
Pembagian Daging Kurban Menurut Syariat Islam
Daging kurban banyak dinantikan umat Islam di Hari Raya Iduladha. Bagaimana aturan pembagiannya?
Kasus child grooming Aurélie Moeremans, aktris dan penyanyi Indonesia berdarah Belgia menuai perhatian publik. Namanya menjadi perbincangan luas setelah kisah nyata yang ia tuangkan dalam buku Broken Strings viral dibaca secara gratis oleh masyarakat.
Buku tersebut bukan sekadar catatan pengalaman pribadi, tetapi membuka kembali luka kolektif tentang bagaimana kekerasan seksual pada anak dan remaja sering terjadi begitu saja. Kerap tak disadari oleh korban maupun orang-orang terdekatnya.
Manipulasi adalah senjata utama pelaku child grooming. Persis seperti paragraf demi paragraf yang tertuang dalam Broken Strings.
Alih-alih kekerasan fisik, relasi awal yang dibangun pelaku justru terasa hangat, protektif, dan penuh perhatian. Inilah yang membuat tindak child grooming sulit dikenali, baik oleh korban, keluarga, maupun lingkungan sosial.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., Psikolog., menegaskan child grooming bukanlah yang terjadi secara tiba-tiba.
“Child grooming itu adalah sebuah proses. Terjadi ketika seseorang melakukan pendekatan secara pelan-pelan, kayak penuh perhitungan,” jelas psikolog keluarga yang akrab disapa Tari itu, Selasa (20/1/2026).
Memanipulasi korban dilakukan secara perlahan dan bertahap. Pujian, empati, perhatian intens, hingga janji perlindungan menjadi alat utama pelaku untuk membangun kepercayaan.
Kekerasan pada anak dalam kasus grooming tidak selalu meninggalkan bekas fisik. Luka yang muncul di awal lebih pada kebingungan emosional, rasa bersalah, ketergantungan, hingga trauma relasional yang bisa terbawa hingga korban dewasa.
Kekerasan seksual biasanya baru terjadi setelah relasi kuasa terbentuk sepenuhnya. Ketika korban sudah terisolasi dan bergantung, pelaku dengan mudah melancarkan aksinya tanpa perlawanan berarti.
Tari menjelaskan, grooming adalah rangkaian perilaku manipulatif untuk menguasai korban di bawah umur secara psikologis, sementara pelakunya disebut child groomer atau predator anak. “Ketika kepercayaan sudah ada, pelaku mulai meminta ini dan itu. Korbannya cenderung menurut karena sudah ada perasaan bergantung, atau malah tidak bisa keluar karena seperti sudah terkunci,” kata dia.

Alasan child grooming kerap luput dari perhatian adalah karena tidak ada unsur pemaksaan langsung. Relasi dibangun dengan cara yang sangat halus, bahkan sering kali tampak romantis atau protektif.
“Apalagi korbannya adalah anak-anak atau remaja di bawah 18 tahun, yang secara perkembangan belum mampu berpikir jangka panjang. Mereka masih berada pada fase mencari pengakuan, validasi sosial, dan rasa aman,” ungkap Tari.
Menurut Tari, anak-anak akan merasa didengar, diperhatikan, dan dimengerti. Sesuatu yang mungkin tidak mereka dapatkan di lingkungan lain atau bahkan dari orang tuanya sendiri.
Pelaku juga kerap mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya. Teman-teman korban perlahan dijauhkan, entah dengan difitnah, dijelek-jelekkan, keluarga digambarkan tidak memahami korban, hingga akhirnya korban hanya percaya pada pelaku seorang.
Dalam kondisi demikian, korban merasa dilindungi sekaligus tergantung. Ketergantungan inilah yang menjadi pintu masuk terjadinya kekerasan seksual.
Child grooming memiliki dampak luar biasa terhadap kesehatan mental korban. Tak berhenti saat relasi tersebut berakhir.
Dalam jangka pendek, korban bisa mengalami rasa takut, bingung, dan bersalah. Mereka kerap menyalahkan diri sendiri karena dulunya merasa “ikut menikmati” relasi tersebut.
Ketika korban mulai menyadari bahwa narasi pelaku tidak sesuai dengan realita, misalnya saat menyadari teman-temannya sebenarnya tidak seburuk yang diceritakan pelaku, mereka muncul konflik batin yang berat. “Kebingungan ini sudah pasti sangat menyiksa secara emosional,” jelas Tari.
Sedangkan dalam jangka panjang, korban bisa mengalami perasaan kesepian kronis, kesulitan mempercayai orang lain, gangguan relasi intim, hingga perilaku menyakiti diri sendiri. Tidak sedikit penyintas baru menyadari bahwa mereka adalah korban grooming saat sudah menginjak usia berpikir matang.
Fenomena tersebut juga terlihat dari banyaknya korban grooming yang baru berani bersuara setelah membaca kisah Aurélie Moeremans, dan menyadari bahwa pengalaman mereka memiliki pola yang sama.
“Kepengen juga nulis tentang kisahku yang cukup menyiksa mental sejak aku kecil, tapi aku nggak pandai merangkai kata.”
“Ada kemiripan kisahku dengan kakak ini, pengen cerita takut. Aku yakin banyak perempuan yang pernah merasakan kısah yang serupa.”
“Habis baca Broken Strings. Selama baca rasanya sesek banget, kaya aku juga pernah di hubungan se-toxic itu. Intinya jangan pernah takut untuk keluar dari lingkungan itu apapun resikonya karena yang paling dirugikan dari hubungan seperti itu ya kita.”
Tulis beberapa akun X di kolom komentar unggahan @avracadavraa yang turut membagikan potongan narasi dari buku Broken Strings karya Aurélie Moeremans, yang dibagikan secara gratis dalam format PDF.
Menariknya, kisah Aurélie sekarang menunjukkan perubahan signifikan dalam respons masyarakat. Bertahun lalu, saat ia pertama kali menyuarakan kasusnya, justru hujatan yang ia terima. Aurélie dianggap mencari sensasi, tidak bermoral, bahkan disalahkan atas kekerasan yang dialaminya.
Dukungan demi dukungan kini malah mengalir deras. Menurut Tari, perubahan ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah meningkatnya literasi publik tentang kekerasan seksual dan child grooming.
Selain itu, posisi Aurélie sebagai pemengaruh atau influencer juga membuat suaranya lebih didengar. Ia kini mampu memformulasikan pengalaman masa lalunya dengan bahasa yang dipahami orang dewasa, sehingga empati publik lebih mudah terbangun.
Di tengah maraknya kasus child grooming, keluarga memegang peran krusial sebagai benteng pertama perlindungan anak. Tari sangat menekankan bahwa kehangatan emosional jauh lebih penting daripada sekadar pemenuhan kebutuhan material pada anak.
“Anak yang kebutuhan afeksinya terpenuhi di rumah tidak mudah mencari perhatian di luar,” katanya. Rumah harus menjadi ruang aman, tempat anak bebas bercerita tanpa takut dihakimi atau dimarahi.
Orang tua juga perlu peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun, anak yang tiba-tiba pendiam, menarik diri, prestasi menurun, atau lebih banyak menghabiskan waktu sendirian dengan gawai. Komunikasi yang terbuka, kepercayaan yang seimbang, serta kehadiran orang tua di saat anak membutuhkan menjadi kunci pencegahan child grooming.
Broken Strings bukan hanya kisah penyembuhan seorang penyintas, tetapi juga cermin bagi masyarakat. Child grooming adalah kekerasan yang nyata, sistematis, dan sering kali tersembunyi di balik relasi yang tampak normal dan tak membahayakan.
Meningkatnya kesadaran publik diharapkan tidak berhenti pada empati sesaat, tetapi berlanjut pada perubahan sikap, seperti berhenti menyalahkan korban, lebih peka terhadap tanda-tanda grooming, dan membangun lingkungan yang aman bagi anak dan remaja. Karena dalam banyak kasus, luka terbesar bukan hanya pada apa yang terjadi, tetapi pada saat korban tidak dipercaya.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva

Daging kurban banyak dinantikan umat Islam di Hari Raya Iduladha. Bagaimana aturan pembagiannya?
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.