik ITB di tingkat global, ya,” imbuh dia.

Kendati demikian, ia juga mengakui tantangan dalam membangun budaya riset cukup besar, terutama dalam hal sumber daya. “Banyak kampus menghadapi kendala, seperti sulitnya mendapatkan dosen asing, keterbatasan dana, hingga integrasi data penelitian. Tapi semua itu bisa diatasi jika ada dedikasi dan strategi yang jelas. Saya rasa masalah seperti ini bukan hanya dialami ITB ya, mungkin UMS pun juga,” katanya sambil mengajak bercanda.

Membangun Jejaring Riset Internasional

Selain penguatan kelembagaan dari universitas, peluang juga bisa datang dari inisiasi tiap dosen. Dimas Ria Angga Pribadi, S.Kep., M.Sc., Ph.D. membagikan pengalaman pribadinya dalam membangun jaringan riset internasional. Ia mengatakan, jaringan riset internasionalnya dimulai kala dirinya mengenyam studi doktoral di Taiwan pada 2019. 

“Saya memulai jaringan riset internasional saat kuliah di Taiwan, ya. Di sana, kolaborasi internasional memang sudah jadi bagian integral dari kegiatan riset, seperti kewajiban,” ucap Dimas dalam sesi kedua workshop.

Ia sendiri pernah melakukan observasi kecil-kecilan, katanya untuk membandingkan risetnya hasil berkolaborasi lintas program studi dengan risetnya yang melibatkan kolaborator internasional. Perbedaannya jelas mencolok. “Riset lintas prodi hanya mendapat empat sitasi, sementara riset terakhir saya di Taiwan 2023 lalu menghasilkan hampir 5.889 sitasi,” kata Dimas blak-blakan.

Dosen UMS itu menekankan kolaborasi internasional tak hanya meningkatkan jumlah sitasi, tetapi juga membuka banyak peluang, seperti pendanaan riset, penguatan data, hingga pengembangan metode penelitian. 

“Kolaborasi itu jadi semacam jalan untuk memperluas jejaring dan wawasan, memperkuat kapasitas penelitian, dan meningkatkan kualitas publikasi kita,” ujar dia.

Peran Kolaborator

Dalam pemaparannya, Dimas juga menjelaskan peran penting kolaborator dalam riset internasional. Menurutnya, “Kolaborasi riset seperti ini memungkinkan kita untuk memperkuat data dan metode, serta menjadikan hasil penelitian lebih relevan secara global. Selain itu, kolaborator sering kali menjadi penulis utama hasil penelitian kita, sehingga dampaknya lebih luas.”

Dimas mendorong para dosen-dosen di UMS untuk lebih aktif lagi menjaring kerja sama dengan mitra internasional, baik melalui jejaring yang sudah ada maupun dengan membangun kemitraan baru. 

Sebagai contoh nyata, Dimas sedikit memberikan gambaran rinci mengenai tingkatan jaringan kolaborator yang ia ikuti, yakni GBD (Global Burden of Disease) Collaborator Network. Jaringan ini terdiri dari empat tingkatan kolaborator dengan manfaat yang kian besar di setiap level. 

Tier 1 atau GBD Collaborator, di mana kolaborator punya peran sebagai co-author dalam publikasi GBD. Mereka pun punya akses ke pertemuan virtual dan acara jaringan yang memungkinkan interaksi dengan kolaborator kompeten lainnya,” jelas Dimas sembari menggeser halaman PowerPoint.

Tier 2 adalah GBD Senior Collaborator, imbuh Dimas, yang memberikan kesempatan kepada kolaborator untuk menjadi first author dalam publikasi ilmiah dan terlibat dalam diskusi ilmiah yang lebih mendalam terkait metode, temuan, dan analisis data.

Sementara pada tier 3 adalah GBD Lead Collaborator. Kolaborator di tingkat ini akan memperoleh manfaat berupa akses pendanaan (funding) untuk mendukung penelitian mereka. Terakhir atau tier 4, GBD Principal Collaborator memiliki kesempatan eksklusif untuk dipertimbangkan menjadi anggota GBD Scientific Council.

Dimas berbagi cara bergabung ke dalam jaringan GBD Collaboration Network tersebut. Langkah awal cukup sederhana. Peneliti harus mengajukan lamaran berupa CV lengkap beserta keahlian dan minat yang relevan dengan tema penelitian yang diusung. 

Kemudian calon kolaborator diwajibkan mengikuti short course guna mendapat pemahaman mengenai sistem dan metode jaringan GBD. Usai diterima, kolaborator akan mendapat akses ke portal kolaborator untuk berpartisipasi dalam studi GBD.

“Intinya jaringan kolaborasi riset semacam ini akan membuka pintu pendanaan atau funding, hasil publikasi yang jauh berkualitas, serta dampak riset yang jauh lebih luas pula,” tandasnya. Sebagai penutup, Dimas merekomendasikan agar para peserta yang berminat memulai kolaborasi riset global dapat mengakses informasi lebih lanjut melalui portal resmi GBD Collaborator Portal.


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Penelitian

image-featured
17 Juli 2026

Dari kotoran domba, lahirlah pupuk organik kaya nutrisi untuk tumbuhan lewat bantuan “maggot”. Mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan “zero waste”.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
19 Juni 2026

Antibiotik termasuk obat keras yang seharusnya tidak diperjualbelikan bebas. Menyimpan sisa dan mengonsumsinya bisa memicu resistensi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.