Mikroplastik menjadi salah satu topik yang gencar diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir. Diskusi dan kajian mengenai mikroplastik pun santer terdengar baik di Indonesia maupun di luar negeri. Teranyar, mikroplastik ditemukan pada air hujan di sejumlah lokasi di Indonesia.
Hujan mikroplastik menjadi isu yang mengemuka dalam kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dirilis 17 Oktober tahun lalu. Penelitian yang dilakukan sejak 2022 itu menemukan kandungan mikroplastik rata-rata sebanyak 15 partikel mikroplastik per meter persegi pada air hujan di Jakarta.
Hujan mikroplastik tidak hanya terjadi di Jakarta. Ecoton pada November 2025 merilis temuan mikroplastik dalam air hujan di Malang, Jawa Timur. Sampel diambil di beberapa daerah, seperti Singosari, Sudimoro, Gadang, Merjosari, dan Blimbing.
Kandungan mikroplastik tertinggi ditemukan di Blimbing yang mencapai 98 partikel per liter. Jenis mikroplastik paling dominan adalah fiber yang mencapai 80 persen dari total partikel, disusul filamen, dan fragmen.
Apa Itu Mikroplastik?
Mikroplastik adalah partikel plastik yang sangat kecil, berukuran antara 1 mikrometer sampai 5 milimeter. Mikroplastik dibagi menjadi dua jenis, yakni mikroplastik primer dan sekunder
Dosen Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Vina Listiawati, S.Si., M.Sc., Ph.D., menjelaskan mikroplastik primer adalah partikel plastik yang sengaja diproduksi dalam ukuran kecil. Contohnya ialah manik-manik mikro atau microbeads yang digunakan pada produk kecantikan scrub wajah maupun pasta gigi.
“Atau juga pelet plastik yang biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan produk plastik,” katanya.
Sedangkan mikroplastik sekunder adalah partikel plastik yang terbentuk akibat pecahnya plastik yang berukuran besar. Misalnya botol plastik atau kantong plastik yang menjadi serpihan plastik yang lebih kecil akibat adanya paparan sinar ultraviolet, cuaca, ombak, dan gesekan fisik.
Mikroplastik di Sekitar Kita
Mikroplastik kini telah tersebar luas di muka bumi. Mulai dari perairan, daratan, udara, hingga dalam tubuh organisme. Menurut Vina, diperkirakan lebih dari 170 triliun partikel plastik mengambang di permukaan laut global. Mikroplastik bahkan ditemukan di Palung Mariana pada kedalaman lebih dari 10 kilometer.
“Sungai-sungai besar di dunia, termasuk beberapa di antaranya sungai besar di Indonesia seperti Brantas, Citarum, dan Bengawan Solo, teridentifikasi sebagai jalur mikroplastik menuju laut,” beber dia.
Di daratan, mikroplastik dapat ditemukan di lahan pertanian, hutan, dan kawasan pegunungan terpencil. Mikroplastik juga ditemukan pada pupuk organik berbasis lumpur limbah yang digunakan pada pertanian. Konsentrasi plastik ini diduga berasal dari sistem pengolahan air limbah yang belum sepenuhnya dapat memisahkan mikroplastik dari bahan pupuk.
Mikroplastik juga terdeteksi pada udara. Indikasi ini ditemukan dalam sejumlah penelitian terbaru pada sampel hujan dan salju yang mengandung mikroplastik. Hal serupa juga terdeteksi di kawasan Samudra Artik dan Benua Antartika.
Persebaran masif mikroplastik juga sampai masuk ke dalam tubuh organisme. Kontaminasi mikroplastik ditemukan pada ikan hingga mamalia laut.
Mikroplastik juga ditemukan pada manusia. Mengutip The Guardian, mikroplastik ditemukan di dalam air susu ibu atau ASI pada sejumlah ibu di Italia. Dari 34 ibu sehat, 75 persennya mengandung mikroplastik. Sebelumnya, tim peneliti Italia juga menemukan mikroplastik pertama di dalam plasenta bayi pada 2020 silam.
“Pada manusia, mikroplastik juga ditemukan dalam darah, paru-paru, plasenta ibu hamil, air susu ibu, tinja, bahkan jaringan arteri manusia,” imbuh Vina.
Bahaya Mikroplastik bagi Lingkungan
Mengutip laman Mongabay, diperkirakan sebanyak 14 persen plastik yang dibuat telah dibakar. Pembakaran ini diduga menjadi penyebab cemaran partikel kecil ke udara dan lingkungan. Masih pada artikel yang sama, Mongabay secara tegas menyatakan plastik telah menjadi persoalan limbah global.
Lantas apa dampak mikroplastik bagi lingkungan dan manusia? Vina membeberkan mikroplastik berpotensi memiliki dampak serius bagi lingkungan. Mikroplastik dapat mengganggu penyerapan nutrisi pada biota laut, mengakumulasi polutan hingga terserap pada biota laut, hingga menjadi ruang habitat komunitas mikroba dan patogen.
Di tanah, mikroplastik mengganggu siklus nutrisi tanah oleh cacing. Mikroplastik juga dapat terserap ke dalam tanaman pertanian dan berpotensi dikonsumsi oleh manusia.
Penyebaran mikroplastik pun juga dapat dilakukan melalui udara. Tidak heran jika sejumlah penelitian menemukan penyebaran mikroplastik hingga Samudra Artik dan Benua Antartika, yang notabene jarang dihuni manusia.
Bahaya Mikroplastik pada Manusia
Bahaya mikroplastik tidak hanya berdampak pada ekosistem dan lingkungan. Mikroplastik juga dapat berpotensi mengganggu kesehatan manusia.
Meskipun mikroplastik seringkali dianggap inert alias tidak mudah bereaksi secara kimia, Vina menegaskan mikroplastik tidak bersifat inert dari sisi biologis. Sebab, mikroplastik mengandung bahan kimia tambahan yang bersifat toksik, karsinogenik, dan mengganggu sistem endokrin pada tubuh.
“Mikroplastik juga dapat memicu respon imun dan memicu reaksi inflamasi (peradangan) karena merupakan benda asing yang tidak dikenal oleh tubuh,” tegasnya.
Beberapa contoh bahaya mikroplastik pada manusia, antara lain:
1. Peradangan (inflamasi)
Mikroplastik berperan sebagai partikel asing yang memicu respons imun kronis di jaringan usus dan paru-paru.
2. Gangguan sistem endokrin
Bahan kimia seperti BPA dan ftalat yang terkandung dalam plastik dapat meniru hormon estrogen, sehingga mengganggu keseimbangan hormonal, berpotensi memengaruhi kesuburan, perkembangan janin, dan metabolisme
3. Risiko kardiovaskuler
Mikroplastik ditemukan dalam plak arteri karotis. Pasien yang plaknya mengandung mikroplastik memiliki risiko 4,5 kali lebih rentan mengalami gangguan kardiovaskuler dibandingkan dengan pasien yang memiliki plak tanpa mikroplastik.
4. Dampak pada janin dan anak
Paparan kimia plastik selama masa kehamilan dan pertumbuhan awal anak berpotensi mengganggu perkembangan neurologis dan hormonal.
Cara Mengatasi Mikroplastik
Mengatasi mikroplastik bukan tanpa tantangan. Beberapa faktor yang membuat mikroplastik sulit dikendalikan, antara lain ukurannya yang sangat kecil, sumber yang beragam dan tersebar, sifat plastik yang murah dan mudah, akumulasi jangka panjang, ketidaksetaraan kapasitas teknologi global, dan kurangnya regulasi internasional yang mengikat.
“Kombinasi faktor-faktor tersebut yang menjadikan mikroplastik bukan sekadar masalah sampah biasa, melainkan krisis sistemik yang memerlukan respons di tingkat kebijakan, teknologi, ekonomi, dan budaya secara bersamaan,” tegas Vina. Ia menyebut kondisi pencemaran mikroplastik, khususnya di Indonesia, sudah sangat mengkhawatirkan.
Indonesia secara konsisten masuk dalam daftar negara penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia, bahkan masuk 5 besar di Asia Tenggara. Faktor ini dapat terlihat pada cemaran plastik di lingkungan, seperti Sungai Citarum di Jawa Barat yang pernah menyandang sebagai sungai paling tercemar di dunia, menurut Green Cross Switzerland dan Blacksmith Institute.
Vina menjelaskan sejumlah studi terhadap produk perikanan Indonesia menemukan kandungan mikroplastik pada hasil laut, seperti ikan, kerang, maupun garam laut. Hal ini mengindikasikan kontaminasi rantai pangan yang telah berlangsung lama.
Pemerintah sebenarnya telah meregulasi secara ketat mengenai persoalan ini dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sejumlah daerah, seperti Semarang, telah melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai.
Gerakan masyarakat sipil sadar sampah juga menyebar di penjuru daerah. Gerakan ini muncul lewat pemisahan jenis sampah, bank sampah, dan inovasi daur ulang berbasis komunitas.
Hal ini semakin didukung dengan kesadaran penelitian mikroplastik di sejumlah perguruan tinggi di indonesia. “Ini adalah tanda positif yang perlu didukung dengan pendanaan riset yang lebih memadai,” harapnya.
Kendati demikian, kombinasi antara tingginya konsumsi plastik belum diimbangi dengan infrastruktur pengelolaan sampah yang merata. Alhasil pengelolaan sampah plastik seringkali tidak tertangani secara maksimal di sejumlah daerah. Komitmen serius perlu dilakukan untuk memastikan cemaran plastik dapat tertangani secara optimal.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







